Filosofi Musik
·
·
6
Jika selama ini kita hanya tertarik
untuk menikmati musik, mungkin ada baiknya untuk mengenali lebih filosofi
terkait musik. Coba pikirkan jawaban untuk pertanyaan berikut:
- Apa itu musik?
- Apa hubungan musik dengan pikiran?
- Apa yang musik berikan terhadap dunia kita?
- Apa hubungan antara musik dengan emosi?
- Apa makna yang terkait dengan musik?
Melalui pertanyaan-pertanyaan
mendasar seperti itu, beberapa pemikir di kehidupan kita mencoba merumuskan
musik agar dapat dipelajari dan diresapi makna yang terkandung di dalamnya.
Berikut beberapa pemikiran yang telah dihasilkan mengenai musik hingga saat
ini.
Definisi Musik
Salah satu definisi paling umum dari
musik adalah “suara yang teratur”. Namun, definisi ini sepertinya tidak
memuaskan, terdapat banyak tipe dari suara yang teratur yang tidak anggap
sebagai musik sebagaimana suara manusia atau dering alarm.
Kemudian, muncul lagi definisi
berikutnya dari musik yaitu “musik adalah nada yang teratur”, sebagaimana yang
diajukan oleh filsuf era-era awal. Tetapi, definisi tersebut terlalu sempit,
dikarenakan ada banyak bentuk musik yang tidak menggunakan skala nada. Musik
perkusif dan atonal musik misalnya, mereka hanya menggunakan tempo dan ketukan,
tidak memiliki nada.
Kemudian, pemikir merumuskan
aspek-aspek populer yang terdapat di musik yaitu: melodi, harmoni, ritme, dan
timbre. Kemudian, berbagai bantahan muncul terhadap pemahaman aspek-aspek dari
musik. Musique concrete misalnya, hanya berisi oleh contoh-contoh suara
dari alam yang terkadang memiliki komposisi yang acak. Ambient music
juga hanya terdiri dari rekaman kehidupan liar atau alam.
Kemudian pendefinisian musik kembali
dipelopori oleh John Cage. Karyanya, 4’33” merupakan kasus pengujian terhadap
berbagai definisi dari musik. Ia menampilkan pertunjukan selama 4 menit 33
detik tanpa menimbulkan suara sama sekali. Cage bermaksud untuk menampilkan
permainan musik, tetapi menampilkan lingkungan selama bermain musik.
Menurutnya, selalu ada suara kemanapun kita pergi, dan tidak ada ruang pertunjukan
yang benar-benar sunyi. John Cage percaya bahwa setiap suara seharusnya
dianggap sebagai musik, dan ide ini terlihat dari berbagai karya yang ia
ciptakan.
Absolute music vs Program Music
“Absolute music” mengacu pada musik
yang tidak bermakna apapun dan non-representational. “Program music”, merupakan
lawannya, yaitu dimaksudkan untuk membangkitkan ide di luar musik di luar musik
ke dalam pikiran pendengar yang merepresentasikan adegan, gambar, atau
perasaan. Karena absolute music tidak memiliki makna apapun, makna
tersebut jadi diturunkan dari esensi musik itu sendiri. Perdebatan selama ini
muncul apakah absolute music dapat benar-benar ada dan apakah
setiap musik diciptakan oleh alam untuk memiliki maksud atau tidak.
Terdapat debat yang intens tentang
masalah ini selama era romantic akhir, dimana mayoritas menolak musik berbasis
instrumental yang absolute. Penentang tersebut berasal dari Richard Wagner,
Friedrich Nietzche dan Georg Wilhelm Friedrich Hegel. Karya Wagner mengatur programmatic
dan sering menggunakan vokalisasi, dan ia menambahkan bahwa “dimana musik tidak
mampu melaju lebih jauh, mereka menjadi kata. Kata berposisi lebih tinggi
daripada nada.” Nietzche menulis banyak komentar pujian terhadap musik Wagner
dan faktanya ia sendiri adalah komposer amatir.
Filsuf romantic yang
mendukung absolute music muncul dari Johann von Goethe yang melihat
musik bukanlah sebagai subjek bahasa manusia melainkan sebagai keabsolutan
sejati yang berarti terlihat lebih tinggi daripada urutan kenyataan dan keindahan.
Beberapa filsuf lainnya juga menghubungkan musik dengan unsur spiritualisme.
Pada bagian IV dari karya The World as Will and Representation (1819),
Arthur Schopenhauer menulis bahwa “musik adalah jawaban dari misteri kehidupan.
Kebanyakan tersusun dari segala seni, musik mengekspresikan pemikiran terdalam
dari hidup.” Pada The Immediate Stages of Erotic, or Musical Eroticm
bagian dari Either/Or (1843), Soren Kierkegaard memeriksa
kedalaman dari musik Wolfgang Amadeus Mozart Mozart dan unsur sensual dari Don
Geovanni.
Makna dan Tujuan
Saat ini masih terdapat banyak debat
mengenai bagaimana memaknai suatu musik. Tentu saja, musik dapat
diinterpretasikan dengan berbagai cara oleh berbagai pendengar, tetapi terdapat
banyak karakter emosional yang muncul secara universal pada musik. Orang-orang
mungkin menghubungkan suara tertentu dengan emosi tertentu berdasarkan kondisi
alamiah, tetapi beberapa tipe suara yang fundamental mungkin memiliki
kenyamanan dan ketidaknyamanan yang alami juga.
Sebagai contoh, kajian yang
menunjukkan bahwa suara rendah berlatarbelakang noise cenderung untuk
menenangkan dan melemaskan (kemungkinan karena suara tersebut serupa dengan
suara di dalam kandungan) dimana suara tinggi dan tempo tinggi digunakan untuk
menunjukkan kegembiraan. Pertanyaan utama disini seberapa besar anggapan
tersebut yang datang secara langsung dari musik dan seberapa besar juga yang
datang dari pengaruh budaya? Ilmu neurobiology, evolutionary psychology, dan
bidang ethnomusicology perlahan menemukan kemajuan untuk menjawab hal ini dan
pertanyaan terkait.
Upaya pertama untuk menempatkan
musik pada framework evolusi dibuat oleh Charles Darwin yang
berkata pada 1871 di bukunya berjudul The Descent of Man, “nada
musik dan ritme pertama kali digunakan oleh laki-laki dan perempuan untuk
tujuan memesona lawan jenisnya.” Saat ini terdapat penelitian aktif mengenai
evolusi dari musik, dan beberapa bukti ditemukan untuk mendukung hipotesis
Darwin, dan buktinya lainnya menyarankan bahwa musik bermakna sebagai organisasi
sosial dan komunikasi untuk budaya masyarakat jaman purba. Pada tahun 1997 di
buku How the Mind Works, Pinker meragukan musik sebagai “auditory
cheesecake“, sebuah frase yang bertahun-tahun digunakan untuk menantang
musikologi dan psikologi yang mempercayai bahwa musik merupakan keindahan bagi
unsur auditori.
Keindahan Musik
Studi estetika musik melibatkan
pertanyaan “apa yang membuat musik enak didengar?” Pandangan mengenai apa yang
disebut “musik yang bagus” telah berubah secara dramatis sejak bentuk musik
yang baru muncul dan bentuknya musik yang lama tenggelam. Fakta ini menunjukkan
bahwa kebudayaan musik bergantung kepada kemampuan seseorang untuk
menginterpretasi dan menikmati musik.
Untuk memahami hal ini lebih baik,
mari kita kenali perbedaan antara art music dan popular
music. Popular music adalah musik dengan pendengar yang banyak dan
bergantung pada periode budaya dan waktu. Art music adalah musik
yang dikembangkan oleh kelompok yang relatif kecil dan harus berlatih serta
belajar agar dapat menciptakan musik yang diapresiasi. Batasan yang jelas
antara art music dan popular music secara konstan
berubah-ubah dan bergantung pada subjek perdebatan.
Begitulah beberapa pemikiran
mengenai musik yang ada hingga sekarang. Bagaimana dengan pemikiran anda
sendiri mengenai musik? Apakah menurut anda musik hanyalah karya seni penyegar
jiwa? Atau mungkin sesuatu yang berkembang berdasarkan kebudayaan manusia? Atau
memiliki makna yang berada pada tataran spiritualisme sehingga tidak bisa
sembarangan dinikmati karena akan mempengaruhi persepsi spiritualisme anda?
Mari menikmati musik.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar