TOKOH TOKOH ALIRAN REALISME
1.
Aristoteles (384-322 SM)
Plato percaya bahwa materi tidak mempunyai akhir
realitas dan bahwa kita seharusnya memperhatikan diri kita sendiri dengan
ide-ide. Adalah seorang murid Plato yaitu Aristoteles, lebih lanjut, telah
mengembangkan gagasan bahwa sementara gagasan-gagasan mungkin penting bagi diri
mereka sendiri, pembelajaran yang utama tentang materi mengantarkan kita pada
gagasan-gagasan yang jelas yang lebih baik. Aristoteles belajar dan mengajar di
Akademi milik plato kurang lebih selama dua puluh tahun kemudian dia membuka
sekolah sendiri, Lysium. Perbedaannya denga plato dikembangkan secara teratur
dan dalam penghormatan yang tinggi dia tidak pernah keluar dari bawah pengaruh
pemikiran Plato.
Menurut Aristoteles, gagasan-gagasan (atau
bentuk-bentuk), seperti ide tentang Tuhan atau ide-ide tentang sebuah pohon
bisa ada walaupun tanpa materi, tapi tidak ada materi yang ada tanpa bentuk.
Setiap bagian dari materi memiliki baik sebuah sifat penting/tertentu yang
menyuluruh. Sifat penting dari sebuah biji pohon, sebagai contoh, merupakan
hal-hal yang penting bagi biji dan itulah perbedaan biji dari semua biji yang
lain. Sifat-sifat ini termasuk ukuranya, bentuk, berat dan warna. Tidak ada
biji yang serupa sama sekali, jadi kita bisa mengatakan bahwa beberapa
sifat penting dari suatu biji sebagaimana perbedaan yang mendasar dari hal hal
pada semua biji yang lain. Hal ini bisa disebut dengan “bebijian” dan itu
adalah hal yang universal dengan semua biji yang lain. Mungkin hal ini bisa
dipahami lebih baik dengan mengembalikan pada manusia pada poin ini. Orang,
juga, berbeda dalam sifat-sifat tertentu mereka. Mereka memiliki perbedaan
bentuk dan ukuran, dan tak ada dua orangpun yang sama persis. Karena semua manusia
sesungguhnya berpegang pada sesuatu yang universal, dan ini bisa disebut dengan
“kemanusiaan” mereka. Baik kemanusiaan dan bebijian adalah realitas dan mereka
ada secara bebas dan dihargai bagi satu jenis sifat manusia atau biji apapun.
Dengan demikian, kita bisa mengatakan bahwa bentuk-bentuk (universal,
gagasan, atau esensi) adalah aspek-aspek non-material dari masing-masing objek
materi tertentu yang menghubungkan pada semua objek-objek penting lainnya dari
kelas tersebut. Berpikir pada non-material mungkin kita bisa sampai
padanya dengan menguji objek-objek material yang ada dalam diri mereka sendiri,
terbebas dari kita. Aristoteles berkeyakinan kita harus banyak terlibat dalam
mempelajari dan memahami ralitas pada benda-benda itu semua. Memang, dia setuju
dengan Plato dalam posisinya. Bagaimanapun juga mereka berbeda, dalam hal tadi
Aristoteles merasa seseorang bisa mendapatkan suatu bentuk dari pembelajaran
benda-benda materi tertentu, dan Plato yakin bentuk bisa dicapai hanya dengan
melalui beberapa jenis alasan yang dialektis.
2. Francic Bacon (1561-1626)
Frncic Bacon bukan hanya seorang filosuf tapi juga
politisi di istana Elizabet I dan Jamel sejarah menunjukkan Francic Bacon tidak hanya
berhasil dalam usaha-usaha politisnya ( dia dipindhakan dari kantornya karena
tingkah lakunya yang memalukan),karena catatannya dalam perkembangan filosofis
agak lebih impresif (mengesankan ),latihan-latihan filosofis Bacon adalah
ambisius meskipun tidak ada kecondongan dalam bidangnya,dia mengklaim untuk
mengambil semua pengetahuan seperti lapangan penyelidikannya yang hampir dia
mencapai kesaksian bagi kejeniusannya.Barangkali,karyanya yang paling
terkenal adalah Novum Organum, yang mana didalamnya dia menentang logika
pengikut Ariestoteles.
Bacon menyerang pengikut Aristoteles untuk
memberi masukan terhadap perkembangan sains yang lesu, permasalan dengan
teologi adalah yang diawali dogmatis dan sebuah asumsi pendahuluan dan kemudian
menarik kesimpulan bagaimana juga, bacon menuduh bahwa sains(ilmu) tidak
dapat meneruskan cara/ jalan ini,karena sains harus memperhatikan inguiri(
penyelidikan) yang murni dan sederhana,inguiri tidak dibatasi dengan
dugaan-dugaan yang dipertimbangkan,bacon berpedoman bahwa sains harus
mulai dengan gaya ini dan harus mengembangkan metode-metode penyelidikan yang
bisa diterima/ dipercaya,kita bisa bebas dari ketergantungan dengan kejadian
pada bakat-bakat yang jarang dan mampu mengenmbangkan melalui kegunaan metode
tersebut. Bacon meyakini “pengetahuan adalah kekuatan ” dan itu melalui
pengakuan pengetahuan yang kita bisa sesuaikan secara kebih efektif dengan
masalah-masalah dan kekuatan yang menyerang disetiap sisi untuk mernyempurnakan
hal-hal ini, dia menemukan apa yang dia sebut metode induktif.
Bacon menentang logika pengikut Aristoteles
utamanya karena dia berfikir itu menghasilkan banyak kesalahan, utamnya
mengenai fenomena sebagai contoh pemikiran regelius seperti Thomas Aquinas dan
scholastic(orang-orang skolastik )yang menerima axiomatis(hal yang sudah jelas
kebenarannya) mempercai tenteng Tuhan,bahwa dia ada,apa adanya,semua kegiatan
dan sebagainya-dan kemudian mereka menyimpulkan semua macam hal tentang
kagunaan kekuatan Tuhan, intervensinya dalam urusan-urusan manusia dan
sebagainya. Pendekatan induktif bacon,yang mempertanyakan bahwa kita memulai
dengan bagian yang bisa diamati dan kemudian memberikan alasan untuk
pernyataan-pernyataan atau hokum-hukum yang general, menyerang balik
pendekatan skolastik, karena hal itu menuntut verifikasi(pembaharuan) bagian
khusus sebelum pembenaran(pemberian hukum) dibuat sebagai contoh,setelah
pengamatan bagian pada air yang membeku pada suhu 32 fahrenheit, kita mungkin
kemudiaan menetapkan sebuah hukum umum bahwa air membeku pada suhu 32
fahrenheit. Hukum ini valid, bagaimanapun,hanya sepanjang air itu berlanjut
membeku pada suhu ini. Jika, karena sebuah perubahan dalam keadaan atmosfir
atau keadaan bumi, air tidak lebih lama membeku pada suhu 32 fahrenheit,
kemudian kita akan diwajibkan untuk mengubah atau mengganti hukum kita melalui
deduksi, seseorang mungkin juga mengubah keyakinan-keyakinan tapi ketika
seseorang memulai dengan kebenaran-kebenaran yang mutlak, dia sedikit
perlu untuk mengubah mereka dari pada ketika dia memulai dengan data yang
netral.
2.2 Konsep Pendidikan
Berikut ini kita akan membahasa
konsep pendidikan mengenai pengertian pendidikan dan gambaran pendidikan
menurut masing-masing bentuk aliran realisme.
1. Realisme Rasional
Realisme
klasik berpandangan bahwa manusia sebenarnya memiliki ciri rasional.
Dengan demikian manusia dapat menjangkau kebenaran umum. Eksistensi Tuhan
merupakan penyebab pertama dan utama realistas alam semesta. Memperhatikan
intelektual adalah penting bukan saja sebagai tujuan melainkan sebagai alat
untuk memecahkan masalah. Menurut realisme klasik pengalaman manusia penting
bagi pendidikan. Menurut Aristoteles, terdapat aturan moral universal yang
diperoleh dengan akal dan mengikat manusia sebagai mahluk rasional. Manusia
sempurna menurutnya adalah manusia sempurna yang mengambil jalan tengah. Konsep
pendidikan pada anak bahwa anak harus diajarkan ukuran moral yang absolut dan
universal karena baik dan benar adalah untuk seluruh umat manusia. Kebiasaan
baik harus dipelajari karena kebaikan tidak datang dengan sendirinya
Sedangkan
menurut realisme religius bahwa kenyataan itu dipandang berbentuk natural dan
supernatural. Pandangan filsafat ini menitik beratkan pada hakikat kebenaran
dan kebaikan. Pendidikan merupakan suatu proses untuk meningkatkan diri guna
mencapai kebenaran abadi. Kebenaran bukan dibuat melainkan sudah ditentukan dan
belajar harus mencerminkan kebenaran itu. Menurut Cornerius pendidikan harus
universal, seragam dan merupakan suatu kewajiban dimulai dengan pendidikan yang
lebih rendah.
2. Realisme Natural
Menurut
realisme natural pengetahuan yang diakui adalah pengetahuan yang diperoleh
melalui pengalaman empiris dengan jalan observasi atau pengamatan indera. Para
pengikut realisme natural mengikuti teori pengatahuan empirisme yang mengatakan
pengalaman merupakan faktor fundamental dalam pengetahuan dan merupakan sumber
pengetahuan manusia.
Pendidikan
berkaitan dengan dunia di sini dan sekarang. Dunia diatur oleh hukum alam.
Pendidikan menurut aliran realisme natural haruslah ilimiah dan yang menjadi
objeknya adalah kenyataan dalam alam.
3. Realisme kritis.
Menurut
pandangan Breed filsafat pendidikan hendaknya harmoni dengan prinsip-prinsip
demokrasi. Pendidikan sebagai pertumbuhan harus diartikan sebagai pengarah
terhadap tuntunan sosial dan individual. Menurut Imanuel Kant , pengetahuan
mulai dari pengalaman namun tidak semiuanua dari pengalaman. Pikiran tanpa
isi adalah kosong dan tanggapan tanpa konsepsi adalah buta.
Menurut Henderson ke semua bentuk
aliran realisme pendidikan menyetujui bahwa:
a. Proses pendidikan berpusat pada
tugas mengembangkan laki-laki dan wanita menjadi hebat
b. Tugas manusia di dunia adalah
memajukan keadilan dan kesejahteraan umum
c. Tujuan akhir pendidikan adalah
memecahkan masalah-masalah pendidikan.
2.3 Aliran Filsafat Realisme dalam Pendidikan
Aliran
filsafat realisme berpendirian bahwa pengetahuan manusia itu adalah gambaran
yang baik dan tepat dari kebenaran. Konsep filsafat menurut aliran realisme
adalah:
1.
Metafisika-realisme;
Kenyataan yang sebenarnya hanyalah kenyataan fisik (materialisme);
kenyataan material dan imaterial (dualisme), dan kenyataan yang terbentuk dari
berbagai kenyataan (pluralisme)
2.
Humanologi-realisme;
Hakekat manusia terletak pada apa yang dapat dikerjakan. Jiwa merupakan sebuah
organisme kompleks yang mempunyai kemampuan berpikir
3.
Epistemologi-realisme;
Kenyataan hadir dengan sendirinya tidak tergantung pada pengetahuan dan gagasan
manusia, dan kenyataan dapat diketahui oleh pikiran. Pengetahuan dapat diperoleh
melalui penginderaan. Kebenaran pengetahuan dapat dibuktikan dengan
memeriksa kesesuaiannya dengan fakta
4.
Aksiologi-realisme;
Tingkah laku manusia diatur oleh hukum-hukum alam yang diperoleh melalui ilmu,
dan pada taraf yang lebih rendah diatur oleh kebiasaan-kebiasaan atau
adat-istiadat yang telah teruji dalam kehidupan.
Dalam hubungannya dengan pendidikan, pendidikan harus
universal, seragam, dimulai sejak pendidikan yang paling rendah, dan merupakan
suatu kewajiban. Pada tingkat pendidikan yang paling rendah, anak akan menerima
jenis pendidikan yang sama. Pembawaan dan sifat manusia sama pada semua orang.
