Rabu, 17 Juni 2015

laporan observasi kurikulum



BAB I
PENDAHULUAN

1.     LATAR BELAKANG MASALAH
Pendidikan merupakan sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan, khususnya untuk anak yang sedang tumbuh dan berkembang. Sebuah pendidikan akan sangat mempengaruhi pola pikir dan tingkah laku seorang anak. Pendidikan yang diterima oleh anak adalah dari keluarga, masyarakat tempat ia tinggal dan sebuah lembaga pendidikan yaitu sekolah. Disekolah anak mendapatkan berbagai macam pembelajaran tentang berbagai ilmu, muali dari tentang bagaimana ia seharusnya bersikap dalam kehidupan bermasyarakat (imu social), bagaimana ia seharusnya bersikap sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang Maha Esa, dan berbagai ilmu lainnya.
Pengalaman adalah guru yang berharaga. Ilmu yang didapatkan dibangku pendidikan terkadang ada yang tidak sesuai atau tidak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga perlu adanya pengamatan langsung yang dilakukan. Observasi merupakan suatu kegiatan yang sangat penting dalam mengetahui bagaimana cara yang baik. Dalam hal ini saya selaku mahasiswa PGSD melakukan observasi di Sekolah Dasar Negeri 8 Pandegelang, laporan observasi ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Telaah Kurikulum. Dengan adanya observasi ini diharapkan kita dapat mengetahui bagaimana seorang guru men gajar suatu pembelajaran yang baik dan benar, kemudian kita terapkan kerika mengajar nanti.
Sekolah Dasar Negeri 8 merupakan Sekolah Dasar Negeri yang bertempat di kabupaten pandegelang. Sd ini masih menggunakan kurikulum KTSP. Tujuan sekolah Dasar Negeri 8 Pandeglang yaitu Menciptakan siswa yang beriman dan bertakwa, Membina manusia yang berakhlak mulia, Menciptakan manusia yang jasmani dan rohani, Memberikan bekal kemampuan pengetahuan dan keterampilan dasar untuk melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi, Menciptakan manusia dengan kreatif, inovatif, dan kerja keras dalam mengembangkan diri secara terus menerus. Selanjutnya Visi Sekolah Dasar Negeri 8 Pandelang yaitu ” mendidik membimbing murid untuk mendapatkan pendidikan dasar yang berprestasi yang dapat melanjutkan ke SLTP sesuai dengan keinginan orangtua dan masyarakat”. Dan Misi Sd N 8 Pandegelang yaitu Menghayati dan mengamalkan tujuan pendidikan nasional, Memahami dan melaksanakan kurikulum, Membuat program sekolah dan program pembelajaran,  Meningkatkan disiplin guru dan murid, Meningkatkan mutu pendidikan, Meningkatkan keimanan dan ketakwaan,Kerjasama dengan orangtua murid dan masyarakat.
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran unntuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Kurikulum merupakan kumpulan  mata-mata pelajaran yang hrus disampaikan guru atau dipelajari oleh siswa.(Robert s.Zais,1976)
Kata kurikulum yang dikemukakan oleh Zais dalam Dimyati dan Mudjiono (2002:264) berasal dari satu kata bahasa Latin yang berarti “jalur pacu”, dan secara tradisional, kurikulum sekolah disajikan seperti itu (ibarat jalan) bagi kebanyakan orang. Konsep kurikulum berkembang sejalan dengan perkembangan teori dan praktik pendidikan yang juga bervariasi sesuai dengan aliran atau teori pendidikan yang dianutnya. Menurut pandangan lama, kurikulum merupakan kumpulan mata-mata pelajaran yang harus disampaikan guru atau dipelajari oleh siswa.
Adapun definisi kurikulum versi Indonesia sebagai mana yang tertuang dalam UUSPN No. 20 Tahun 2003 pada BAB I Pasal 1, pengertian kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan.
Hendyat Soetopo dan Soeamanto (1986) membagi fungsi kurikulum menjadi 7 bagian yaitu:
·         Fungsi kurikulum dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. Maksudnya bahwa kurikulum merupakan suatu alat atau usaha untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan yang diinginkan oleh sekolah yang dianggap cukup tepat dan penting untuk dicapai.
·         Fungsi kurikulum bagi anak. Maksudnya kurikulum sebagai organisasi belajar tersusun yang disiapkan untuk siswa sebagai salah satu konsumsi bagi pendidikan mereka.
·         Fungsi kurikulum bagi guru. Ada tiga macam, yaitu : a). Sebagai pedoman kerja dalam menyusun dan mengorganisir pengalam belajar bagi anak didik. b). Sebagai pedoman untuk mengadakan evaluasi terhadap perkembangan anak dalam rangka menyerap sejumlah pengalaman yang diberikan. c). Sebagai pedoman dalam mengatur kegiatan pendidikan dan pengajaran.
·         Fungsi kurikulum bagi sekolah dan pembina sekolah. Dalam arti: a) sebagai pedoman dalam mengadakan fungsu supervisi yaitu memperbaiki situasi belajar, b) sebagai pedoman dalam melaksanakan fungsi supervisi dalam menciptakan situasi untuk menunjang situasi belajar anak ke arah yang lebih baik, c) sebagai pedoman dalam melaksanakan fungsi supervisi dalam memberikan bantuan kepada guru untuk memperbaiki situasi mengajar, d) sebagai pedoman untuk mengembangkan kurikulum lebih lanjut, dan e) sebagai pedoman untuk mengadakan evaluasi belajar mengajar.
·         Fungsi kurikulum bagi orang tua murid. Maksudnya orang tua dapat turut serta membantu usaha sekolah dalam memajukan putra-putrinya.
·         Fungsi kurikulum bagi sekolah pada tingkatan di atasnya. Ada dua jenis berkaitan dengan fungsi ini yaitu pemeliharaan keseimbangan proses pendidikan dan penyiapan tenaga guru.
·         Fungsi kurikulum bagi masyarakat dan pemakai lulusan sekolah. Sekurang-kurangnya ada dua hal yang bisa dilakukan dalam fungsi ini yaitu pemakai lulusan ikut memberikan bantuan guna memperlancar pelaksanaan program pendidikan yang membutuhkan kerja sama dengan pihak orang tua / masyarakat.

Kurikulum yang berlaku secara nasional untuk setiap program studi merupakan rambu-rambu untuk menjamin mutu dan kemampuan (kompetensi) sesuai dengan program studi yang ditempuh. Kurikulum bersifat khas untuk suatu program studi, sebagaimana kekhasan tujuan pendidikan dan kompetensi lulusan suatu program studi. Kurikulum tersebut mengandung empat elemen pokok, yaitu isi (content), strategi pembelajaran (teaching-learning strategy), proses penilaian (assessment processes), dan proses evaluasi (evaluation processes).




B. RUANG LINGKUP DAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, penyusun menuliskan ruang lingkup masalah sebagai berikut.
Kurikulum adalah perangkat mata pelajaran dan program pendidikan yang diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada peserta pelajaran dalam satu periode jenjang pendidikan. Penyusunan perangkat mata pelajaran ini disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan setiap jenjang pendidikan dalam penyelenggaraan pendidikan tersebut serta kebutuhan lapangan kerja.
Lama waktu dalam satu kurikulum biasanya disesuaikan dengan maksud dan tujuan dari sistem pendidikan yang dilaksanakan. Kurikulum ini dimaksudkan untuk dapat mengarahkan pendidikan menuju arah dan tujuan yang dimaksudkan dalam kegiatan pembelajaran secara menyeluruh.
Berkaitan dengan hal itu, penulis berusaha menjelaskan tentang hal tersebut ke dalam bentuk karya tulis secara sistematis. Ruang lingkup dalam penelitian ini mencakup:
  1. Peneliti hanya membahas tentang bahan kurikulum.
  2. Peneliti hanya mengkaji tentang landasan filosofis.
  3. Observasi untuk mengetahui kurikulum yang digunakan di SD N 8 Pandegelang.
  4. Observasi dilaksanakan di kabupaten pandegelang.
  5. Informasi yang didapat melalui wawancara bahwa SD N 8 Pandegelang masih menggunakan kurikulum KTSP.
  6. Peneliti hanya memberikan instrument wawancara kepada narasumber.

C. TUJUAN PENELITIAN
Setiap kegiatan observasi yang dilakukan tentu mempunyai tujuan yang ingin dicapai, demikian pula dengan observasi ini. Di dalam observasi ini, penulis mempunyai beberapa tujuan, yaitu :
1.      Untuk mendeskripsikan kurikulum yang digunakan di SD N 8 Pandegelang
2.      Untuk mengetahui kurikulum yang digunakan di SD N 8 pandegelang
3.      Untuk memenuhi tugas matakuliah Telaah Kurikulum







D. MANFAAT PENELITIAN
Segala sesuatu kegiatan yang dilakukan tentu mempunyai manfaat yang dapat diambil. Demikian pula dengan observasi ini. Observasi ini bermanfaat bagi mahasiswa dan guru. Setelah melakukan observasi di Sekolah Dasar diharapkan kita dapat mengetahui dan memahami bagaimana penerapan pembelajaran kurikulum KTSP yang baik dan benar serta mengaplikasikannya ketika kita kita menjadi guru dimasa yang akan datang.

E. SISTEMATIKA PENULISAN
Berikut ini adalah pemaparannya.
1. Pembuka Laporan Penelitian

Pada bagian pembuka ini, sebuah laporan penelitian sekurang-kurangnya harus memuat, yaitu:
Halaman judul, halaman ini mencantumkan judul atau nama kegiatan penelitian yang sedang Anda kerjakan, logo atau simbol seperlunya apabila Anda rasa perlu dan biasanya, tanggal penulisan laporan penelitian.
Lembar pengesahan, pada lembar ini dicantumkan pengesahan-pengesahan oleh beberapa orang atau institusi yang dianggap penting dan perlu untuk dimasukkan.
Kata pengantar, pada laman ini Anda dapat menuliskan kata pengantar Anda selaku penulis dari laporan penelitian. Kata pengantar dapat berupa ucapan-ucapan terima kasih kepada semua orang atau pihak yang telah membantu terselesaikan laporan penelitian Anda tersebut. Dan dapat juga ucapan maaf apabila terdapat kesalahan di dalamnya.
Daftar isi, daftar ini memuat segala konten yang terdapat dalam laporan penelitian Anda, yang memudahkan pembaca Anda untuk memahami isi dari laporan Anda nantinya.
Dafar lampiran, berisi daftar-daftar lampiran yang dirasa perlu untuk menunjang kesahihan laporan penelitian Anda.

2. Bagian Isi Laporan Penelitian
Latar belakang masalah, pada bagian tuliskan latar belakang Anda sehingga mencoba untuk melakukan penelitian tersebut. Gunakan kalimat seefisien dan sejelas mungkin agar pembaca mengerti.
Rumusan masalah, merupakan perumusan atas permasalahan yang tengah Anda tawarkan sebagai dasar dari penelitian.
Tujuan penelitian, merupakan tujuan yang diharapkan dari penelitian tersebut. Jabarkan seluruh tujuan yang memang telah Anda harapkan akan terwujud dengan adanya penelitian tersebut.
Manfaat penelitian, merupakan manfaat-manfaat apa saja yang mungkin dihasilkan dengan adanya penelitian ini.

3. Kajian Teori atau Tinjauan Kepustakaan Laporan Penelitian

Bagian kajian teori atau kepustakaan ini berisi setidaknya beberapa hal berikut, yakni:
Pembahasan teori, merupakan pembahasan teori yang dipergunakan selama melakukan penelitian. Gunakan pembahasan menarik dan efektif agar pembaca tertarik untuk terus melanjutkan membaca laporan penelitian tersebut.
Kerangka pemikiran dan argumentasi keilmuan, merupakan kerangka-kerangkan pemikiran yang dipergunakan dalam penelitian secara runtut dan jelas.
Pengajuan hipotesis, merupakan pengajuan hipotesis perihal permasalahan yang telah ditentukan. Pergunakan sumber-sumber sevalid mungkin supaya hipotesis dapat dipertanggungjawabkan apabila ada pertanyaan dari pembaca laporan penelitian Anda nantinya

4. Metodologi Penelitian

Metodologi penelitan memuat banyak hal penting yang dipergunakan dalam penelitian baik berupa waktu dan tempat penelitian, metode dan rancangan penelitian, populasi dan sampel yang dipergunakan dalam pencarian data penelitian, instrumen penelitian serta pengumpulan data dan analisis data.

5. Hasil Penelitian

Pada bagian hasil penelitian, dapat memuat beberapa konten berikut yang pada umumnya terdapat pada laporan hasil penelitian, yakni jabaran hasil penelitian, pengajuan hipotesis yang telah dijabarkan pada bagian sebelumnya, serta diskusi penelitian (yang nantinya akan berupa pengungkapan pandangan teoritis tentang hasil-hasil yang didapat).

6. Kesimpulan dan Saran

Pada bagian kesimpulan dan saran memuat kesimpulan yang didapatkan dari penelitian tersebut. Paparkan hasil penelitian selugas mungkin dan pastikan segala sesuatunya telah dijabarkan. Bagian ini juga memuat saran-saran dari pembaca apabila mendapati beberapa bagian yang masih kurang tepat untuk kesempurnaan laporan penelitian Anda.

7. Bagian Penunjang Penelitian

Pada bagian terakhir ini dicantumkan daftar pustaka berupa sumber-sumber yang digunakan sepanjang penelitian berlangsung, baik dari buku bacaan maupun dari sumber digital.


BAB II
LANDASAN PENELITIAN

A.   LANDASAN TEOLOGIS
Hadis Nabi SAW merupakan sumber kedua ajaran Islam sesudah kitab suci al-Qur’an. Semua ayat al-Qur’an diterima oleh para sahabat dari Rasulullah SAW secara mutawatir, ditulis dan dikumpulkan sejak zaman Nabi SAW masih hidup baik fi as-suthur (dalam tulisan) maupun fi ash-shudur (melalui hafalan), serta dibukukan secara resmi sejak zaman Abu Bakar Ash-Shiddiq RA (W. 13 H), karena itu al-Qur’an bersifat Qath’i al-subut.
Sedangkan Hadis Nabi SAW sebagian besarnya tidak diriwayatkan secara mutawatir. Pembukuannya secara resmi baru dilakukan pada zaman Khalifah ‘Umar bin ‘Abdul Aziz al-Umawiy (99/717-101/720), oleh karena itu Hadis bersifat dhann al-wurud. Tentunya untuk mengetahui orisinalitas dan kualitas sebuah Hadis, membutuhkan ilmu Hadis, baik ilmu Hadis Riwayah maupun Ilmu Hadis Dirayah.
Hadis sebagai sumber ajaran Islam yang kedua setelah al-Qur’an, merupakan sarana fungsionalis untuk menggali konsep kurikulum pendidikan Islam. Kurikulum merupakan salah satu komponen yang sangat menentukan dalam sistem pendidikan, karena kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan sekaligus sebagai pedoman dalam pelaksanaan pendidikan pada semua jenjang tingkat pendidikan. Kurikulum yang baik dan relevan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan Islam adalah yang bersifat integral dan komprehensif serta menjadikan al-Qur’an dan Hadis sebagai sumber utama dalam penyusunannya.
Untuk mencoba memahami konsep kurikulum pendidikan Islam dalam Hadis, pembahasan makalah ini dipusatkan pada makna-makna Hadis yang mengandung konsep kurikulum pendidikan baik secara mantuq maupun mafhum. Hal ini dilakukan, sehubungan tidak adanya kata kunci yang bermakna kurikulum (manhaj al-dirasah) atau sejenisnya yang ditemukan di dalam Hadis.
1.      Pengertian Kurikulum
Secara etimologis, kurikulum berasal dari bahasa Yunani, yaitu curir yang artinya pelari dan curere yang berarti tempat berpacu. Jadi istilah kurikulum berasal dari dunia olah raga pada zaman Romawi Kuno di Yunani, yang mengandung pengertian suatu jarak yang harus ditempuh oleh pelari dari garis start sampai garis finish.(Hasan Langgulung, 1986:176).
Dalam bahasa Arab, kata kurikulum biasa diungkapkan dengan manhaj al-dirasah, yang berarti jalan yang terang yang dilalui manusia pada berbagai bidang kehidupan. Sedangkan kurikulum pendidikan (manhaj al-dirasah) dalam kamus tarbiyah adalah seperangkat perencanaan dan media yang dijadikan oleh lembaga pendidikan dalam mewujudkan tujuan-tujuan pendidikan Secara terminologis, para ahli telah banyak mendefenisikan kurikulum di antaranya.
1.      Zakiah Daradjat berpendapat bahwa kurikulum sebagai suatu program yang direncanakan dalam bidang pendidikan dan dilaksanakan untuk mencapai sejumlah tujuan pendidikan tertentu. (Zakiah Daradjat, 1992:121)
2.      Addamardasyi Sarhan dan Munir Kamil, sebagaimana dikutip al-Syaibani mengatakan bahwa kurikulum adalah sejumlah pengalaman pendidikan, kebudayaan, sosial, olah raga dan kesenian yang disediakan oleh sekolah bagi murid-muridnya di dalam dan di luar sekolah dengan maksud menolong untuk berkembang menyeluruh dalam segala segi dan merubah tingkah laku mereka sesuai dengan tujuan pendidikan. (Omar Muhammad al-Toumy al-Syaibani, 1979: 485)
3.      S. Nasution menyatakan ada beberapa penafsiran lain tentang kurikulum. Diantaranya; pertama, kurikulum sebagai produk (sebagai hasil pengembangan kurikulum), kedua, kurikulum sebagai program (alat yang dilakukan sekolah untuk mencapai tujuan), ketiga,kurikulum sebagai hal-hal yang diharapkan akan dipelajari oleh siswa (sikap, keterampilan tertentu), dan keempat, kurikulum dipandang sebagai pengalaman siswa. (S. Nasution, 1994: 5-9)
Dari beberapa definisi di atas dapat kita pahami, ada pandangan yang menyatakan bahwa kurikulum hanya berisi rencana pelajaran di sekolah, ini karena mereka membedakan antara kegiatan kurikuler, kokurikuler dan ekstrakurikuler. Ada juga yang berpandangan bahwa kurikulum lebih dari sekedar rencana pelajaran tapi semua yang secara nyata terjadi dalam proses pendidikan di sekolah atau semua pengalaman belajar itulah kurikulum.
Menurut Mahmud Junus, berdasarkan Qur’an dan Hadis dapat diambil pengertian bahwa ada 3 (tiga) aspek kepribadian manusia yang harus dididik, yaitu: 1. Aspek jasmani, 2. Aspek akal, 3. Aspek rohani. )Ahmad Tafsir, 2007: 56 (Al-Syaibani dalam bukunya Filsafat Pendidikan Islam menetapkan bahwasanya ada 4 (empat) dasar pokok dalam kurikulum pendidikan Islam, yaitu dasar religi, dasar falsafah, dasar psikologis, dan dasar sosiologis, serta Abdul Mujib dalam bukunya Ilmu Pendidikan Islam menambahkan dengan dasar organisatoris. (Abdul Mujib, 2006:124)
  1. Hadis- Hadis Tentang Kurikulum Pendidikan
Hasil penelusuran penulis dalam kitab hadis, tidak ada ditemukan kata khusus seperti manhaj al-dirasah sebagai kata yang menunjukkan kurikulum, karenanya penulis mencoba memahami kurikulum berdasarkan matan Hadis yang bermuatan konsep kurikulum baik secara mantuq maupun mafhum.

1. Ilmu agama dan Al-Qur’an
حَدَّثَنَا حَسَنُ بْنُ مُوسَى حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ أَبُو خَيْثَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُثْمَانَ بْنِ خُثَيْمٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَضَعَ يَدَهُ عَلَى كَتِفِي أَوْ عَلَى مَنْكِبِي شَكَّ سَعِيدٌ ثُمَّ قَالَ اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّينِ وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيلَ
تعليق شعيب الأرنؤوط : إسناده قوي على شرط مسلم

Artinya:Dari Ibnu ‘Abbas bahwasanya Rasulullah SAW meletakkan tanggannya pada punggung Ibnu ‘Abbas atau pundaknya, – perawi Hadis ini, Said ragu- kemudian Rasulullah SAW berdo’a: Ya Allah berikanlah kepadanya pemahaman yang mendalam tentang agama dan ajarilah dia takwil (al-Qur’an). (Ahmad ibn Hanbal Abu Abdullah al-Syiyabaani, tt: 266).
Ibnu ‘Abbas mengatakan bahwa Rasulullah SAW wafat, sedang usia Ibnu ‘Abbas memasuki 10 (sepuluh) tahun dan dia telah mempelajari ayat-ayat muhkam. Ibnu ‘Abbas telah mengatakan pula kepada Sa’id bin Jubair (muridnya): “aku telah menghimpun semua ayat-ayat muhkam pada masa Rasulullah SAW. Said bertanya kepadanya: “Apakah ayat-ayat muhkam itu? Ibnu ‘Abbas menjawab: “Surat-surat yang mufashal (yang pendek-pendek).
Ibnu Katsir ra telah mengatakan bahwa dengan interpretasi apapun makna hadis ini menunjukkan kebolehan mengajari anak-anak untuk membaca al-Qur’an meskipun dalam usia dini, bahkan adakalanya disunnahkan atau diwajibkan. (Jamaal ‘Abdur Rahman, 2005:392)
Selain itu al-Qur’an sendiri merupakan materi pertama yang harus diajarkan kepada siswa. Rasulullah SAW telah bersabda:
حَدَّثَنَا حَجَّاجُ بْنُ مِنْهَالٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ أَخْبَرَنِي عَلْقَمَةُ بْنُ مَرْثَدٍ سَمِعْتُ سَعْدَ بْنَ عُبَيْدَةَ عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيِّ عَنْ عُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ قَالَ وَأَقْرَأَ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ فِي إِمْرَةِ عُثْمَانَ حَتَّى كَانَ الْحَجَّاجُ قَالَ وَذَاكَ الَّذِي أَقْعَدَنِي مَقْعَدِي هَذَا

Artinya:Telah menceritakan kepada kami hujjaj ibn Minhaal telah menceritakan syu’bah ia berkata ‘Alqamah ibn mursyid telah mengkhabarkan kepadaku saya mendengar Said ibn ‘Ubaidah dari ayah Abdurrahman al-silmy dari ‘Usman ra Nabi SAW telah bersabda: “Yang paling baik di antara kamu adalah orang yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya. (Muhammad bin Ismail Abu Abdillah al-Bukhari,1987:1919)
 Asas-asas pendidikan Islam
  1. asas agama
seluruh sistem yanga da di dalam masyarakat Islam, termasuk sistem pendidikannya harus meletakkan dasar filsafah, tujuan, dan kurikulumnya pada ajaran islam yang meliputi aqidah, ibadah, muamalat, dan hubungan-hubungan yang berlaku didalam masyarakat.
 2. Asas Falsafah
Dasar ini memeberikan arah dan kompas tujuan pendidikan Islam, dengan dasar filosofis.
 3. Asas Psikologis
Asas ini membei arti bahwa kurikulum pendidikan Islam hendaknya disusun dengan mempertimbangkan tahapan-tahapan pertumbuhan dan perkembangan yang dilalui anak didik.
 4. Asas Sosial
Pembentukkan kurikulum pendidikan Islam harus mengacu kearah realisasi individu dalam masyarakat.

karakteristik Kurikulum Pendidikan Islam
Secara umum karakteristik kurikulum pendidikan Islam adalah pencerminan Islami yang dihasilkan dari pemikiran kefilsafatan dalam seluruh aktivitas dan kegiatan kependidikan dalam prakteknya. Konsep inilah yang membedakan kurikulum pendidikan Islam dengan kurikulum pendidikan pada umumnya.
 1. Mementingkan tujuan agama dan akhlak dalam berbagai hal seperti tujuan dan kandungan,kaedah,alat dan tekniknya.
 2. Memperluas perhatian dan kandungan hingga mencakup perhatian, pengembangan serta bimbingan terhadap segala aspek pribadi pelajar dan segi intelektual, psikologi, sosial, dan spiritual.
3. Adanya keseimbangan antara kandungan kurikulum dan pengalaman serta kegiatan pengajaran. 
4. menekankan konsep menyeluruh dan keseimbangan pada kandungan yang tidak hanya terbatas pada ilmu teorotis.
5. Ketertarikan anatara kurikulum pendidikan Islam dengan minat , kemampuan , keperluan, dan perbedaan individual antar siswa.
وَلَقَدْ ءَاتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ (12) وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَابُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ (13) وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ (14) وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (15) يَابُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ (16) يَابُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ (17) وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ (18) وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِير (19)
Artinya :
12. Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji".
13. Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".
14. Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.
15. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
16. (Luqman berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.
17. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).
18. Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.
19. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.

Tafsir :
12. ayat ini menguraikan tentang salah seorang bernama Luqman yang dianugerahi oleh Allah swt hikmah. Hikmah menurut ulama "Mengetahui yang paling utama dari segala sesuatu, baik pengetahuan, maupun perbuatan. Ia adalah ilmu amaliah dan amal ilmiah. Ia adalah ilmu yang disukung oleh amal, dan amal yang tepat dan didukung ilmu".
13. Dilukiskan pengalaman hikmah itu oleh Luqman, serta pelestariannya kepada anaknya. Ini pun mencerminkan kesyukuran beliau atas anugerah itu. Luqman memulai nasihatnya dengan menekankan perlunya menghindari syirik/mempersekutukan Allah. Larangan ini sekaligus mengandung pengajaran tentang wujud keesaan Tuhaan. Bahwa redaksi pesannya berbentuk larangan, jangan mempersekutukan Allah untuk menekankan perlunya meninggalkan sesuatu yang buruk sebelum melaksanakan yang baik
14 Menurut Al-Biqa'I, ayat 14 bagaikan menyatakan: Luqman menyatakan hal itu kepada anaknya sebagai nasihat kepadanya, padahal kami telah mewasiatkan anaknya dengan wasiat itu seperti apa yang dinasihatkannya menyangkut kami. Di ayat 14 tidak menyebutkan jasa bapak, tetapi lebih menekankan jasa ibu karena ibu berpotensi tidak dihiraukan oleh anak karena kelemahannya.
15. ayat ini menjelaskan tentang pengecualian menaati perintah kedua orang tua, kewajiban menghormati dan menjalin hubungan baik dengan ibu bapak. ayat ini mengandung pesan yang pertama, bahwa mempergauli dengan baik itu hanya dalam urusan keduniaan, bukan keagamaan. Yang kedua, bertujuan meringankan beban tugas itu, karena ia hanya untuk sementara yakni selama hidup di dunia yyang hari-harinya terbatas, sehingga tidak mengapalah memikul beban kebaktian kepada-Nya. dan yang ketiga, bertujuan menghadapkan kata dunia dengan hari kembali kepada Allah yang dinyatakan diatas dengan kalimat hanya kepadaku kembali kamu.
16. Ayat ini menguraikan tentang kedalaman ilmu Allah, yang diisyaratkan pula oleh penutup ayat lalu dengan pernyatan-Nya. dalam konteks ayat ini, agaknya perintah perbuatan baik, apalagi kepada kedua orang tua yang berbeda agama, merupakan salah satu bentuk dari luthf(lembut,kecil,halus) Allah. Karena betapapun perbedaan atau perselisihan anatara anak dan ibu bapak, pasti hubungan darah yang terjalin antara mereka tetap berbekas dihati masing-masing.
17. berkaitan dengan amal-amal shaleh yang puncaknya adalah sholat, serta amal-amal kebajikannya yang tercermin dalam amr ma'ruf dan nahi munkar, juga nasihat berupa perisai yang membentengi seseorang dari kegagalan yaitu sabar dan tabah Kata 'azm dari segi bahasa berarti keteguhan hati dan tekad untuk melakukan sesuatu.
18 dan 19 nasihat luqman kali ini berkaitan dengan akhlak dan sopan satun berinteraksi dengan sesama manusia. Materi pelajaran aqidah, beliau selingi dengan materi pelajaran akhlak , bukan saja agar peserta didik tidak jenuh dengan satu materi, tetapi juga mengisyaratkan bahwa ajaran akidah dan akhlaq merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. 
Demikian Luqman al-hakim mengakhiri nasihat yang mencukup pokok-pokok tuntutan agama. Disana ada akidah,syariat,dan akhlak tiga unsur ajaran al-qur'an.

B.LANDASAN TEOLOGIS
Landasan Filosofis, yaitu asumsi asumsi tentang hakikat realitas, hakikat manusia, hakikat pengetahuan, dan hakikat nilai yang menjadi titik tolak dalam mengembangkan kurikulum. Asumsi-asumsi filosofis tersebut berimplikasi pada rumusan tujuan pendidikan, pengembangan isi atau materi pendidikan, penentuan strategi, serta pada peranan peserta didik dan peranan pendidikan
Landasan filosofis dalam pengembangan kurikulum ialah pentingnya rumusan yang didapatkan dari hasil berpikir secara mendalam, analisis, logis, sistematis dalam merencanakan, melaksanakan, membina dan mengembangkan kurikulum baik dalam bentuk kurikulum sebagai rencana (tertulis), terlebih kurikulum dalam bentuk pelaksanaan di sekolah.
Filsafat memegang peranan penting dalam pengembangan kuikulum. Sama halnya seperti dalam Filsafat Pendidikan, kita dikenalkan pada berbagai aliran filsafat, seperti: perenialisme, essensialisme, eksistesialisme, progresivisme, dan rekonstruktivisme. Dalam pengembangan kurikulum pun senantiasa berpijak pada aliran–aliran filsafat tertentu, sehingga akan mewarnai terhadap konsep dan implementasi kurikulum yang dikembangkan. Dengan merujuk kepada pemikiran Ella Yulaelawati, di bawah ini diuraikan tentang isi dari-dari masing-masing aliran filsafat, kaitannya dengan pengembangan kurikulum.
Filsafat membahas segala permasalahan yang dihadapi oleh manusia termasuk masalah-masalah pendidikan yang disebut filsafat pendidikan. Walaupun dilihat sepintas, filsafat pendidikan hanya merupakan aplikasi dari pemikiran-pemikiran filosofis untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan, tetapi antara keduanya yaitu antara filsafat dan filsafat pendidikan terdapat hubungan yang sangat erat.
Masing-masing aliran filsafat pasti memiliki kelemahan dan keunggulan tersendiri. Oleh karena itu, dalam praktek pengembangan kurikulum, penerapan aliran filsafat cenderung dilakukan secara eklektif untuk lebih mengkompromikan dan mengakomodasikan berbagai kepentingan yang terkait dengan pendidikan. Meskipun demikian saat ini, pada beberapa negara dan khususnya di Indonesia, tampaknya mulai terjadi pergeseran landasan dalam pengembangan kurikulum, yaitu dengan lebih menitikberatkan pada filsafat rekonstruktivisme.
       
PENDIDIKAN MENURUT ALIRAN REALISME
Definisi Realisme
atau tidak langsung Realisme adalah suatu bentuk yang dapat merepresentasikan kenyataan. Realisme terpusat pada pertanyaan tentang representasi, yaitu tentang bagaimana dunia dikonstruksi dan disajikan secara sosial kepada dan oleh diri kita. Inti realisme dapat dipahami sebagai kajian tentang budaya sebagai praktik-praktik pemaknaan dari representasi. Hal ini berarti bahwa kita harus mempelajari asal-usul tekstual dari makna. Hal ini juga menuntut kita untuk meneliti cara-cara tentang bagaimana makna diproduksi dalam beragam konteks.
Dalam pemikiran filsafat, realisme berpandangan bahwa kenyataan tidaklah terbatas pada pengalaman inderawi ataupun gagasan yang tebangun dari dalam. Dengan demikian realisme dapat dikatakan sebagai bentuk penolakan terhadap gagasan ekstrim idealisme dan empirisme. Dalam membangun ilmu pengetahuan, realisme memberikan teori dengan metode induksi empiris. Gagasan utama dari realisme dalam konteks pemerolehan pengetahuan adalah bahwa pengetahuan didapatkan dari dual hal, yaitu observasi dan pengembangan pemikiran baru dari observasi yang dilakukan. Dalam konteks ini, ilmuwan dapat saja menganalisa kategori fenomena-fenomena yang secara teoritis eksis walaupun tidak dapat diobservasi secara langsung.
Tradisi realisme mengakui bahwa entitas yang bersifat abstrak dapat menjadi nyata (realitas) dengan bantuan symbol-simbol linguistik dan kesadaran manusia. Gagasan ini sejajar dengan filsafat modern dari pendekatan pengetahuan versi Kantianism fenonomologi sampai pendekatan struktural (Ibid, 2002). Mediasi bahasa dan kesadaran manusia yang bersifat nyata inilah yang menjadi ide dasar ‘Emile Durkheim’ dalam pengembangan ilmu pengetahuan sosial. Dalam area linguistik atau ilmu bahasa, de Saussure adalah salah satu tokoh yang terpengaruh mengadopsi pendekatan empirisme Durkheim. Bagi de Saussure, obyek penelitian bahasa yang diteliti diistilahkan sebagai ‘la langue’ yaitu simbol-simbol linguistic yang dapat diobservasi (Francis & Dinnen, 1996)
Ide-ide kaum realis seperti ini sangatlah kontributif pada abad 19 dalam menjembatani antara ilmu alam dan humaniora, terutama dalam konteks perdebatan antara klaim-klaim kebenaran dan metodologi yang disebut sebagai ‘methodenstreit’ (Calhoun, 2002). Kontribusi lain dari tradisi realisme adalah sumbangannya terhadap filsafat kontemporer ilmu pengetahuan, terutama melalui karya Roy Bashkar, dalam memberikan argument-argument terhadap status ilmu pengetahuan spekulatif yang diklaim oleh tradisi empirisme.
Dalam pemikiran filsafat, realisme berpandangan bahwa kenyataan tidaklah terbatas pada pengalaman inderawi ataupun gagasan yang tebangun dari dalam. Dengan demikian realisme dapat dikatakan sebagai bentuk penolakan terhadap gagasan ekstrim idealisme dan empirisme. Dalam membangun ilmu pengetahuan, realisme memberikan teori dengan metode induksi empiris. Gagasan utama dari realisme dalam konteks pemerolehan pengetahuan adalah bahwa pengetahuan didapatkan dari dual hal, yaitu observasi dan pengembangan pemikiran baru dari observasi yang dilakukan. Dalam konteks ini, ilmuwan dapat saja menganalisa kategori fenomena-fenomena yang secara teoritis eksis walaupun tidak dapat diobservasi secara langsung.
Tradisi realisme mengakui bahwa entitas yang bersifat abstrak dapat menjadi nyata (realitas) dengan bantuan symbol-simbol linguistik dan kesadaran manusia. Gagasan ini sejajar dengan filsafat modern dari pendekatan pengetahuan versi Kantianism fenonomologi sampai pendekatan struktural (Ibid, 2002). Mediasi bahasa dan kesadaran manusia yang bersifat nyata inilah yang menjadi ide dasar ‘Emile Durkheim’ dalam pengembangan ilmu pengetahuan sosial. Dalam area linguistik atau ilmu bahasa, de Saussure adalah salah satu tokoh yang terpengaruh mengadopsi pendekatan empirisme Durkheim. Bagi de Saussure, obyek penelitian bahasa yang diteliti diistilahkan sebagai ‘la langue’ yaitu simbol-simbol linguistic yang dapat diobservasi (Francis & Dinnen, 1996)
Ide-ide kaum realis seperti ini sangatlah kontributif pada abad 19 dalam menjembatani antara ilmu alam dan humaniora, terutama dalam konteks perdebatan antara klaim-klaim kebenaran dan metodologi yang disebut sebagai ‘methodenstreit’ (Calhoun, 2002). Kontribusi lain dari tradisi realisme adalah sumbangannya terhadap filsafat kontemporer ilmu pengetahuan, terutama melalui karya Roy Bashkar, dalam memberikan argument-argument terhadap status ilmu pengetahuan spekulatif yang diklaim oleh tradisi empirisme.

 Aliran Filsafat Realisme
Ada tiga ajaran pokok dari Plato yaitu tentang idea, jiwa dan proses mengenal. Menurut Plato realitas terbagi menjadi dua yaitu contoh (paradigma) bagi benda konkret. Pembagian dunia ini pada inderawi yang selalu berubah dan dunia idea yang tidak pernah berubah. Idea merupakan sesuatu yang obyektif, tidak diciptakan oleh pikiran dan justru sebaliknya memberikam dua pengenalan. Pertama pengenalan tentang idea; inilah pengenalan yang sebenarnya. Pengenalan yang dapat dicapai oleh rasio ini disebut episteme (pengetahuan) dan bersifat, teguh, jelas, dan tidak berubah. Dengan demikian Plato menolak relatifisme kaum sofis. Kedua, pengenalan tentang benda-benda disebut doxa (pendapat), dan bersifat tidak tetap dan tidak pasti; pengenalan ini dapat dicapai dengan panca indera. Dengan dua dunianya ini juga Plato bisa mendamaikan persoalan besar filsafat pra-socratik yaitu pandangan panta rhei-nya Herakleitos dan pandangan yang ada-ada-nya Parmenides. Keduanya benar, dunia inderawi memang selalu berubah sedangkan dunia idea tidak pernah berubah dan abadi. Memang jiwa Plato berpendapat bahwa jika itu baka, lantaran terdapat kesamaan antara jiwa dan idea. Lebih lanjut dikatakan bahwa jiwa sudah ada sebelum hidup di bumi.
Sebelum bersatu dengan badan, jiwa sudah mengalami pra eksistensi dimana ia memandang idea-idea. Berdasarkan pandangannya ini, Plato lebih lanjut berteori bahwa pengenalan pada dasarnya tidak lain adalah pengingatan (anamnenis) terhadap idea-idea yang telah dilihat pada waktu pra-eksistansi. Ajaran Plato tentang jiwa manusia ini bisa disebut penjara. Plato juga mengatakan, sebagaimana manusia, jagat raya juga memiliki jiwa dan jiwa dunia diciptakan sebelum jiwa-jiwa manusia. Plato juga membuat uraian tentang negara. Tetapi jasanya terbesar adalah usahanya membuka sekolah yang bertujuan ilmiah. Sekolahnya diberi nama “Akademia” yang paling didedikasikan kepada pahlawan yang bernama

 Pendidikan Menurut Aliran Realisme
Aliran filsafat realisme berpendirian bahwa pengetahuan manusia itu adalah gambaran yang baik dan tepat dari kebenaran. Konsep filsafat menurut aliran realisme adalah: (1) Metafisika-realisme; Kenyataan yang sebenarnya hanyalah  kenyataan fisik (materialisme); kenyataan material dan imaterial (dualisme), dan kenyataan yang terbentuk dari berbagai  kenyataan (pluralisme); (2) Humanologi-realisme; Hakekat manusia terletak pada apa yang dapat dikerjakan. Jiwa merupakan sebuah organisme kompleks yang mempunyai kemampuan berpikir; (3) Epistemologi-realisme; Kenyataan hadir dengan sendirinya tidak tergantung pada pengetahuan dan gagasan manusia, dan kenyataan dapat diketahui oleh pikiran. Pengetahuan dapat diperoleh melalui penginderaan. Kebenaran pengetahuan dapat dibuktikan dengan  memeriksa kesesuaiannya dengan fakta; (4) Aksiologi-realisme; Tingkah laku manusia diatur oleh hukum-hukum alam yang diperoleh melalui ilmu, dan pada taraf yang lebih rendah diatur oleh kebiasaan-kebiasaan atau adat-istiadat yang telah teruji dalam kehidupan.
Dalam hubungannya dengan pendidikan, pendidikan harus universal, seragam, dimulai sejak pendidikan yang paling rendah, dan merupakan suatu kewajiban. Pada tingkat pendidikan yang paling rendah, anak akan menerima jenis pendidikan yang sama. Pembawaan dan sifat manusia sama pada semua orang. Oleh karena itulah, metode, isi, dan proses pendidikan harus seragam. Namun, manusia tetap berbeda dalam derajatnya, di mana ia dapat mencapainya. Oleh karena itu, pada tingkatan pendidikan yang paling tinggi tidak boleh hanya ada satu jenis pendidikan, melainkan harus beraneka ragam jenis pendidikan. Inisiatif dalam pendidikan terletak pada pendidik bukan pada peserta didik. Materi atau bahan pelajaran yang baik adalah bahan pelajaran yang memberi kepuasan pada minat dan kebutuhan pada peserta didik. Namun, yang paling penting bagi pendidik adalah bagaimana memilih bahan pelajaran yang benar, bukan memberikan kepuasan terhadap minat dan kebutuhan pada peserta didik. Memberi kepuasan terhadap minat dan kebutuhan siswa hanyalah merupakan alat dalam mencapai tujuan pendidikan, atau merupakan strategi mengajar yang bermanfaat.
Menurut Power (1982), implikasi filsafat pendidikan realisme adalah sebagai berikut: (1) Tujuan: penyesuaian hidup dan tanggung jawab sosial; (2) Kurikulum: komprehensif mencakup semua pengetahuan yang berguna berisi pentahuan umum dan pengetahuan praktis; (3) Metode: Belajar tergantung pada pengalaman baik langsung. Metodenya harus logis dan psikologis. Metode pontiditioning (Stimulua-Respon) adalah metode pokok yang digunakan; (4) Peran peserta didik adalah menguasai pengetahuan yang handal dapat dipercaya. Dalam hal disiplin,  peraturan yang baik adalah esensial dalam belajar. Disiplin mental dan moral dibutuhkan untuk memperoleh hasil yang baik; (5) Peranan pendidik adalah menguasai pengetahuan, terampil dalam teknik mengajar dan dengan keras menuntut prestasi peserta didik.
Aliran Realisme adalah aliran filsafat yang memandang  realitas sebagai dualitas. Aliran realisme memandang dunia ini mempunyai hakikat realitas yang terdiri dari dunia fisik dan dunia rohani. Hal ini berbeda dengan filsafat aliran idealisme yang bersifat monistis yang memandang hakikat dunia pada dunia spiritual semata. Dan juga berbeda dari aliran materialisme yang memandang hakikat kenyataan adalah kenyatan yang bersifat fisik semata. Realisme membagi realistas menjadi dua bagian yaitu subjek yang menyadari dan mengetahui di satu pihak dan yang kedua adanya realita di luar manusia yang dapat dijadikan objek pengetahuan manusia.
Aliran realisme mempunyai berbagai macam bentuk yaitu realisme rasional, realisme naturalis dan realisme kritis. Realisme rasional juga masih terbagi dua yaitu realisme klasik dan realisme religius. Realisme klasik pertama kali dikembangkan oleh Aristoteles. Berikut ini kita bahas pendidikan menurut aliran realisme.
Berikut ini kita akan membahas konsep pendidikan mengenai pengertian pendidikan dan gambaran pendidikan menurut masing-masing bentuk aliran realisme.
a.       Realisme Rasional
Realisme klasik  berpandangan bahwa manusia sebenarnya memiliki ciri rasional. Dengan demikian manusia dapat menjangkau kebenaran umum. Eksistensi Tuhan merupakan penyebab pertama dan utama realistas alam semesta. Memperhatikan intelektual adalah penting bukan saja sebagai tujuan melainkan sebagai alat untuk memecahkan masalah. Menurut realisme klasik pengalaman manusia penting bagi pendidikan. Menurut Aristoteles, terdapat aturan moral universal yang diperoleh dengan akal dan mengikat manusia sebagai mahluk rasional. Manusia sempurna menurutnya adalah manusia sempurna yang mengambil jalan tengah. Konsep pendidikan pada anak bahwa anak harus diajarkan ukuran moral yang absolut dan universal karena baik dan benar adalah untuk seluruh umat manusia. Kebiasaan baik harus dipelajari karena kebaikan tidak datang dengan sendirinya
Sedangkan menurut realisme religius bahwa kenyataan itu dipandang berbentuk natural dan supernatural. Pandangan filsafat ini menitik beratkan pada hakikat kebenaran dan kebaikan. Pendidikan merupakan suatu proses untuk meningkatkan diri guna mencapai kebenaran abadi. Kebenaran bukan dibuat melainkan sudah ditentukan dan belajar harus mencerminkan kebenaran itu. Menurut Cornerius pendidikan harus universal, seragam dan merupakan suatu kewajiban dimulai dengan pendidikan yang lebih rendah.
b. Realisme Natural
Menurut realisme natural pengetahuan yang diakui adalah pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman empiris dengan jalan observasi atau pengamatan indera. Para pengikut realisme natural mengikuti teori pengatahuan empirisme yang mengatakan pengalaman merupakan faktor fundamental dalam pengetahuan dan merupakan sumber pengetahuan manusia.
Pendidikan berkaitan dengan dunia di sini dan sekarang. Dunia diatur oleh hukum alam. Pendidikan menurut aliran realisme natural haruslah ilimiah dan yang menjadi objeknya adalah kenyataan dalam alam.
c. Realisme kritis.
Menurut pandangan Breed filsafat pendidikan hendaknya harmoni dengan prinsip-prinsip demokrasi. Pendidikan sebagai pertumbuhan harus diartikan sebagai pengarah terhadap tuntunan sosial dan individual. Menurut Imanuel Kant , pengetahuan mulai dari pengalaman namun tidak semiuanua dari pengalaman. Pikiran tanpa isi adalah kosong dan tanggapan tanpa konsepsi adalah buta.
Menurut Henderson ke semua bentuk aliran realisme pendidikan menyetujui bahwa
1.  Proses pendidikan berpusat pada tugas mengembangkan laki-laki dan wanita menjadi hebat
2. Tugas manusia di dunia adalah memajukan keadilan dan kesejahteraan umum
3. Tujuan akhir pendidikan adalah memecahkan masalah-masalah pendidikan






C.LANDASAN TEORI DAN KONSEP
A.   Komponen isi (bahan pengajaran)
Kurikulum dalam komponen isi adalah suatu yang diberikan kepada anak didik untuk bahan belajar mengajar guna mencapai tujuan. Kurikulum memiliki criteria yang membantu perencanaan pada kurikulum. Criteria kurikulum adalah sebagai berikut.
·         Sesuai, tepat dan bermakna bagi perkembangan siswa
·         Mencerminkan kenyataan social
·         Mengandung pengetahuan ilmiah yang tahan uji
·         Menunjang tercapainya tujuan pendidikan
Bahan yang bersifat representational dimaksudkan bahan kurikulum yang dapat menyampaikan sesuatu yang lain lebih dari sekedar barangnya itu sendiri. Bahan kurikulum yang representational itu perlu dibedakan dengan sarana kurikulum seperti alat-alat tulis, model, organisme biologis, dan sebagainya walau yang disebut terakhir itu juga memberikan fasilitas belajar.
Karakteristik bahan kurikulum yang lain adalah bahan itu secara sungguh-sungguh memberikan fasilitas balajar. Jadi, bahan tersebut memang secara sengaja dirancang dan dibuat untuk maksud atau mempermudah pengajaran.
Proses penyelesaian bahan kurikulum yang bersifat formal terdiri sejumlah tahap. Gall mengemukakan ada Sembilan tahap yang harus dilalui yaitu :
1.      Identifikasi kebutuhan
2.      Meneruskan misi kurikulum
3.      Menentukan anggaran pembiayaan
4.      Membentuk tim penyeleksi
5.      Mendapatkan susunan  bahan
6.      Menganalisis bahan
7.      Menilai bahan
8.      Membuat keputusan adopsi
9.      Menyebarkan, mepergunakan, dan memonitor penggunaan
Isi kurikulum biasanya di analisis dengan pengertian bahan pengajaran atau tujuan tingkah laku, dan pendekatan yang lain memandang isi dalam pengertian cangkupan dan urutan. Berikut akan dikemukakan beberapa sub bagian isi yaitu :
1.      Pendekatann : filsafat, nilai-nilai, dan praduga tertentu yang mempemgaruhi pengembahan bahan.
2.      Bentuk tujuan pengajaran : keluaran belajar yang dapat dicapai melalui bahan itu.
3.      Jenis-jenis tujuan pengajaran : klasifikasi tujuan pengajaran yang pada umumnya meliputi ranah kognitif, efektif, dan psikotorik yang disarankan oleh Bloom (1956)
4.      Orientasi masalah : isi bahan yang berupa sesuatu yang dipelajari.
5.      Multikulturalisme : isi yang mencerminkan perspektif dan konstribusi berbagai kelompok kultur dan etnik.
6.      Cakupan dan urutan : luas topic dan bagaimana sajian urutnya.
Penilaian bahan kurikulum terhadap suatu kurikulum dapat dilakukan melalui tiga strategi yatitu :
1.      Memeriksa bahan itu sendiri
2.      Membaca review kritik atau laporan bahan teknis dari studi evaluasi yang dilakukan evaluator
3.      Melakukan tes lapangan terhadap bahan (Gall)
Pembuatan keputusan adopsi bahan (make an adoption decision) pembuatan keputusan untuk mengadopsi bahan merupakan langkah terakhir dalam proses penyelesaian bahan. Dilaluinya langkah-langkah sebelumnya di atas secara sistematis, dimaksudkan agar dalam pembuatan keputusan mengadopsi bahan kurikulum sebagai bagian keseluruhan proses pengembangan kurikulum dapat dipertanggung jawabkan. Setelah bahan adopsi ditetapkan, selesailah tugas penyaksian bahan kurikulum sekolah.
B. Pengertian Kurikulum
Menurut istilah olahraga
Menurut istilah olahraga kurikulum berasal dari kata curir yakni pelari, dan curere yakni lintasannya. Jadi menurut istilah olahraga kurikulum adalah “jarak yang harus ditempuh oleh seseorang untuk dapat mencapai finish atau tujuan.”
 Pengertian Tradisional Kurikulum
Istilah kurikulum pada zaman dulu yakni tahun 1958 bahwa kurikulum adalah “sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh atau dikuasai oleh seseorang (siswa) untuk dapat memperoleh tujuan tertentu atau ijazah.”
Pengertian Kurikulum Modern
Banyak sekali pemahaman-pemahaman mengenai kurikulum yang berkembang pada zaman ini, yang menyempurnakan istilah kurikulum dulu (tradisional), pemahaman mengenai kurikulum itu intinya bahwa kurikulum adalah “acuan atau panduan yang didalamnya mengatur seluruh aspek dari komponen-komponen pendidikan  beserta tugas, fungsi, dan tujuannya dalam proses pendidikan guna mencapai tujuan yang direncanakan.”
C.TUJUAN KURIKULUM
Pengertian tujuan menurut para ahli.
Penentuan tujuan merupakan langkah pertama dalam membuat perencanaan sehingga dalam pelaksanaannya nanti terarah sesuai dengan tujuan dan hasil yang ingin dicapai.namun demikian, banyak individu / organisasi yang salah kaparah dalam menentukan tujuan dengan cara membuat beberapa tujuan dalam sebuah perencanaan. Hal ini tentu akan membingungkan dan berakibat kurang maksimalnya hasil yang bisa dicapai.
Berikut ini adalah pengertian dan definisi tujuan:
1.      H.R. DAENG NAJA
Tujuan merupakan misi sasaran yang ingin dicapai oleh suatu organisasi di masa yang akan datang dan manajer bertugas mengarahkan jalannya organisasi untuk mencapai tujuan tersebut
2.      IDA NURAIDA
Tujuan merupakan bagian dari fungsi planning atau perencanaan dan merupakan langkah awal fungsi manajemen
3.      SPILLANE, SJ
Tujuan merupakan bagian dari proses mencapai keserasian dan konsentrasi kekuasaan
4.      ABUBAKAR A & WIBOWO
Tujuan merupakan norma terakhir untuk organisasi menilai dirinya. Tanpa tujuan, organisasi tidak mempunyai dasar yang jelas
5.      KEN MCELROY
Tujuan merupakan langkah pertama dalam proses mencapai kesuksesan dan tujuan juga merupakan kunci mencapai kesuksesan
6.      JEMSLY H & MARTANI
Tujuan merupakan sesuatu yang mungkin untuk dicapai, bukan sesuatu yang utopis
7.      YAYASAN TRISAKTI
Tujuan merupakan kunci untuk menentukan atau merumuskan apa yang akan dikerjakan, ketika pekerjaan itu harus dilaksanakan dan disertai pula dengan jaringan politik, prosedur, anggaran serta penentuan program
8.      TOMMY SUPRAPTO
Tujuan merupakan realisasi dari misi yang spesifik dan dapat dilakukan dalam jangka pendek.

Tujuan merupakan pernyataan tentang keadaan yang diinginkan di mana organisasi atau perusahaan bermaksud untuk mewujudkannya dan sebagai pernyataan tentang keadaan di waktu yang akan datang di mana organisasi sebagai kolektivitas mencoba untuk menimbulkannya.
TUJUAN KURIKULUM PENDIDIKAN
Tujuan kurikulum pada dasarnya merupakan tujuan setiap program pendidikan yang diberikan kepad aanak didik, Karena kurikulum merupakan alatan untuk mencapai tujuan, maka kurikulum harus dijabarkan dari tujuan umum pendidikan.Dalam system pendidikan di Indonesia tujuan pendidikan bersumber kepada falsafah Bangsa Indonesia. Di Indonesia ada 4 tujuan utama yang secara hirarki sebagai baerikut:
  1. Tujuan Nasional Dalam Undang-undang No. 2 tahun 1980 tentang system Pendidikan Nasional rumusan tujuan pendidikan nasional disebutkan Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan. Kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tariggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
  2. Tujuan Intitusional adalah tujuan yang harus dicapai oleh suatu lembaga pendidikan, umpamanya MI. MTs, MA, SD, SMP, SMA, dan sebagainya. Artinya apa yang harus dimiliki anak didik setelah menamatkan lembaga pendidikan tersebut, Sebagai contoh, kemampuan apa yang harus dimiliki anak didik setelah menamatkan lembaga pendidikan iersebut. Sebagai contoh, kemampuan apa yang diharapkan dimiliki oleh anak yang tamat MI, MTs, atau Madrasah Aliyah. Rumusan tujuan institusional harus merupakan penjabaran dan tujuan umum (riasional), harus memiliki kesinambungan antara satu jenjang pendidikan tinggi dengan jenjang Iainnya (MI, MTs, dan MA sampalke IAIN/ perguruan tinggi). Tujuan institusional juga harus memperhatikan fungsi dan karakter dari lembaga pendidikannya, seperti lembaga pendidikan umum, pendidikan guru dansebagainya.
  3. Tujuan Kurikuler Tujuan kurikuler adalah penjabaran dan tujuan kelembagaan pendidikan (tujuan institusiorial). Tujuan kurikuler adalah tujuan di bidang studi atau matapelajaran sehingga mencerminkan hakikat keilmuan yang ada di dalamnya. Secara oerasional adalah rumusan kemampuan yang diharapkan dapat dimiliki anak didik setelah mempelajari suatu matapelajaran atau bidang studi tersebut.
  4. Tujuan Instruksional Tujuan instruksional dijabarkan dari tujuan kurikuler. Tujuan ini adalah tujuan yang langsung dihadapkan kepada anak didik sebab harus dicapai oIeh mereka setelah menempuh proses belajar-mengajar. Oleh karena itu tujuan instruksional dirumuskan sebagai kemampuan-kemampuan yang diharapkan dapat dimiliki oleh anak didik setelah merekam menyelesaikan proses belajar-mengajar. Ada dua jenis tujuan institusional, yaitu tujuan instruksional umum (TIU) dan tujuan instruksional khusus (TIK). Perbedaan kedua tujuan tersebut terletak dalam hal kemampuan yang diharapkan dikuasai anak didik. Pada TIU sifatnya lebih luas dan mendalam, sedangkan TIK lebih terbatas dan harus dapat diukur pada saat berlangsungnya proses belajar-mengajar.
 TUJUAN PENDIDIKAN
Dalam kurikulum, tujuan memegang peranan penting, akan mengarahkan semua kegiatan pengajaran dan mewarnai komponen-komponen lainnya. Tujuan kurikulum berdasarkan dua hal.Pertama, perkembangan Tujuan kurikulum pada hakikatnya adalah tujuan dari setiap program pendidikan yang akan diberikan pada anak didik Dalam perspektif pendidikan nasional, tujuan pendidikan nasional dapat dilihat secara jelas dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistrm Pendidikan Nasional, bahwa : " Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang  Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab".
Tujuan pendidikan antara lain:
1.      Tujuan Institusional (KompetensiLulusan)
Adalah tujuan yang harus dicapai oleh suatu lembaga pendidikan, contoh : SD, SMP, SMA
2.      Tujuan kurikuler (StandartKompetensi)
Adalah tujuan bidang studi atau matapelajaran sehingga mencapai hakikat keilmuan yang ada didalamnya.
  1. Tujuan instruksional (KompetensiDasar)
Tujuan instruksional (KompetensiDasar) dirumuskan sebagai kemampuan-kemampuan yang diharapkan dimiliki anak didik setelah merekam menyelesaikan proses belajar mengajar.
·         Tujuan instruksional Umum (IndikatorUmum) :Kemampuan tersebut sifatnya lebih luas dan mendalam.
·         Tujuan instruksional khusus (Indikatorkhusus) :Kemampuan lebih terbatas dan harus dapat diukur pada saat berlangsunganya prose belajar mengajar.
KOMPONEN TUJUAN
Komponen tujuan berhubungan dengan arah atau hasil yang diharapkan.Dalam skala makro, rumusan tujuan kurikulum erat kaitannya dengan filsafat atau system nilai yang dianut masyarakat.Bahkan, rumusan tujuan yang menggambarkan suatu masyarakat yang di cita – citakan, misalkan, filsafat atau system nilai yang dianut masyarakat Indonesia adalah pancasila, maka tujuan yang diharapkan tercapai oleh suatukur kurikulum adalah terbentuknya masyarakat yang pancasilais. Dalam skala mikro, tujuan kurikulum berhubungan dengan misi dan visi sekolah serta tujuan yang lebih sempit, seperti tujuan setiap matapelajaran dan tujuan proses pembelajaran.
TUJUAN NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA
Tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) terdapat dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alinea keempat yaitu “Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial …”.
TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan pembelajaran adalah tercapainya perubahan perilaku atau kompetensi pada siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran tercapainya perubahan perilaku atau kompetensi pada siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran Tujuan tersebut dirumuskan dalam bentuk pernyataan atau deskripsi yang spesifik.
D. EVALUASI KURIKULUM

A.    Tujuan Evaluasi Kurikulum
1.      Untuk perbaikan program
Dalam konteks tujuan ini, peranan evaluasi lebih bersifat konstruktif karena informasi hasil evaluasi dijadikan input bagi perbaikan yang diperlukan di dalam program kurikulum yang sedang dikembangkan.
2.      Pertanggungjawaban kepada berbagai pihak
Selama dan terutama pada akhir fase pengembangan kurikulum, perlu adanya semacam pertanggungjawaban dari pihak pengembang kurikulum kepada berbagai pihak yang berkepentingan. Pihak-pihak yang dimaksud mencakup pihak yang mensponsori kegiatan pengembangan kurikulum maupun pihak yang akan menjadi konsumen dari kurikulum yang telah dikembangkan. Dengan kata lain, pihak-pihak tersebut mencakup pemerintah, masyarakat, orang tua, petugas-petugas pendidikan, dan pihak-pihak lainnya yang ikut mensponsori kegiatan pengembangan kurikulum yang bersangkutan. Dalam mempertanggungjawabkan hasil yang telah dicapainya, pihak pengembang kurikulum perlu mengemukakan kekuatan dan kelemahan dari kurikulum yang sedang dikembangkan serta usaha lebih lanjut yang diperlukan untuk mengatasi kelemahan-kelemahan, jika ada yang masih terdapat. Untuk menghasilkan informasi mengenai kekuatan dan kelemahan tersebut diatas itulah diperlukan kegiatan evaluasi.
3.      Penentuan tindak lanjut hasil pengembangan
Tindak lanjut hasil pengembangan kurikulum dapat berbentuk jawaban atas dua kemungkinan pertanyaan: pertama, apakah kurikulum tersebut akan atau tidak akan disebarluaskan ke dalam sistem yang ada? Kedua, dalam kondisi yang bagaimana dan dengan cara yang bagaimana kurikulum tersebut akan disebarluaskan ke dalam sistem yang ada? Untuk menghasilkan informasi yang diperlukan dalam menjawab pertanyaan, diperlukan kegiatan evaluasi kurikulum.

B.     Prosedur Evaluasi Kurikulum
1.      Kajian terhadap evaluan
Langkah pertama yang harus dilakukan evaluator terhadap kurikulum atau bentuk kurikulum yang menjadi evaluannya. Tujuannya adalah untuk mendapatkan pemahaman terhadap karakterisitk kurikulum. Evaluator harus mempelajari secara mendalam latar belakang kelahiran suatu kurikulum, landasan filosofi dan teoritis kurikulum tersebut, ide kurikulum, model kurikulum yang digunakan untuk dokumen kurikulum, proses pengembangan dokumen kurikulum, proses impelementasi kurikulum, dan evaluasi hasil belajar.
2.      Pengembangan proposal
Berdasarkan kajian yang dilakukan pada langkah pertama, maka evaluator kemudian mengembangkan proposalnya. Untuk itu, evaluator memutuskan pendekatan dan jenis evaluasi yang akan dilakukan. Evaluator dapat menentukan apakah yang akan digunakannya adalah evaluasi kuantitatif ataukah evaluasi kualitatif. Tentu saja berbagai faktor pribadinya seperti pendidikan dan pandangan keilmuannya akan sangat menentukan pendekatan metodologi yang akan digunakan.
3.      Pertemuan atau diskusi proposal dengan pengguna jasa evaluasi
Pertemuan atau diskusi proposal dengan pengguna jasa evaluasi merupakan langkah penting dan menentukan. Hasil diskusi dengan pengguna jasa evaluasi akan menentukan apakah proposal yang diajukan akan dapat ditindak lanjuti atau tidak. Jika evaluator berhasil meyakinkan calon pengguna jasa evaluasi maka proposal yang diajukan mungkin akan disetujui dan pekerjaan evaluasi akan dapat dilaksanakan. Artinya, tidak ada pekerjaan evaluasi yang dilakukan berdasarkan proposal tersebut.
4.      Revisi Proposal
Revisi proposal adalah tindak lanjut dari hasil pertemuan antara pengguna jasa evaluasi dengan evaluator. Apabila dalam pertemuan dan pembicaraan tersebut berbagai kompenen harus direvisi, maka evaluator wajib untuk melakukan revisi tersebut. Hasil revisi harus diperlihatkan kembali kepada pengguna jasa evaluasi dan disetujui. Jika dari hasil diskusi pada pertemuan itu tidak ada hal yang perlu direvisi, maka langkah revisi ini tidak diperlukan.
5.      Rekruitmen personalia
Rekruitmen personalia untuk pekerjaan evaluasi mungkin saja dilakukan ketika proposal disusun. Jika prosedur itu yang ditempuh, maka rekruitmen dianggap sudah terjadi. Dalam hal demikian maka pada proposal jumlah orang, nama serta kualifikasi harus dicantumkan. Pencantuman itu akan memberikan nilai lebih pada proposal.
6.      Pengurusan persyaratan administrasi
Setiap kegiatan yang berkenaan dengan evaluasi kurikulum memerlukan berbagai formalitas administrasi. Evaluator harus mendapatkan persetujuan dari pengguna kurikulum, pimpinan sekolah atau atasannya, dan mungkin juga dari pejabat yang terkait dengan masalah keamanan sosial politik. Untuk itu diperlukan berbagai surat seperti surat izin melakukan evaluasi, surat permohonan kesediaan menjadi responden, surat identitas anggota, dan sebagainya. Keberadaan surat ini sangat penting dan sangat mutlak diperlukan.
7.      Pengorganisasian pelaksanaan
Pengorganisasian pelaksanaan adalah suatu kegiatan manajemen yang tingkat kerumitannya ditentuakan oleh ruang lingkup pekerjaan evaluasi dan jumlah evaluator yang terlibat. Semakin luas wilayah yang harus dievaluasi dan semakin banyak evaluator yang harus dilibatkan maka semakin rumit pula pekerjaan managemen yang harus dilakukan. Jika evaluasi itu hanya dilakukan oleh seseorang, managemen tidak akan serumit jika evaluator terdiri dari sebuah tim.
8.      Analisis data
Analisis data tentu saja merupakan tindak lanjut setelah proses pengumpulan data evaluasi berhasil dilakukan. Ketika model yang digunakan adalah model kuantitatif dan dengan demikian data utama evaluasi adalah data kuantitatif. Proses dan teknik pengolahan data yang diakui dalam model kuatitatif harus dilaksanakan.
9.      Penulisan laporan
Sebagaimana halnya dengan analisis data, penulisan laporan harus dilakukan oleh evaluator dan tim evaluator. Format laporan harus disesuaikan dengan kesepakatan yang dilakukan pada waktu awal.
10.  Pembahasan laporan dengan pengguna jasa evaluasi
Pembahasan ini diperlukan untuk melihat kelengkapan laporan. Dalam pembahasan ini, jika pengguna jasa evaluasi memerlukan tambahan informasi yang memang tercantum dalam kontrak maka evaluator wajib untuk melengkapi laporan tersebut.
11.  Penulisan laporan akhir
Penulisan laporan akhir adalah sebagai hasil dari revisi yang harus dilakukan evaluator ketika terjadi pembahasan laporan dengan pengguna jasa evaluasi.

C.    Prinsip-prinsip Evaluasi Kurikulum
1.      Tujuan tertentu, artinya setiap program evaluasi kurikulum terarah dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan secara jelas dan spesifik. Tujuan-tujuan itu pula yang mengarahkan berbagai kegiatan dalam proses pelaksanaan evaluasi kurikulum.
2.      Bersifat objektif, dalam artian berpijak pada keadaan yang sebenarnya, bersumber dari data yang nyata dan akurat, yang di peroleh melalui instrumen yang andal.
3.      Bersifat komprehensif, mencakup semua dimensi atau aspek yang terdapat dalam ruang lingkup kurikulum. Seluruh komponen kurikulum harus mendapat perhatian dan pertimbangan secara seksama sebelum dilakukan pengambilan keputusan.
4.      Kooperatif dan bertanggung jawab dalam perencanaan. Pelaksanaan dan keberhasilan suatu program evaluasi kurikulum merupakan tanggung jawab bersama pihak-pihak yang terlibat dalam proses pendidikan seperti guru, kepala sekolah, orang tua, bahkan siswa itu sendiri, disamping merupakan tanggung jawab utama lembaga penelitian dan pengembangan.
5.      Efisien, khususnya dalam penggunaan waktu, biaya, tenaga dan peralatan menjadi unsur penunjang. Oleh karena itu, harus diupayakan agar hasil evaluasi lebih tinggi, atau paling tidak berimbang dengan materil yang digunakan.
6.      Berkesinambungan. Hal ini diperlukan mengingat tuntutan dari dalam dan luar sistem sekolah, yang meminta diadakannya perbaikan kurikulum. Untuk itu, peran guru dan kepala sekolah sangatlah penting, karena mereka yang paling mengetahui pelaksanaan, permasalahan dan keberhasilan kurikulum.

D.    Langkah-langkah Evaluasi Kurikulum
1.      Tahap Persiapan
Tahap persiapan pada dasarnya menentukan apa dan bagaimana penilaian harus dilakukan. Artinya perlu rencana yang jelas mengenai kegiatan penilaian termasuk alat dan sarana yang diperlukan. Ada beberapa langkah yang harus dikerjakan dalam tahap persiapan, yakni:
a.       Menyusun term of reference (TOR) penilaian, sebagai rujukan pelaksanaan penilaian. Dalam TOR ini dijelaskan target dan sarana penilaian, lingkup atau objek yang dinilai, alat dan instrumen yang digunakan, prosedur dan cara penilaian, organisasi yang menangani penilaian serta biaya pelaksanaan penilaian.
b.      Klarifikasi, artinya mengadakan penelaahan perangkat evaluasi seperti tujuan yang ingin dicapai, isi penilaian, strategi yang digunakan, sumber data, instrumen dan jadwal penilaian.
c.       Uji coba penilaian (try-out), yakni melaksanakan teknik dan prosedur penilaian diluar sampel penilaian. Tinjuan utama adalah untuk melihat keterandalan alat-alat penilaian dan melatih tenaga penilai termasuk logistiknya, agar kualiatas data yang kelak akan diperoleh lebih meyakinkan.
2.      Tahap Pelaksanaan
Setelah uji coba dilaksanakan dan perbaikan atau penyempurnaan prosedur, teknik serta instrumen penilaian, langkah berikutnya adalah melaksanakan penilaian. Beberapa kegiatan yang harus dilakukan dalam tahap pelaksanaan ini antara lain:
a.       Pengumpulan data di lapangan, artinya melaksanakan penilaian melalui instrumen yang telah dipersiapkan terhadap sumber data sesuai dengan program yang telah direncanakan.
b.      Menyusun dan mengolah data hasil penilaian baik data yang dihasilkan berdasarkan persepsi pelaksana kurikulum dan kelompok sasaran kurikulum (siswa) maupun data berdasarkan hasil amatan dan monitoring penilaian.
c.       Menyusun deskripsi kurikulum tersebut, berdasarkan data dan informasi yang diperoleh dari hasil penilaian. Deskripsi tersebut pada hakikatnya adalah melukiskan kurikulum yang seharusnya dilaksanakan serta membandingkannya dengan hasil-hasil penilaian sehingga dapat diketahui kesenjangannya.
d.      Menentukan judgment terhadap deskripsi kurikulum berdasarkan kriteria tertentu yang telah ditentukan. Judgment dapat menggunakan dua macam logika, yakni logika vertikal dan horizontal.
e.       Menyusun laporan hasil penilaian termasuk rekomendasi-rekomendasinya, implikasi pemecahan masalah dan tindakan korektif bagi para pengambil keputusan perbaikan/penyempurnaan kurikulum.

E.     Aspek-aspek Evaluasi Kurikulum
1.      Penentuan tujuan umum
Tujuan kurikulum bertalian erat dengan nilai-nilai, aliran-aliran dan kekuatan-kekuatan dalam masyarakat. Sering tujuan umum ditentukan oleh pemerintah. Jadi yang perlu dinilai apakah tujuan kurikulum telah sesuai dengan nilai-nilai bangsa, politik pemerintah dalam pembangunan negara, perkembangan zaman, aspirasi masyarakat akan tetapi juga kebutuhan anak dalam menghadapi hidupnya di masa mendatang.
2.      Perencanaan
Tujuan pendidikan yang telah dirumuskan harus diterjemahkan ke dalam kegiatan-kegiatan kurikuler yang lebih rinci, dalam bentuk mata pelajaran, bahan tertentu, proses belajar mengajar, juga bagaimana cara menyampaikan kepada para pengajar agar mereka bersedia untuk menggunakannya. Harus diperhatikan agar bahan pelajaran sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Selain itu pula dipertimbangkan soal biaya pelaksanaan kurikulum itu secara nasional. Perencanaan yang baik akan dapat menghemat biaya uji coba selanjutnya.
3.      Uji coba dan revisi
Tiap pembaharuan kurikulum hendaknya melalui tahap uji coba dengan sampel terbatas untuk melihat kelemahan-kelemahan yang perlu di revisi, dapat juga di minta pendapat dan penilaian para siswa sendiri tentang pengalaman belajar mereka dengan kurikulum itu, demikian pula pendapat guru, ahli bidang disiplin ilmu, ahli psikologi dan para pendidik. Berdasarkan uji coba itu diadakan revisi dan perubahan program pelajaran yang masih dapat lagi diuji cobakan.
4.      Uji lapangan
Setelah diperoleh program yang di anggap cukup mantap berdasarkan uji coba, maka tiba waktunya untuk melaksanakannya dengan sampel yang lebih luas sehingga diperoleh situasi yang menyerupai situasi lapangan yang sebenarnya. Bila uji coba dilakukan untuk menemukan kelemahan-kelemahan program, maka pada uji lapangan dipelajari kondisi-kondisi di mana kurikulum itu dapat di jalankan agar berhasil baik. Diperhatikan misalnya kesiapan tenaga pengajar, administrasi, siswa dan keadaan, lokasi sekolah di kota atau pedesaan, besar sekolah, fasilitas, keadaan sosial ekonomi, dan sebagainya.
5.      Pelaksanaan kurikulum
Dalam pelaksanaan kurikulum perlu diusahakan kerjasama dan bantuan dari kepala sekolah, guru bahkan juga dari pihak orang tua dan masyarakat umumnya. Salah satu aspek yang sangat penting namun kurang diperhatikan ialah sistem ujian lokal maupun nasional. Sistem ujian harus disesuaikan dengan kurikulumnya. Taraf implementasi perlu dievaluasi oleh para ahli agar dapat diadakan perubahan dan penyesuaian seperlunya menurut keadaan setempat.
6.      Pengawasan mutu
Suatu program yang baik dapat mengalami kemerosotan sebagian atau secara keseluruhan, setelah dipakai selama beberapa tahun. Ada kemungkinan bahannya telah ketinggalan zaman dan perlu diperbaharui. Bagian-bagian yang ternyata tidak lagi sesuai perlu diganti dengan yang baru. Kurikulum harus turut berubah mengikuti perkembangan zaman. Oleh karena itu, perbaikan dan pengembangan kurikulum merupakan proses yang kontinyu. Penilaian yang terus menerus merupakan syarat mutlak untuk mengetahui dimana perbaikan, perubahan atau pembaharuan harus diadakan. Bila kurikulum itu banyak kelemahannya dan tidak lagi memenuhi tuntutan zaman, maka perlu diadakan pembaharuan kurikulum. Yang jelas ialah bahwa pelaksanaan tiap kurikulum senantiasa memerlukan follow up untuk memonitor dan menilai pelaksanan dan perkembangannya. Kalaupun suatu kurikulum perlu diperbaiki atau diperbaharui, maka keputusan itu seharusnya didasarkan atas penilaian yang cermat dan kontinyu.
Kurikulum merupakan bagian dari pendidikan dalam lingkup yang luas.Kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan.Mengevaluasi keberhasilan sebuah pendidikan berarti juga mengevaluasi kurikulumnya.Hal ini berarti bahwa evaluasi kurikulum merupakan bagian dari evaluasi pendidikan, yang memusatkan perhatiannya pada program-program untuk peserta didik. Sedangkan evaluasi merupakan bagian penting dalam proses pengembangan kurikulum, baik dalam pembuatan kurikulum baru, memperbaiki kurikulum yang ada atau menyempurnakannya. Evaluasi yang tepat dan berkelanjutan sangat diperlukan untuk mendukung terwujudnya fase pengembangan ini dengan efektif dan bermakana.Dari hasil-hasil evaluasi ini lah pihak pengembang dapat mengadakan perbaikan dan penyesuaian sebelum kurikulum yang baru tersebut terlanjur disebarluaskan secara nasional. Menurut Hamid Hasan (1988:13) evaluasi adalah suatu proses pemberian pertimbangan mengenai nilai dan arti sesuatu yang dipertimbangkan. Jadi dengan demikian, evaluasi kurikulum adalah suatu proses evaluasi terhadap kurikulum secara keseluruhan baik yang bersifat makro atau ruang lingkup yang luas (ideal curriculum) maupun lingkup mikro (actual curriculum) dalam bentuk pembelajaran.
1.Judgement (menetapkan suatu nilai)
- Subjektif
- Objektif (berdasar kriteria yang disepakati)
2.Kriteria
- Internal (program)
- Eksternal (luar program)
3.Objek penilaian
-Luas (program pendidikan)
-Terbatas (program belajar-mengajar
  GKategori evaluasi kurikulum
     1.PENILAIAN KONTEKS
Dasar dalam menentukan tujuan programo
 Fisibilitas dengan kondisi dan situasi di mana program itu akan dilaksanakan

    2.PENILAIAN INPUT (MASUKAN)
 Memperoleh informasi dan menyajikan keterangan sebagai dasar pemanfaatan sumber daya untuk pencapaian tujuanPENILAIAN PROSES
 Mengetahui kekuatan/kelemahan rencana dan pelaksanaano Memperoleh informasi untuk perbaikan, penyempurnaan, pengembangan programPENILAIAN
  3.OUTPUT (KELUARAN-HASIL)
 Menentukan keberhasilan program dan dampaknya
Kurikulum memiliki dimensi yang luas karena mencakup banyak hal.Aspek-aspek kegiatan kurikulum dimulai dari perencanaan, pengembangan komponen, implementasi serta hasil belajar dianggap sebagai ruang lingkup kajian evaluasi kurikulum. Dengan demikian, evaluasi kurikulum mencakup semua aspek tersebut, artinya bahwa evaluasi kurikulum merupakan suatu proses evaluasi terhadap kurikulum secara keseuruhan baik yang bersifat makro atau ruang lingkup yang luas (ideal curriculum) maupun lingkup mikro (actual curricuum) dalam bentuk pembelajaran.
            Dimensi evaluasi kurikulum mencakup dimensi program (tujuan, isi kurikulum dan pedoman kurikulum) dan dimensi pelaksanaan (input, proses, output dan dampak).

1. Dimensi Program
 a. Tujuan (institusional, kurikuler, instruksional) yang terdiri dari : Lingkup abilitas/kompetensi, kedalaman/keluasan tujuan, kesinambungan antar tujuan, relevansi antar tujuan, rumusan kalimat.
 b.Isi Kurikulum (Struktur, Komposisi, Jumlah mata pelajaran, alokasi waktu) yang terdiri dari : Kesesuaian dengan tujuan, scope dan sequence, sifat isi,  esensi, kesinambungan, organisasi, keseimbangan, dan kegunaan.
 c.Pedoman Pelaksanaan yang terdiri dari : Proses belajar-mengajar, sistem penilaian, administrasi dan supervisi, dan sumber belajar.

2.Dimensi Pelaksanaan
a)Komponen Masukan
 Masukan mentah (input peserta didik)
Komponen- komponen yang ada didalam masukan mentah ini  yaitu :  Jumlah peserta didik, minat dan motivasi, kecakapan sebelumnya, dan bakat/potensi.
Masukan Alat yang terdiri dari :Bahan pelajaran/pelatihan, alat-alat pembelajaran, media dan sumber belajar, pengajar/pelatih (jumlah dankualitasnya), Sistem administrasi, dan prasarana pendidikan.
Masukan Lingkungan yang terdiri dari :lingkungan social, lingkungan budaya, lingkungan geografis, dan lingkungan religius.
b) Komponen Proses
Interaksi unsur-unsur masukan untukmencapai tujuan :
Peserta – Peserta
Peserta – Pengajar/pelatih
Peserta – Lingkungan
 Pengajar – Pengajar
c) Komponen Keluaran
Komponen keluaran ini nantinya akan menghasilkan suatu perubahan tingkah laku (kompetensi) setelah mengalami proses : pengetahuan, sikap/nilai, dan keterampilan.
d) Komponen Dampak
Dampak yang akan dirasakan oleh peserta didik di masyarakat /tempat kerja yaitu : Kemandirian, kemampuan intelektual, kemampuan social, moral, etos kerja, dsb.
            Tujuan evaluasi kurikulum dimaksudkan untuk memeriksa ketercapaian tujuan pendidikan  yang ingin diwujudkan melalui kurikulum yang bersangkutan indikator kinerja yang akan dievaluasikan yang merupakan  efektivitas program.
            Dalam sebuah evaluasi harus berpatokan pada kurikulum atau silabi dan dirancang secara jelas yaitu apa yang harus dinilai, materi penilaian, alat penilai, dan interpretasi hasil penilaian.


Beberapa prinsip yang harus dipegang dalam suatu pelaksanaan evaluasi pendidikan:
1. Keterpaduan.
Evaluasi tersebut harus memegang pada prinsip-prinsip  keterpaduan atau keselarasan. Dimana ada kesesuaian antara tujuan intruksional pengajaran tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, dan metode pembelajaran.
2. Keterlibatan peserta didik
Dalam sebuah prinsip  evaluasi harus memperhatikan keterlibatan peserta didik merupakan suatu hal yang mutlak, karena keterlibatan peserta didik dalam evaluasi bukan alternatif dan seluruhnya mempunyai keterkaitan yang erat.
3. Koherensi
Suatu evaluasi pendidikan harus berkaitan dengan materi pembelajaran yang telah dipelajari dan sesuai dengan ranah kemampuan peserta didik yang hendak diukur.Dan keselarasan peseta didik dengan pembelajaran harus sesuai.
4. Pedagogis
Pedagogis adalah seni dalam mengajar.Prinsip evaluasi pendidikan yang ketujuah adalah perlu adanya alat penilai dari aspek pedagogis untuk melihat perubahan sikap dan perilaku sehingga pada akhirnya hasil evaluasi mampu menjadi motivator bagi diri siswa atau peserta didik.
5. Akuntabel
Sudah semestinya hasil evaluasi haruslah menjadi alat akuntabilitas atau bahan pertanggungjawaban bagi pihak yang berkepentingan seperti orangtua siswa, sekolah, dan lainnya.
 Yang harus diperhatikan agar mendapat informasi yang akurat, diantaranya:
  1.  Dirancang secara jelas abilitas
  2.Penilaian hasil belajar menjadi bagian integral dalam proses belajar mengajar.
  3. Agar hasil penilaian obyektif, menggunakan penilaian yang komprehensif.
  4. Hasilnya hendaknya diikuti tindak lanjut.
  5. Harus dibedakan antara penskoran (scoring) dengan penilaian  (grading)
  6. Penilaian harus bersifat komparabel.
  7. Sistem penilaian yang digunakan hendaknya bagi siswa dan juga guru.
  Secara sederhana dalam penggambaran prinsip-prinsip evaluasi menyangkut beberapa hal yang  mesti diperhatikan  diantaranya adalah sebagai berikut:
a. Kejelasan Tujuan adalah Menjabarkan segala proses dan hasil pembelajaran yang dicapai
b.Realistik dapat dilaksanakan sesuai dengan situasi kondisi dan kemampuan para siswa
c.Ekologi adalah memperhitungkan situasi dimana kurikulum yang akan dilaksanakan
d.Operasional adalah merumuskan secara spesifik dan terperinci segala sesuatu yang harus diukur
e.Klasifikasi merupakan Jenjang atau tingkatan, jenis pendidikan, daya dukung, dan geografis
f.Keseimbangan merupakan Penilaian kurikulum yang ideal dan aktual, mengenai komponen kurikulum yang mesti diperhatikan
      g.Kontinuitas merupakan penilaian yang harus dilakukan secara menyeluruh terhadap semua program yang akan dilaksanakan.

1.Evaluasi Formatif : dilaksanakan apabila kegiatan evaluasi diarahkan untuk memperbaiki bagian tertentu dari kurikulum yang sedang dikembangkan.
2.Evaluasi Sumatif : dilaksanakan apabila kurikulum telah dianggap selesai pengembangannya    (evaluasi terhadap hasil kurikulum).

Prosedur adalah langkah-langkah teratur dan tertib yang harus ditempuh sesorang evaluator pada waktu melakukan evaluasi kurikulum.Langkah-langkah tersebut merupakan tindakan yang harus dilakukan evaluator sejak dari awal sampai akhir suatu kegiatan evaluasi.Prosedur yang dikemukakan disini adalah hasil revisi dari prosedur, model, PSP yang dikemukakan Storeange dan Helm (1992).
1.  Kajian terhadap evaluan
            Langkah pertama yang harus dilakukan evaluator terhadap kurikulum atau bentuk kurikulum yang menjadi evaluannya.Tujuannya adalah untuk mendapatkan pemahaman terhadap karakterisitk kurikulum. Evaluator harus mempelajari secara mendalam latar belakang kelahiran suatu kurikulum, landan filsofi fan teoritis kurikulum tersebut, ide kurikulum, model kurikulum yang digunakan untuk dokumen kurikulum, proses pengembangan dokumen kurikulum, proses impelemtasi kurikulum, dan evaluasi hasil belajar.
2. Pengembangan proposal
            Berdasarkan kajian yang dilakukan pada langkah pertama maka evaluator kemudian mengembangkan proposalnya. Untuk itu maka evaluator memutuskan pendekatan dan jenis evaluasi yang akan dilakukan. Evaluator dapat menentukan apakah yang akan digunakannya adalah evaluasi kuantitatif ataukah evaluasi kualitatif. Tentu saja berbagai faktor pribadinya seeprti pendidikan dan pandangan keilmuannya akan sangat menentukan pendekatan metodologi yang akan digunakan.
3. Pertemuan atau diskusi proposal dengan pengguna jasa evaluasi
Pertemuan atau diskusi proposal dengan pengguna jasa evaluasi merupakan langkah penting dan menentukan. Hasil diskusi dengan pengguna jasa akan menentukan apakah proposal yang diajukan akan dapat ditindak lanjuti atau tidak. Jika evaluator berhasil meyakinkan calon pengguna jasa evaluasi maka proposal yang diajukan mungkin akan disetujui dan pekerjaan evaluasi akan dapat dilaksanakan. Artinya, tidak ada pekerjaan evaluasi yang dilakukan berdasarkan proposal tersebut
4. Revisi Proposal
            Revisi proposal adalah tindak lanjut dari hasil pertemuan antara pengguna jas evaluasi dengan evaluator.Apabila dalam pertemuan dan pembicaraan tersebut berbagai kompenen harus direvisi maka adalah kewajiban evaluator untuk melakukan revisi tersebut.Hasil revisi harus diperlihatkan kembali kepada pengguna jasa evaluasi dan disetujui.Jika dari hasil diskusi pada pertemuan itu tidak ada hal yang perlu direvisi maka langkah revisi ini dengan sendirinya tidak diperlukan.
5. Rekruitmen personalia
            Rekruitmen personalia untuk pekerjaan evaluasi mungkin 8saja dilakukan ketika proposal disusun.Jika prosedur itu yang ditempuh maka rekruitmen dianggap sudah terjadi. Dalam hal demikian maka pada proposal jumlah orang, nama serta kualifikasi harus dicantumkan. Pencantuman itu akan memberikan nilai lebih pada proposal.
6. Pengurusan persyaratan administrasi
Setiap kegiatan yang berkenaan dengan evaluasi kurikulum memrlukan berbagai formalitas administrasi.Evaluator harus mendapatkan persetjuan dari pengguna kurikulum, pimpinan sekolah atau atasannya, dan mungkin juga dari pejabat yang terkait dengan masalah keamanan sosial politik. Untuk itu diperlukan berbagai surat seperti surat izin melakukan evaluasi, surat permohonan kesediaan menjadi responden, surat identitas anggota t, dan sebagainya. Keberadaan surat ini sangan penting dan sangat mutlak diperlukan.
7. Pengorganisasian pelaksanaan
            Pengorganisasian pelaksanaan adalah suatu kegiatan manajemenyang tingkat kerumitannya ditentuakan oleh ruang lingkup pekerjaan evaluasi dan jumlah evaluator yang terlibat. Semakin luas wilayah yang harus dievaluasi dan semakin banyak evaluator yang harus dilibatkan maka semakin rumit pula pekerjaan management yang harus dilakukan jika evaluasi itu hanya dilakukan oleh seorang maka management tidak akan serumit jika evaluator terdiri dari sebuah tim.
8. Analisis data
            Pekerjaan analisis data tentu saja merupakan tindak lanjut setelah proses pengumpuilan data evaluasi berhasil dilakukan. Ketika model yang digunakan adalah model kuantitatif dan dengan demikian data utama evaluasiadalah data kuantitatif. Proses dan tekhnik pengolahan data yang diakui dalam model kuatitatif harus dilaksanakan.
9. Penulisan pelaporan
            Penulisan laporan sebagaimana halnya dengan analisis data, penulisan laporan harus dilakukan oleh evaluator dan tim evaluator. Format laporn harus disesuaikan dengan kesepakatan yang dilakukan pada waktu awal.
10. Pembahasan Laporan dengan pemakai jasa
            Pembahasan ini diperlukan untuk melihat kelengkapan laporan.Dalam pembahasan ini jika pengguna jasa memerlukan tambahan informasi yang memang tercantum dalam kontrak maka adalah kewajiban evaluator untuk melengkapi laporan tersebut.
11. Penulisan laporan akhir
Penulisan Laporan akhir adalah sebagai hasil dari revisi yang harus dilakukan evaluator ketika terjadi pembahasan laporan dengan pengguna jasa.

L. Konsep Evaluasi Kurikulum
Secara sederhana teori kurikulum dapat diklasifikasikan atas teori-teori yang lebih menekankan pada isi kurikulum, pada situasi pendidikan serta pada organisasi kurikulum.
Penekanan kepada isi kurikulum.Strategi pengembangan yang menekankan isi, merupakan yang paling lama dan banyak dipakai, tetapi juga harus mendapat penyempurnaan atau pembaharuan.
Faktor-faktor yang yeng mndorong pembaharuan ini bermacam-macam:
1. Karena didorong oleh tuntutan untuk menguatkan kembali nilai-nilai moral dan budaya dari masyarakat.
2. Karena perubahan dasar filosofis tentang struktur pengetahuan.
3.Karena adanya tuntutan bahwa kurikulum harus lebih beroriantasi pada pekerjaan.
Faktor-faktor tersebut tidak timbul dari atau tidak ada hubungannya dengan sistem instuisi persekolahan.pengetahuan sebagai isi kurikulum mempunyai nilai intrinsik, sesuatu yang akan diwariskan, sesuatu yang baru atau diperbaharui. Pengembangan kurikulum yang menekankan isibersifat material centered. Kurikulum ini memandang murid sebagai penerima resep yang pasif.Secara teoritis kurikulum yang menekankan isi dapat diukur, mempunyai tujuan yang apabila ilmu itubtelah ditransfer pada siswa maka siswa dapat menguasainya.Ini merupakan engineering approach.
Penekanan  pada  situasi pendidikan. Tipe kurikulum ini ini lebih menekankan pada masalah dimana (where), bersifat khusus, sangat memperhatikan dan disesuaikan dengan lingkungannya. Tujuannya adalah menhasilkan kurikulum yang benar-benar merefleksikan dunia kehidupan dari lingkingan anak.kurikulum yang menekankan pada sirtuasi pendidikan akan sangat beraneka, dibandingkan dengan kurikulum yang menekankan isi. Kurikulum ini bertujuan mencarai kesesuaian antara kurikulum dengan situasi dimana pendidikan berlangsung. Sifat lain tipe ini adalah kurang atau tidak menekankan pada spesifikasi isi dan organisasi, lebih menunjukkan fleksibelitas dalam interpretasi dan pelaksanaannya. Kurikulum ini ruang lingkupnya sangat sempit, masa pengembanganya juga juga relatif lebih singkat daripada desiminasinya.Kalau kurikulum yang menekankan pada isi merupakan engineering approach.Kurikulum yang menekankan pada situasi lebih mendekati gardening approach.
Secara teoritis, mengevaluasi kurikulum yang menekankan pada situasi yang sulit.Perencanaan dan pembelajaran ini sangat beraneka, peranan guru dalam mengembangkan dan menerapkan kreasinya sangat besar, sehingga cukup sulit merancang alat penilaian yang dapat mencakup skala yang agak luas.
Penenkanan pada organisasi.Tipe kurikulum ini sangat menekankan pada proses belajar-mengajar. Meskipun dengan berbagai perbedaan dan pertentangan, umpamanya anatara konsep sitem instruksional (pengajaran berprogram, pengajaran modul, pengajaran dengan bantuan komputer) denagn konsep pengajaran (perkembangan) dari Bruner dan Jean Piaget, keduanya sangat memnpengaruhi perkembangan kurikulum tipe ini.
Perbedaan yang sangat jelas antara kurikulum byang menenkankan organisasi dengan kurikulum yang menekankan pada isi dan situasi, adalah memberikan perhatian yang sangat besar kepada si peserta didik.
Tipe kurikulum ini secara relatif lepas dari situasi lingkungan atau situatiaon free.Kurikulum yang menekankan pada organisasi menolak pendapat bahwa penguasaan pengetahuan merupakan alat untuk mencapai tujuan. Secara teoritis penyusunan  tes yang spesifik dapat dibuat,tetapi seperti telah diutarakan di  muka, isi kurikulum tidak spesifik, tujuannya dapat dicapai dengan cara yang berbeda-beda. Jika penyusunan tes hasil belajar berdasarkan pada tujuan, maka kurikulum yang menekankan pada organisasi, tesnya akan lebih banyak mengukur tujuan-tujuan yang tinggi pada klasifikasi Bloom (analisis, sintesis, dan evaluasi).

M. Peranan Evaluasi Kurikulum dan Ujian
  Peranan Evaluasi Kurikulum
Evaluasi kurikulum dapat dilihat sebagai proses sosial institusi sosial. Evaluasi kurikulum sebagai institusi sosial mempunyai asal-usul, sejarah, struktur serta interest sendiri.
Peranan evalausi kebijaksanaan dalam kurikulum khususnya pendididkan umumnya minimal berkenaan dengan tiga hal:
1.Evaluasi sebagai moral judgement. Konsep utama dalam evaluasi adalah nilai. Hasil dari suatu evaluasi berisi suatu nilai yang akan du=igunakan untuk tindakana selanjutnya. Hal ini mengandung dua pengertian, pertama evaluasi berisi suatu skala nilai moral, berdasarkan skala tersebut suatu objek evaluasi dapat dinilai.Kedua, evaluasi berisi suatu perangkat kriteria prkatis berdasarkan kriteria-kriteria tersebut suatu hasil dapat dinilai.
Evaluasi bukan merupakan suatu proses tunggal, minimal me;iputa dua kegiatan, yaitu pertama mengumpulkan informasi dan kedua menentukan suatu keputusan.
Dalam evaluasi kurikulum salah satu hal yang sering menjadi inti perdebatan antara para ahli adalah pemisah antara pengumpulan dan penyusunan informasi dengan penentu keputusan. Daniel Stufflebeam (1971) merumuskan evaluation is the process of delineating, obtaining and providing useful information for delineating, obttaining and providing useful information for judging decision alternatif. Stake (1976) dari Universitas Illions merumuskan evaluation is an observed value compared to some standard. Michael Scriven (1961) dari Universitas Indiana, memeberikan perumusan tentang tugas evaluator, it’s (the evaluator’s) task is to try very hard to condense all the mass of data into one word: good or bad.
Kutipan-kutipan diatas bukan saja melukiskan perbedaan  tekanan pada pengumpulan informasi atau pada penentuan keputusan, tetapi juga memperlihatkan adanya perbeedaan karakterisik, mereka yang lebih menekankan pengumpulan informasi memandang terlepas atau tidak melibatkan nilai-nilai.
Pemisahan antara pengumpulan informasi dengan penentuan keputusan merupakan salah satu karakteristik instruksional, hal ini dipengaruhi oleh kebiasaan pemisahan pekerjaan administrator dan peneliti.Dalam pendidikan perbedaan formal tersebut tidak ada, pengumpul data adalah pengambil keputusan juga.
2.Evaluasi dan penentu keputusan. Pengambil keputusan dalam pelaksanaan pendidikan atau kurikulum itu banyak, yaitu: guru, murid, orang tua, kepala sekolah, para inspektur, pengembang kurikulum, dan sebagainya. Pada prinsipnya tiap individu diatas memegang memebuat keputusan sesuai dengan posisinya.Murid mengambil keputusan sesuai dengan posisinya sebagai murid. Guru mengambil keputusan sesuai dengan posisinya sebagai guru. Besar atau kecilnya peranan keputusan yang diambil oleh seseorang sesuai dengan lingkup tanggung jawabnyaserta lingkup masalah yang dihadapainya pada suatu saat.Contohnya. Bebrpa evaluasi menjadi bahan pertimbangan bagi murid untuk mengambil keputusan apakh ia harus lebih rajin belajar atau tidak, apakah ia harus memilih jurusan IPA atau IPS, dan sebagainy. Dengan kata lain penentu keputusan yang diambil oleh murid, sebagian besar adalah berkenaan dengan kepentingan dirinya.
Lain halnya dengan keputusan yang diambil oleh seorang guru, ia mengambil keputusan bagi kepentingan seorang atau beberapa murid, atau dapat pula mengambil keputusan bagi seluruh murid. Demikian juga lingkup keputusan yang diambil oleh kepala sekolah, inspektur, pengembang kurikulum dan sebagainya berbeda-beda. Jadi, tiap pengambil keputusan dalam dalam proses evaluasi memegang posisi nilai yang berbeda, sesuai dengan posisinya. Salah satu kesulitan yang dihadapi dalam penggunaan hasil evaluasi bagi pengambilan keputusan adalah hasil evaluasi yang diterima oleh berbagai pihak pengambil keputusan adalah sama. Lalu masalah yang timbul aalah “apakah hasil evaluasi itu dapat bemanfaat bagi semua pihak”??sudah tentu jawabannya belum tentu. Suatu informasi  mungkin lebih bermanfaat bagi pighak tertentu, tetapi kurang bermanfaat bagi pihak yang lain dan seterusnya.
3. Evaluasi dan Konsensus nilai. Dalam berbagai situasi pendidikan serta kegiatan pelaksanaan evaluasi kurikulum srjumlah nilai-nilai dibawakan oleh orang-orang yang turut terlibat (berpatisipasi) dalam kegiatan penilaian atau evaluasi. Para paritisipan dalam evaluasi pendidikan adalah: orang tua, murid, guru, pengembang kurikulumadministrator, dan sebagainya. Bagaimana caranya agar diantara mereka tersebut ada kesatuan penilaian.Kesatuan penilaian hanya dpat dicapai melalui suatu konsensus.
Secara historis konsensus nilai dalam evaluasi kurikulum berasal dari tradisi tes mental serta eksperimen. Konsensus tersebut berupa kerangka penilaian kerja penilaian, yang dipusatkan pada tujuan-tujuan khusus, pengukuran prestasi belajar yang bersifat behavioral, penggunaan analisis statistik dari pre test (input) dan post test (output) dan lain-lain. Model penelitian diatas merupaka suatu social engeneering atau  system approach dalam pendidikan. Dalam model penelitian tersebut keseluruhan kegiatan dapat digambarakan dalam suatu flow chart yang merumuskan secara operasional input (pre test) dengan cara-cara kegiatan (treatment) serta output (post test).
Model diatas mendapatkan beberapa kritik, tetapi kritik atau kesulitan tersebut yang paling utama adalah dalam merumuskan tujuan-tujuan khusus yang dapat diterima oleh seluruh pasrtisipan evaluasi kurikulum serta perencanaan kurikulum.Dan juga diantara partisipan harus ada persetujuan tentang tujuan-tujuan mana yang paling penting dan siapa diantara partisipasan tersenut yang turut terlibat secara langsung dalam penggunaan model tersebut.
Tanpa adanya persetujuan tentang hal-hal tersebut maka sukar untuk dapat menyusun flow chart yang definitif.  Model system approach atau model social engineering bersifat goal based evaluation, karena bertitik tolak pada dari tujuan-tujuan khusus. Karena model ini memepunyai banyak keberatan, maka berkembang model evaluasi yang lain yang bersifat goal free evaluation.
Pendekatan evaluasi yang bersifat goal free ini bertolak dari sikap budaya yang majemuk (cultural pluralism). Sikap kebudayaan yang majemuk mempunyai dasar relativ, memandang bahwa tiap pandangan sama baiknya. Dalam evaluasi kurikulum sudah tentu pandangan ini mempunyai kesulitan yang cukup besar, sebab alat-alat evaluasi yang digunakan bertolak dari dari posisi nilai yang berbeda.Dengan demikian evaluasi bersifat relatif.

  Ujian sebagai Evaluasi
Menguji adalah  mengevaluasi kemampuan  individu. Dengan adanya ujian-ujian tersebut, maka jenis-jenis kemampuan tertentu dipandang menunjukkan status lebih tinggi dibandingkan dengan kemampuan lainnya.
Ujian bukan saja menunjukkan nilai pengetahuan atau kemampuan secara sosial.Tetapi juga telah merupakan peraturan dari sekolah.Sistem ujian yang mempunyai nilai historis ini juga digunakan untuk mengontrol efiensi dan efektivitas pelaksanaan sekolah.Apakah sistem ini dipandang baik atau jelek bergantung pada pandangan yang menggunakannya.
Sistem ujian sperti diatas, lebih banyak digunakan untuk mengukur atau menguji kemampuan individu-individu (siswa). Untuk menilai gambaran sekolah secara keseluruhan, yaitu menilai tentang keadaan murid, guru, kurikulum,  pembiayaan  sekolah, fasilitas sekolah, keseragaman sekolah, penyusanan  rancangan dan pemeliharaan  sekolah diperlukan sistem pengumpulan data serta penilaian yang lain. Kalau untuk mengukur kemampuan siswa digunakan istilah examination atau assessment maka untuk penilaian keseluruhan situasi sekolah atau kurikulum lebih tepat digunakan istilah evaluation.
Barry Mc Donald (1975), mendasarkan argumentasinya pada anggapan dasar bahwa evaluasi merupakan kegiatan politik. Ia membedakan adanya tiga tipe evaluasi dalam pendidikan dan kurikulum, yaitu evaluasi birokraktik, evaluasi otokratik, evaluasi demokratik.
Evaluasi birokratik, merupakan suatu layanan yang bersifat unconditional terhadap lembaga-lembaga pemerintah yang memiliki kontrolt terbesar dalam alokasi sumber-sumber pendidikan.Prinsip utama evaluasi birokratik adalah pelayan (service), penggunaan (utility), dan efesiensi (efficiency).
Evaluasi otokratik, merupakan layanan evaluasi terhadap lembaga-lembaga pemerintah yang mempunyai wewenang kontrol cukup besar dalam  mengalokasikan sumber-sumber pendidikan. Konsep utama evaluator otokratik adalah yang bersifat prinsipil dan objektif (principles and objectivity).
Evaluasi demokratik, merupakan layanan pemberian informasi terhadap masyarakat, tentang program-program pendidikan.Konsep utama evaluator demokratis adalah kerahasiaan, musyawarah, dan ketercapaian sasaran (confidentiality, negosiasi, and accessibility).

N.Model-model Evaluasi Kurikulum
1.Evaluasi Model Penelitian
Model evaluasi kurikulum yang menggunakan model penelitian adalah didasarkan atas teori dan metode tes psikologis serta eksperimen lapangan.
Tes psikologis atau tes psikomotorik pada umumnya mempunyai dua bentuk, yaitu tes intelegensi yang ditujukan untuk mengukur kemampuan bawaan, serta tes hasil belajar yang mengukur prilaku skolastik.
Eksperimen lapangan digunakan dalam pendidikan sejak tahun 1930 dengan menggunakan metode yang biasa digunakan dlam penelitian botani pertanian.Para ahli botani pertanian mengadakan percobaan untuk mengetahui produktivitas bermacam-macam benih.
Model eksperimen dalam botani pertanian dapat digunakan dalam pendidikan, anak dapat disamakan dengan benih, sedang kurikulum serta berbagai fasilitas serta sistem sekolah disamakan dengan tanah dan pemeliharaannya.Untuk mengetahui tingkat kesuburan benih (anak) serta hasil yang dicapai pada akhir program percobaan dapat digunakan tes (pre test dan post test). Ada beberpa kesulitan yang dihadapi dalam eksperimen tersebut, yaitu :
  Kesulitan administratif, sedikit sekali sekolah yang bersedia dijadikan sekolah eksperimen .
  Masalah teknik dan logis, yaitu kesulitan menciptakan kondisi kelas yang sama untuk kelompok-kelompok yang diuji.
  Sulit mencampurkan guru-guru untuk mengajar pada kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol, pengaruh guru-guru tesebut sulit dikontrol.
  Adanya keterbatasan mengenai manipulasi eksperimen yang dapat dilakukan.

2. Evaluasi Model Objektif
Evaluasi model objektif (model tujuan) berasal dari Amerika Serikat. Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh tim pengembang model objektif:
a. Ada kesepakatan tentang tujuan-tujuan kurikulum.
b.Merumuskan tujuan-tujuan tersebut dalam perbuatan siswa.
c.Menyusun materi kurikulum  yang sesuai dengan tujuan tersebut.
d.MEngukur kesesuaian antara prilaku siswa dengan hasil yang diinginkan.

Pada tahun 1950-an Benyamin S. Bloom dengan kawan-kawannya menyususn klasifikasi sistem tujuan yang meliputi daerah-daerah belajar (cognitif domain). Mereka membagi  proses mental yang berhubungan dengan belajar tersebut dalam 6 kategori, yaitu knowladge, comprehension, application, analysis, synthesis dan evaluation. Mereka membagi-bagi lagi tujuan-tujuan tersebut pada sub-tujuan yang lebih khusus.
Sistem pengajaran yang terkenal adalah IPI (individually Prescribed Instruction), suatu program yang dikembangkan oleh Learning Research and Development Centre Universitas Pittsburg. Dalam IPI anak mengikuti kurikulum yang memiliki tujuh unsur:
a.Tujuan-tujuan pengajaran yang disusun dalam daerah-daerah, tingkat-tingkat dan unit-unit.
b.Suatu prosedur program testing.
c.Pedoman prosedur penulisan.
d.Materi dan alat-alat pengajaran.
e.Kegiatan guru dalam kelas.
f.Kegiatan murid dalam kelas, dan
g.Prosedur pengelolaan kelas.

Tes untuk mengukur prestaasi belajar anak merupakan bagian integral dari kurikulum.Untuk mengikuti program pendidikan, siswa harus mengambil dulu tes penempatan, untuk menentukan dimana mereka harus mulai belajar. Kemajuan siswa dimonitor oleh guru dengan memberikan tes yang mengukur tingkat penguasaan tujuan-tujuan khusus melalui pre test dan post test. Siswa dianggap menguasai suatu unit bila memperoleh skor minimal 80.Bila ini sudah dikuasai berarti penguasaan siswa sudah sesuai kriteria.

3. Model Campuran Multivariasi
Evaluasi model perbandingan (comparative approach) dan model Tylor dan Bloom melahirkan evaluasi model campuran multivariasi, yaitu strategi evaluasi yang menyatukan unsur-unsur dari kedua pendekatan tersebut.
O. Bahan Ajar
1. Pengertian Bahan Ajar
Bahan Ajar atau learning material, merupakan materi ajar yang dikemas sebagai bahan untuk disajikan dalam proses pembelajaran. Bahan pembelajaran dalam penyajiannya berupa deskripsi yakni berisi tentang fakta-fakta dan prinsip-prinsip, norma yakni berkaitan dengan aturan, nilai dan sikap, serta seperangkat tindakan/keterampilan motorik. Dengan demikian, bahan pembelajaran pada dasarnya berisi tentang pengetahuan, nilai, sikap, tindakan dan keterampilan yang berisi pesan, informasi, dan ilustrasi berupa fakta, konsep, prinsip, dan proses yang terkait dengan pokok bahasan tertentu yang diarahkan untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Dilihat dari aspek fungsi, bahan pembelajaran dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu sebagai sumber belajar yang dimanfaatkan secara langsung dan sebagai sumber belajar yang dimanfaatkan secara tidak langsung. Sebagai sumber belajar yang dimanfaatkan langsung, bahan pembelajaran merupakan bahan ajar utama yang menjadi rujukan wajib dalam pembelajaran. Contohnya adalah buku teks, modul, handout, dan bahan-bahan panduan utama lainnya. Bahan pembelajaran dikembangkan mengacu pada kurikulum yang berlaku, khususnya yang terkait dengan tujuan dan materi kurikulum seperti kompetensi, standar materi dan indikator pencapaian.
Sebagai sumber belajar yang dimanfaatkan secara tidak langsung, bahan pembelajaran merupakan bahan penunjang yang berfungsi sebagai pelengkap. Contohnya adalah buku bacaan, majalah, program video, leaflet, poster, dan komik pengajaran. Bahan pembelajaran ini pada umumnya disusun di luar lingkup materi kurikulum, tetapi memiliki keterkaitan yang erat dengan tujuan utamanya yaitu memberikan pendalaman dan pengayaan bagi siswa.

2. Peran Bahan Pembelajaran dalam Proses Pembelajaran
Proses pembelajaran merupakan suatu rangkaian kegiatan aktifitas dalam upaya pewujudan kompetensi siswa, dibangun oleh berbagai unsur, yaitu unsur raw input (siswa) yang akan diproses/dibentuk kompetensinya, instrumental input (terdiri dari tujuan, materi berupa bahan ajar, media dan perangkat evaluasi) yang berfungsi sebagai perangkat yang akan memproses pembentukan kompetensi, serta perangkat lingkungan (environmental input), seperti lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat, yang turut mempengaruhi keberhasilan pencapaian kompetensi.
Bahan pembelajaran dalam proses pembelajaran dengan demikian menempati posisi penting dalam proses pembelajaran, hal tersebut karena bahan ajar merupakan materi yang akan disampaikan/disajikan. Tanpa bahan ajar mustahil pembelajaran akan terwujud. Tepat tidaknya, sesuai tidaknya bahan ajar dengan tujuan dan kompetensi yang diharapkan akan menentukan tercapai tidaknya tidaknya tujuan kompetensi pembelajaran yang diharapkan.
Berdasarkan uraian tersebut, bahan ajar merupakan inti dari kurikulum yang berfungsi sebagai alat pencapaian tujuan dalam proses pembelajaran. Secara lebih rinci, peran bahan ajar bagi guru, siswa dan pihak terkait:
a.       Peran bahan pembelajaran bagi guru
1)      Wawasan bagi guru untuk pemahaman substansi secara komprehensi.
2)      Sebagai bahan yang akan digunakan dalam proses pembelajaran.
3)      Mempermudah guru dalam mengorganisasikan pembelajaran di kelas.
4)      Mempermudah guru dalam penentuan metoda pembelajaran yang tepat serta sesuai kebutuhan siswa.
5)      Merupakan media pembelajaran.
6)      Mempermudah guru dalam merencanakan penilaian pembelajaran.

b.      Peran bahan pembelajaran bagi siswa
1)      Sebagai pegangan siswa dalam penguasaan materi pelajaran untuk mencapai kompetensi yang dicanangkan.
2)      Sebagai informasi atau pemberi wawasan secara mandiri di luar yang disampaikan oleh guru di kelas.
3)      Sebagai media yang dapat memberikan kesan nyata berkaitan dengan materi yang harus dikuasai.
4)      Sebagai motivator untuk mempelajari lebih lanjut tentang materi tertentu.
5)      Mengukur keberhasilan penguasaan materi pembelajaran secara mandiri.

c.       Peran pembelajaran bagi pihak terkait
1)      Dapat mendorong pihak terkait untuk memfasilitasi pengadaan bahan pembelajaran yang dibutuhkan guru dan murid di sekolah.
2)      Dapat meberi masukan kepada guru atau penyusun bahan pembelajaran agar bahan pembelajaran tersebut sesuai dengan kebutuhan siswa dengan segenap lingkungannya.
3)      Dapat membantu dalam pemilihan dan penetapan media serta alat pembelajaran lainnya yang mendukung keberhasilan penguasaan bahan pembelajaran oleh siswa.
4)      Sebagai alat pemberian reward (penghargaan) terhadap guru yang secara kreatif menyusun serta mengembangkan bahan pembelajaran.

3. Karakteristik Bahan Ajar
Suatu bahan pembelajaran yang baik memiliki ciri-ciri tertentu. Ciri yang melekat pada bahan ajar yang disajikan (disusun) merupakan ciri khas yang membedakan antara bahan pembelajaran yang baik dengan bahan pembelajaran yang tidak baik.

Bahan pembelajaran yang baik memenuhi syarat substansial dan penyajian sebagai berikut:
a.      Secara substansial bahan pembelajaran harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
1.      Sesuai dengan visi dan misi sekolah
Visi merupakan wawasan jauh ke depan yang menunjukkan arah bagi pencapaian tujuan. Sedangkan misi merupakan gambaran tentang apa yang seharusnya dilakukan oleh lembaga, dalam hal ini sekolah/madrasah. Visi dan misi sekolah dalam pencapaiannya diwujudkan melalui proses pembelajaran, sedangkan proses pembelajaran dibangun diantaranya karena adanya bahan pembelajaran. Oleh karena itu bahan pembelajaran yang disusun harus sesuai dengan visi, misi, karena bahan pembelajaran itu sendiri merupakan sarana materi yang akan disampaikan pada siswa dalam upaya mencapai visi dan misi sekolah.
2.      Sesuai dengan kurikulum
Kurikulum yang dimaksud adalah seperangkat program yang harus ditempuh siswa dalam penyelesaian pendidikannya. Paling tidak, secara sempit kurikulum meliputi aspek tujuan/kompetensi, indikator hasil materi, metoda dan penilaian yang digunakan dalam proses pembelajaran. Bahan ajar, dalam hal ini merupakan pengembangan materi pembelajaran hendaknya senantiasa sesuai dengan tujuan/kompetensi, materi dan indikator keberhasilan.
3.      Menganut azas ilmiah
Ilmiah yang dimaksud adalah bahan ajar tersebut disusun dan disajikan secara sistematis (terurai dengan baik) metodologis (sesuai dengan kaidah-kaidah penulisan).
4.      Sesuai dengan kebutuhan siswa
Bahan ajar merupakan hal yang harus dicerna dan dikuasai siswa. Dengan demikian bahan ajar disusun semata-mata untuk kepentingan siswa. Oleh karena itu, maka bahan ajar yang disusun hendaknya sesuai dengan kebutuhan siswa, yaitu sesuai dengan tingkat berpikir, minat, latar sosial budaya dimana siswa itu berada.

b.      Memenuhi kriteria penyajian, yang meliputi:
1)      Memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi
Bahan pembelajaran yang disusun hendaknya memiliki derajat keterbacaan yang tinggi, dalam arti bahasa yang disajikan menggunakan struktur kalimat dan kosa kata yang baik, bentuk kalimat sesuai tata bahasa, dan isi pesan yang disampaikan melalui huruf, gambar, photo dan ilustrasi lainnya memiliki kebermaknaan yang tinggi.
2)      Penyajian format dan fisik bahan pembelajaran yang menarik
Format dan fisik bahan pembelajaran juga harus diperhatikan. Format dan fisik buku ini berkaitan dengan tata letak (layout), penggunaan model dan ukuran huruf, warna, gambar komposisi, kualitas dan ukuran kertas, penjilidan, dan sebagainya. Format dan fisik bahan ajar sebenarnya merupakan tanggung jawab penerbit (bila bahan ajar tersebut diterbitkan), tetapi sebaiknya penulis memiliki gagasan bagaimana format dan fisik bahan ajar yang diinginkan.
















BAB III
METODE PENELITIAN

A. PENDEKATAN PENELITIAN
Metode Penelitian Kualitatif
Dalam penelitian sosial, masalah penelitian, tema, topik, dan judul penelitian berbeda secara kualitatif maupun kuantitatif. Baik substansial maupun materil kedua penelitian itu berbeda berdasarkan filosofis dan metodologis. Masalah kuantitatif lebih umum memiliki wilayah yang luas, tingkat variasi yang kompleks namun berlokasi dipermukaan. Akan tetapi masalah-masalah kualitatif berwilayah pada ruang yang sempit dengan tingkat variasi yang rendah namun memiliki kedalaman bahasan yang tak terbatas.
       Pendekatan kualitatif adalah suatu proses penelitian dan pemahaman yang berdasarkan pada metodologi yang menyelidiki suatu fenomena sosial dan masalah manusia. Pada pendekatan ini, peneliti membuat suatu gambaran kompleks, meneliti kata-kata, laporan terinci dari pandangan responden, dan melakukan studi pada situasi yang alami (Creswell, 1998:15). Bogdan dan Taylor (Moleong, 2007:3) mengemukakan bahwa metodologi kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis maupun lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati.
        Penelitian kualitatif dilakukan pada kondisi alamiah dan bersifat penemuan. Dalam penelitian kualitatif, peneliti adalah instrumen kunci. Oleh karena itu, peneliti harus memiliki bekal teori dan wawasan yang luas jadi bisa bertanya, menganalisis, dan mengkonstruksi obyek yang diteliti menjadi lebih jelas. Penelitian ini lebih menekankan pada makna dan terikat nilai. Penelitian kualitatif digunakan jika masalah belum jelas, untuk mengetahui makna yang tersembunyi, untuk memahami interaksi sosial, untuk mengembangkan teori, untuk memastikan kebenaran data, dan meneliti sejarah perkembangan.

B. Sistematika Penelitian Kualitatif
Judul
Abstrak
Kata Pengantar
Daftar Isi
Daftar Gambar
Bab I Pendahuluan
Konteks Penelitian
Fokus Kajian Penelitian
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Bab II Perspektif Teoritis dan Kajian Pustaka
Bab III Metode Penelitian
Pendekatan
Batasan Istilah
Unit Analisis
Deskripsi Setting Penelitian
Pengumpulan Data
Analisis Data
Keabsahan data
Bab IV Hasil dan pembahasan
Bab VI Kesimpulan dan saran
Daftar pustaka
Lampiran

Penjelasan secara ringkas keseluruhan unsur yang ada dalam penelitian kualitatif, yaitu:
  1. Judul, singkat dan jelas serta mengisyaratkan fenomena dan fokus kajian penelitian. Penulisan judul sedapat mungkin menghindari berbagai tafsiran yang bermacam-macam dan tidak bias makna.
  2. Abstrak, ditulis sesingkat mungkin tetapi mencakup keseluruhan apa yang tertulis di dalam laporan penelitian. Abstrak penelitian selain sangat berguna untuk membantu pembaca memahami dengancepat hasil penelitian, juga dapat merangsang minat dan selera orang lain untuk membacanya.
  3. Perspektif teoritis dan kajian pustaka, perspektif teori menyajikan tentang teori yang digunakan sebagai perpektif baik dalam membantumerumuskan fokus kajian penelitian maupun dalam melakukan analisis data atau membahas temuan-temuan penelitian. Sementara kajian pustaka menyajikan tentang studi-studi terdahulu dalam konteks fenomena dan masalah yang sama atau serupa.
  4. Metode yang digunakan, menyajikan secara rinci metode yang digunakan dalam proses penelitian.
  5. Temuan–temauan penelitian, menyajikan seluruh temuan penelitian yang diorganisasikan secara rinci dan sistematis sesuai urutan pokok masalah atau fokus kajian penelitian. Temuan-temuan penelitian yang disajikan dalam laporan penelitian merupakan serangkaian fakta yang sudah direduksi secara cermat dan sistematis, dan bukan kesan selintas peneliti apalagi hasil karangan atau manipulasi peneliti itu sendiri.
  6. Analisis temuan– temuan penelitian. Hasil temuanmemrlukan pembahasan lebih lanjut dan penafsiran lebih dalam untuk menemukan makna di balik fakta. Dalam melakukan pembahasan terhadap temuan-temuan penelitian, peneliti harus kembali mencermati secara kritis dan hati-hati terhadap perspektif teoritis yang digunakan.
C. Jenis-jenis Penelitian Kualitatif
Penelitian kualitatif memiliki 5 jenis penelitian, yaitu:
1. Biografi
Penelitian biografi adalah studi tentang individu dan pengalamannya yang dituliskan kembali dengan mengumpulkan dokumen dan arsip-arsip. Tujuan penelitian ini adalah mengungkap turning point moment atau epipani yaitu pengalaman menarik yang sangat mempengaruhi atau mengubah hidup seseorang. Peneliti menginterpretasi subjek seperti subjek tersebut memposisikan dirinya sendiri.

2. Fenomenologi
Penelitian fenomenologi mencoba menjelaskan atau mengungkap makna konsep atau fenomena pengalaman yang didasari oleh kesadaran yang terjadi pada beberapa individu. Penelitian ini dilakukan dalam situasi yang alami, sehingga tidak ada batasan dalam memaknai atau memahami fenomena yang dikaji. Menurut Creswell (1998:54), Pendekatan fenomenologi menunda semua penilaian tentang sikap yang alami sampai ditemukan dasar tertentu. Penundaan ini biasa disebut epoche (jangka waktu). Konsep epoche adalah membedakan wilayah data (subjek) dengan interpretasi peneliti. Konsep epoche menjadi pusat dimana peneliti menyusun dan mengelompokkan dugaan awal tentang fenomena untuk mengerti tentang apa yang dikatakan oleh responden.

3. Grounded theory
Walaupun suatu studi pendekatan menekankan arti dari suatu pengalaman untuk sejumlah individu, tujuan pendekatan grounded theory adalah untuk menghasilkan atau menemukan suatu teori yang berhubungan dengan situasi tertentu . Situasi di mana individu saling berhubungan, bertindak, atau terlibat dalam suatu proses sebagai respon terhadap suatu peristiwa. Inti dari pendekatan grounded theory adalah pengembangan suatu teori yang berhubungan erat kepada konteks peristiwa dipelajari.

4. Etnografi
Etnografi adalah uraian dan penafsiran suatu budaya atau sistem kelompok sosial. peneliti menguji kelompok tersebut dan mempelajari pola perilaku, kebiasaan, dan cara hidup. Etnografi adalah sebuah proses dan hasil dari sebuah penelitian. Sebagai proses, etnografi melibatkan pengamatan yang cukup panjang terhadap suatu kelompok, dimana dalam pengamatan tersebut peneliti terlibat dalam keseharian hidup responden atau melalui wawancara satu per satu dengan anggota kelompok tersebut. Peneliti mempelajari arti atau makna dari setiap perilaku, bahasa, dan interaksi dalam kelompok.

5. Studi kasus
Penelitian studi kasus adalah studi yang mengeksplorasi suatu masalah dengan batasan terperinci, memiliki pengambilan data yang mendalam, dan menyertakan berbagai sumber informasi. Penelitian ini dibatasi oleh waktu dan tempat, dan kasus yang dipelajari berupa program, peristiwa, aktivitas, atau individu.

D. Metode Pengumpulan Data

Beberapa metode pengumpulan data dalam penelitian kualitatif, yaitu:

1. Wawancara
Wawancara merupakan alat re-cheking atau pembuktian terhadap informasi atau keterangan yang diperoleh sebelumnya. Tehnik wawancara yang digunakan dalam penelitian kualitatif adalah wawancara mendalam. Wawancara mendalam (in–depth interview) adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan informan atau orang yang diwawancarai, dengan atau tanpa menggunakan pedoman (guide) wawancara, di mana pewawancara dan informan terlibat dalam kehidupan sosial yang relatif lama.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan seorang peneliti saat mewawancarai responden adalah intonasi suara, kecepatan berbicara, sensitifitas pertanyaan, kontak mata, dan kepekaan nonverbal. Dalam mencari informasi, peneliti melakukan dua jenis wawancara, yaitu autoanamnesa (wawancara yang dilakukan dengan subjek atau responden) dan aloanamnesa (wawancara dengan keluarga responden). Beberapa tips saat melakukan wawancara adalah mulai dengan pertanyaan yang mudah, mulai dengan informasi fakta, hindari pertanyaan multiple, jangan menanyakan pertanyaan pribadi sebelum building raport, ulang kembali jawaban untuk klarifikasi, berikan kesan positif, dan kontrol emosi negatif.

2. Observasi
Beberapa informasi yang diperoleh dari hasil observasi adalah ruang (tempat), pelaku, kegiatan, objek, perbuatan, kejadian atau peristiwa, waktu, dan perasaan. Alasan peneliti melakukan observasi adalah untuk menyajikan gambaran realistik perilaku atau kejadian, untuk menjawab pertanyaan, untuk membantu mengerti perilaku manusia, dan untuk evaluasi yaitu melakukan pengukuran terhadap aspek tertentu melakukan umpan balik terhadap pengukuran tersebut.

Bungin (2007: 115) mengemukakan beberapa bentuk observasi yang dapat digunakan dalam penelitian kualitatif, yaitu observasi partisipasi, observasi tidak terstruktur, dan observasi kelompok tidak terstruktur.
  • Observasi partisipasi (participant observation) adalah metode pengumpulan data yang digunakan untuk menghimpun data penelitian melalui pengamatan dan pengindraan dimana observer atau peneliti benar-benar terlibat dalam keseharian responden.
  •  Observasi tidak berstruktur adalah observasi yang dilakukan tanpa menggunakan guide observasi. Pada observasi ini peneliti atau pengamat harus mampu mengembangkan daya pengamatannya dalam mengamati suatu objek.
  • Observasi kelompok adalah observasi yang dilakukan secara berkelompok terhadap suatu atau beberapa objek sekaligus.


Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam observasi adalah topografi, jumlah dan durasi, intensitas atau kekuatan respon, stimulus kontrol (kondisi dimana perilaku muncul), dan kualitas perilaku.

3. Dokumen
Sejumlah besar fakta dan data tersimpan dalam bahan yang berbentuk dokumentasi. Sebagian besar data yang tersedia adalah berbentuk surat-surat, catatan harian, cenderamata, laporan, artefak, foto, dan sebagainya. Sifat utama data ini tak terbatas pada ruang dan waktu sehingga memberi peluang kepada peneliti untuk mengetahui hal-hal yang pernah terjadi di waktu silam. Secara detail bahan dokumenter terbagi beberapa macam, yaitu otobiografi, surat-surat pribadi, buku atau catatan harian, memorial, klipping, dokumen pemerintah atau swasta, data di server dan flashdisk, data tersimpan di website, dan lain-lain.

E. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data dalam penelitian kualitatif di dasarkan pada pendekatan yang digunakan. Beberapa bentuk analisis data dalam penelitian kualitatif, yaitu:

1. Biografi
            Langkah-langkah analisis data pada studi biografi, yaitu:
a.       Mengorganisir file pengalaman objektif tentang hidup responden seperti tahap  perjalanan hidup dan pengalaman. Tahap tersebut berupa tahap kanak-kanak, remaja, dewasa dan lansia yang ditulis secara kronologis atau seperti pengalaman pendidikan, pernikahan, dan pekerjaan.
b. Membaca keseluruhan kisah kemudian direduksi dan diberi kode.
c. Kisah yang didapatkan kemudian diatur secara kronologis.
d. Selanjutnya peneliti mengidentifikasi dan mengkaji makna kisah yang dipaparkan, serta mencari epipani dari kisah tersebut.
e. Peneliti juga melihat struktur untuk menjelaskan makna, seperti interaksi sosial didalam sebuah kelompok, budaya, ideologi, dan konteks sejarah, kemudian memberi interpretasi pada pengalaman hidup individu.
f. Kemudian, riwayat hidup responden di tulis dengan berbentuk narasi yang berfokus pada proses dalam hidup individu, teori yang berhubungan dengan pengalaman hidupnya dan keunikan hidup individu tersebut.

2. Fenomenologi
Langkah-langkah analisis data pada studi fenomenologi, yaitu:
a. Peneliti memulai mengorganisasikan semua data atau gambaran menyeluruh tentang fenomena pengalaman yang telah dikumpulkan.
b. Membaca data secara keseluruhan dan membuat catatan pinggir mengenai data yang dianggap penting kemudian melakukan pengkodean data.
c. Menemukan dan mengelompokkan makna pernyataan yang dirasakan oleh responden dengan melakukan horizonaliting yaitu setiap pernyataan pada awalnya diperlakukan memiliki nilai yang sama. Selanjutnya, pernyataan yang tidak relevan dengan topik dan pertanyaan maupun pernyataan yang bersifat repetitif atau tumpang tindih dihilangkan, sehingga yang tersisa hanya horizons (arti tekstural dan unsur pembentuk atau penyusun dari phenomenon yang tidak mengalami penyimpangan).
d. Pernyataan tersebut kemudian di kumpulkan ke dalam unit makna lalu ditulis gambaran tentang bagaimana pengalaman tersebut terjadi.
e. Selanjutnya peneliti mengembangkan uraian secara keseluruhan dari fenomena tersebut sehingga menemukan esensi dari fenomena tersebut. Kemudian mengembangkan textural description (mengenai fenomena yang terjadi pada responden) dan structural description (yang menjelaskan bagaimana fenomena itu terjadi).
f. Peneliti kemudian memberikan penjelasan secara naratif mengenai esensi dari fenomena yang diteliti dan mendapatkan makna pengalaman responden mengenai fenomena tersebut.
g. Membuat laporan pengalaman setiap partisipan. Setelah itu, gabungan dari gambaran tersebut ditulis.


3. Grounded theory
Langkah-langkah analisis data pada studi grounded theory, yaitu:
a. Mengorganisir data
b. Membaca keseluruhan informasi dan memberi kode.
c. Open coding, peneliti membentuk kategori informasi tentang peristiwa dipelajari.
d. Axial coding, peneliti mengidentifikasi suatu peristiwa, menyelidiki kondisi-kondisi yang menyebabkannya, mengidentifikasi setiap kondisi-kondisi, dan menggambarkan peristiwa tersebut.
e. Selective coding, peneliti mengidentifikasi suatu jalan cerita dan mengintegrasikan kategori di dalam model axial coding.
Selanjutnya peneliti boleh mengembangkan dan menggambarkan suatu acuan yang menerangkan keadaan sosial, sejarah, dan kondisi ekonomi yang mempengaruhi peristiwa.

4. Etnografi
Langkah-langkah analisis data pada studi etnografi, yaitu:
a. Mengorganisir file.
b. Membaca keseluruhan informasi dan memberi kode.
c. Menguraikan setting sosial dan peristiwa yang diteliti.
d. Menginterpretasi penemuan.
e. Menyajikan presentasi baratif berupa tabel, gambar, atau uraian.

5. Studi kasus
Langkah-langkah analisis data pada studi kasus, yaitu:
a. Mengorganisir informasi.
b. Membaca keseluruhan informasi dan memberi kode.
c. Membuat suatu uraian terperinci mengenai kasus dan konteksnya.
d. Peneliti menetapkan pola dan mencari hubungan antara beberapa kategori.
e. Selanjutnya peneliti melakukan interpretasi dan mengembangkan generalisasi natural dari kasus baik untuk peneliti maupun untuk penerapannya pada kasus yang lain.
f. Menyajikan secara naratif.

F. Keabsahan Data

Banyak hasil penelitian kualitatif diragukan kebenarannya karena beberapa hal, yaitu subjektivitas peneliti merupakan hal yang dominan dalam penelitian kualitatif, alat penelitian yang diandalkan adalah wawancara dan observasi mengandung banyak kelemahan ketika dilakukan secara terbuka dan apalagi tanpa kontrol, dan sumber data kualitatif yang kurang credible akan mempengaruhi hasil akurasi penelitian. Oleh karena itu, dibutuhkan beberapa cara menentukan keabsahan data, yaitu:

1. Kredibilitas
Apakah proses dan hasil penelitian dapat diterima atau dipercaya. Beberapa kriteria dalam menilai adalah lama penelitian, observasi yang detail, triangulasi, per debriefing, analisis kasus negatif, membandingkan dengan hasil penelitian lain, dan member check.
Cara memperoleh tingkat kepercayaan hasil penelitian, yaitu:
a. Memperpanjang masa pengamatan memungkinkan peningkatan derajat kepercayaan data yang dikumpulkan, bisa mempelajari kebudayaan dan dapat menguji informasi dari responden, dan untuk membangun kepercayaan para responden terhadap peneliti dan juga kepercayaan diri peneliti sendiri.
b. Pengamatan yang terus menerus, untuk menemukan ciri-ciri dan unsur-unsur dalam situasi yang sangat relevan dengan persoalan atau isu yang sedang diteliti, serta memusatkan diri pada hal-hal tersebut secara rinci.
c. Triangulasi, pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data tersebut.
d. Peer debriefing (membicarakannya dengan orang lain) yaitu mengekspos hasil sementara atau hasil akhir yang diperoleh dalam bentuk diskusi analitik dengan rekan-rekan sejawat.
e. Mengadakan member check yaitu dengan menguji kemungkinan dugaan-dugaan yang berbeda dan mengembangkan pengujian-pengujian untuk mengecek analisis, dengan mengaplikasikannya pada data, serta denganmengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang data.

2. Transferabilitas yaitu apakah hasil penelitian ini dapat diterapkan pada situasi yang lain.
3. Dependability yaitu apakah hasil penelitian mengacu pada kekonsistenan peneliti dalam mengumpulkan data, membentuk, dan menggunakan konsep-konsep ketika membuat interpretasi untuk menarik kesimpulan.
4. Konfirmabilitas yaitu apakah hasil penelitian dapat dibuktikan kebenarannya dimana hasil penelitian sesuai dengan data yang dikumpulkan dan dicantumkan dalam laporan lapangan. Hal ini dilakukan dengan membicarakan hasil penelitian dengan orang yang tidak ikut dan tidak berkepentingan dalam penelitian dengan tujuan agar hasil dapat lebih objektif.

G. Reliabilitas
Reliabilitas penelitian kualitatif dipengaruhi oleh definisi konsep yaitu suatu konsep dan definisi yang dirumuskan berbeda-beda menurut pengetahuan peneliti, metode pengumpulan dan analisis data, situasi dan kondisi sosial, status dan kedudukan peneliti dihadapan responden, serta hubungan peneliti dengan responden.(IAHS)


B.LOKASI DAN SUBJEK PENELITIAN
1.LOKASI PENELITIAN
            Lokasi penelitian ini bertempat di SD Negeri 8 pandegelang Provinsi banten, Otonomi daerah Pandegelang, Kecamatan Pandegelang, Desa/kelurahan Pandegelang, Jalan dan nomer : Kandupandak rt.09 rw.11
Dengan visi sekolah “ mendidik membimbing murid untuk mendapatkan pendidikan dasar yang berprestasi yang dapat melanjutkan ke SLTP sesuai dengan keinginan orangtua dan masyarakat. Dan salah satu misi sekolah “Menghayati dan mengamalkan tujuan pendidikan nasional”.

2.subjek penelitian
          Penelitian ini dilakukan di SDN 8 Pandegelang kabupaten pandegelang, dengan sebaran subjek penelitian sebagai berikut : (1) wawancara di ruang guru untuk mengetahui tentang kurikulum yang di gunakan di sekolah tersebut (2) mengunjungi beberapa ruang kelas yang bermurid kurang lebih 20 orang.

C.JENIS PENGUMPULAN DATA
A. Sumber Data
Sumber data terbagi menjadi dua yaitu data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh peneliti secara langsung (dari tangan pertama), sementara data sekunder adalah data yang diperoleh peneliti dari sumber yang sudah ada. Contoh data primer adalah data yang diperoleh dari responden melalui kuesioner, kelompok fokus, dan panel, atau juga data hasil wawancara peneliti dengan nara sumber. Contoh data sekunder misalnya catatan atau dokumentasi perusahaan berupa absensi, gaji, laporan keuangan publikasi perusahaan, laporan pemerintah, data yang diperoleh dari majalah, dan lain sebagainya.
B. Metode Pengumpulan Data
Dalam penelitian, teknik pengumpulan data merupakan faktor penting demi keberhasilan penelitian. Hal ini berkaitan dengan bagaimana cara mengumpulkan data, siapa sumbernya, dan apa alat yang digunakan. Jenis sumber data adalah mengenai dari mana data diperoleh. Apakah data diperoleh dari sumber langsung (data primer) atau data diperoleh dari sumber tidak langsung (data sekunder). Metode Pengumpulan Data merupakan teknik atau cara yang dilakukan untuk mengumpulkan data. Metode menunjuk suatu cara sehingga dapat diperlihatkan penggunaannya melalui angket, wawancara, pengamatan, tes, dkoumentasi dan sebagainya. Sedangkan Instrumen Pengumpul Data merupakan alat yang digunakan untuk mengumpulkan data.  Karena berupa alat, maka instrumen dapat berupa lembar cek list, kuesioner (angket terbuka / tertutup), pedoman wawancara, camera photo dan lainnya. Adapun tiga teknik pengumpulan data yang biasa digunakan adalah angket, observasi dan wawancara.
1. Observasi
Obrservasi merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang tidak hanya mengukur sikap dari responden (wawancara dan angket) namun juga dapat digunakan untuk merekam berbagai fenomena yang terjadi (situasi, kondisi). Teknik ini digunakan bila penelitian ditujukan untuk mempelajari perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam dan dilakukan pada responden yang tidak terlalu besar.
Participant Observation
Dalam observasi ini, peneliti secara langsung terlibat dalam kegiatam sehari-hari orang atau situasi yang diamati sebagai sumber data. Misalnya seorang guru dapat melakukan observasi mengenai bagaimana perilaku siswa, semangat siswa, kemampuan manajerial kepala sekolah, hubungan antar guru, dsb.
Non participant Observation
Berlawanan dengan participant Observation, Non Participant merupakan observasi yang penelitinya tidak ikut secara langsung dalam kegiatan atau proses yang sedang diamati. Misalnya penelitian tentang pola pembinaan olahraga, seorang peneliti yang menempatkan dirinya sebagai pengamat dan mencatat berbagai peristiwa yang dianggap perlu sebagai data penelitian. Kelemahan dari metode ini adalah peneliti tidak akan memperoleh data yang mendalam karena hanya bertindak sebagai pengamat dari luar tanpa mengetahui makna yang terkandung di dalam peristiwa. Alat yang digunakan dalam teknik observasi ini antara lain : lembar cek list, buku catatan, kamera photo, dll.
2. Wawancara
Wawancara merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui tatap muka dan tanya jawab langsung antara pengumpul data maupun peneliti terhadap nara sumber atau sumber data. Wawancara pada penelitian sampel besar biasanya hanya dilakukan sebagai studi pendahuluan karena tidak mungkin menggunakan wawancara pada 1000 responden, sedangkan pada sampel kecil teknik wawancara dapat diterapkan sebagai teknik pengumpul data (umumnya penelitian kualitatif)
Wawancara terbagi atas wawancara terstruktur dan tidak terstruktur.
1.      Wawancara terstruktur artinya peneliti telah mengetahui dengan pasti apa informasi yang ingin digali dari responden sehingga daftar pertanyaannya sudah dibuat secara sistematis. Peneliti juga dapat menggunakan alat bantu tape recorder, kamera photo, dan material lain yang dapat membantu kelancaran wawancara.
2.      Wawancara tidak terstruktur adalah wawancara bebas, yaitu peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang berisi pertanyaan yang akan diajukan secara spesifik, dan hanya memuat poin-poin penting masalah yang ingin digali dari responden.



Kelebihan dan Kekurangan dalam Teknik Pengumpulan Data
1. Metode Observasi
Pengumpulan data dengan observasi langsung atau dengan pengamatan langsung adalah cara pengambilan data dengan menggunakan mata tanpa ada pertolongan alat standar lain untuk keperluan tersebut. Pengamatan baru tergolong sebagai teknik mengumpulkan data, jika pengamatan tersebut mempunyai kriteria berikut:
  • Pengamatan digunakan untuk penelitian dan telah direncanakan secara sistematik.
  • Pengamatan harus berkaitan dengan tujuan penelitian yang telah direncanakan.
  • Pengamatan tersebut dicatat secara sistematis dan dihubungkan dengan proposisi umum dan bukan dipaparkan sebagai suatu set yang menarik perhatian saja.
Pengamatan dapat dicek dan dikontrol atas validitas dan reliabilitasnya. Penggunaan pengamatan langsung sebagai cara mengumpulkan data mempunyai beberapa keuntungan antara lain :
Pertama. Dengan cara pengamatan langsung, terdapat kemungkinan untuk mencatat hal-hal, perilaku, pertumbuhan, dan sebagainya, sewaktu kejadian tersebut berlaku, atau sewaktu perilaku tersebut terjadi. Dengan cara pengamatan, data yang langsung mengenai perilaku yang tipikal dari objek dapat dicatat segera, dantidak menggantungkan data dari ingatan seseorang;
Kedua. Pengamatan langsung dapat memperoleh data dari subjek baik tidak dapat berkomunikasi secara verbal atau yang tak mau berkomunikasi secara verbal. Adakalanya subjek tidak mau berkomunikasi, secara verbal dengan enumerator atau peneliti, baik karena takut, karena tidak ada waktu atau karena enggan. Dengan pengamatan langsung, hal di atas dapat ditanggulangi. Selain dari keuntungan yang telah diberikan di atas, pengamatan secara langsung sebagai salah satu metode dalam mengumpulkan data, mempunyai kelemahan-kelemahan.
2. Metode Wawancara
Yang dimaksud dengan wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab, sambil bertatap muka antara si penanya atau pewawancara dengan si penjawab atau responden dengan menggunakan alat yang dinamakan interview guide (panduan wawancara). Wawancara dapat dilakukan dengan tatap muka maupun melalui telpon.
Wawancara Tatap Muka
Beberapa kelebihan wawancara tatap muka antara lain :
  • Bisa membangun hubungan dan memotivasi responden
  • Bisa mengklarifikasi pertanyaan, menjernihkan keraguan, menambah pertanyaan baru
  • Bisa membaca isyarat non verbal
  • Bisa memperoleh data yang banyak
Sementara kekurangannya adalah :
  • Membutuhkan waktu yang lama
  • Biaya besar jika responden yang akan diwawancara berada di beberapa daerah terpisah
  • Responden mungkin meragukan kerahasiaan informasi yang diberikan
  • Pewawancara perlu dilatih
  • Bisa menimbulkan bias pewawancara
  • Responden bias menghentikan wawancara kapanpun
Wawancara via phone
Kelebihan
  • Biaya lebih sedikit dan lebih cepat dari warancara tatap muka
  • Bisa menjangkau daerah geografis yang luas
  • Anomalitas lebih besar dibanding wawancara pribadi (tatap muka)
Kelemahan
  • Isyarat non verbal tidak bisa dibaca
  • Wawancara harus diusahakan singkat
  • Nomor telpon yang tidak terpakai bisa dihubungi, dan nomor yang tidak terdaftar pun dihilangkan dari sampel

D.TEKNIK ANALISIS DATA
Proses analisis data dimulai dengan menelah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber, yaitu wawancara, pengamatan, yang sudah ditulis dalam catatan lapangan, dokumen pribadi, dokumen resmi, gambar foto, dan sebagainya. Data tersebut banyak sekali, setelah dibaca, dipelajari, dan ditelah maka langkah berikutnya adalah mengadakan reduksi data yang dilakukan dengan jalan membuat abstraksi. Abstraksi merupakan usaha membuat rangkuman yang inti, proses dan pernyataan-pernyataan yang perlu dijaga sehingga tetap berada di dalamnya. Langkah selanjutnya adalah menyusunya dalam satuan-satuan. Satuan-satuan itu kemudian dikategorisasikan pada langkah berikutnya. Kategori-kategori itu dilakukan sambil membuat koding. Tahap akhir dari analisis data ialah mengadakan pemeriksaan keabsahan data.. setelah selesai tahap ini, mulailah kini tahap penafsiran data dalam mengolah hasil sementaramenjadi teori substantif dengan menggunakan beberapa metode tertentu.
Sehubungan dengan uraian tentang proses analisia dan penafsiran data di atas, maka dapat dijelaskan pokok-pokok persoalan sebagai berikut: Konsep dasar analisis data, Pemerosotan satuan, kategorisasi termasuk pemeriksahan keabsahan data, kemudian diakhiri dengan penafsiran data.

B. Konsep Dasar Analisi Data.
Menurut Patton, 1980 (dalam Lexy J. Moleong 2002: 103) menjelaskan bahwa analisis data adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikanya ke dalam suatu pola, kategori, dan satuan uraian dasar. Sedangkan menurut Taylor, (1975: 79) mendefinisikan analisis data sebagai proses yang merinci usaha secara formal untuk menemukan tema dan merumuskan hipotesis (ide) seperti yang disarankan dan sebagai usaha untuk memberikan bantuan dan tema pada hipotesis. Jika dikaji, pada dasarnya definisi pertama lebih menitikberatkan pengorganisasian data sedangkan yang ke dua lebih menekankan maksud dan tujuan analisis data. Dengan demikian definisi tersebut dapat disintesiskan menjadi: Analisis data proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang didasarkan oleh data.
Dari uraian tersebut di atas dapatlah kita menarik garis bawah analisis data bermaksud pertama- tama mengorganisasikanm data. Data yang terkumpul banyak sekali dan terdiri dari catatan lapangan dan komentar peneliti, gambar, foto, dokumen, berupa laporan, biografi, artikel, dan sebagainya. Pekerjaan analisis data dalam hal ini ialah mengatur, mengurutkan, mengelompokkan, memberikan kode, dan mengategorikannya. Pengorganisasian dan pengelolaan data tersebut bertujuan menemukan tema dan hipotesis kerja yang akhirnya diangkat menjadi teori substantif.
Akirnya perlu dikemukakan bahwa analisis data itu dilakukan dalam suatu proses. Proses berarti pelaksanaannya sudah mulai dilakukan sejak pengumpulan data dilakukan dan dikerjakjan secara intensif, yaitu sudah meninggalkan lapangan. Pekerjaan menganalisis data memerlukan usaha pemusatan perhatian dan pengerahan tenaga, pikiran peneliti. Selain menganalisis data. Peneliti juga perlu dan masih perlu mendalami kepustakaan guna mengkonfirmasikan teori atau untuk menjastifikasikan adanya teori baru yang barangkali ditemukan.
C. Pemrosesan Satuan
Uraian tentang pemerosotan satuan ini terdiri dari tipelogi satuan dan penyususnan satuan.
1. Tipelogi satuan.
Satuan atau unit adalah satuan suatu latar sosial. Pada dasarnya satuan ini merupakan alat untuk menghaluskan pencatatan data. Menurut Lofland dan Lofland, (!984) (dalam lexy 2002: 190), satuan kehidupan sosial merupakan kebulatan di mana seseorang mengajukan pertanyaan. Linciln dan Guba (1985: 344) menamakan satuan itu sebagai satuan informasi yang berfungsi untuk menentukan atau mendefinisikan kategori.
Sehubungan dengan itu, Patton, (1987: 306-310) membedakan dua jenis tipe satuan yaitu (1) tipe asli dan (2) tipe hasil konstruk analisis. Patton menyatakan bahwa tipe asli inilah yang menggunakan prespektif emik dan antropologi. Hal ini didasarkan atas asumsi bahwa prilaku sosial dan kebudayaan hendaknya dipelajari dari segi pandangan dari dalam dan definisi prilaku manusia. Jadi, konseptualisasi satuan hendaknya ditemukan dengan menganalisis proses kognitif orang-orang yang diteliti, bukan dari segi entnosentrisme peneliti. Pendekatan ini menuntut adanya analisis kategori verbal yang digunakan oleh subjek untuk merinci kompleksitas kenyataan ke dalam bagian-bagian. Patton, menyatakn bahwa secara fundamental maksud penggunaan bahasa itu penting untuk memberikan ”nama” sehingga membedakan dengan yang lain dengan ”nama” yang lain pula. Setelah ”label” tersebut ditemukan dari apa yang dikatakan oleh subjek, tahap berikutnya ialah berusaha menemukan ciri atau karakteristik yang membedakan sesuatu dengan sesuatu yang lain.Untuk itu, tipelogi asli ini merupakan kunci bagi peneliti untuk memberikan nama sesuai dengan apa yang sedang dipikirkan, dirasakan, dan dihayati oleh para subjek dan dihendaki oleh latar peneliti.
1.      Penyusunan satuan
Lincoln dan Guba (1985: 345) mengatakan bahwa langka pertama dalam pemerosotan satuan ialah analisis hendaknya membaca dan mempelajari secara teliti seluruh jenis data yang sudah terkumpul. Setelah itu, usahakan agar satuan-satuan itu diidentifikasi. Peneliti memasukan ke dalam kartu indeks. Penyusunan satuan dan pemasukan ke dalam kartu indeks hendaknya dapat dipahami oleh orang lain. Pada tahap ini analisis hendaknya jangan dulu membuang satuan yang ada walaupun mungkin dianggap tidak relevan.

2.      Kategorisasi
Kategorisasi dalam uraian ini terdiri atas (1) funsi dan prinsip kategorisasi dan (2) langka-langkah kategorisasi yang diuraikan sebagai berikut.
1. Funsi dan prinsip kategorisasi
Kategorisasi berarti penyusunan kategori. Kategori tidak lain adalah salah satu tumpukan dari seperangkat tumpukan yang disusun atas dasar pikiran,intuisi, pendapat, atau kriteria tertentu.Selanjutnya Linclon dan Guba menguraikan kategorisasi adalah (1) mengelompokkan kartu-kartu yang telah dibuat kedalam bagian-bagian isi yang secara jelas berkaitan, (2) merumuskan aturan yang menguraikan kawasan kategori dan yang akhirnya dapat digunakan untuk menetapkan inklusi setiap kartu pada kategori dan juga sebagai dasar untuk pemeriksaan keabsahan data, dan (3) menjaga agar setiap kategori yang telah disusun satu dengan yang lain megikuti prinsip taat asas.
2. Langkah-langkah kategorisasi
Metode yang digunakan dalam kategorisasi didasarkan atas metode analisis komparatif yang langkah-langkahnya dijabarkan atas sepuluh langka, yang mana langkah yang terakhir adalah analisis harus menelah sekali lagi seluruh kategori agar jangan sampai ada yang terlupakan. Setelah selesai di analisis, sebelum menafsirkan penulis wajib mengadakan pemeriksaan terhadap keapsahan datanya, pemeriksaan itu dapat dilakukan dengan menggunakan teknik pemeriksaan keabsahan data.
E. Keabsahan data
Untuk menghindari kesalahan atau kekeliruan data yang telah terkumpul,perlu dilakukan pengecekan keabsahan data. Pengecekan keabsahan data didasarkan pada kriteria deraja kepercayaan (crebility) dengan teknik trianggulasi,ketekunan pengamatan, pengecekan teman sejawat (Moleong, 2004).
Triangulasi merupakan teknik pengecekan keabsahan data yang didasarkan pada sesuatu di luar data untuk keperluan mengecek atau sebagai pembanding terhadap data yang telah ada (Moleong,200). Trigulasi yang digunakan adalah trigulasi dengan sumber, yaitu membandingkan data hasil obserfasi, hasil pekerjaan siswa dan hasil wawancara terhadap subjek yang ditekankan pada penerapan metode bantuan alat pada efektif membaca .
Ketekunan pengamatan dilakukan dengan teknik melakukan pengamatan yang diteliti, rinci dan terus menerus selama proses pembelajaran berlangsung yang diikuti dengan kegiatan wawancara secara intensif terhadap subjek agar data yang dihasilkan terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Pengecekan teman sejawat/kolega dilakukan dalam bentuk diskusi mengenai proses dan hasil penelitian dengan harapan untuk memperoleh masukan baik dari segi metodelogi maupun pelaksanaan tindakan.

E.WAKTU DAN TAHAPAN PENELITIAN
1. WAKTU PENELITIAN
Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Waktu  : Rabu, 06 Mei 2015
Tempat : SD N 8 Pandegelang
Alamat : Kandupandak rt.09 rw.11. kecamatan pandegelang kabupaten pandegelang.
Kelas yang diobservasi : kelas 5
2.TAHAPAN PENELITIAN
            Pada bulan april tanggal 28 tahun 2015  mengunjungi sd 8 pandegelang untuk meminta izin melakukan observasi, selanjutnya setelah di beri izin oleh kepala sekolah tersebut, membuat surat keterangan observasi ke fakultas. Setelah surat selesai  membuat instrument wawancara dan mengumpulkan materi kurikulum. Pada hari rabu, 06 mei 2015 saya melakukan observasi ke sd negeri 8 pandegelang dan wawancara dengan salah satu guru kelas 5. Setelah wawancara selesai lalu saya meminta bukti berupa foto narasumber, hasil wawancara, RPP, LKS, dan silabus. Setelah itu saya menuliskan profil sekolah dan melihat suasana kelas 5 tersebut. Lalu saya memasuki kelas dan member sebuah game atau permainan yang sederhana yaitu permainan “kucing-kucingan” lalu saya melihat siswa-siswi yang sedang belajar di kelas hingga jam istirahat. Setelah melihat kelas saya pun bertemu kepala sekolah dan sharing tentang perkuliahan, pengalaman beliau mengajar, dan riwayat hidupnya. Setelah observasi selesai saya kembali ke kampus dan membuat surat keterangan sudah melakukan observasi. Minggu selanjutnya saya mengunjungi sekolah tersebut untuk meminta tanda tangan surat telah melakukan observasi.setelah itu saya membuat sistematika laporan penelitian.


DAFTAR PUSTAKA

Roni, Ahmad. Masalah Kurikulum dalam Pembelajaran.http://kurtek.epi.edu/kurpen/6-pembelajaran.html.diakses,10:11 WIB. /30/03/2012
Adiwikarta,S, 1994. Kurikulum yang Berorientasi pada Kekinian, Kurikulum untuk Abad 21, akarta : Grasindo.
http://akhmadsudrajat.wordpress.compengertian-kurikulum.09:13.WIB/30/03/2012
Dimyati dan Mudjiono. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta
Syaodih Sukmadinata, Nana. 2004. Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek. Bandung: PT Remaja Rosdakarya





DAFTAR LAMPIRAN

1.PROFIL SEKOLAH
Ø  Profil sekolah

Nama sekolah   : SD Negeri 8 pandegelang
Provinsi             : Banten
Otonomi daerah : Pandegelang
Kecamatan         : Pandegelang
Desa/kelurahan  : Pandegelang
Jalan dan nomer : Kandupandak rt.09 rw.11

Ø  Visi :
“ mendidik membimbing murid untuk mendapatkan pendidikan dasar yang berprestasi yang dapat melanjutkan ke SLTP sesuai dengan keinginan orangtua dan masyarakat.

Ø  Misi :
1.      Menghayati dan mengamalkan tujuan pendidikan nasional
2.      Memahami dan melaksanakan kurikulum
3.      Membuat program sekolah dan program pembelajaran
4.      Meningkatkan disiplin guru dan murid
5.      Meningkatkan mutu pendidikan
6.      Meningkatkan keimanan dan ketakwaan
7.      Kerjasama dengan orangtua murid dan masyarakat

Ø  Tujuan sekolah :
1.      Menciptakan siswa yang beriman dan bertakwa
2.      Membina manusia yang berakhlak mulia
3.      Menciptakan manusia yang jasmani dan rohani
4.      Memberikan bekal kemampuan pengetahuan dan keterampilan dasar untuk melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi
5.      Menciptakan manusia dengan kreatif, inovatif, dan kerja keras dalam mengembangkan diri secara terus menerus

Ø  Sarana dan prasarana :
1.      Ruang kelas
2.      Ruang guru
3.     Ruang kepala sekolah
2.Identitas narasumber

Nama                               : Wartana , S.pd                                  pak wartana.jpg
NIP                                  : 195805161978041001
Tempat tanggal lahir        : Bantul, 16-05-1958
Jabatan                                          : Guru kelas 5
Pangkat dan golongan      :Pembina 4B
Alamat                                         : kp. Kadukanda rt.02 rw.11 kelurahan pandegelang
Pendidikan                       : S1 STIE Banten raya




3.INSTRUMEN WAWANCARA
Instrument wawancara

1.     Metode apa yang sering digunakan dalam pembelajaran di kelas selama ini ?
2.     Bagaimana sikap siswa terhadap metode pembelajaran yang digunakan ?
3.     Media pembelajaran apa yang digunakan dalam proses pembelajaran ?
4.     Karakter apa yang ingin dimunculkan dalam pembelajaran ?
5.     Kurikulum apa yang digunakan di sekolah ini ?
6.     Mengapa menggunakan kurikulum tersebut ?
7.     Apa kelebihan dan kelemahan dari kurikulum tersebut ?
8.     Bagaimana cara untuk menilai skill pada siswa dengan latar belakang yang beragam ?
9.     Jika ada siswa yang belum bias mencapai KD yang telah dirumuskan, bagaimana tindak lanjutnya ?
10.                        Bagaimana mengaitkan antara SKKD dengan materi pembelajaran ?
11.                        SKKD apa yang sulit dicapai ?
12.                        Apa upaya yang dilakukan oleh guru apabila SKKD tidak dicapai siswa ?
13.                        Bagaimana merumuskan indicator yang sesuai dengan karakter yang berkaitkan dengan SKKD ?
14.                        Pembelajaran apa yang biasanya dapat menarik siswa dalam mengikuti KBM ?
15.                        Apa tindakan yang akan diambil, jika model/metode yang digunakan tidak menciptakan KBM yang kondusif ?
16.                        Bagaimana cara menyikapi siswa yang berbeda karakter dalam menilainya ?
17.                        Menurut bapak/ibu bagaimana karakter siswa di SD 8 pandeglang ini ?
18.                        Bagaimana dengan materi pembelajarannya, apakah bahan ajar yang diajarkan sesuai dengan kurikulum yang ditetapkan ?
19.                        Seperti apa bahan ajar yang bias digunakannya ?
20.                        Apakah dengan menggunakan bahan ajar yang telah dibuat/ dipilih dapat meningkatkan hasil belajar siswa ?
21.                        Sebelum mengajar disekolah apakah ibu/bapak membuat RPP ?
22.                        Menurut bapak/ibu apa manfaat RPP ?
23.                        Menurut bapak/ibu apa perbedaan silabus dan RPP ?
24.                        Apa yang ibu/bapak ketahui tentang kurikulum ?
25.                        Apakah setiap guru diwajibkan untuk membuat RPP ?
26.                        Apakah setiap guru memiliki silabus ?
27.                        Kesulitan apa saja yang sering dihadapi oleh setiap guru pada saat pelaksanaan pembelajaran di kelas ?
28.                        Bagaimana criteria siswa yang masuk ke sekolah ini ?
29.                        Apakah ada proses bimbingan di sekolah ini ?
30.                        Jenis bimbingan apa yang diberikan ?



4.HASIL WAWANCARA


Hasil wawancara

1.      Metode apa yang sering digunakan dalam pembelajaran dikelas selama ini ?
Ø  Menggunakan metode diskusi, Tanya jawab, eksperimen, ceramah.
2.      Bagaimana sikap siswa terhadap metode pembelajaran yang digunakan ?
Ø  Sikap siswa sesuai dengan metode tersebut.
3.      Media pembelajaran apa yang digunakan dalam proses pembelajaran ?
Ø  Dengan menggunakan media buku pelajaran, gambar, alat tulis.
4.      Karakter apa yang ingin dimunculkan dalam pembelajaran ?
Ø  Karakter kerja keras, tanggung jawab, disiplin.
5.      Kurikulum apa yang digunakan disekolah ini ?
Ø  Menggunakan kurikulum KTSP, pada semester sebelumnya sempat menggunakan kurikulum 2013 tetapi kurikulum itu sulit dicapai oleh guru maupun siswa.
6.      Mengapa menggunakan kurikulum tersebut ?
Ø  Karena sesuai dengan peraturan yang ada dan kurikulum KTSP tidak sesulit kurikulum 2013
7.      Apa kelebihan dan kekurangan kurikulum tersebut ?
Ø  Kelebihannya yaitu mudah dicapai oleh siswa maupun guru dan mudah digunakan sedangkan kekurangannya tidak sesuai dengan aturan pemerintah yang menganjurkam menggunakan K13.
8.      Bagaimana cara untuk menilai skill siswa dengan latar belakang yang berbeda ?
Ø  Pertama dengan memahami karakter siswa tersebut lalu pendekatan terhadap siswa.
9.      Jika ada siswa yang belum bisa mencapai KD yang telah dirumuskan, bagaimana tindak lanjutnya ?
Ø  Memberi pelajaran tambahan atau dengan LES tambahan.
10.  Bagaimana mengaitkan antara SKKD dengan materi pelajaran ?
Ø  Pastinya SKKD harus berkaitan dengan materi pelajaran, dengan cara menyamakan buku materi pelajaran dengan silabus yang ada.
11.  SKKD apa yang sulit dicapai oleh siswa ?
Ø  Kalau mata pelajaran yan g sulit dicapai oleh siswa biasanya matapelajaran matematika, sedangkan SKKD yang sulit digunakan atau dicapai seprti mengidentifikasi suatu masalah.
12.   Apa upaya yang dilakukan oleh guru apabila SKKD tidak dapat dicapai siswa ?
Ø  Dengan menerangkan kembali materi pelajarannya dan memberitahu caranya seperti apa .
13.  Bagaimana merumuskan indicator yang sesuai dengan karakter siswa yang berkaitan dengan SKKD ?
Ø  Dengan melihat taksonomi bloom dan melihat evalusai siswa.
14.  Strategi pembelajaran apa yang biasanya dapat menarik siswa dalam mengikuti KBM ?
Ø  Sebenarnya strategi dan metode hamper sama, biasanya strategi yang menarik dengan strategi diskusi kelompok.
15.  Apa tindakan yang akan diambil, jika model/metode yang digunakan tidak menciptakan KBM yang kondusif ?
Ø  Mengganti metode/ model pembelajarn yang digunakan, misalnya dari metode ceramah diganti dengan metode diskusi kelompok.
16.  Bagaimana cara menyikapi siswa yang berbeda karakter dalam menilainya ?
Ø  Dengan cara menasihatinya dan memberi penanganan khusus jika ada karakter siswa yang nakal.
17.  Menurut bapak/ibu bagaimana karakter siswa di SDN 8 pandegelang ini ?
Ø  Berbagai macam karakter siswa yang ada, dengan salah satu contoh karakter siswa yang menonjol di sekolah ini yaitu disiplin, tanggung jawab.
18.  Bagaimana dengan materi pembelajarannya, apakah bahan ajar yang diajarkan sesuai dengan kurikulum yang telah diterapkan ?
Ø  Ya pastinya sesuai dengan kurikulum materi pembelajarannya.
19.  Seperti apa bahan ajar yang biasa digunakan ?
Ø  Bahan ajar yang digunakan seperti buku pelajaran dan lain-lain.
20.  Apakah dengan menggunakan bahan ajar yang telah dibuat/dipilih dapat meningkatkan hasil belajar siswa ?
Ø  Ada juga siswa yang meningkat dan ada juga siswa yang butuh tambahan bahan ajarnya karena bahan ajar yang digunakan sangat terbatas.
21.  Sebelum mengajar disekolah apakah bapak/ibu membuat RPP ?
Ø  Iya membut, karena semua guru wajib membuat RPP sebelum mengajar.
22.  Menurut bapak/ibu apa manfaat RPP ?
Ø  Yang pasti lebih matang dan jelas dan lebih terinci langkah-langkah pembelajarannya.
23.  Menurut bapak/ibu apa perbedaan RPP dan silabus ?
Ø  Kalau silabus berupa garis besarnya sedangkan RPP sudah terperinci semuanya sampai langkah dan evaluasinya.
24.  Apa yang ibu/bapak ketahui tentang kurikulum ?
Ø  Kurikuluym itu suatu terbesar yang kita ajarkan sesuai dengan peraturan pemerintahan yang berlaku.
25.  Apakah setiap guru diwajibkan untuk membuat RPP ?
Ø  Iya sangat diwajibkan untuk membuat RPP
26.  Apakah setiap guru memiliki silabus ?
Ø  Tentu saja iya, setiap guru memiliki silabus.
27.  Kesulitan apa saja yang sering dihadapi oleh setiap guru pada saat pelaksanaan pembelajaran dikelas ?
Ø  Ada siswa yang nakal dan hiper aktif sehingga mengganggu teman yang lain yang sedang belajar.
28.  Bagaimana criteria siswa yang masuk kesekolah ini ?
Ø  Kriterianya yaitu usia 7 tahun, mempunyai akta kelahiran, kartu keluarga, KTP orangtua.
29.  Apakah ada proses bimbingan disekolah dasar ?
Ø  Ada bimbingan disekolah ini.
30.  Jenis bimbingan apa yang diberikan ?
Ø  Yaitu bimb ingan membentuk moral dan karakter yang baik.





5.LAMPIRAN FOTO

Foto bersama narasumber

observasi.jpg

Profil sekolah

profil sekolah.jpg





surat dinda.jpg


Image-02.jpg
Image-03.jpg


Image-06.jpg


Penutup

A.   Kesimpulan
            Secara umum kegiatan observasi di kelas merupakan suatu kegiatan yang sangat bermanfaat, karena kita bisa mempeoleh data informasi yang akurat secara langsung dalam mengamati mengenai perbedaan kurikulum yang digunakan. Di SD N 8 pandegelang menggunakan metode pembelajaran ceramah, Tanya jawab, diskusi, demostrasi, dan lain-lain. Karakter yang diinginkan oleh guru yaitu tanggung jawab, disipli, sopan dan santun.

B.     Saran
           Kegiatan observasi di kelas merupakan suatu kegiatan yang sangat bermanfaat, terutama bagi calon guru seperti kita agar dapat mengetahui bagaimana seorang guru mengajar suatu pembelajaran. Kemudian kkita sebagai seorang calon guru tentunya dapat memilih mana yang baik dan mana yang tidak baik untuk diajarkan kepada murid kita ketika sudah mengajar kelak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar