Jumat, 05 Desember 2014

filososfi sebuah bahasa



Filosofi Sebuah Bahasa
Mejuah-juah!
Pada dasarnya, bahasa memiliki fungsi tertentu yang digunakan berdasarkan kebutuhan seseorang atau kelompok tertentu, yaitu sebagai alat untuk berkomunikasi, mengekspresikan perasaan dan beradaptasi dalam lingkungan sosial. Bahasa Indonesia merupakan alat pemersatu bangsa Indonesia yang memiliki banyak perbedaan baik dari segi agama, suku, ras, adat istiadat dan budaya dimana masing-masing daerah memiliki bahasa daerah sendiri.
Terkhusus kepada Suku Karo yang merupakan salah satu suku dari berbagai suku bangsa di Nusantara. Suku Karo juga memiliki bahasa daerah tersendiri yang disebut Cakap Karo. Suku Karo ini berasal dari Sumatra Utara termasuk sebagian dari wilayah Aceh dan telah menyebar ke berbagai belahan dunia.Bahasa Karo biasanya digunakan di dalam kehidupan sehari-hari seperti interaksi sosial, kegiatan keagamaan, upacara adat sampai dengan ritual tertentu.
Tapi sayang, sebagian generasi muda Karo saat ini sepertinya enggan mempelajari dan menggunakan bahasa nenek moyangnya yang juga merupakan bahasanya sendiri sebagai seorang Karo di dalam kehidupan sehari-hari.
Sangat menyedihkan memang. Tapi inilah kenyataan. Generasi muda sekarang jauh lebih mementingkan bahasa Inggris yang notabene berasal dari luar untuk dipelajari daripada bahasa nenek moyangnya yang juga merupakan bahasanya sendiri.
Dalam hal ini, kita juga tidak bisa menyalahkan mereka seutuhnya karena hal ini terjadi mungkin karena faktor lingkungan, kurangnya perhatian orang tua dalam mengajarkan bahasa daerahnya sendiri, dan lain-lain.
Tapi, apakah mereka para generasi muda juga punya niat untuk mempelajari bahasa nenek moyang mereka yang juga merupakan bahasa mereka sendiri untuk digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Apa jadinya jika hal ini terus berlanjut ke generasi-generasi mendatang. Mungkin 100 atau 200 tahun lagi bahasa Karo ini akan hilang ditelan zaman yang secara otomatis juga jati diri dari suku Karo ini akan hilang.
Hal ini juga akan berpengaruh bagi Indonesia secara umum dimana salah satu aset Nusantara berupa bahasa daerah Karo akan hilang.
Karo tak bisa berbuat apa-apa selain berharap akan kesadaran dari generasi muda Karo itu sendiri untuk peduli dan ingin melestarikan warisan budaya dari sukunya.


Kamis, 04 Desember 2014

pancasila sebagai filsafat indonesia

PANCASILA SEBAGAI FILSAFAT BANGSA INDONESIA

PENGERTIAN FILSAFAT
            Secara etimologis istilah ”filsafat“ atau dalam bahasa Inggrisnya “philosophi” adalah berasal dari bahsa Yunani “philosophia” yang secara lazim diterjemahkan sebagai “cinta kearifan” kata philosophia tersebut berakar pada kata “philos” (pilia, cinta) dan “sophia” (kearifan). Berdasarkan pengertian bahasa tersebut filsafat berarti cinta kearifan. Kata kearifan bisa juga berarti “wisdom” atau kebijaksanaan sehingga filsafat bisa juga berarti cinta kebijaksanaan. Berdasarkan makna kata tersebut maka mempelajari filsafat berarti merupakan upaya manusia untuk mencari kebijaksanaan hidup yang nantinya bisa menjadi konsep kebijakan hidup yang bermanfaat bagi peradaban manusia. Seorang ahli pikir disebut filosof, kata ini mula-mula dipakai oleh Herakleitos.

PENGERTIAN PANCASILA
Pancasila merupakan salah satu filsafat yang merupakan hasil dari pencerminan nilai nilai luhur dan budaya bangsa indonesia yang terkandung 5 isi di dalamnya, yaitu satu, ketuhanan yang maha esa, dua, kemanusiaan yang adil dan beradab, tiga, persatuan indonesia, keempat, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebikjasanaan dan permusayawaratan, perwakilan, kelima, keadilan bagi seluruh rakyat indonesia.
Pengertian pancasila sebagai filsafat Indonesia
            Pancasila adalah dasar Filsafat Negara Republik Indonesia yang secara resmi disahkan oleh PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945 dan tercantum dalam UUD 1945, diundangkan dalam Berita Negara Republik Indonesia tahun II No. 7 bersama dengan UUD 1945. Pancasila dari bahasa Sanskerta yaitu “panca”(lima) dan “syila” (dasar). Pertama kali digunakan sebagai nama 5 Dasar Negara pada 1 juni 1945 oleh ir Soekarno.
            Bangsa Indonesia sudah ada sejak zaman Sriwijaya dan zaman Majapahit dalam satu kesatuan. Namun, dengan datangnya bangsa-bangsa barat  persatuan dan kesatuan itu dipecah oleh mereka dalam rangka menguasai daerah Indonesia yang kaya raya ini. pada awalnya perjuangan dilakukan secara perang, karena dengan cara tersebut gagal maka bangsa Indonesia menggunakan cara politik. Di awali dengan suatu badan yang diberi nama BPUPKI. Badan ini diresmikan tanggal 28 Mei 1945 oleh pemerintah Jepang.
Tanggal 29 Mei 1945 Mr. Muhammad Yamin mengutarakan prinsip dasar Negara. Pada tanggal 1 Juni 1945, Ir. Soekarno berpidato membahas dasar negara. aDan  pada tanggal 18 Agustus 1945 ditetapkan undang-undang dasar yang diberi nama Undang-Undang Dasar 1945. Sekaligus dalam pembukaan Undang-Undang Dasar sila-sila Pancasila ditetapkan. Jadi, Pancasila sebagai filsafat bangsa Indonesia ditetapkan bersamaan dengan ditetapkannya Undang-Undang Dasar 1945, dan menjadi ideologi bangsa Indonesia. Arti Pancasila sebagai dasar filsafat negara adalah sama dan mutlak bagi seluruh tumpah darah Indonesia.
FUNGSI FILSAFAT PANCASILA
            Filsafat Pancasila mampu memberikan dan mencari kebenaran yang substansi tentang hakikat negara, ide negara, dan tujuan negara. Dasar Negara kita ada lima dasar dimana setap silanya berkaitan dengan sila yang lain dan merupakan satu kesatuan yang utuh, tidak terbagi dan tidak terpisahkan. Saling memberikan arah dan sebagai dasar kepada sila yang lainnya. Tujuan negara akan selalu kita temukan dalam setiap konstitusi negara bersangkutan. Karenanya tidak selalu sama dan bahkan ada kecenderungan perbedaan yang jauh sekali antara tujuan disatu negara dengan negara lain. Bagi Indonesia secara fundamental tujuan itu ialah Pancasila dan sekaligus menjadi dasar berdirinya negara ini.
PANCASILA SEBAGAI SISTEM FILSAFAT
            Pancasila merupakan suatu sistem filsafat. Dalam sistem itu masing-masing silanya saling kait mengkait merupakan satu kesatuan yang menyeluruh. Di dalam Pancasila tercakup filsafat hidup dan cita-cita luhur bangsa Indonesia tentang hubunagan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan sesama manusia, hubungan manusia dengan lingkungannya. Menurut Driyakarya, Pancasila memperoleh dasarnya pada eksistensi manusia sebagai manusia, lepas dari keadaan hidupnya yang tertentu. Pancasila merupakan filsafat tentang kodrat manusia. Dalam pancasila tersimpul hal-hal yang asasi tentang manusia. Oleh karena itu pokok-pokok Pancasila bersifat universal.
PANDANGAN INTEGRALISTIK DALAM FILSAFAT PANCASILA
            Pancasila yang bulat dan utuh yang bersifat majemuk tunggal itu menjadi dasar hidup bersama bangsa Indonesia yang bersifat majemuk tunggal pula. Dalam kenyataannya, bangsa Indonesia itu terdiri dari berbagai suku bangsa, adat istiadat, kebudayaan dan  agama  yang berbeda. Dan diantara perbedaan yang ada sebenarnya juga terdapat kesamaan. Secara hakiki, bangsa Indonesia yang memiliki perbedaan-perbedaan itu juga memiliki kesamaan,.bangsa Indonesia berasal dari keturunan nenek moyang yang sama, jadi dapat dikatakan memiliki kesatuan  darah. Dapat diungkapkan pula bahwa bangsa Indonesia yang memilikiperbedaan itu juga mempunyai kesamaan sejarah dan nasib kehidupan. Secara bersama bangsa Indonesia pernah dijajah, berjuang melawan penjajahan, merdeka dari penjajahan. Dan yang lebih penting lagi adalah bahwa setelah merdek, bangsa Indonesia mempunyai kesamaan tekat yaitu mengurus kepentingannya sendiri dalam bentuk Negara yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Kesadaran akan perbedaan dan kesamaan inilah yang menumbuhkan niat, kehendak (karsa dan Wollen) untuk selalu menuju kepada persatuan dan kesatuan bangsa atau yang lebih dikenal dengan wawasan “ bhineka tunggal ika “.

hakikat manusia dan pendidikan

  Hakikat Manusia Dan Pendidikan
Sasaran pendidikan adalah manusia. Pendidikan bermaksud membantu  peserta didik untuk menumbuh kembangkan potensi-potensi kemanusiaannya. Potensi kemanusiaan merupakan benih kemungkinan untuk menjadi manusia.
Tugas mendidik hanya mungkin dilakukan dengan benar dan tepat tujuan,  jika pendidik memiliki gambaran yang jelas tentang siapa manusia itu sebenarnya. Pemahaman pendidik terhadap sikap hakikat manusia akan membentuk peta tentang karateristik manusia. Peta ini akan menjadi landasan serta memberi acuan bagi pendidik dalam bersikap, menyusun strategi, metode, dan teknik, serta memilih pendekatan dan orientasi dalam merancang dan melaksanakan komunikasi didalam interaksi edukatif.
Gambaran yang benar dan jelas tentang manusia itu perlu dimiliki oleh pendidik adalah karena adanya pengembangan sains dan teknologi yang pesat. Oleh karena itu, adalah sangat strategis jika pembahasan tentang hakikat manusia ditempatkan pada bagian pertama dari seluruh pengkajian tentang pendidikan.
1.      Pengertian Hakikat Manusia
Hakikat manusia diartikan sebagai ciri-ciri karateristik, yang secara prinsipiil (jadi bukan hanya gradual) membedakan manusia dari hewan. Adanya sifat hakikat tersebut memberikan tempat kedudukan pada manusia sedemikian rupa sehingga derajatnya lebih tinggi daripada hewan. Wujud sifat hakikat manusia dengan maksud menjadi masukan dalam membanahi konsep pendidikan, yaitu:
a)      Kemampuan menyadari diri
b)      Kemampuan bereksistensi
c)      Pemilikan kata hati
d)     Moral
e)      Kemampuan bertanggung jawab
f)       Rasa kebebasan
g)      Kesediaan melaksanakan kewajiban dan menyadari hak
h)      Kemampuan menghayati kebahagiaan
2.      Pengertian Hakikat Pendidikan
Pendidikan pada hakikatnya akan mencakup kegiatan mendidik, mengajar, dan melatih. Kegiatan tersebut kita laksanakan sebagai suatu usaha untuk mentransformasikan nilai-nilai. Maka dalam pelaksanaanya, kegiatan tadi harus berjalan secara serempak dan terpadu, berkelanjutan, serta serasi dengan perkembangan anak didik serta lingkungan hidupnya dan berlangsung seumur hidup.
Pekerjaan mendidik mencakup banyak hal, yaitu segala sesuatu yang berkaitan dengan perkembangan manusia. Mulai dari perkembangan fisik, kesehatan, keterampilan, pikiran, perasaan, kemauan, sosial, sampai pada perkembangan iman, semuanya ditangani oleh pendidik. Berarti pendidikan bermaksud membuat manusia lebih sempurna, membuat manusia meningkatkan hidupnya dari kehidupan alamiyah menjadi berbudaya. Memdidik adalah membudayakan manusia.
Berbagai pendekatan mengenai hakikat pendidikan telah melahirkan berbagai teori mengenai apakah sebenarnya pendidikan itu. 
B.     Hubungan Hakikat Manusia Dan Pendidikan
1.      Asas-Asas keharusan atau perlunya pendidikan bagi manusia
Asas keharusan pendidikan ada 3 asas yaitu: Pertama, manusia sebagai makhluk yang belum selesai, artinya manusia harus merencanakan, berbuat, dan menjadi. Dengan demikian setiap saat manusia dapat menjadi lebih atau kurang dari keadaanya. Contoh manusia belum selesai: manusia lahir dalam keadaaan tidak berdaya sehingga memerlukan bantuan orang tuanya atau orang lain dan selain itu manusia harus mengejar masa depan untuk mencapai tujuannya. Kedua, tugas dan tujuan manusia adalah menjadi manusia, yaitu aspek potensi untuk menjadi apa dan siapa, merupakan tugas yang harus diwujudkan oleh setiap orang. Ketiga, perkembangan manusia bersifat terbuka, yaitu manusia mungkin berkembang sesuai dengan kodratnya dan martabat kemanusiaanya, sebaliknya mungkin pula berkembang kearah yang kurang sesuai. Contoh: manusia memiliki kesempatan memperoleh kepandaian, sehat jasmani rohani, tata krama yang baik, tujuan hidupnya.
2.      Asas-asas Kemungkinan Pendidikan
Ada lima asas antropologi yang mendasari kesimpulan bahwa manusia mungkin dididik atau dapat dididik. Pertama azas Potensial, yaitu manusia akan dapat didik karena memiliki potensi untuk dapat menjadi manusia. Kedua azas Dinamika, yaitu manusia selalu menginginkan dan mengejar segala yang lebih dari apa yang telah dicapainya. Ketiga Azas Individualitas, yaitu manusia sebagai mahluk individu tidak akan pasif, melainkan bebas dan aktif berupaya untuk mewujudkan dirinya. Keempat Azas Sosialitas, yaitu manusia butuh bergaul dengan orang lain. Kelima yaitu azas Moralitas, yaitu manusia memiliki kemampuan untuk membedakan yang baik dan tidak .
C.    Konsep Dasar Pendidikan
Ada beberapa konsepsi dasar pendidikan yang akan dilaksanakan yaitu:
1.      Bahwa pendidikan berlangsung seumur hidup.
2.      Bahwa bertanggung jawab pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah.
3.      Pendidikan merupakan suatu keharusan, karena dengan pendidikan manusia akan memiliki kemampuan dan kepribadian yang berkembang.
D.    Sifat-sifat Ilmu Pendidikan
1.      Ilmu Pendidikan Bersifat Deskriptif-Normatif
Ilmu pendidikan itu selalu berhubungan dengan soal siapakah “manusia” itu. Pembahasan tentang siapakah manusia biasanya termasuk dalam bidang filsafat, yaitu bersifat antropologi. Pandangan filsafat tentang manusia sangat besar pengaruhnya terhadap konsep serta praktik-praktik pendidikan. Karena pandangan filsafat itu menentukan nilai-nilai luhur yang dijunjung tinggi oleh seorang pendidik atau suatu bangsa yang melaksanakan pendidikan.
Nilai yang dijunjung tinggi itu dijadikan norma untuk menentukan ciri-ciri manusia yang ingi dicapai melalui praktik pendidikan. Nilai-nilai ini tidak diperoleh hanya dari paktik dan pengalaman mendidik, tetapi secara normatif bersumber dari norma masyarakat, norma filsafat, dan pandangan hidup, bahkan juga dari keyakinan keagamaan yang dianut oleh seseorang.
2.      Ilmu Pendidikan Bersifat Teoritis dan Praktis-Pragmatis
Pada umumnya ilmu mendidik tidak hanya mencari pengetahuan deskriptif tentang objek pendidikan, melainkan ingin juga mengetahui bagaimana cara sebaiknya untuk berfaedahterhadap objek didiknya. 
E.     Tujuan Pendidikan
            Tujuan pendidikan ditujukan untuk meningkatkan kualitas manusia yaitu:
1.      Hubungan dengan Tuhan Ialah beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2.      Pembentukan pribadi mencakup budi pekerti yang luhur, berkepribadian, mandiri, maju, tanggug, cerdas, dan kreatif.
3.      Bidang usaha mencakup keterampilan, berdisiplin, beretos kerja, profesional, bertanggung  jawab, dan produktif.
4.      Kesehatan yang mencakup kesehatan jasmani dan rohani.
   Keempat kelompok ini sudah mencakup keseluruhan perkembangan dan pertumbuhan yang harus dilakukan oleh setiap manusia. Setiap orang normal membutuhkan pembentukan diri, baik dari segi kepribadian, kesehatan, maupun kemampuan mempertahankan hidup dan tanggung jawabnya kepada Tuhan Ynag Maha Esa sebagai pencipta. Pendidikan mengemban tugas untuk menghasilkan generasi yang baik, manusia-manusia yang lebih berbudaya, manusia yang memiliki kepribadian yang baik.

filsafat kompasiana

Apa dan Bagaimana Ontologi Itu ?

Ontologi adalah cabang filsafat ilmu yang membicarakan tentang hakikat ilmu pengetaahuan. Muhadjir (2011:63) menjelaskan bahwan ontologi itu ilmu yang mempelajari tentang the being. Yang dibahas dalam ontologi adalah hakikat realitas. Adapun dalam penelitian kualitatif, idealisme, rasionalisme, materiaslisme, dan sebagainya. Keterkaitan antara penelitin kuantitatif dan kualitatif memang tidak tidak perlu diragukan. Jadi ontologi itu adalah ilmu yang membhas seluk-belik ilmu.
Secara etimologi ilmu dari bahasa inggris science. Pengetahuan berasal dari kata dalam bahasa Inggris yaitu knowledge. Dalam Encyclopedia of philosophy dijelaskan bahwa difinisi pengetahuan adalah kepercayaan yang  benar (knowledge is justified true belief). Ontologi itu ilmu yang menelusuri tentang hakikat ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan adalah keberadaan sesuatu fenomeno kehidupan yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.
Filsafat ilmu yang mengikuti pemikiran ontologi, jelas mempelajari hakikat ilmu. Ontologi merupakan salah satu diantara lapangan penyelidikan kefilsafatan yang paling kuno. Awal pemikiran Yunani telah menunjukan munculnya perenungan di bidang ontologi. Dalam ontologi orang meghadapi persoalan bagaimana kita menerangkan hakikat dari segala yang ada ini ? Pertama kali orang dihadapkan pada persoalan materi (kebenaran) dan kedua, pada kenyataan yang merupakan rohani (kejiwaan). Kedua realitas ini, yaitu lahir dan batin, merupakan hakekat keilmuan manusia. Manusia memiliki dua sumber ilmu, yaitu (1) ilmu lahir, kasatmata, dan bersifat observable, tangible dan (2) ilmu batin, taqn kasatmata, amat halus.
Pembicaraan tetang hakikat sangatlah luas sekali, segala yang ada yang mungkin ada. Hakikat adalah realitas; realitas adalah ke-real-an, artinya kenyataan yang sebenarnya. Pembahasan tentang ontologi sebagai dasar ilmu berusaha untuk menjawab pertanyaan “apa itu ada” yang menurut Ariestoteles merupakan The First Philosophy dan merupakan ilmu mengenai esensi benda-benda (sesuatu). Sebenarnya, bukan sekedar benda yang penting, tetapi fenomena di jagad raya ini, apa dan mengapa ada. Di alam semesta ini, kalau mau merenung secara hakiki, banyak hal yang menimbulkan tanda-tanda besar. Untuk lebih jelasnya perlu dikemukakan pengertian dan aliran pemikiran dalam ontologi ini.
Kalau dirunut lebih jauh, kata ontologi berasal dari perkataan Yunani, yaitu: Ontos : being, dan Logos. Jadi ontologi adalah the theory of being qua being (teori tentang keberadaan sebagai keberadaan). Atau bisa disebut juga ontologi sebagai ilmu tetang yang ada. Istilah ontologi pertama kali diperkenalkan oleh Rudolf Goclenius pada tahun 1936 M.
Objek menjadi kajian dalam ontologi adalah realita yang ada. Ontologi adalah studi tentang yang ada secara universal, dengan mencari pemikiran semesta universal. Ontologi berusaha mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan atau menjelaskan yang ada dalam setiap bentuknya. Jadi ontologi merupakan studi yang terdalam dari setiap hakekat kenyataan, misalnya (1) dapatkah manusia sungguh-sungguh memilih sesuatu, (2) apakah ada Tuhan didunia ini, (3) apakah nyata dalam hakekatmaterial ataukah spiritual, (4) apakah jiwa sungguh dapat dibedakan dengan badan, (5) apakah hidup dan mati itu, dan sebagaiya.
Orang yang berfikir ontologi, kalau tidak berhati-hati sering bersentuhan dengan dalam sebuah agama. Agama selalu berfikir tentang ada atas dasar iman. Ontologi hendak meletakkan dasar keilmuan. Dalam filsafat ilmu jiwa miasalnya ada pemikiran ontologi: benarkah Tuhan itu tidak tidur (Gusti Ora Sare). Jawaban atas realitas abstrak ini, perlu dijawab secara ontologisme, melalui perenuangan ilomiah. Misalnya, ketika orang membenarkan hasil renungannya tetang Tuhan dan tidur, berarti Tuhan itu mengenal lelah (kantuk). Jika hal ini benar, berarti Tuhan itu apa bedanya dengan manusia. Jika manusia tidak memperoleh jawaban yang memuaskan, muncul lagi pertanyaan, bagaimana wujud yang hakiki dari Tuhan ? Bagaimana hubungan anatara Tuhan dengan daya tangkap manusia (seperti berfikir, merasa, dan mengindra) yang membuahkan pengetahuan ? Lebih lanjut, apa sebenarnya yang disebut dengan ilmu pengetahuan, apa saja jenis-jenis ilmu pengetahuan ? Dari mana sumbernya. Banyak pertanyaan yang menggelitik tentang hakikat kesemestaan. Semakin kritis seseorang berfikir tentang ada, maka dunia ini seolah-olah semakin rumit dan semakin menarik dikaji.
Jika demikian, cukup jelas,ontologi adalah cabang filsafat ilmu yang mencoba mencernmati hakikatkeilmuan. Membahas ilmu dari dasar keilmuan itu ada, bentuk ilmu, wajah ilmu, dan bandingan-bandingan ilmu dengan yang lain akan menuntu manusia berfikir ontologisme. Ontologi menjadi pijakan manusia berfikir kritis tetang keadaan alam semesta yang sesungguhnya. Itulah esensi dari peta jagad raya, yangmisterius, penuh dengan teka-teki. Ilmu itu telah tertata secara sistematis dengan pengalaman metodologi yang rapi. Sebelum menjadi ilmu, sebenarnya masih berupa pengetahuan. Pengetahuan itu juga pengalaman manusia, pengalaman yang mantap, alan menjadi ilmu pengetahuan. Dengan ontologi, orang akan mampu membedakan, mana ilmu, mana pengetahuan, ilmu pengetahuan, dan mana pula yang non ilmu.

asal muasal suku baduy

Dikisahkan, Kerajaan Banten Pasisir yang menganut agama nenek moyang tengah dipimpin oleh Prabu Pucuk Umum. Raja itu masih merupakan kerabat dengan raja Pajajaran. Suatu hari kerajaan Banten Pasisir  mendapatkan serangan dari Pasukan Islam gabungan Demak-Cirebon. Setelah bertempur sekuat tenaga, Kerajaan Banten mengalami kekalahan dan Prabu Pucuk Umum bersama kerabatnya dipersilakan oleh pimpinan Demak-Cirebon untuk mengucapkan kalimah Syahadat sebagai syarat masuk Islam. Namun rombongan dari Kerajaan Banten Pasisir ini menolak dan lebih memilih untuk  pergi.
Dikisahkan Prabu Pucuk Umum bersama pengikut setianya ini merubah wujudnya menjadi burung beo, dan terus terbang tinggi mencari tempat yang sunyi dan aman untuk menghindari masuk Islam. Saat mereka sampai di wilayah Cibaduy, mereka menemukan sebuah sungai besar yang airnya sangat jernih. Di sungai itulah sang raja bersama para pengikutnya berhenti dan mandi. Setelah selesai mandinya, maka mereka berubah kembali wujudnya menjadi manusia. Sungai ini lalu diberi nama Cibeo (nama tersebut masih berlaku sampai sekarang).
 
Setelah berubah wujud menjadi manusia, mereka masuk ke dalam hutan yang sepi. Wilayah itu berada di pedalaman wilayah Banten yang berupa hutan belantara tanpa penghuni kecuali binatang-binatang buas. Mereka kemudian memilih tempat yang berpasir indah untuk dijadikan wilayah huniannya, tempat tersebut oleh sang raja diberi nama Cikeusik. 
Setelah menetap di sana, perlahan rombongan dari Kerajaan Banten Pasisir ini mempunyai keturunan yang banyak sekali dan akhirnya mereka membuka hutan sebelah hilirnya yang diberi nama Cikertawana (nama tersebut berlaku sampai sekarang). “Kerta” artinya istirahat dan menikmati kebahagiaan, sedangkan “wana” berarti hutan.
Mulai saat itu sampai sekarang, keturunan dari Pajajaran yang dikenal dengan suku Baduy ini tetap mendiami wilayah tersebut dan tetap “mengasingkan diri” dari pengaruh luar, demi mempertahankan kelestarian budaya dan kepercayaan dari nenek moyangnya.

filosofi pramuka



Filosofi Kepramukaan

Gagasan Boden Powell yang cemerlang dan menarik itu akhirnya menyebar ke berbagai negara termasuk Netherland atau Belanda dengan nama Padvinder. Oleh orang Belanda gagasan itu dibawa ke Indonesia dan didirikan organisasi oleh orang Belanda di Indonesia dengan nama NIPV (Nederland Indische Padvinders Vereeniging = Persatuan Pandu-Pandu Hindia Belanda).
Oleh pemimpin-pemimpin gerakan nasional dibentuk organisasi kepanduan yang bertujuan membentuk manusia Indonesia yang baik dan menjadi kader pergerakan nasional. Sehingga muncul bermacam-macam organisasi kepanduan antara lain JPO (Javaanse Padvinders Organizatie) JJP (Jong Java Padvindery), NATIPIJ (Nationale Islamitsche Padvindery), SIAP (Sarekat Islam Afdeling Padvindery), HW (Hisbul Wathon).Dengan adanya larangan pemerintah Hindia Belanda menggunakan istilah Padvindery maka K.H. Agus Salim menggunakan nama Pandu atau Kepanduan.
Dengan meningkatnya kesadaran nasional setelah Sumpah Pemuda, maka pada tahun 1930 organisasi kepanduan seperti IPO, PK (Pandu Kesultanan), PPS (Pandu Pemuda Sumatra) bergabung menjadi KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia). Kemudian tahun 1931 terbentuklah PAPI (Persatuan Antar Pandu Indonesia) yang berubah menjadi BPPKI (Badan Pusat Persaudaraan Kepanduan Indonesia) pada tahun 1938.
Pada waktu pendudukan Jepang Kepanduan di Indonesia dilarang sehingga tokoh Pandu banyak yang masuk Keibondan, Seinendan dan PETA.
Setelah tokoh proklamasi kemerdekaan dibentuklah Pandu Rakyat Indonesia pada tanggal 28 Desember 1945 di Sala sebagai satu-satunya organisasi kepanduan.
Sekitar tahun 1961 kepanduan Indonesia terpecah menjadi 100 organisasi kepanduan yang terhimpun dalam 3 federasi organisasi yaitu IPINDO (Ikatan Pandu Indonesia) berdiri 13 September 1951, POPPINDO (Persatuan Pandu Puteri Indonesia) tahun 1954 dan PKPI (Persatuan Kepanduan Puteri Indonesia)
Menyadari kelemahan yang ada maka ketiga federasi melebur menjadi satu dengan nama PERKINDO (Persatuan Kepanduan Indonesia).
Karena masih adanya rasa golongan yang tinggi membuat Perkindo masih lemah. Kelemahan gerakan kepanduan Indonesia akan dipergunakan oleh pihak komunis agar menjadi gerakan Pioner Muda seperti yang terdapat di negara komunis. Akan tetapi kekuatan Pancasila dalam Perkindo menentangnya dan dengan bantuan perdana Menteri Ir. Juanda maka perjuangan menghasilkan Keppres No. 238 tahun 1961 tentang Gerakan Pramuka yang pada tanggal 20 Mei 1961 ditandatangani oleh Pjs Presiden RI Ir Juanda karena Presiden Soekarno sedang berkunjung ke Jepang.