Oleh karena itulah, metode, isi, dan proses pendidikan harus seragam. Namun,
manusia tetap berbeda dalam derajatnya, di mana ia dapat mencapainya. Oleh
karena itu, pada tingkatan pendidikan yang paling tinggi tidak boleh hanya ada
satu jenis pendidikan, melainkan harus beraneka ragam jenis pendidikan.
Inisiatif dalam pendidikan terletak pada pendidik bukan pada peserta didik.
Materi atau bahan pelajaran yang baik adalah bahan pelajaran yang memberi
kepuasan pada minat dan kebutuhan pada peserta didik. Namun, yang paling
penting bagi pendidik adalah bagaimana memilih bahan pelajaran yang benar,
bukan memberikan kepuasan terhadap minat dan kebutuhan pada peserta didik.
Memberi kepuasan terhadap minat dan kebutuhan siswa hanyalah merupakan alat
dalam mencapai tujuan pendidikan, atau merupakan strategi mengajar yang
bermanfaat.
2.4 Pengaruh Realisme Dalam
Pendidikan
Dalam pandangan realisme kemampuan dasar dalam proses kependidikan yang di
alami lebih ditentukan perkembangannya oleh pendidikan atau lingkungan sekitar,
karena empiris ( pengalaman) pada hakikatnya yang membentuk manusia.
Pandangan realita terhadap tugas pengembangan kepribadian manusia adalah
dipikul orang tua dan para guru pada tiap periode berlangsung, yaitu anak didik
harus semakin bertambah kegiatan belajarnya utuk menghayati kehidupan dari
kelompoknya ( masyarakatnya) serta mau meneriama tanggung jawab yang wajar
dalam kaitannya dengan kehidupan tersebut kaum realis menyatakan
kebudayaan adalah tugas besar pertama dalam pendidikan. Tujuan utama dan asli
dalam pedidikan sangat dirasakan oleh orang tua dan guru yang bertanggung jawab
pada tiap periode yang berjalan, bahwa anak harus bertambah kegiatan belajarnya
untuk menghayati kehidupan kelompoknya (masyarakatnya) serta menerima
tanggung jawab secara wajar terhadap hal-hal yang berkaitan engan kehidepan ini
2.5 Implikasi
Filsafat Realisme Dalam Pendidikan
Dalam hubungannya dengan pendidikan,
pendidikan harus universal, seragam, dimulai sejak pendidikan yang paling
rendah, dan merupakan suatu kewajiban. Pada tingkat pendidikan yang paling
rendah, anak akan menerima jenis pendidikan yang sama. Pembawaan dan sifat
manusia sama pada semua orang.
Oleh karena itulah, metode, isi, dan
proses pendidikan harus seragam. Namun, manusia tetap berbeda dalam derajatnya,
di mana ia dapat mencapainya. Oleh karena itu, pada tingkatan pendidikan yang
paling tinggi tidak boleh hanya ada satu jenis pendidikan, melainkan harus
beraneka ragam jenis pendidikan. Inisiatif dalam pendidikan terletak pada
pendidik bukan pada peserta didik. Materi atau bahan pelajaran yang baik adalah
bahan pelajaran yang memberi kepuasan pada minat dan kebutuhan pada peserta
didik. Namun, yang paling penting bagi pendidik adalah bagaimana memilih bahan
pelajaran yang benar, bukan memberikan kepuasan terhadap minat dan kebutuhan
pada peserta didik. Memberi kepuasan terhadap minat dan kebutuhan siswa
hanyalah merupakan alat dalam mencapai tujuan pendidikan, atau merupakan
strategi mengajar yang bermanfaat.
Pendidikan dalam realisme memiliki
keterkaitan erat dengan pandangan John locke bahwa akan pikiran jiwa
manusia tidak lain adalah tabula rasa, ruang kosong tak ubahnya kertas putih
kemudian menerima impresi dari lingkungan. Oleh karena itu pendidikan
dipandang dibutuhkan karena untuk membentuk setiap individu
agar mereka menjadi sesuai dengan apa yang dipandang baik. Dengan
demikian, pendidikan dalam realisme kerap indentikkan sebagai upaya pelaksanaan
psikologi behavioristik kedalam ruang pengajaran. (Wangsa
Gandhi HW, Teguh. 2011: 143).
Behaviorisme
dari kata behave yang berarti berperilaku dan isme berarti aliran.
Behavorisme merupakan pendekatan dalam psikologi yang didasarkan atas proposisi
(gagasan awal) bahwa perilaku dapat dipelajari dan dijelaskan secara ilmiah.
Dalam melakukan penelitian, behavioris tidak mempelajari keadaan mental.
Jadi,
karakteristik esensial dari pendekatan behaviorisme terhadap belajar adalah
pemahaman terhadap kejadian-kejadian di lingkungan untuk memprediksi perilak
seseorang, bukan pikiran, perasaan, ataupun kejadian internal lain dalam diri
orangtersebut. Fokus behaviorisme adalah respons terhadap berbagai tipe
stimulus. Para tokoh yang memberikan pengaruh kuat pada aliran ini adalah Ivan
Pavlov dengan teorinya yang disebut classical conditioning, John B.
Watson yang dijuluki behavioris S-R (Stimulus-Respons), Edward Thorndike
(dengan teorinya Law of Efect), dan B.F. Skinner dengan teorinya yang
disebut operant conditioning.
Dalam kaitannya dengan hakikat nilai, realisme
menyatakan bahwa standar tingkah laku manusia diatur oleh hukum alam, dan pada
taraf yang lebih rendah diatur oleh kebijaksanaan yang telah teruji dalam
kehidupan Pendidikan dalam pandangan realisme adalah proses perkembangan
intelegensi, daya kraetif dan sosial individu yang mendorong pada terciptanya
kesejahteraan umum. Pendidikan yang berdasarkan realisme konsisten dengan teori
belajar S-R. Dengan demikian pendidikan juga dapat diartikan sebagai upaya
pembentukan tingkah laku oleh lingkungan
Menurut
alairan realisme murid adalah yang mengalami inferiorisasi berlebih
sebab dia dipandang sama sekali tidak mengetahui apapun kecuali apa-apa
yang telah pendidikan berikan. Disini dalam pengajaran setiap siswa akan
subjek tidik tak berbeda dengan robot, ia mesti tunduk dan patuh
setunduk-tunduknya untuk diprogram dan mengerti materi-materi yang
telah di tetapkan sedemikian rupa.
Pada ujung
pendidikan, realisme memiliki proyeksi ketika manusia akan dibentuk
untuk hidup dalam nilai-nilai yang telah menjadi common sense sehingga
mereka mampu beradaptasi dengan lingkungan-lingkungan yang ada. Sisi
buruk model pendidikan dalam hal ini cenderung banyak dikendalaikan.
Corak lain
pendidikan realisme adalah tekanan-tekanan hidup yang terarah dalam
pengaturan-pengaturan serta keteraturan yang bersifat mekanistik. Meskipun
tidak semua pengaturan yang bersifat mekanistik buruk, apa yang
diterapkan oleh realisme dalam ruang pendidikan melahirkan berbagai
hal kemudian menuai banyak kecaman sebab dinilai telah menjadi penyebab
dehumanisasi (Wangsa Gandhi HW, Teguh. 2011: 143-144).
Menurut Power (1982), implikasi
filsafat pendidikan realisme adalah sebagai berikut:
1. Tujuan: penyesuaian hidup dan
tanggung jawab sosial
2. Kurikulum: komprehensif mencakup
semua pengetahuan yang berguna berisi pentahuan umum dan pengetahuan praktis
3. Metode: Belajar tergantung pada
pengalaman baik langsung atau tidak langsung. Metodenya harus logis dan
psikologis. Metode pontiditioning (Stimulua-Respon) adalah metode pokok yang
digunakan
4. Peran peserta didik adalah menguasai
pengetahuan yang handal dapat dipercaya. Dalam hal
disiplin, peraturan yang baik adalah esensial dalam belajar.
Disiplin mental dan moral dibutuhkan untuk memperoleh hasil yang baik
5. Peranan pendidik adalah menguasai
pengetahuan, terampil dalam teknik mengajar dan dengan keras menuntut prestasi
peserta didik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar