BAB
I
PENDAHULUAN
1.
LATAR
BELAKANG MASALAH
Pendidikan
merupakan sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan, khususnya untuk anak
yang sedang tumbuh dan berkembang. Sebuah pendidikan akan sangat mempengaruhi
pola pikir dan tingkah laku seorang anak. Pendidikan yang diterima oleh anak
adalah dari keluarga, masyarakat tempat ia tinggal dan sebuah lembaga
pendidikan yaitu sekolah. Disekolah anak mendapatkan berbagai macam
pembelajaran tentang berbagai ilmu, muali dari tentang bagaimana ia seharusnya
bersikap dalam kehidupan bermasyarakat (imu social), bagaimana ia seharusnya
bersikap sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang Maha Esa, dan berbagai ilmu
lainnya.
Pengalaman
adalah guru yang berharaga. Ilmu yang didapatkan dibangku pendidikan terkadang
ada yang tidak sesuai atau tidak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari
sehingga perlu adanya pengamatan langsung yang dilakukan. Observasi merupakan
suatu kegiatan yang sangat penting dalam mengetahui bagaimana cara yang baik.
Dalam hal ini saya selaku mahasiswa PGSD melakukan observasi di Sekolah Dasar
Negeri 8 Pandegelang, laporan observasi ini disusun guna memenuhi tugas mata
kuliah Telaah Kurikulum. Dengan adanya observasi ini diharapkan kita dapat
mengetahui bagaimana seorang guru men gajar suatu pembelajaran yang baik dan
benar, kemudian kita terapkan kerika mengajar nanti.
Sekolah
Dasar Negeri 8 merupakan Sekolah Dasar Negeri yang bertempat di kabupaten
pandegelang. Sd ini masih menggunakan kurikulum KTSP. Tujuan sekolah Dasar
Negeri 8 Pandeglang yaitu Menciptakan siswa yang beriman dan bertakwa, Membina
manusia yang berakhlak mulia, Menciptakan manusia yang jasmani dan rohani,
Memberikan bekal kemampuan pengetahuan dan keterampilan dasar untuk melanjutkan
pendidikan kejenjang yang lebih tinggi, Menciptakan manusia dengan kreatif,
inovatif, dan kerja keras dalam mengembangkan diri secara terus menerus.
Selanjutnya Visi Sekolah Dasar Negeri 8 Pandelang yaitu ”
mendidik
membimbing murid untuk mendapatkan pendidikan dasar yang berprestasi yang dapat
melanjutkan ke SLTP sesuai dengan keinginan orangtua dan masyarakat”. Dan Misi
Sd N 8 Pandegelang yaitu Menghayati dan mengamalkan tujuan pendidikan nasional,
Memahami dan melaksanakan kurikulum, Membuat program sekolah dan program
pembelajaran, Meningkatkan disiplin guru
dan murid, Meningkatkan mutu pendidikan, Meningkatkan keimanan dan ketakwaan,Kerjasama
dengan orangtua murid dan masyarakat.
Kurikulum adalah seperangkat
rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara
yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran unntuk
mencapai tujuan pendidikan tertentu. Kurikulum merupakan kumpulan mata-mata pelajaran
yang hrus disampaikan guru atau dipelajari oleh siswa.(Robert s.Zais,1976)
Kata kurikulum yang dikemukakan
oleh Zais dalam Dimyati dan Mudjiono (2002:264) berasal dari satu kata bahasa
Latin yang berarti “jalur pacu”, dan secara tradisional, kurikulum sekolah
disajikan seperti itu (ibarat jalan) bagi kebanyakan orang. Konsep kurikulum
berkembang sejalan dengan perkembangan teori dan praktik pendidikan yang juga
bervariasi sesuai dengan aliran atau teori pendidikan yang dianutnya. Menurut
pandangan lama, kurikulum merupakan kumpulan mata-mata pelajaran yang harus
disampaikan guru atau dipelajari oleh siswa.
Adapun definisi kurikulum versi Indonesia sebagai mana yang
tertuang dalam UUSPN No. 20 Tahun 2003 pada BAB I Pasal 1, pengertian kurikulum
adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan
pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan
pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan.
Hendyat Soetopo dan Soeamanto
(1986) membagi fungsi kurikulum menjadi 7 bagian yaitu:
·
Fungsi kurikulum dalam
rangka mencapai tujuan pendidikan. Maksudnya bahwa kurikulum merupakan suatu
alat atau usaha untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan yang diinginkan oleh
sekolah yang dianggap cukup tepat dan penting untuk dicapai.
·
Fungsi kurikulum bagi
anak. Maksudnya kurikulum sebagai organisasi belajar tersusun yang disiapkan
untuk siswa sebagai salah satu konsumsi bagi pendidikan mereka.
·
Fungsi kurikulum bagi
guru. Ada tiga macam, yaitu : a). Sebagai pedoman kerja dalam menyusun dan
mengorganisir pengalam belajar bagi anak didik. b). Sebagai pedoman untuk
mengadakan evaluasi terhadap perkembangan anak dalam rangka menyerap sejumlah
pengalaman yang diberikan. c). Sebagai pedoman dalam mengatur kegiatan
pendidikan dan pengajaran.
·
Fungsi kurikulum bagi
sekolah dan pembina sekolah. Dalam arti: a) sebagai pedoman dalam mengadakan
fungsu supervisi yaitu memperbaiki situasi belajar, b) sebagai pedoman dalam
melaksanakan fungsi supervisi dalam menciptakan situasi untuk menunjang situasi
belajar anak ke arah yang lebih baik, c) sebagai pedoman dalam melaksanakan
fungsi supervisi dalam memberikan bantuan kepada guru untuk memperbaiki situasi
mengajar, d) sebagai pedoman untuk mengembangkan kurikulum lebih lanjut, dan e)
sebagai pedoman untuk mengadakan evaluasi belajar mengajar.
·
Fungsi kurikulum bagi
orang tua murid. Maksudnya orang tua dapat turut serta membantu usaha sekolah
dalam memajukan putra-putrinya.
·
Fungsi kurikulum bagi
sekolah pada tingkatan di atasnya. Ada dua jenis berkaitan dengan fungsi ini
yaitu pemeliharaan keseimbangan proses pendidikan dan penyiapan tenaga guru.
·
Fungsi kurikulum bagi
masyarakat dan pemakai lulusan sekolah. Sekurang-kurangnya ada dua hal yang
bisa dilakukan dalam fungsi ini yaitu pemakai lulusan ikut memberikan bantuan
guna memperlancar pelaksanaan program pendidikan yang membutuhkan kerja sama
dengan pihak orang tua / masyarakat.
Kurikulum yang berlaku secara nasional untuk setiap program studi
merupakan rambu-rambu untuk menjamin mutu dan kemampuan (kompetensi) sesuai
dengan program studi yang ditempuh. Kurikulum bersifat khas untuk suatu program
studi, sebagaimana kekhasan tujuan pendidikan dan kompetensi lulusan suatu
program studi. Kurikulum tersebut mengandung empat elemen pokok, yaitu isi
(content), strategi pembelajaran (teaching-learning strategy), proses penilaian
(assessment processes), dan proses evaluasi (evaluation processes).
B.
RUANG LINGKUP DAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah
diatas, penyusun menuliskan ruang lingkup masalah sebagai berikut.
Kurikulum
adalah perangkat mata pelajaran dan program pendidikan yang diberikan oleh
suatu lembaga penyelenggara pendidikan
yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada peserta pelajaran
dalam satu periode jenjang pendidikan. Penyusunan perangkat mata pelajaran ini
disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan setiap jenjang pendidikan dalam
penyelenggaraan pendidikan tersebut serta kebutuhan lapangan kerja.
Lama waktu dalam satu kurikulum biasanya
disesuaikan dengan maksud dan tujuan dari sistem pendidikan yang dilaksanakan.
Kurikulum ini dimaksudkan untuk dapat mengarahkan pendidikan menuju arah dan
tujuan yang dimaksudkan dalam kegiatan pembelajaran secara menyeluruh.
Berkaitan dengan hal itu, penulis
berusaha menjelaskan tentang hal tersebut ke dalam bentuk karya tulis secara
sistematis. Ruang lingkup dalam penelitian ini mencakup:
- Peneliti hanya membahas tentang bahan kurikulum.
- Peneliti hanya mengkaji tentang landasan filosofis.
- Observasi untuk mengetahui kurikulum yang digunakan di SD N 8 Pandegelang.
- Observasi dilaksanakan di kabupaten pandegelang.
- Informasi yang didapat melalui wawancara bahwa SD N 8 Pandegelang masih menggunakan kurikulum KTSP.
- Peneliti hanya memberikan instrument wawancara kepada narasumber.
C.
TUJUAN PENELITIAN
Setiap kegiatan observasi yang dilakukan tentu
mempunyai tujuan yang ingin dicapai, demikian pula dengan observasi ini. Di
dalam observasi ini, penulis mempunyai beberapa tujuan, yaitu :
1. Untuk mendeskripsikan
kurikulum yang digunakan di SD N 8 Pandegelang
2. Untuk
mengetahui kurikulum yang digunakan di SD N 8 pandegelang
3. Untuk
memenuhi tugas matakuliah Telaah Kurikulum
D.
MANFAAT PENELITIAN
Segala sesuatu kegiatan yang
dilakukan tentu mempunyai manfaat yang dapat diambil. Demikian pula dengan
observasi ini. Observasi ini bermanfaat bagi mahasiswa dan guru. Setelah
melakukan observasi di Sekolah Dasar diharapkan kita dapat mengetahui dan
memahami bagaimana penerapan pembelajaran kurikulum KTSP yang baik dan benar
serta mengaplikasikannya ketika kita kita menjadi guru dimasa yang akan datang.
E.
SISTEMATIKA PENULISAN
Berikut ini adalah
pemaparannya.
1. Pembuka Laporan Penelitian
Pada bagian pembuka ini, sebuah laporan penelitian sekurang-kurangnya harus memuat, yaitu:
Halaman judul, halaman ini mencantumkan judul atau nama kegiatan penelitian yang sedang Anda kerjakan, logo atau simbol seperlunya apabila Anda rasa perlu dan biasanya, tanggal penulisan laporan penelitian.
Lembar pengesahan, pada lembar ini dicantumkan pengesahan-pengesahan oleh beberapa orang atau institusi yang dianggap penting dan perlu untuk dimasukkan.
Kata pengantar, pada laman ini Anda dapat menuliskan kata pengantar Anda selaku penulis dari laporan penelitian. Kata pengantar dapat berupa ucapan-ucapan terima kasih kepada semua orang atau pihak yang telah membantu terselesaikan laporan penelitian Anda tersebut. Dan dapat juga ucapan maaf apabila terdapat kesalahan di dalamnya.
Daftar isi, daftar ini memuat segala konten yang terdapat dalam laporan penelitian Anda, yang memudahkan pembaca Anda untuk memahami isi dari laporan Anda nantinya.
Dafar lampiran, berisi daftar-daftar lampiran yang dirasa perlu untuk menunjang kesahihan laporan penelitian Anda.
2. Bagian Isi Laporan Penelitian
Latar belakang masalah, pada bagian tuliskan latar belakang Anda sehingga mencoba untuk melakukan penelitian tersebut. Gunakan kalimat seefisien dan sejelas mungkin agar pembaca mengerti.
Rumusan masalah, merupakan perumusan atas permasalahan yang tengah Anda tawarkan sebagai dasar dari penelitian.
Tujuan penelitian, merupakan tujuan yang diharapkan dari penelitian tersebut. Jabarkan seluruh tujuan yang memang telah Anda harapkan akan terwujud dengan adanya penelitian tersebut.
Manfaat penelitian, merupakan manfaat-manfaat apa saja yang mungkin dihasilkan dengan adanya penelitian ini.
3. Kajian Teori atau Tinjauan Kepustakaan Laporan Penelitian
Bagian kajian teori atau kepustakaan ini berisi setidaknya beberapa hal berikut, yakni:
Pembahasan teori, merupakan pembahasan teori yang dipergunakan selama melakukan penelitian. Gunakan pembahasan menarik dan efektif agar pembaca tertarik untuk terus melanjutkan membaca laporan penelitian tersebut.
Kerangka pemikiran dan argumentasi keilmuan, merupakan kerangka-kerangkan pemikiran yang dipergunakan dalam penelitian secara runtut dan jelas.
Pengajuan hipotesis, merupakan pengajuan hipotesis perihal permasalahan yang telah ditentukan. Pergunakan sumber-sumber sevalid mungkin supaya hipotesis dapat dipertanggungjawabkan apabila ada pertanyaan dari pembaca laporan penelitian Anda nantinya
4. Metodologi Penelitian
Metodologi penelitan memuat banyak hal penting yang dipergunakan dalam penelitian baik berupa waktu dan tempat penelitian, metode dan rancangan penelitian, populasi dan sampel yang dipergunakan dalam pencarian data penelitian, instrumen penelitian serta pengumpulan data dan analisis data.
5. Hasil Penelitian
Pada bagian hasil penelitian, dapat memuat beberapa konten berikut yang pada umumnya terdapat pada laporan hasil penelitian, yakni jabaran hasil penelitian, pengajuan hipotesis yang telah dijabarkan pada bagian sebelumnya, serta diskusi penelitian (yang nantinya akan berupa pengungkapan pandangan teoritis tentang hasil-hasil yang didapat).
6. Kesimpulan dan Saran
Pada bagian kesimpulan dan saran memuat kesimpulan yang didapatkan dari penelitian tersebut. Paparkan hasil penelitian selugas mungkin dan pastikan segala sesuatunya telah dijabarkan. Bagian ini juga memuat saran-saran dari pembaca apabila mendapati beberapa bagian yang masih kurang tepat untuk kesempurnaan laporan penelitian Anda.
7. Bagian Penunjang Penelitian
Pada bagian terakhir ini dicantumkan daftar pustaka berupa sumber-sumber yang digunakan sepanjang penelitian berlangsung, baik dari buku bacaan maupun dari sumber digital.
Pada bagian pembuka ini, sebuah laporan penelitian sekurang-kurangnya harus memuat, yaitu:
Halaman judul, halaman ini mencantumkan judul atau nama kegiatan penelitian yang sedang Anda kerjakan, logo atau simbol seperlunya apabila Anda rasa perlu dan biasanya, tanggal penulisan laporan penelitian.
Lembar pengesahan, pada lembar ini dicantumkan pengesahan-pengesahan oleh beberapa orang atau institusi yang dianggap penting dan perlu untuk dimasukkan.
Kata pengantar, pada laman ini Anda dapat menuliskan kata pengantar Anda selaku penulis dari laporan penelitian. Kata pengantar dapat berupa ucapan-ucapan terima kasih kepada semua orang atau pihak yang telah membantu terselesaikan laporan penelitian Anda tersebut. Dan dapat juga ucapan maaf apabila terdapat kesalahan di dalamnya.
Daftar isi, daftar ini memuat segala konten yang terdapat dalam laporan penelitian Anda, yang memudahkan pembaca Anda untuk memahami isi dari laporan Anda nantinya.
Dafar lampiran, berisi daftar-daftar lampiran yang dirasa perlu untuk menunjang kesahihan laporan penelitian Anda.
2. Bagian Isi Laporan Penelitian
Latar belakang masalah, pada bagian tuliskan latar belakang Anda sehingga mencoba untuk melakukan penelitian tersebut. Gunakan kalimat seefisien dan sejelas mungkin agar pembaca mengerti.
Rumusan masalah, merupakan perumusan atas permasalahan yang tengah Anda tawarkan sebagai dasar dari penelitian.
Tujuan penelitian, merupakan tujuan yang diharapkan dari penelitian tersebut. Jabarkan seluruh tujuan yang memang telah Anda harapkan akan terwujud dengan adanya penelitian tersebut.
Manfaat penelitian, merupakan manfaat-manfaat apa saja yang mungkin dihasilkan dengan adanya penelitian ini.
3. Kajian Teori atau Tinjauan Kepustakaan Laporan Penelitian
Bagian kajian teori atau kepustakaan ini berisi setidaknya beberapa hal berikut, yakni:
Pembahasan teori, merupakan pembahasan teori yang dipergunakan selama melakukan penelitian. Gunakan pembahasan menarik dan efektif agar pembaca tertarik untuk terus melanjutkan membaca laporan penelitian tersebut.
Kerangka pemikiran dan argumentasi keilmuan, merupakan kerangka-kerangkan pemikiran yang dipergunakan dalam penelitian secara runtut dan jelas.
Pengajuan hipotesis, merupakan pengajuan hipotesis perihal permasalahan yang telah ditentukan. Pergunakan sumber-sumber sevalid mungkin supaya hipotesis dapat dipertanggungjawabkan apabila ada pertanyaan dari pembaca laporan penelitian Anda nantinya
4. Metodologi Penelitian
Metodologi penelitan memuat banyak hal penting yang dipergunakan dalam penelitian baik berupa waktu dan tempat penelitian, metode dan rancangan penelitian, populasi dan sampel yang dipergunakan dalam pencarian data penelitian, instrumen penelitian serta pengumpulan data dan analisis data.
5. Hasil Penelitian
Pada bagian hasil penelitian, dapat memuat beberapa konten berikut yang pada umumnya terdapat pada laporan hasil penelitian, yakni jabaran hasil penelitian, pengajuan hipotesis yang telah dijabarkan pada bagian sebelumnya, serta diskusi penelitian (yang nantinya akan berupa pengungkapan pandangan teoritis tentang hasil-hasil yang didapat).
6. Kesimpulan dan Saran
Pada bagian kesimpulan dan saran memuat kesimpulan yang didapatkan dari penelitian tersebut. Paparkan hasil penelitian selugas mungkin dan pastikan segala sesuatunya telah dijabarkan. Bagian ini juga memuat saran-saran dari pembaca apabila mendapati beberapa bagian yang masih kurang tepat untuk kesempurnaan laporan penelitian Anda.
7. Bagian Penunjang Penelitian
Pada bagian terakhir ini dicantumkan daftar pustaka berupa sumber-sumber yang digunakan sepanjang penelitian berlangsung, baik dari buku bacaan maupun dari sumber digital.
BAB
II
LANDASAN
PENELITIAN
A.
LANDASAN
TEOLOGIS
Hadis Nabi SAW merupakan sumber
kedua ajaran Islam sesudah kitab suci al-Qur’an. Semua ayat al-Qur’an diterima
oleh para sahabat dari Rasulullah SAW secara mutawatir, ditulis dan dikumpulkan
sejak zaman Nabi SAW masih hidup baik fi as-suthur (dalam tulisan) maupun fi
ash-shudur (melalui hafalan), serta dibukukan secara resmi sejak zaman Abu
Bakar Ash-Shiddiq RA (W. 13 H), karena itu al-Qur’an bersifat Qath’i al-subut.
Sedangkan Hadis Nabi SAW sebagian besarnya tidak diriwayatkan secara mutawatir. Pembukuannya secara resmi baru dilakukan pada zaman Khalifah ‘Umar bin ‘Abdul Aziz al-Umawiy (99/717-101/720), oleh karena itu Hadis bersifat dhann al-wurud. Tentunya untuk mengetahui orisinalitas dan kualitas sebuah Hadis, membutuhkan ilmu Hadis, baik ilmu Hadis Riwayah maupun Ilmu Hadis Dirayah.
Sedangkan Hadis Nabi SAW sebagian besarnya tidak diriwayatkan secara mutawatir. Pembukuannya secara resmi baru dilakukan pada zaman Khalifah ‘Umar bin ‘Abdul Aziz al-Umawiy (99/717-101/720), oleh karena itu Hadis bersifat dhann al-wurud. Tentunya untuk mengetahui orisinalitas dan kualitas sebuah Hadis, membutuhkan ilmu Hadis, baik ilmu Hadis Riwayah maupun Ilmu Hadis Dirayah.
Hadis sebagai sumber ajaran Islam
yang kedua setelah al-Qur’an, merupakan sarana fungsionalis untuk menggali konsep
kurikulum pendidikan Islam. Kurikulum merupakan salah satu komponen yang sangat
menentukan dalam sistem pendidikan, karena kurikulum merupakan alat untuk
mencapai tujuan sekaligus sebagai pedoman dalam pelaksanaan pendidikan pada
semua jenjang tingkat pendidikan. Kurikulum yang baik dan relevan dalam rangka
mencapai tujuan pendidikan Islam adalah yang bersifat integral dan komprehensif
serta menjadikan al-Qur’an dan Hadis sebagai sumber utama dalam penyusunannya.
Untuk mencoba memahami konsep kurikulum pendidikan Islam dalam Hadis, pembahasan makalah ini dipusatkan pada makna-makna Hadis yang mengandung konsep kurikulum pendidikan baik secara mantuq maupun mafhum. Hal ini dilakukan, sehubungan tidak adanya kata kunci yang bermakna kurikulum (manhaj al-dirasah) atau sejenisnya yang ditemukan di dalam Hadis.
Untuk mencoba memahami konsep kurikulum pendidikan Islam dalam Hadis, pembahasan makalah ini dipusatkan pada makna-makna Hadis yang mengandung konsep kurikulum pendidikan baik secara mantuq maupun mafhum. Hal ini dilakukan, sehubungan tidak adanya kata kunci yang bermakna kurikulum (manhaj al-dirasah) atau sejenisnya yang ditemukan di dalam Hadis.
1.
Pengertian Kurikulum
Secara
etimologis, kurikulum berasal dari bahasa Yunani, yaitu curir yang artinya
pelari dan curere yang berarti tempat berpacu. Jadi istilah kurikulum berasal
dari dunia olah raga pada zaman Romawi Kuno di Yunani, yang mengandung
pengertian suatu jarak yang harus ditempuh oleh pelari dari garis start sampai
garis finish.(Hasan Langgulung, 1986:176).
Dalam bahasa Arab, kata kurikulum biasa diungkapkan dengan manhaj al-dirasah, yang berarti jalan yang terang yang dilalui manusia pada berbagai bidang kehidupan. Sedangkan kurikulum pendidikan (manhaj al-dirasah) dalam kamus tarbiyah adalah seperangkat perencanaan dan media yang dijadikan oleh lembaga pendidikan dalam mewujudkan tujuan-tujuan pendidikan Secara terminologis, para ahli telah banyak mendefenisikan kurikulum di antaranya.
Dalam bahasa Arab, kata kurikulum biasa diungkapkan dengan manhaj al-dirasah, yang berarti jalan yang terang yang dilalui manusia pada berbagai bidang kehidupan. Sedangkan kurikulum pendidikan (manhaj al-dirasah) dalam kamus tarbiyah adalah seperangkat perencanaan dan media yang dijadikan oleh lembaga pendidikan dalam mewujudkan tujuan-tujuan pendidikan Secara terminologis, para ahli telah banyak mendefenisikan kurikulum di antaranya.
1.
Zakiah Daradjat berpendapat bahwa
kurikulum sebagai suatu program yang direncanakan dalam bidang pendidikan dan
dilaksanakan untuk mencapai sejumlah tujuan pendidikan tertentu. (Zakiah
Daradjat, 1992:121)
2.
Addamardasyi Sarhan dan Munir Kamil,
sebagaimana dikutip al-Syaibani mengatakan bahwa kurikulum adalah sejumlah
pengalaman pendidikan, kebudayaan, sosial, olah raga dan kesenian yang
disediakan oleh sekolah bagi murid-muridnya di dalam dan di luar sekolah dengan
maksud menolong untuk berkembang menyeluruh dalam segala segi dan merubah
tingkah laku mereka sesuai dengan tujuan pendidikan. (Omar Muhammad al-Toumy
al-Syaibani, 1979: 485)
3.
S. Nasution menyatakan ada beberapa
penafsiran lain tentang kurikulum. Diantaranya; pertama, kurikulum sebagai
produk (sebagai hasil pengembangan kurikulum), kedua, kurikulum sebagai program
(alat yang dilakukan sekolah untuk mencapai tujuan), ketiga,kurikulum sebagai
hal-hal yang diharapkan akan dipelajari oleh siswa (sikap, keterampilan
tertentu), dan keempat, kurikulum dipandang sebagai pengalaman siswa. (S.
Nasution, 1994: 5-9)
Dari
beberapa definisi di atas dapat kita pahami, ada pandangan yang menyatakan
bahwa kurikulum hanya berisi rencana pelajaran di sekolah, ini karena mereka
membedakan antara kegiatan kurikuler, kokurikuler dan ekstrakurikuler. Ada juga
yang berpandangan bahwa kurikulum lebih dari sekedar rencana pelajaran tapi
semua yang secara nyata terjadi dalam proses pendidikan di sekolah atau semua
pengalaman belajar itulah kurikulum.
Menurut Mahmud Junus, berdasarkan Qur’an dan Hadis dapat diambil pengertian bahwa ada 3 (tiga) aspek kepribadian manusia yang harus dididik, yaitu: 1. Aspek jasmani, 2. Aspek akal, 3. Aspek rohani. )Ahmad Tafsir, 2007: 56 (Al-Syaibani dalam bukunya Filsafat Pendidikan Islam menetapkan bahwasanya ada 4 (empat) dasar pokok dalam kurikulum pendidikan Islam, yaitu dasar religi, dasar falsafah, dasar psikologis, dan dasar sosiologis, serta Abdul Mujib dalam bukunya Ilmu Pendidikan Islam menambahkan dengan dasar organisatoris. (Abdul Mujib, 2006:124)
Menurut Mahmud Junus, berdasarkan Qur’an dan Hadis dapat diambil pengertian bahwa ada 3 (tiga) aspek kepribadian manusia yang harus dididik, yaitu: 1. Aspek jasmani, 2. Aspek akal, 3. Aspek rohani. )Ahmad Tafsir, 2007: 56 (Al-Syaibani dalam bukunya Filsafat Pendidikan Islam menetapkan bahwasanya ada 4 (empat) dasar pokok dalam kurikulum pendidikan Islam, yaitu dasar religi, dasar falsafah, dasar psikologis, dan dasar sosiologis, serta Abdul Mujib dalam bukunya Ilmu Pendidikan Islam menambahkan dengan dasar organisatoris. (Abdul Mujib, 2006:124)
- Hadis- Hadis Tentang Kurikulum Pendidikan
Hasil
penelusuran penulis dalam kitab hadis, tidak ada ditemukan kata khusus seperti
manhaj al-dirasah sebagai kata yang menunjukkan kurikulum, karenanya penulis
mencoba memahami kurikulum berdasarkan matan Hadis yang bermuatan konsep
kurikulum baik secara mantuq maupun mafhum.
1. Ilmu agama dan Al-Qur’an
حَدَّثَنَا
حَسَنُ بْنُ مُوسَى حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ أَبُو خَيْثَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ
بْنِ عُثْمَانَ بْنِ خُثَيْمٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَضَعَ يَدَهُ عَلَى
كَتِفِي أَوْ عَلَى مَنْكِبِي شَكَّ سَعِيدٌ ثُمَّ قَالَ اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي
الدِّينِ وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيلَ
تعليق شعيب الأرنؤوط : إسناده قوي على شرط مسلم
تعليق شعيب الأرنؤوط : إسناده قوي على شرط مسلم
Artinya:Dari
Ibnu ‘Abbas bahwasanya Rasulullah SAW meletakkan tanggannya pada punggung Ibnu
‘Abbas atau pundaknya, – perawi Hadis ini, Said ragu- kemudian Rasulullah SAW
berdo’a: Ya Allah berikanlah kepadanya pemahaman yang mendalam tentang agama
dan ajarilah dia takwil (al-Qur’an). (Ahmad ibn Hanbal Abu Abdullah
al-Syiyabaani, tt: 266).
Ibnu
‘Abbas mengatakan bahwa Rasulullah SAW wafat, sedang usia Ibnu ‘Abbas memasuki
10 (sepuluh) tahun dan dia telah mempelajari ayat-ayat muhkam. Ibnu ‘Abbas
telah mengatakan pula kepada Sa’id bin Jubair (muridnya): “aku telah menghimpun
semua ayat-ayat muhkam pada masa Rasulullah SAW. Said bertanya kepadanya:
“Apakah ayat-ayat muhkam itu? Ibnu ‘Abbas menjawab: “Surat-surat yang mufashal
(yang pendek-pendek).
Ibnu Katsir ra telah mengatakan bahwa dengan interpretasi apapun makna hadis ini menunjukkan kebolehan mengajari anak-anak untuk membaca al-Qur’an meskipun dalam usia dini, bahkan adakalanya disunnahkan atau diwajibkan. (Jamaal ‘Abdur Rahman, 2005:392)
Ibnu Katsir ra telah mengatakan bahwa dengan interpretasi apapun makna hadis ini menunjukkan kebolehan mengajari anak-anak untuk membaca al-Qur’an meskipun dalam usia dini, bahkan adakalanya disunnahkan atau diwajibkan. (Jamaal ‘Abdur Rahman, 2005:392)
Selain
itu al-Qur’an sendiri merupakan materi pertama yang harus diajarkan kepada
siswa. Rasulullah SAW telah bersabda:
حَدَّثَنَا
حَجَّاجُ بْنُ مِنْهَالٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ أَخْبَرَنِي عَلْقَمَةُ بْنُ
مَرْثَدٍ سَمِعْتُ سَعْدَ بْنَ عُبَيْدَةَ عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ
السُّلَمِيِّ عَنْ عُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ
وَعَلَّمَهُ قَالَ وَأَقْرَأَ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ فِي إِمْرَةِ عُثْمَانَ
حَتَّى كَانَ الْحَجَّاجُ قَالَ وَذَاكَ الَّذِي أَقْعَدَنِي مَقْعَدِي هَذَا
Artinya:Telah
menceritakan kepada kami hujjaj ibn Minhaal telah menceritakan syu’bah ia
berkata ‘Alqamah ibn mursyid telah mengkhabarkan kepadaku saya mendengar Said
ibn ‘Ubaidah dari ayah Abdurrahman al-silmy dari ‘Usman ra Nabi SAW telah
bersabda: “Yang paling baik di antara kamu adalah orang yang mempelajari
Al-Quran dan mengajarkannya. (Muhammad bin Ismail Abu Abdillah
al-Bukhari,1987:1919)
Asas-asas pendidikan
Islam
1. asas agama
seluruh
sistem yanga da di dalam masyarakat Islam, termasuk sistem pendidikannya harus
meletakkan dasar filsafah, tujuan, dan kurikulumnya pada ajaran islam yang
meliputi aqidah, ibadah, muamalat, dan hubungan-hubungan yang berlaku didalam
masyarakat.
2. Asas Falsafah
Dasar
ini memeberikan arah dan kompas tujuan pendidikan Islam, dengan dasar
filosofis.
3. Asas Psikologis
Asas
ini membei arti bahwa kurikulum pendidikan Islam hendaknya disusun dengan
mempertimbangkan tahapan-tahapan pertumbuhan dan perkembangan yang dilalui anak
didik.
4. Asas Sosial
Pembentukkan kurikulum pendidikan
Islam harus mengacu kearah realisasi individu dalam masyarakat.
karakteristik Kurikulum Pendidikan Islam
Secara
umum karakteristik kurikulum pendidikan Islam adalah pencerminan Islami yang
dihasilkan dari pemikiran kefilsafatan dalam seluruh aktivitas dan kegiatan
kependidikan dalam prakteknya. Konsep inilah yang membedakan kurikulum
pendidikan Islam dengan kurikulum pendidikan pada umumnya.
1. Mementingkan tujuan agama
dan akhlak dalam berbagai hal seperti tujuan dan kandungan,kaedah,alat dan
tekniknya.
2. Memperluas perhatian dan
kandungan hingga mencakup perhatian, pengembangan serta bimbingan terhadap segala
aspek pribadi pelajar dan segi intelektual, psikologi, sosial, dan spiritual.
3. Adanya keseimbangan antara
kandungan kurikulum dan pengalaman serta kegiatan pengajaran.
4. menekankan konsep menyeluruh dan
keseimbangan pada kandungan yang tidak hanya terbatas pada ilmu teorotis.
5. Ketertarikan anatara kurikulum
pendidikan Islam dengan minat , kemampuan , keperluan, dan perbedaan individual
antar siswa.
وَلَقَدْ ءَاتَيْنَا لُقْمَانَ
الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ
وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ (12) وَإِذْ قَالَ
لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَابُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ
الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ (13) وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ
حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ
لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ (14) وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلى أَنْ
تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي
الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ
مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (15) يَابُنَيَّ
إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ
فِي السَّمَوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ
خَبِيرٌ (16) يَابُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ
الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
(17) وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ
اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ (18) وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ
وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِير (19)
Artinya :
12. Dan sesungguhnya telah Kami
berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. Dan
barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk
dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah
Maha Kaya lagi Maha Terpuji".
13. Dan (ingatlah) ketika Luqman
berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai
anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah)
adalah benar-benar kezaliman yang besar".
14. Dan Kami perintahkan kepada
manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah
mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam
dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya
kepada-Kulah kembalimu.
15. Dan jika keduanya memaksamu
untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang
itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia
dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya
kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
16. (Luqman berkata): "Hai
anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada
dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan
mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha
Mengetahui.
17. Hai anakku, dirikanlah shalat
dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari
perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu.
Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).
18. Dan janganlah kamu memalingkan
mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi
dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi
membanggakan diri.
19. Dan sederhanalah kamu dalam
berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara
keledai.
Tafsir :
12. ayat ini menguraikan tentang
salah seorang bernama Luqman yang dianugerahi oleh Allah swt hikmah. Hikmah
menurut ulama "Mengetahui yang paling utama dari segala sesuatu, baik
pengetahuan, maupun perbuatan. Ia adalah ilmu amaliah dan amal ilmiah. Ia
adalah ilmu yang disukung oleh amal, dan amal yang tepat dan didukung
ilmu".
13. Dilukiskan pengalaman hikmah itu
oleh Luqman, serta pelestariannya kepada anaknya. Ini pun mencerminkan
kesyukuran beliau atas anugerah itu. Luqman memulai nasihatnya dengan
menekankan perlunya menghindari syirik/mempersekutukan Allah. Larangan ini
sekaligus mengandung pengajaran tentang wujud keesaan Tuhaan. Bahwa redaksi
pesannya berbentuk larangan, jangan mempersekutukan Allah untuk menekankan
perlunya meninggalkan sesuatu yang buruk sebelum melaksanakan yang baik
14 Menurut Al-Biqa'I, ayat 14
bagaikan menyatakan: Luqman menyatakan hal itu kepada anaknya sebagai nasihat
kepadanya, padahal kami telah mewasiatkan anaknya dengan wasiat itu seperti apa
yang dinasihatkannya menyangkut kami. Di ayat 14 tidak menyebutkan jasa bapak,
tetapi lebih menekankan jasa ibu karena ibu berpotensi tidak dihiraukan oleh
anak karena kelemahannya.
15. ayat ini menjelaskan tentang
pengecualian menaati perintah kedua orang tua, kewajiban menghormati dan
menjalin hubungan baik dengan ibu bapak. ayat ini mengandung pesan yang
pertama, bahwa mempergauli dengan baik itu hanya dalam urusan keduniaan, bukan
keagamaan. Yang kedua, bertujuan meringankan beban tugas itu, karena ia hanya
untuk sementara yakni selama hidup di dunia yyang hari-harinya terbatas,
sehingga tidak mengapalah memikul beban kebaktian kepada-Nya. dan yang ketiga,
bertujuan menghadapkan kata dunia dengan hari kembali kepada Allah yang
dinyatakan diatas dengan kalimat hanya kepadaku kembali kamu.
16. Ayat ini menguraikan tentang
kedalaman ilmu Allah, yang diisyaratkan pula oleh penutup ayat lalu dengan
pernyatan-Nya. dalam konteks ayat ini, agaknya perintah perbuatan baik, apalagi
kepada kedua orang tua yang berbeda agama, merupakan salah satu bentuk dari luthf(lembut,kecil,halus)
Allah. Karena betapapun perbedaan atau perselisihan anatara anak dan ibu bapak,
pasti hubungan darah yang terjalin antara mereka tetap berbekas dihati
masing-masing.
17. berkaitan dengan amal-amal
shaleh yang puncaknya adalah sholat, serta amal-amal kebajikannya yang
tercermin dalam amr ma'ruf dan nahi munkar, juga nasihat berupa perisai yang
membentengi seseorang dari kegagalan yaitu sabar dan tabah Kata 'azm dari segi
bahasa berarti keteguhan hati dan tekad untuk melakukan sesuatu.
18 dan 19 nasihat luqman kali ini
berkaitan dengan akhlak dan sopan satun berinteraksi dengan sesama manusia.
Materi pelajaran aqidah, beliau selingi dengan materi pelajaran akhlak , bukan
saja agar peserta didik tidak jenuh dengan satu materi, tetapi juga
mengisyaratkan bahwa ajaran akidah dan akhlaq merupakan satu kesatuan yang
tidak dapat dipisahkan.
Demikian Luqman al-hakim mengakhiri
nasihat yang mencukup pokok-pokok tuntutan agama. Disana ada akidah,syariat,dan
akhlak tiga unsur ajaran al-qur'an.
B.LANDASAN TEOLOGIS
Landasan
Filosofis, yaitu asumsi asumsi tentang hakikat realitas, hakikat
manusia, hakikat pengetahuan, dan hakikat nilai yang menjadi titik tolak dalam
mengembangkan kurikulum. Asumsi-asumsi filosofis tersebut berimplikasi pada rumusan
tujuan pendidikan, pengembangan isi atau materi pendidikan, penentuan strategi,
serta pada peranan peserta didik dan peranan pendidikan
Landasan filosofis dalam pengembangan
kurikulum ialah pentingnya rumusan yang didapatkan dari hasil berpikir secara
mendalam, analisis, logis, sistematis dalam merencanakan, melaksanakan, membina
dan mengembangkan kurikulum baik dalam bentuk kurikulum sebagai rencana
(tertulis), terlebih kurikulum dalam bentuk pelaksanaan di sekolah.
Filsafat
memegang peranan penting dalam pengembangan kuikulum. Sama halnya seperti dalam
Filsafat Pendidikan, kita dikenalkan pada berbagai aliran filsafat, seperti:
perenialisme, essensialisme, eksistesialisme, progresivisme, dan
rekonstruktivisme. Dalam pengembangan kurikulum pun senantiasa berpijak pada
aliran–aliran filsafat tertentu, sehingga akan mewarnai terhadap konsep dan
implementasi kurikulum yang dikembangkan. Dengan merujuk kepada pemikiran Ella
Yulaelawati, di bawah ini diuraikan tentang isi dari-dari masing-masing aliran filsafat,
kaitannya dengan pengembangan kurikulum.
Filsafat
membahas segala permasalahan yang dihadapi oleh manusia termasuk
masalah-masalah pendidikan yang disebut filsafat pendidikan. Walaupun dilihat
sepintas, filsafat pendidikan hanya merupakan aplikasi dari pemikiran-pemikiran
filosofis untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan, tetapi antara keduanya
yaitu antara filsafat dan filsafat pendidikan terdapat hubungan yang sangat
erat.
Masing-masing
aliran filsafat pasti memiliki kelemahan dan keunggulan tersendiri. Oleh karena
itu, dalam praktek pengembangan kurikulum, penerapan aliran filsafat cenderung
dilakukan secara eklektif untuk lebih mengkompromikan dan mengakomodasikan
berbagai kepentingan yang terkait dengan pendidikan. Meskipun demikian saat ini,
pada beberapa negara dan khususnya di Indonesia, tampaknya mulai terjadi
pergeseran landasan dalam pengembangan kurikulum, yaitu dengan lebih
menitikberatkan pada filsafat rekonstruktivisme.
PENDIDIKAN MENURUT ALIRAN REALISME
Definisi
Realisme
atau tidak langsung
Realisme adalah suatu bentuk yang dapat merepresentasikan kenyataan. Realisme
terpusat pada pertanyaan tentang representasi, yaitu tentang bagaimana dunia
dikonstruksi dan disajikan secara sosial kepada dan oleh diri kita. Inti
realisme dapat dipahami sebagai kajian tentang budaya sebagai praktik-praktik
pemaknaan dari representasi. Hal ini berarti bahwa kita harus mempelajari
asal-usul tekstual dari makna. Hal ini juga menuntut kita untuk meneliti
cara-cara tentang bagaimana makna diproduksi dalam beragam konteks.
Dalam
pemikiran filsafat, realisme berpandangan bahwa kenyataan tidaklah terbatas
pada pengalaman inderawi ataupun gagasan yang tebangun dari dalam. Dengan
demikian realisme dapat dikatakan sebagai bentuk penolakan terhadap gagasan ekstrim
idealisme dan empirisme. Dalam membangun ilmu pengetahuan, realisme memberikan
teori dengan metode induksi empiris. Gagasan utama dari realisme dalam konteks
pemerolehan pengetahuan adalah bahwa pengetahuan didapatkan dari dual hal,
yaitu observasi dan pengembangan pemikiran baru dari observasi yang dilakukan.
Dalam konteks ini, ilmuwan dapat saja menganalisa kategori fenomena-fenomena
yang secara teoritis eksis walaupun tidak dapat diobservasi secara langsung.
Tradisi
realisme mengakui bahwa entitas yang bersifat abstrak dapat menjadi nyata
(realitas) dengan bantuan symbol-simbol linguistik dan kesadaran manusia.
Gagasan ini sejajar dengan filsafat modern dari pendekatan pengetahuan versi
Kantianism fenonomologi sampai pendekatan struktural (Ibid, 2002). Mediasi
bahasa dan kesadaran manusia yang bersifat nyata inilah yang menjadi ide dasar
‘Emile Durkheim’ dalam pengembangan ilmu pengetahuan sosial. Dalam area
linguistik atau ilmu bahasa, de Saussure adalah salah satu tokoh yang
terpengaruh mengadopsi pendekatan empirisme Durkheim. Bagi de Saussure, obyek
penelitian bahasa yang diteliti diistilahkan sebagai ‘la langue’ yaitu
simbol-simbol linguistic yang dapat diobservasi (Francis & Dinnen, 1996)
Ide-ide
kaum realis seperti ini sangatlah kontributif pada abad 19 dalam menjembatani
antara ilmu alam dan humaniora, terutama dalam konteks perdebatan antara
klaim-klaim kebenaran dan metodologi yang disebut sebagai ‘methodenstreit’
(Calhoun, 2002). Kontribusi lain dari tradisi realisme adalah sumbangannya terhadap
filsafat kontemporer ilmu pengetahuan, terutama melalui karya Roy Bashkar,
dalam memberikan argument-argument terhadap status ilmu pengetahuan spekulatif
yang diklaim oleh tradisi empirisme.
Dalam
pemikiran filsafat, realisme berpandangan bahwa kenyataan tidaklah terbatas
pada pengalaman inderawi ataupun gagasan yang tebangun dari dalam. Dengan
demikian realisme dapat dikatakan sebagai bentuk penolakan terhadap gagasan
ekstrim idealisme dan empirisme. Dalam membangun ilmu pengetahuan, realisme
memberikan teori dengan metode induksi empiris. Gagasan utama dari realisme
dalam konteks pemerolehan pengetahuan adalah bahwa pengetahuan didapatkan dari
dual hal, yaitu observasi dan pengembangan pemikiran baru dari observasi yang
dilakukan. Dalam konteks ini, ilmuwan dapat saja menganalisa kategori
fenomena-fenomena yang secara teoritis eksis walaupun tidak dapat diobservasi
secara langsung.
Tradisi
realisme mengakui bahwa entitas yang bersifat abstrak dapat menjadi nyata
(realitas) dengan bantuan symbol-simbol linguistik dan kesadaran manusia.
Gagasan ini sejajar dengan filsafat modern dari pendekatan pengetahuan versi
Kantianism fenonomologi sampai pendekatan struktural (Ibid, 2002). Mediasi
bahasa dan kesadaran manusia yang bersifat nyata inilah yang menjadi ide dasar
‘Emile Durkheim’ dalam pengembangan ilmu pengetahuan sosial. Dalam area
linguistik atau ilmu bahasa, de Saussure adalah salah satu tokoh yang
terpengaruh mengadopsi pendekatan empirisme Durkheim. Bagi de Saussure, obyek
penelitian bahasa yang diteliti diistilahkan sebagai ‘la langue’ yaitu
simbol-simbol linguistic yang dapat diobservasi (Francis & Dinnen, 1996)
Ide-ide
kaum realis seperti ini sangatlah kontributif pada abad 19 dalam menjembatani
antara ilmu alam dan humaniora, terutama dalam konteks perdebatan antara
klaim-klaim kebenaran dan metodologi yang disebut sebagai ‘methodenstreit’
(Calhoun, 2002). Kontribusi lain dari tradisi realisme adalah sumbangannya
terhadap filsafat kontemporer ilmu pengetahuan, terutama melalui karya Roy
Bashkar, dalam memberikan argument-argument terhadap status ilmu pengetahuan
spekulatif yang diklaim oleh tradisi empirisme.
Aliran
Filsafat Realisme
Ada tiga ajaran pokok dari Plato yaitu tentang
idea, jiwa dan proses mengenal. Menurut Plato realitas terbagi menjadi dua
yaitu contoh (paradigma) bagi benda konkret. Pembagian dunia ini pada inderawi
yang selalu berubah dan dunia idea yang tidak pernah berubah. Idea merupakan
sesuatu yang obyektif, tidak diciptakan oleh pikiran dan justru sebaliknya
memberikam dua pengenalan. Pertama pengenalan tentang idea; inilah pengenalan
yang sebenarnya. Pengenalan yang dapat dicapai oleh rasio ini disebut episteme (pengetahuan)
dan bersifat, teguh, jelas, dan tidak berubah. Dengan demikian Plato menolak
relatifisme kaum sofis. Kedua, pengenalan tentang benda-benda disebut doxa
(pendapat), dan bersifat tidak tetap dan tidak pasti; pengenalan ini dapat
dicapai dengan panca indera. Dengan dua dunianya ini juga Plato bisa
mendamaikan persoalan besar filsafat pra-socratik yaitu pandangan panta
rhei-nya Herakleitos dan pandangan yang ada-ada-nya Parmenides. Keduanya benar,
dunia inderawi memang selalu berubah sedangkan dunia idea tidak pernah berubah
dan abadi. Memang jiwa Plato berpendapat bahwa jika itu baka, lantaran terdapat
kesamaan antara jiwa dan idea. Lebih lanjut dikatakan bahwa jiwa sudah ada
sebelum hidup di bumi.
Sebelum bersatu dengan badan, jiwa sudah mengalami
pra eksistensi dimana ia memandang idea-idea. Berdasarkan pandangannya ini,
Plato lebih lanjut berteori bahwa pengenalan pada dasarnya tidak lain adalah
pengingatan (anamnenis) terhadap idea-idea yang telah dilihat pada waktu
pra-eksistansi. Ajaran Plato tentang jiwa manusia ini bisa disebut penjara.
Plato juga mengatakan, sebagaimana manusia, jagat raya juga memiliki jiwa dan
jiwa dunia diciptakan sebelum jiwa-jiwa manusia. Plato juga membuat uraian
tentang negara. Tetapi jasanya terbesar adalah usahanya membuka sekolah yang
bertujuan ilmiah. Sekolahnya diberi nama “Akademia” yang paling didedikasikan
kepada pahlawan yang bernama
Pendidikan
Menurut Aliran Realisme
Aliran filsafat realisme berpendirian bahwa pengetahuan
manusia itu adalah gambaran yang baik dan tepat dari kebenaran. Konsep filsafat
menurut aliran realisme adalah: (1) Metafisika-realisme; Kenyataan yang
sebenarnya hanyalah kenyataan fisik (materialisme); kenyataan material
dan imaterial (dualisme), dan kenyataan yang terbentuk dari berbagai
kenyataan (pluralisme); (2) Humanologi-realisme; Hakekat manusia terletak pada
apa yang dapat dikerjakan. Jiwa merupakan sebuah organisme kompleks yang
mempunyai kemampuan berpikir; (3) Epistemologi-realisme; Kenyataan hadir dengan
sendirinya tidak tergantung pada pengetahuan dan gagasan manusia, dan kenyataan
dapat diketahui oleh pikiran. Pengetahuan dapat diperoleh melalui penginderaan.
Kebenaran pengetahuan dapat dibuktikan dengan memeriksa kesesuaiannya
dengan fakta; (4) Aksiologi-realisme; Tingkah laku manusia diatur oleh
hukum-hukum alam yang diperoleh melalui ilmu, dan pada taraf yang lebih rendah
diatur oleh kebiasaan-kebiasaan atau adat-istiadat yang telah teruji dalam
kehidupan.
Dalam
hubungannya dengan pendidikan, pendidikan harus universal, seragam, dimulai
sejak pendidikan yang paling rendah, dan merupakan suatu kewajiban. Pada
tingkat pendidikan yang paling rendah, anak akan menerima jenis pendidikan yang
sama. Pembawaan dan
sifat manusia sama pada semua orang. Oleh karena itulah, metode, isi, dan
proses pendidikan harus seragam. Namun, manusia tetap berbeda dalam derajatnya,
di mana ia dapat mencapainya. Oleh karena itu, pada tingkatan pendidikan yang
paling tinggi tidak boleh hanya ada satu jenis pendidikan, melainkan harus
beraneka ragam jenis pendidikan. Inisiatif dalam pendidikan terletak pada
pendidik bukan pada peserta didik. Materi atau bahan pelajaran yang baik adalah
bahan pelajaran yang memberi kepuasan pada minat dan kebutuhan pada peserta
didik. Namun, yang paling penting bagi pendidik adalah bagaimana memilih bahan
pelajaran yang benar, bukan memberikan kepuasan terhadap minat dan kebutuhan
pada peserta didik. Memberi kepuasan terhadap minat dan kebutuhan siswa
hanyalah merupakan alat dalam mencapai tujuan pendidikan, atau merupakan
strategi mengajar yang bermanfaat.
Menurut Power
(1982), implikasi filsafat pendidikan realisme adalah sebagai berikut: (1)
Tujuan: penyesuaian hidup dan tanggung jawab sosial; (2) Kurikulum:
komprehensif mencakup semua pengetahuan yang berguna berisi pentahuan umum dan
pengetahuan praktis; (3) Metode: Belajar tergantung pada pengalaman baik
langsung. Metodenya harus logis dan psikologis. Metode pontiditioning
(Stimulua-Respon) adalah metode pokok yang digunakan; (4) Peran peserta didik
adalah menguasai pengetahuan yang handal dapat dipercaya. Dalam hal
disiplin, peraturan yang baik adalah esensial dalam belajar. Disiplin
mental dan moral dibutuhkan untuk memperoleh hasil yang baik; (5) Peranan
pendidik adalah menguasai pengetahuan, terampil dalam teknik mengajar dan
dengan keras menuntut prestasi peserta didik.
Aliran Realisme adalah aliran filsafat yang
memandang realitas sebagai dualitas. Aliran realisme memandang dunia ini
mempunyai hakikat realitas yang terdiri dari dunia fisik dan dunia rohani. Hal
ini berbeda dengan filsafat aliran idealisme yang bersifat monistis yang
memandang hakikat dunia pada dunia spiritual semata. Dan juga berbeda dari
aliran materialisme yang memandang hakikat kenyataan adalah kenyatan yang
bersifat fisik semata. Realisme membagi realistas menjadi dua bagian yaitu
subjek yang menyadari dan mengetahui di satu pihak dan yang kedua adanya
realita di luar manusia yang dapat dijadikan objek pengetahuan manusia.
Aliran realisme mempunyai berbagai macam bentuk yaitu
realisme rasional, realisme naturalis dan realisme kritis. Realisme rasional
juga masih terbagi dua yaitu realisme klasik dan realisme religius. Realisme
klasik pertama kali dikembangkan oleh Aristoteles. Berikut ini kita bahas
pendidikan menurut aliran realisme.
Berikut ini kita akan membahas konsep pendidikan
mengenai pengertian pendidikan dan gambaran pendidikan menurut masing-masing
bentuk aliran realisme.
a.
Realisme
Rasional
Realisme klasik berpandangan bahwa manusia
sebenarnya memiliki ciri rasional. Dengan demikian manusia dapat menjangkau
kebenaran umum. Eksistensi Tuhan merupakan penyebab pertama dan utama realistas
alam semesta. Memperhatikan intelektual adalah penting bukan saja sebagai
tujuan melainkan sebagai alat untuk memecahkan masalah. Menurut realisme klasik
pengalaman manusia penting bagi pendidikan. Menurut Aristoteles, terdapat
aturan moral universal yang diperoleh dengan akal dan mengikat manusia sebagai
mahluk rasional. Manusia sempurna menurutnya adalah manusia sempurna yang
mengambil jalan tengah. Konsep pendidikan pada anak bahwa anak harus diajarkan
ukuran moral yang absolut dan universal karena baik dan benar adalah untuk
seluruh umat manusia. Kebiasaan baik harus dipelajari karena kebaikan tidak
datang dengan sendirinya
Sedangkan menurut realisme religius bahwa kenyataan
itu dipandang berbentuk natural dan supernatural. Pandangan filsafat ini
menitik beratkan pada hakikat kebenaran dan kebaikan. Pendidikan merupakan
suatu proses untuk meningkatkan diri guna mencapai kebenaran abadi. Kebenaran
bukan dibuat melainkan sudah ditentukan dan belajar harus mencerminkan
kebenaran itu. Menurut Cornerius pendidikan harus universal, seragam dan
merupakan suatu kewajiban dimulai dengan pendidikan yang lebih rendah.
b. Realisme Natural
Menurut realisme natural pengetahuan yang diakui
adalah pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman empiris dengan jalan
observasi atau pengamatan indera. Para pengikut realisme natural mengikuti
teori pengatahuan empirisme yang mengatakan pengalaman merupakan faktor
fundamental dalam pengetahuan dan merupakan sumber pengetahuan manusia.
Pendidikan berkaitan dengan dunia di sini dan
sekarang. Dunia diatur oleh hukum alam. Pendidikan menurut aliran realisme
natural haruslah ilimiah dan yang menjadi objeknya adalah kenyataan dalam alam.
c. Realisme kritis.
Menurut pandangan Breed filsafat pendidikan hendaknya
harmoni dengan prinsip-prinsip demokrasi. Pendidikan sebagai pertumbuhan harus
diartikan sebagai pengarah terhadap tuntunan sosial dan individual. Menurut Imanuel
Kant , pengetahuan mulai dari pengalaman namun tidak semiuanua dari pengalaman.
Pikiran tanpa isi adalah kosong dan tanggapan tanpa konsepsi adalah buta.
Menurut
Henderson ke semua bentuk aliran realisme pendidikan menyetujui bahwa
1. Proses pendidikan berpusat pada
tugas mengembangkan laki-laki dan wanita menjadi hebat
2. Tugas manusia di dunia adalah memajukan keadilan dan
kesejahteraan umum
3. Tujuan akhir pendidikan adalah memecahkan
masalah-masalah pendidikan
C.LANDASAN TEORI DAN KONSEP
A.
Komponen
isi (bahan pengajaran)
Kurikulum dalam komponen isi adalah suatu yang
diberikan kepada anak didik untuk bahan belajar mengajar guna mencapai tujuan.
Kurikulum memiliki criteria yang membantu perencanaan pada kurikulum. Criteria
kurikulum adalah sebagai berikut.
·
Sesuai, tepat dan bermakna bagi perkembangan
siswa
·
Mencerminkan kenyataan social
·
Mengandung pengetahuan ilmiah yang tahan uji
·
Menunjang tercapainya tujuan pendidikan
Bahan yang bersifat
representational dimaksudkan bahan kurikulum yang dapat menyampaikan sesuatu
yang lain lebih dari sekedar barangnya itu sendiri. Bahan kurikulum yang
representational itu perlu dibedakan dengan sarana kurikulum seperti alat-alat
tulis, model, organisme biologis, dan sebagainya walau yang disebut terakhir itu
juga memberikan fasilitas belajar.
Karakteristik bahan
kurikulum yang lain adalah bahan itu secara sungguh-sungguh memberikan
fasilitas balajar. Jadi, bahan tersebut memang secara sengaja dirancang dan
dibuat untuk maksud atau mempermudah pengajaran.
Proses penyelesaian
bahan kurikulum yang bersifat formal terdiri sejumlah tahap. Gall mengemukakan
ada Sembilan tahap yang harus dilalui yaitu :
1. Identifikasi
kebutuhan
2. Meneruskan
misi kurikulum
3. Menentukan
anggaran pembiayaan
4. Membentuk
tim penyeleksi
5. Mendapatkan
susunan bahan
6. Menganalisis
bahan
7. Menilai
bahan
8. Membuat
keputusan adopsi
9. Menyebarkan,
mepergunakan, dan memonitor penggunaan
Isi kurikulum biasanya
di analisis dengan pengertian bahan pengajaran atau tujuan tingkah laku, dan
pendekatan yang lain memandang isi dalam pengertian cangkupan dan urutan.
Berikut akan dikemukakan beberapa sub bagian isi yaitu :
1. Pendekatann
: filsafat, nilai-nilai, dan praduga tertentu yang mempemgaruhi pengembahan
bahan.
2. Bentuk
tujuan pengajaran : keluaran belajar yang dapat dicapai melalui bahan itu.
3. Jenis-jenis
tujuan pengajaran : klasifikasi tujuan pengajaran yang pada umumnya meliputi
ranah kognitif, efektif, dan psikotorik yang disarankan oleh Bloom (1956)
4. Orientasi
masalah : isi bahan yang berupa sesuatu yang dipelajari.
5. Multikulturalisme
: isi yang mencerminkan perspektif dan konstribusi berbagai kelompok kultur dan
etnik.
6. Cakupan
dan urutan : luas topic dan bagaimana sajian urutnya.
Penilaian bahan
kurikulum terhadap suatu kurikulum dapat dilakukan melalui tiga strategi yatitu
:
1. Memeriksa
bahan itu sendiri
2. Membaca
review kritik atau laporan bahan teknis dari studi evaluasi yang dilakukan
evaluator
3.
Melakukan tes lapangan terhadap bahan (Gall)
Pembuatan keputusan adopsi bahan (make
an adoption decision) pembuatan keputusan untuk mengadopsi bahan merupakan
langkah terakhir dalam proses penyelesaian bahan. Dilaluinya langkah-langkah
sebelumnya di atas secara sistematis, dimaksudkan agar dalam pembuatan
keputusan mengadopsi bahan kurikulum sebagai bagian keseluruhan proses
pengembangan kurikulum dapat dipertanggung jawabkan. Setelah bahan adopsi
ditetapkan, selesailah tugas penyaksian bahan kurikulum sekolah.
B. Pengertian Kurikulum
Menurut istilah olahraga
Menurut
istilah olahraga kurikulum berasal dari kata curir yakni pelari, dan curere
yakni lintasannya. Jadi menurut istilah olahraga kurikulum adalah “jarak
yang harus ditempuh oleh seseorang untuk dapat mencapai finish atau tujuan.”
Pengertian Tradisional Kurikulum
Istilah
kurikulum pada zaman dulu yakni tahun 1958 bahwa kurikulum adalah “sejumlah
mata pelajaran yang harus ditempuh atau dikuasai oleh seseorang (siswa) untuk
dapat memperoleh tujuan tertentu atau ijazah.”
Pengertian Kurikulum Modern
Banyak
sekali pemahaman-pemahaman mengenai kurikulum yang berkembang pada zaman ini,
yang menyempurnakan istilah kurikulum dulu (tradisional), pemahaman mengenai
kurikulum itu intinya bahwa kurikulum adalah “acuan atau panduan yang
didalamnya mengatur seluruh aspek dari komponen-komponen pendidikan
beserta tugas, fungsi, dan tujuannya dalam proses pendidikan guna
mencapai tujuan yang direncanakan.”
C.TUJUAN
KURIKULUM
Pengertian
tujuan menurut para ahli.
Penentuan
tujuan merupakan langkah pertama dalam membuat perencanaan sehingga dalam pelaksanaannya
nanti terarah sesuai dengan tujuan dan hasil yang ingin dicapai.namun demikian,
banyak individu / organisasi yang salah kaparah dalam menentukan tujuan dengan cara
membuat beberapa tujuan dalam sebuah perencanaan. Hal ini tentu akan membingungkan
dan berakibat kurang maksimalnya hasil yang bisa dicapai.
1.
H.R. DAENG NAJA
Tujuan merupakan misi sasaran yang ingin dicapai
oleh suatu organisasi di masa yang akan datang dan manajer bertugas mengarahkan
jalannya organisasi untuk mencapai tujuan tersebut
2.
IDA NURAIDA
Tujuan merupakan bagian dari fungsi planning
atau perencanaan dan merupakan langkah awal fungsi manajemen
3.
SPILLANE, SJ
Tujuan merupakan bagian dari proses mencapai keserasian
dan konsentrasi kekuasaan
4.
ABUBAKAR A & WIBOWO
Tujuan merupakan norma terakhir untuk organisasi
menilai dirinya. Tanpa tujuan, organisasi tidak mempunyai dasar yang jelas
5.
KEN MCELROY
Tujuan merupakan langkah pertama dalam proses
mencapai kesuksesan dan tujuan juga merupakan kunci mencapai kesuksesan
6.
JEMSLY H & MARTANI
Tujuan merupakan sesuatu yang mungkin untuk dicapai,
bukan sesuatu yang utopis
7.
YAYASAN TRISAKTI
Tujuan merupakan kunci untuk menentukan atau merumuskan
apa yang akan dikerjakan, ketika pekerjaan itu harus dilaksanakan dan disertai pula
dengan jaringan politik, prosedur, anggaran serta penentuan program
8.
TOMMY SUPRAPTO
Tujuan merupakan realisasi dari misi yang
spesifik dan dapat dilakukan dalam jangka pendek.
Tujuan
merupakan pernyataan tentang keadaan yang diinginkan di mana organisasi atau
perusahaan bermaksud untuk mewujudkannya dan sebagai pernyataan tentang keadaan
di waktu yang akan datang di mana organisasi sebagai kolektivitas mencoba untuk
menimbulkannya.
TUJUAN
KURIKULUM PENDIDIKAN
Tujuan kurikulum pada dasarnya
merupakan tujuan setiap program pendidikan yang diberikan kepad aanak didik,
Karena kurikulum merupakan alatan untuk mencapai tujuan, maka kurikulum harus dijabarkan
dari tujuan umum pendidikan.Dalam system pendidikan di Indonesia tujuan pendidikan
bersumber kepada falsafah Bangsa Indonesia. Di Indonesia ada 4 tujuan utama
yang secara hirarki sebagai baerikut:
- Tujuan Nasional Dalam Undang-undang No. 2 tahun 1980 tentang system Pendidikan Nasional rumusan tujuan pendidikan nasional disebutkan Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan. Kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tariggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
- Tujuan Intitusional adalah tujuan yang harus dicapai oleh suatu lembaga pendidikan, umpamanya MI. MTs, MA, SD, SMP, SMA, dan sebagainya. Artinya apa yang harus dimiliki anak didik setelah menamatkan lembaga pendidikan tersebut, Sebagai contoh, kemampuan apa yang harus dimiliki anak didik setelah menamatkan lembaga pendidikan iersebut. Sebagai contoh, kemampuan apa yang diharapkan dimiliki oleh anak yang tamat MI, MTs, atau Madrasah Aliyah. Rumusan tujuan institusional harus merupakan penjabaran dan tujuan umum (riasional), harus memiliki kesinambungan antara satu jenjang pendidikan tinggi dengan jenjang Iainnya (MI, MTs, dan MA sampalke IAIN/ perguruan tinggi). Tujuan institusional juga harus memperhatikan fungsi dan karakter dari lembaga pendidikannya, seperti lembaga pendidikan umum, pendidikan guru dansebagainya.
- Tujuan Kurikuler Tujuan kurikuler adalah penjabaran dan tujuan kelembagaan pendidikan (tujuan institusiorial). Tujuan kurikuler adalah tujuan di bidang studi atau matapelajaran sehingga mencerminkan hakikat keilmuan yang ada di dalamnya. Secara oerasional adalah rumusan kemampuan yang diharapkan dapat dimiliki anak didik setelah mempelajari suatu matapelajaran atau bidang studi tersebut.
- Tujuan Instruksional Tujuan instruksional dijabarkan dari tujuan kurikuler. Tujuan ini adalah tujuan yang langsung dihadapkan kepada anak didik sebab harus dicapai oIeh mereka setelah menempuh proses belajar-mengajar. Oleh karena itu tujuan instruksional dirumuskan sebagai kemampuan-kemampuan yang diharapkan dapat dimiliki oleh anak didik setelah merekam menyelesaikan proses belajar-mengajar. Ada dua jenis tujuan institusional, yaitu tujuan instruksional umum (TIU) dan tujuan instruksional khusus (TIK). Perbedaan kedua tujuan tersebut terletak dalam hal kemampuan yang diharapkan dikuasai anak didik. Pada TIU sifatnya lebih luas dan mendalam, sedangkan TIK lebih terbatas dan harus dapat diukur pada saat berlangsungnya proses belajar-mengajar.
TUJUAN
PENDIDIKAN
Dalam
kurikulum, tujuan memegang peranan penting, akan mengarahkan semua kegiatan
pengajaran dan mewarnai komponen-komponen lainnya. Tujuan kurikulum berdasarkan
dua hal.Pertama, perkembangan Tujuan kurikulum pada hakikatnya adalah
tujuan dari setiap program pendidikan yang akan diberikan pada anak didik Dalam
perspektif pendidikan nasional, tujuan pendidikan nasional dapat dilihat secara
jelas dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistrm Pendidikan
Nasional, bahwa : " Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan
dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta
didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu,
cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggung jawab".
Tujuan pendidikan
antara lain:
1.
Tujuan Institusional (KompetensiLulusan)
Adalah
tujuan yang harus dicapai oleh suatu lembaga pendidikan, contoh : SD, SMP, SMA
2.
Tujuan kurikuler (StandartKompetensi)
Adalah
tujuan bidang studi atau matapelajaran sehingga mencapai hakikat keilmuan yang
ada didalamnya.
- Tujuan instruksional (KompetensiDasar)
Tujuan
instruksional (KompetensiDasar) dirumuskan sebagai kemampuan-kemampuan yang
diharapkan dimiliki anak didik setelah merekam menyelesaikan proses belajar
mengajar.
·
Tujuan instruksional Umum (IndikatorUmum)
:Kemampuan tersebut sifatnya lebih luas dan mendalam.
·
Tujuan instruksional khusus (Indikatorkhusus)
:Kemampuan lebih terbatas dan harus dapat diukur pada saat berlangsunganya
prose belajar mengajar.
KOMPONEN TUJUAN
Komponen
tujuan berhubungan dengan arah atau hasil yang diharapkan.Dalam skala makro,
rumusan tujuan kurikulum erat kaitannya dengan filsafat atau system nilai yang
dianut masyarakat.Bahkan, rumusan tujuan yang menggambarkan suatu masyarakat
yang di cita – citakan, misalkan, filsafat atau system nilai yang dianut
masyarakat Indonesia adalah pancasila, maka tujuan yang diharapkan tercapai
oleh suatukur kurikulum adalah terbentuknya masyarakat yang pancasilais. Dalam
skala mikro, tujuan kurikulum berhubungan dengan misi dan visi sekolah serta
tujuan yang lebih sempit, seperti tujuan setiap matapelajaran dan tujuan proses
pembelajaran.
TUJUAN
NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA
Tujuan
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) terdapat dalam Pembukaan Undang-Undang
Dasar 1945 alinea keempat yaitu “Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu pemerintah
Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah
Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa,
dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian
abadi, dan keadilan sosial …”.
TUJUAN
PEMBELAJARAN
Tujuan pembelajaran adalah tercapainya perubahan perilaku
atau kompetensi pada siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran tercapainya
perubahan perilaku atau kompetensi pada siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran
Tujuan tersebut dirumuskan dalam bentuk pernyataan atau deskripsi yang
spesifik.
D. EVALUASI KURIKULUM
A. Tujuan Evaluasi Kurikulum
1. Untuk perbaikan program
Dalam
konteks tujuan ini, peranan evaluasi lebih bersifat konstruktif karena
informasi hasil evaluasi dijadikan input bagi perbaikan yang diperlukan di
dalam program kurikulum yang sedang dikembangkan.
2. Pertanggungjawaban kepada berbagai pihak
Selama dan terutama pada
akhir fase pengembangan kurikulum, perlu adanya semacam pertanggungjawaban dari
pihak pengembang kurikulum kepada berbagai pihak yang berkepentingan.
Pihak-pihak yang dimaksud mencakup pihak yang mensponsori kegiatan pengembangan
kurikulum maupun pihak yang akan menjadi konsumen dari kurikulum yang telah
dikembangkan. Dengan kata lain, pihak-pihak tersebut mencakup pemerintah,
masyarakat, orang tua, petugas-petugas pendidikan, dan pihak-pihak lainnya yang
ikut mensponsori kegiatan pengembangan kurikulum yang bersangkutan. Dalam
mempertanggungjawabkan hasil yang telah dicapainya, pihak pengembang kurikulum
perlu mengemukakan kekuatan dan kelemahan dari kurikulum yang sedang
dikembangkan serta usaha lebih lanjut yang diperlukan untuk mengatasi
kelemahan-kelemahan, jika ada yang masih terdapat. Untuk menghasilkan informasi
mengenai kekuatan dan kelemahan tersebut diatas itulah diperlukan kegiatan
evaluasi.
3. Penentuan tindak lanjut hasil pengembangan
Tindak lanjut hasil pengembangan kurikulum dapat berbentuk jawaban
atas dua kemungkinan pertanyaan: pertama, apakah kurikulum tersebut akan atau tidak
akan disebarluaskan ke dalam sistem yang ada? Kedua, dalam kondisi yang
bagaimana dan dengan cara yang bagaimana kurikulum tersebut akan disebarluaskan
ke dalam sistem yang ada? Untuk menghasilkan informasi yang diperlukan dalam
menjawab pertanyaan, diperlukan kegiatan evaluasi kurikulum.
B. Prosedur Evaluasi Kurikulum
1. Kajian terhadap evaluan
Langkah pertama yang harus dilakukan evaluator terhadap kurikulum
atau bentuk kurikulum yang menjadi evaluannya. Tujuannya adalah untuk
mendapatkan pemahaman terhadap karakterisitk kurikulum. Evaluator harus
mempelajari secara mendalam latar belakang kelahiran suatu kurikulum, landasan
filosofi dan teoritis kurikulum tersebut, ide kurikulum, model kurikulum yang
digunakan untuk dokumen kurikulum, proses pengembangan dokumen kurikulum,
proses impelementasi kurikulum, dan evaluasi hasil belajar.
2. Pengembangan proposal
Berdasarkan kajian yang dilakukan pada langkah pertama, maka
evaluator kemudian mengembangkan proposalnya. Untuk itu, evaluator memutuskan
pendekatan dan jenis evaluasi yang akan dilakukan. Evaluator dapat menentukan
apakah yang akan digunakannya adalah evaluasi kuantitatif ataukah evaluasi
kualitatif. Tentu saja berbagai faktor pribadinya seperti pendidikan dan
pandangan keilmuannya akan sangat menentukan pendekatan metodologi yang akan
digunakan.
3. Pertemuan atau diskusi proposal dengan pengguna
jasa evaluasi
Pertemuan atau diskusi proposal dengan pengguna jasa evaluasi
merupakan langkah penting dan menentukan. Hasil diskusi dengan pengguna jasa evaluasi
akan menentukan apakah proposal yang diajukan akan dapat ditindak lanjuti atau
tidak. Jika evaluator berhasil meyakinkan calon pengguna jasa evaluasi maka
proposal yang diajukan mungkin akan disetujui dan pekerjaan evaluasi akan dapat
dilaksanakan. Artinya, tidak ada pekerjaan evaluasi yang dilakukan berdasarkan
proposal tersebut.
4. Revisi Proposal
Revisi proposal adalah tindak lanjut dari hasil pertemuan antara
pengguna jasa evaluasi dengan evaluator. Apabila dalam pertemuan dan
pembicaraan tersebut berbagai kompenen harus direvisi, maka evaluator wajib
untuk melakukan revisi tersebut. Hasil revisi harus diperlihatkan kembali
kepada pengguna jasa evaluasi dan disetujui. Jika dari hasil diskusi pada
pertemuan itu tidak ada hal yang perlu direvisi, maka langkah revisi ini tidak
diperlukan.
5. Rekruitmen personalia
Rekruitmen personalia untuk pekerjaan evaluasi mungkin saja
dilakukan ketika proposal disusun. Jika prosedur itu yang ditempuh, maka
rekruitmen dianggap sudah terjadi. Dalam hal demikian maka pada proposal jumlah
orang, nama serta kualifikasi harus dicantumkan. Pencantuman itu akan
memberikan nilai lebih pada proposal.
6. Pengurusan persyaratan administrasi
Setiap kegiatan yang berkenaan dengan evaluasi kurikulum memerlukan
berbagai formalitas administrasi. Evaluator harus mendapatkan persetujuan dari
pengguna kurikulum, pimpinan sekolah atau atasannya, dan mungkin juga dari
pejabat yang terkait dengan masalah keamanan sosial politik. Untuk itu
diperlukan berbagai surat seperti surat izin melakukan evaluasi, surat
permohonan kesediaan menjadi responden, surat identitas anggota, dan
sebagainya. Keberadaan surat ini sangat penting dan sangat mutlak diperlukan.
7. Pengorganisasian pelaksanaan
Pengorganisasian pelaksanaan adalah suatu kegiatan manajemen yang
tingkat kerumitannya ditentuakan oleh ruang lingkup pekerjaan evaluasi dan
jumlah evaluator yang terlibat. Semakin luas wilayah yang harus dievaluasi dan
semakin banyak evaluator yang harus dilibatkan maka semakin rumit pula
pekerjaan managemen yang harus dilakukan. Jika evaluasi itu hanya dilakukan
oleh seseorang, managemen tidak akan serumit jika evaluator terdiri dari sebuah
tim.
8. Analisis data
Analisis data tentu saja merupakan tindak lanjut setelah proses
pengumpulan data evaluasi berhasil dilakukan. Ketika model yang digunakan
adalah model kuantitatif dan dengan demikian data utama evaluasi adalah data
kuantitatif. Proses dan teknik pengolahan data yang diakui dalam model
kuatitatif harus dilaksanakan.
9. Penulisan laporan
Sebagaimana halnya dengan analisis data, penulisan laporan harus
dilakukan oleh evaluator dan tim evaluator. Format laporan harus disesuaikan
dengan kesepakatan yang dilakukan pada waktu awal.
10. Pembahasan laporan dengan pengguna jasa
evaluasi
Pembahasan ini diperlukan untuk melihat kelengkapan laporan. Dalam
pembahasan ini, jika pengguna jasa evaluasi memerlukan tambahan informasi yang
memang tercantum dalam kontrak maka evaluator wajib untuk melengkapi laporan
tersebut.
11. Penulisan laporan akhir
Penulisan laporan akhir adalah sebagai hasil dari revisi yang harus
dilakukan evaluator ketika terjadi pembahasan laporan dengan pengguna jasa
evaluasi.
C. Prinsip-prinsip Evaluasi Kurikulum
1.
Tujuan tertentu, artinya setiap program evaluasi kurikulum terarah dalam mencapai
tujuan yang telah ditentukan secara jelas dan spesifik. Tujuan-tujuan itu pula
yang mengarahkan berbagai kegiatan dalam proses pelaksanaan evaluasi kurikulum.
2.
Bersifat objektif, dalam artian berpijak pada keadaan yang sebenarnya, bersumber dari
data yang nyata dan akurat, yang di peroleh melalui instrumen yang andal.
3.
Bersifat komprehensif, mencakup semua dimensi atau aspek yang terdapat
dalam ruang lingkup kurikulum. Seluruh komponen kurikulum harus mendapat
perhatian dan pertimbangan secara seksama sebelum dilakukan pengambilan keputusan.
4.
Kooperatif dan bertanggung jawab dalam perencanaan.
Pelaksanaan dan keberhasilan suatu program
evaluasi kurikulum merupakan tanggung jawab bersama pihak-pihak yang terlibat dalam proses pendidikan seperti
guru, kepala sekolah, orang tua, bahkan siswa itu sendiri, disamping merupakan
tanggung jawab utama lembaga penelitian dan pengembangan.
5.
Efisien, khususnya dalam penggunaan waktu, biaya, tenaga dan peralatan
menjadi unsur penunjang. Oleh karena itu, harus diupayakan agar hasil evaluasi
lebih tinggi, atau paling tidak berimbang dengan materil yang digunakan.
6.
Berkesinambungan. Hal ini diperlukan mengingat tuntutan dari dalam dan luar sistem
sekolah, yang meminta diadakannya perbaikan kurikulum. Untuk itu, peran guru
dan kepala sekolah sangatlah penting, karena mereka yang paling mengetahui
pelaksanaan, permasalahan dan keberhasilan kurikulum.
D. Langkah-langkah Evaluasi Kurikulum
1.
Tahap Persiapan
Tahap persiapan pada dasarnya menentukan apa
dan bagaimana penilaian harus dilakukan. Artinya perlu rencana yang jelas
mengenai kegiatan penilaian termasuk alat dan sarana yang diperlukan. Ada
beberapa langkah yang harus dikerjakan dalam tahap persiapan, yakni:
a. Menyusun term of
reference (TOR) penilaian, sebagai
rujukan pelaksanaan penilaian. Dalam TOR ini dijelaskan target dan sarana
penilaian, lingkup atau objek yang dinilai, alat dan instrumen yang digunakan,
prosedur dan cara penilaian, organisasi yang menangani penilaian serta biaya
pelaksanaan penilaian.
b. Klarifikasi, artinya mengadakan penelaahan
perangkat evaluasi seperti tujuan yang ingin dicapai, isi penilaian, strategi
yang digunakan, sumber data, instrumen dan jadwal penilaian.
c. Uji coba penilaian (try-out), yakni
melaksanakan teknik dan prosedur penilaian diluar sampel penilaian. Tinjuan
utama adalah untuk melihat keterandalan alat-alat penilaian dan melatih tenaga
penilai termasuk logistiknya, agar kualiatas data yang kelak akan diperoleh
lebih meyakinkan.
2.
Tahap Pelaksanaan
Setelah uji coba dilaksanakan dan perbaikan
atau penyempurnaan prosedur, teknik serta instrumen penilaian, langkah
berikutnya adalah melaksanakan penilaian. Beberapa kegiatan yang harus
dilakukan dalam tahap pelaksanaan ini antara lain:
a. Pengumpulan data di lapangan, artinya
melaksanakan penilaian melalui instrumen yang telah dipersiapkan terhadap
sumber data sesuai dengan program yang telah direncanakan.
b. Menyusun dan mengolah data hasil penilaian baik
data yang dihasilkan berdasarkan persepsi pelaksana kurikulum dan kelompok
sasaran kurikulum (siswa) maupun data berdasarkan hasil amatan dan monitoring
penilaian.
c. Menyusun deskripsi kurikulum tersebut,
berdasarkan data dan informasi yang diperoleh dari hasil penilaian. Deskripsi
tersebut pada hakikatnya adalah melukiskan kurikulum yang seharusnya
dilaksanakan serta membandingkannya dengan hasil-hasil penilaian sehingga dapat
diketahui kesenjangannya.
d. Menentukan judgment terhadap deskripsi
kurikulum berdasarkan kriteria tertentu yang telah ditentukan. Judgment dapat
menggunakan dua macam logika, yakni logika vertikal dan horizontal.
e. Menyusun laporan hasil penilaian termasuk
rekomendasi-rekomendasinya, implikasi pemecahan masalah dan tindakan korektif
bagi para pengambil keputusan perbaikan/penyempurnaan kurikulum.
E.
Aspek-aspek
Evaluasi Kurikulum
1.
Penentuan tujuan umum
Tujuan kurikulum bertalian erat dengan
nilai-nilai, aliran-aliran dan kekuatan-kekuatan dalam masyarakat. Sering
tujuan umum ditentukan oleh pemerintah. Jadi yang perlu dinilai apakah tujuan
kurikulum telah sesuai dengan nilai-nilai bangsa, politik pemerintah dalam
pembangunan negara, perkembangan zaman, aspirasi masyarakat akan tetapi juga
kebutuhan anak dalam menghadapi hidupnya di masa mendatang.
2.
Perencanaan
Tujuan pendidikan yang telah dirumuskan harus
diterjemahkan ke dalam kegiatan-kegiatan kurikuler yang lebih rinci, dalam bentuk
mata pelajaran, bahan tertentu, proses belajar mengajar, juga bagaimana cara
menyampaikan kepada para pengajar agar mereka bersedia untuk menggunakannya.
Harus diperhatikan agar bahan pelajaran sesuai dengan perkembangan ilmu
pengetahuan. Selain itu pula dipertimbangkan soal biaya pelaksanaan kurikulum
itu secara nasional. Perencanaan yang baik akan dapat menghemat biaya uji coba
selanjutnya.
3.
Uji coba dan revisi
Tiap pembaharuan kurikulum hendaknya melalui
tahap uji coba dengan sampel terbatas untuk melihat kelemahan-kelemahan yang
perlu di revisi, dapat juga di minta pendapat dan penilaian para siswa sendiri
tentang pengalaman belajar mereka dengan kurikulum itu, demikian pula pendapat
guru, ahli bidang disiplin ilmu, ahli psikologi dan para pendidik. Berdasarkan
uji coba itu diadakan revisi dan perubahan program pelajaran yang masih dapat
lagi diuji cobakan.
4.
Uji lapangan
Setelah diperoleh program yang di anggap cukup
mantap berdasarkan uji coba, maka tiba waktunya untuk melaksanakannya dengan
sampel yang lebih luas sehingga diperoleh situasi yang menyerupai situasi
lapangan yang sebenarnya. Bila uji coba dilakukan untuk menemukan
kelemahan-kelemahan program, maka pada uji lapangan dipelajari kondisi-kondisi
di mana kurikulum itu dapat di jalankan agar berhasil baik. Diperhatikan
misalnya kesiapan tenaga pengajar, administrasi, siswa dan keadaan, lokasi
sekolah di kota atau pedesaan, besar sekolah, fasilitas, keadaan sosial
ekonomi, dan sebagainya.
5.
Pelaksanaan kurikulum
Dalam pelaksanaan kurikulum perlu diusahakan
kerjasama dan bantuan dari kepala sekolah, guru bahkan juga dari pihak orang
tua dan masyarakat umumnya. Salah satu aspek yang sangat penting namun kurang
diperhatikan ialah sistem ujian lokal maupun nasional. Sistem ujian harus
disesuaikan dengan kurikulumnya. Taraf implementasi perlu dievaluasi oleh para
ahli agar dapat diadakan perubahan dan penyesuaian seperlunya menurut keadaan
setempat.
6.
Pengawasan mutu
Suatu program yang baik dapat mengalami kemerosotan sebagian atau
secara keseluruhan, setelah dipakai selama beberapa tahun. Ada kemungkinan
bahannya telah ketinggalan zaman dan perlu diperbaharui. Bagian-bagian yang
ternyata tidak lagi sesuai perlu diganti dengan yang baru. Kurikulum harus
turut berubah mengikuti perkembangan zaman. Oleh karena itu, perbaikan dan
pengembangan kurikulum merupakan proses yang kontinyu. Penilaian yang terus
menerus merupakan syarat mutlak untuk mengetahui dimana perbaikan, perubahan
atau pembaharuan harus diadakan. Bila kurikulum itu banyak kelemahannya dan
tidak lagi memenuhi tuntutan zaman, maka perlu diadakan pembaharuan kurikulum.
Yang jelas ialah bahwa pelaksanaan tiap kurikulum senantiasa memerlukan follow
up untuk memonitor dan menilai pelaksanan dan perkembangannya. Kalaupun suatu
kurikulum perlu diperbaiki atau diperbaharui, maka keputusan itu seharusnya
didasarkan atas penilaian yang cermat dan kontinyu.
Kurikulum merupakan bagian dari
pendidikan dalam lingkup yang luas.Kurikulum merupakan alat untuk mencapai
tujuan-tujuan pendidikan.Mengevaluasi keberhasilan sebuah pendidikan berarti
juga mengevaluasi kurikulumnya.Hal ini berarti bahwa evaluasi kurikulum
merupakan bagian dari evaluasi pendidikan, yang memusatkan perhatiannya pada
program-program untuk peserta didik. Sedangkan evaluasi merupakan bagian penting
dalam proses pengembangan kurikulum, baik dalam pembuatan kurikulum baru,
memperbaiki kurikulum yang ada atau menyempurnakannya. Evaluasi yang tepat dan
berkelanjutan sangat diperlukan untuk mendukung terwujudnya fase pengembangan
ini dengan efektif dan bermakana.Dari hasil-hasil evaluasi ini lah pihak
pengembang dapat mengadakan perbaikan dan penyesuaian sebelum kurikulum yang
baru tersebut terlanjur disebarluaskan secara nasional. Menurut Hamid Hasan
(1988:13) evaluasi adalah suatu proses pemberian pertimbangan mengenai nilai
dan arti sesuatu yang dipertimbangkan. Jadi dengan demikian, evaluasi kurikulum
adalah suatu proses evaluasi terhadap kurikulum secara keseluruhan baik yang
bersifat makro atau ruang lingkup yang luas (ideal curriculum) maupun lingkup
mikro (actual curriculum) dalam bentuk pembelajaran.
1.Judgement
(menetapkan suatu nilai)
- Subjektif
- Objektif (berdasar kriteria yang disepakati)
2.Kriteria
- Internal (program)
- Eksternal (luar program)
3.Objek penilaian
-Luas (program pendidikan)
-Terbatas (program belajar-mengajar
G. Kategori evaluasi kurikulum
1.PENILAIAN
KONTEKS
Dasar
dalam menentukan tujuan programo
Fisibilitas
dengan kondisi dan situasi di mana program itu akan dilaksanakan
2.PENILAIAN INPUT
(MASUKAN)
Memperoleh informasi dan menyajikan keterangan sebagai dasar
pemanfaatan sumber daya untuk pencapaian tujuanPENILAIAN PROSES
Mengetahui kekuatan/kelemahan rencana dan pelaksanaano
Memperoleh informasi untuk perbaikan, penyempurnaan, pengembangan
programPENILAIAN
3.OUTPUT
(KELUARAN-HASIL)
Menentukan
keberhasilan program dan dampaknya
Kurikulum
memiliki dimensi yang luas karena mencakup banyak hal.Aspek-aspek kegiatan
kurikulum dimulai dari perencanaan, pengembangan komponen, implementasi serta
hasil belajar dianggap sebagai ruang lingkup kajian evaluasi kurikulum. Dengan
demikian, evaluasi kurikulum mencakup semua aspek tersebut, artinya bahwa
evaluasi kurikulum merupakan suatu proses evaluasi terhadap kurikulum secara
keseuruhan baik yang bersifat makro atau ruang lingkup yang luas (ideal
curriculum) maupun lingkup mikro (actual curricuum) dalam bentuk pembelajaran.
Dimensi
evaluasi kurikulum mencakup dimensi program (tujuan, isi kurikulum dan pedoman
kurikulum) dan dimensi pelaksanaan (input, proses, output dan dampak).
1. Dimensi Program
a. Tujuan (institusional, kurikuler,
instruksional) yang terdiri dari : Lingkup abilitas/kompetensi,
kedalaman/keluasan tujuan, kesinambungan antar tujuan, relevansi antar tujuan,
rumusan kalimat.
b.Isi Kurikulum (Struktur, Komposisi, Jumlah
mata pelajaran, alokasi waktu) yang terdiri dari : Kesesuaian dengan tujuan,
scope dan sequence, sifat isi, esensi,
kesinambungan, organisasi, keseimbangan, dan kegunaan.
c.Pedoman Pelaksanaan yang terdiri dari : Proses
belajar-mengajar, sistem penilaian, administrasi dan supervisi, dan sumber
belajar.
2.Dimensi Pelaksanaan
a)Komponen Masukan
Masukan mentah (input peserta didik)
Komponen-
komponen yang ada didalam masukan mentah ini
yaitu : Jumlah peserta didik,
minat dan motivasi, kecakapan sebelumnya, dan bakat/potensi.
Masukan Alat yang terdiri dari :Bahan pelajaran/pelatihan, alat-alat pembelajaran, media dan sumber belajar, pengajar/pelatih (jumlah
dankualitasnya), Sistem
administrasi, dan prasarana
pendidikan.
Masukan Lingkungan yang terdiri dari :lingkungan social, lingkungan budaya, lingkungan geografis, dan lingkungan religius.
b) Komponen Proses
Interaksi
unsur-unsur masukan untukmencapai tujuan :
Peserta – Peserta
Peserta – Pengajar/pelatih
Peserta – Lingkungan
Pengajar – Pengajar
c) Komponen
Keluaran
Komponen
keluaran ini nantinya akan menghasilkan suatu perubahan tingkah laku
(kompetensi) setelah mengalami proses : pengetahuan, sikap/nilai, dan
keterampilan.
d) Komponen Dampak
Dampak yang
akan dirasakan oleh peserta didik di masyarakat /tempat kerja yaitu : Kemandirian, kemampuan intelektual, kemampuan social, moral, etos kerja, dsb.
Tujuan
evaluasi kurikulum dimaksudkan untuk memeriksa ketercapaian tujuan
pendidikan yang ingin diwujudkan melalui
kurikulum yang bersangkutan indikator kinerja yang akan dievaluasikan yang
merupakan efektivitas program.
Dalam
sebuah evaluasi harus berpatokan pada kurikulum atau silabi dan dirancang
secara jelas yaitu apa yang harus dinilai, materi penilaian, alat penilai, dan
interpretasi hasil penilaian.
Beberapa prinsip yang harus dipegang
dalam suatu pelaksanaan evaluasi pendidikan:
1. Keterpaduan.
Evaluasi
tersebut harus memegang pada prinsip-prinsip
keterpaduan atau keselarasan. Dimana ada kesesuaian antara tujuan
intruksional pengajaran tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, dan metode
pembelajaran.
2. Keterlibatan peserta didik
Dalam
sebuah prinsip evaluasi harus
memperhatikan keterlibatan peserta didik merupakan suatu hal yang mutlak,
karena keterlibatan peserta didik dalam evaluasi bukan alternatif dan
seluruhnya mempunyai keterkaitan yang erat.
3. Koherensi
Suatu
evaluasi pendidikan harus berkaitan dengan materi pembelajaran yang telah
dipelajari dan sesuai dengan ranah kemampuan peserta didik yang hendak
diukur.Dan keselarasan peseta didik dengan pembelajaran harus sesuai.
4. Pedagogis
Pedagogis
adalah seni dalam mengajar.Prinsip evaluasi pendidikan yang ketujuah adalah
perlu adanya alat penilai dari aspek pedagogis untuk melihat perubahan sikap
dan perilaku sehingga pada akhirnya hasil evaluasi mampu menjadi motivator bagi
diri siswa atau peserta didik.
5. Akuntabel
Sudah
semestinya hasil evaluasi haruslah menjadi alat akuntabilitas atau bahan
pertanggungjawaban bagi pihak yang berkepentingan seperti orangtua siswa,
sekolah, dan lainnya.
Yang harus diperhatikan agar mendapat
informasi yang akurat, diantaranya:
1. Dirancang secara jelas
abilitas
2.Penilaian hasil belajar menjadi bagian integral dalam proses belajar
mengajar.
3. Agar hasil penilaian obyektif, menggunakan penilaian yang
komprehensif.
4. Hasilnya hendaknya diikuti tindak lanjut.
5. Harus dibedakan antara penskoran (scoring)
dengan penilaian (grading)
6. Penilaian harus bersifat komparabel.
7. Sistem penilaian yang digunakan hendaknya bagi siswa dan juga guru.
Secara sederhana dalam penggambaran prinsip-prinsip evaluasi menyangkut
beberapa hal yang mesti diperhatikan diantaranya adalah sebagai berikut:
a. Kejelasan Tujuan adalah Menjabarkan segala proses dan
hasil pembelajaran yang dicapai
b.Realistik dapat dilaksanakan sesuai dengan situasi kondisi
dan kemampuan para siswa
c.Ekologi adalah memperhitungkan situasi dimana kurikulum
yang akan dilaksanakan
d.Operasional adalah merumuskan secara spesifik dan
terperinci segala sesuatu yang harus diukur
e.Klasifikasi merupakan Jenjang atau tingkatan, jenis
pendidikan, daya dukung, dan geografis
f.Keseimbangan merupakan Penilaian kurikulum yang ideal dan
aktual, mengenai komponen kurikulum yang mesti diperhatikan
g.Kontinuitas
merupakan penilaian yang harus dilakukan secara menyeluruh terhadap semua
program yang akan dilaksanakan.
1.Evaluasi Formatif : dilaksanakan apabila kegiatan evaluasi
diarahkan untuk memperbaiki bagian tertentu dari kurikulum yang sedang
dikembangkan.
2.Evaluasi Sumatif : dilaksanakan apabila kurikulum telah
dianggap selesai pengembangannya
(evaluasi terhadap hasil kurikulum).
Prosedur adalah langkah-langkah teratur dan tertib yang
harus ditempuh sesorang evaluator pada waktu melakukan evaluasi
kurikulum.Langkah-langkah tersebut merupakan tindakan yang harus dilakukan
evaluator sejak dari awal sampai akhir suatu kegiatan evaluasi.Prosedur yang
dikemukakan disini adalah hasil revisi dari prosedur, model, PSP yang
dikemukakan Storeange dan Helm (1992).
1.
Kajian terhadap evaluan
Langkah
pertama yang harus dilakukan evaluator terhadap kurikulum atau bentuk kurikulum
yang menjadi evaluannya.Tujuannya adalah untuk mendapatkan pemahaman terhadap
karakterisitk kurikulum. Evaluator harus mempelajari secara mendalam latar
belakang kelahiran suatu kurikulum, landan filsofi fan teoritis kurikulum
tersebut, ide kurikulum, model kurikulum yang digunakan untuk dokumen kurikulum,
proses pengembangan dokumen kurikulum, proses impelemtasi kurikulum, dan
evaluasi hasil belajar.
2. Pengembangan proposal
Berdasarkan
kajian yang dilakukan pada langkah pertama maka evaluator kemudian
mengembangkan proposalnya. Untuk itu maka evaluator memutuskan pendekatan dan
jenis evaluasi yang akan dilakukan. Evaluator dapat menentukan apakah yang akan
digunakannya adalah evaluasi kuantitatif ataukah evaluasi kualitatif. Tentu
saja berbagai faktor pribadinya seeprti pendidikan dan pandangan keilmuannya
akan sangat menentukan pendekatan metodologi yang akan digunakan.
3. Pertemuan atau diskusi proposal
dengan pengguna jasa evaluasi
Pertemuan
atau diskusi proposal dengan pengguna jasa evaluasi merupakan langkah penting
dan menentukan. Hasil diskusi dengan pengguna jasa akan menentukan apakah
proposal yang diajukan akan dapat ditindak lanjuti atau tidak. Jika evaluator
berhasil meyakinkan calon pengguna jasa evaluasi maka proposal yang diajukan
mungkin akan disetujui dan pekerjaan evaluasi akan dapat dilaksanakan. Artinya,
tidak ada pekerjaan evaluasi yang dilakukan berdasarkan proposal tersebut
4. Revisi Proposal
Revisi
proposal adalah tindak lanjut dari hasil pertemuan antara pengguna jas evaluasi
dengan evaluator.Apabila dalam pertemuan dan pembicaraan tersebut berbagai
kompenen harus direvisi maka adalah kewajiban evaluator untuk melakukan revisi
tersebut.Hasil revisi harus diperlihatkan kembali kepada pengguna jasa evaluasi
dan disetujui.Jika dari hasil diskusi pada pertemuan itu tidak ada hal yang
perlu direvisi maka langkah revisi ini dengan sendirinya tidak diperlukan.
5. Rekruitmen personalia
Rekruitmen
personalia untuk pekerjaan evaluasi mungkin 8saja dilakukan ketika proposal
disusun.Jika prosedur itu yang ditempuh maka rekruitmen dianggap sudah terjadi.
Dalam hal demikian maka pada proposal jumlah orang, nama serta kualifikasi
harus dicantumkan. Pencantuman itu akan memberikan nilai lebih pada proposal.
6. Pengurusan persyaratan
administrasi
Setiap
kegiatan yang berkenaan dengan evaluasi kurikulum memrlukan berbagai formalitas
administrasi.Evaluator harus mendapatkan persetjuan dari pengguna kurikulum,
pimpinan sekolah atau atasannya, dan mungkin juga dari pejabat yang terkait
dengan masalah keamanan sosial politik. Untuk itu diperlukan berbagai surat
seperti surat izin melakukan evaluasi, surat permohonan kesediaan menjadi
responden, surat identitas anggota t, dan sebagainya. Keberadaan surat ini
sangan penting dan sangat mutlak diperlukan.
7. Pengorganisasian pelaksanaan
Pengorganisasian
pelaksanaan adalah suatu kegiatan manajemenyang tingkat kerumitannya
ditentuakan oleh ruang lingkup pekerjaan evaluasi dan jumlah evaluator yang
terlibat. Semakin luas wilayah yang harus dievaluasi dan semakin banyak
evaluator yang harus dilibatkan maka semakin rumit pula pekerjaan management
yang harus dilakukan jika evaluasi itu hanya dilakukan oleh seorang maka
management tidak akan serumit jika evaluator terdiri dari sebuah tim.
8. Analisis data
Pekerjaan
analisis data tentu saja merupakan tindak lanjut setelah proses pengumpuilan
data evaluasi berhasil dilakukan. Ketika model yang digunakan adalah model
kuantitatif dan dengan demikian data utama evaluasiadalah data kuantitatif.
Proses dan tekhnik pengolahan data yang diakui dalam model kuatitatif harus
dilaksanakan.
9. Penulisan pelaporan
Penulisan
laporan sebagaimana halnya dengan analisis data, penulisan laporan harus
dilakukan oleh evaluator dan tim evaluator. Format laporn harus disesuaikan
dengan kesepakatan yang dilakukan pada waktu awal.
10. Pembahasan Laporan dengan
pemakai jasa
Pembahasan
ini diperlukan untuk melihat kelengkapan laporan.Dalam pembahasan ini jika
pengguna jasa memerlukan tambahan informasi yang memang tercantum dalam kontrak
maka adalah kewajiban evaluator untuk melengkapi laporan tersebut.
11. Penulisan laporan akhir
Penulisan
Laporan akhir adalah sebagai hasil dari revisi yang harus dilakukan evaluator
ketika terjadi pembahasan laporan dengan pengguna jasa.
L. Konsep Evaluasi Kurikulum
Secara
sederhana teori kurikulum dapat diklasifikasikan atas teori-teori yang lebih
menekankan pada isi kurikulum, pada situasi pendidikan serta pada organisasi
kurikulum.
Penekanan kepada isi kurikulum.Strategi pengembangan yang
menekankan isi, merupakan yang paling lama dan banyak dipakai, tetapi juga
harus mendapat penyempurnaan atau pembaharuan.
Faktor-faktor yang yeng mndorong
pembaharuan ini bermacam-macam:
1. Karena didorong oleh
tuntutan untuk menguatkan kembali nilai-nilai moral dan budaya dari masyarakat.
2. Karena perubahan dasar filosofis
tentang struktur pengetahuan.
3.Karena adanya tuntutan bahwa
kurikulum harus lebih beroriantasi pada pekerjaan.
Faktor-faktor
tersebut tidak timbul dari atau tidak ada hubungannya dengan sistem instuisi
persekolahan.pengetahuan sebagai isi kurikulum mempunyai nilai intrinsik,
sesuatu yang akan diwariskan, sesuatu yang baru atau diperbaharui. Pengembangan
kurikulum yang menekankan isibersifat material centered. Kurikulum ini
memandang murid sebagai penerima resep yang pasif.Secara teoritis kurikulum
yang menekankan isi dapat diukur, mempunyai tujuan yang apabila ilmu itubtelah
ditransfer pada siswa maka siswa dapat menguasainya.Ini merupakan engineering
approach.
Penekanan
pada situasi pendidikan. Tipe kurikulum ini ini lebih menekankan pada masalah
dimana (where), bersifat khusus, sangat memperhatikan dan disesuaikan dengan
lingkungannya. Tujuannya adalah menhasilkan kurikulum yang benar-benar
merefleksikan dunia kehidupan dari lingkingan anak.kurikulum yang menekankan pada
sirtuasi pendidikan akan sangat beraneka, dibandingkan dengan kurikulum yang
menekankan isi. Kurikulum ini bertujuan mencarai kesesuaian antara kurikulum
dengan situasi dimana pendidikan berlangsung. Sifat lain tipe ini adalah kurang
atau tidak menekankan pada spesifikasi isi dan organisasi, lebih menunjukkan
fleksibelitas dalam interpretasi dan pelaksanaannya. Kurikulum ini ruang
lingkupnya sangat sempit, masa pengembanganya juga juga relatif lebih singkat
daripada desiminasinya.Kalau kurikulum yang menekankan pada isi merupakan engineering
approach.Kurikulum yang menekankan pada situasi lebih mendekati gardening
approach.
Secara
teoritis, mengevaluasi kurikulum yang menekankan pada situasi yang
sulit.Perencanaan dan pembelajaran ini sangat beraneka, peranan guru dalam
mengembangkan dan menerapkan kreasinya sangat besar, sehingga cukup sulit
merancang alat penilaian yang dapat mencakup skala yang agak luas.
Penenkanan
pada organisasi.Tipe
kurikulum ini sangat menekankan pada proses belajar-mengajar. Meskipun dengan
berbagai perbedaan dan pertentangan, umpamanya anatara konsep sitem
instruksional (pengajaran berprogram, pengajaran modul, pengajaran dengan
bantuan komputer) denagn konsep pengajaran (perkembangan) dari Bruner dan Jean
Piaget, keduanya sangat memnpengaruhi perkembangan kurikulum tipe ini.
Perbedaan
yang sangat jelas antara kurikulum byang menenkankan organisasi dengan
kurikulum yang menekankan pada isi dan situasi, adalah memberikan perhatian
yang sangat besar kepada si peserta didik.
Tipe
kurikulum ini secara relatif lepas dari situasi lingkungan atau situatiaon
free.Kurikulum yang menekankan pada organisasi menolak pendapat bahwa
penguasaan pengetahuan merupakan alat untuk mencapai tujuan. Secara teoritis
penyusunan tes yang spesifik dapat dibuat,tetapi seperti telah diutarakan
di muka, isi kurikulum tidak spesifik, tujuannya dapat dicapai dengan
cara yang berbeda-beda. Jika penyusunan tes hasil belajar berdasarkan pada
tujuan, maka kurikulum yang menekankan pada organisasi, tesnya akan lebih
banyak mengukur tujuan-tujuan yang tinggi pada klasifikasi Bloom (analisis,
sintesis, dan evaluasi).
M.
Peranan Evaluasi Kurikulum dan Ujian
Peranan Evaluasi Kurikulum
Evaluasi kurikulum dapat dilihat
sebagai proses sosial institusi sosial. Evaluasi kurikulum sebagai institusi
sosial mempunyai asal-usul, sejarah, struktur serta interest sendiri.
Peranan evalausi kebijaksanaan dalam
kurikulum khususnya pendididkan umumnya minimal berkenaan dengan tiga hal:
1.Evaluasi sebagai moral
judgement. Konsep utama dalam evaluasi adalah nilai. Hasil dari suatu
evaluasi berisi suatu nilai yang akan du=igunakan untuk tindakana selanjutnya.
Hal ini mengandung dua pengertian, pertama evaluasi berisi suatu skala nilai
moral, berdasarkan skala tersebut suatu objek evaluasi dapat dinilai.Kedua,
evaluasi berisi suatu perangkat kriteria prkatis berdasarkan kriteria-kriteria
tersebut suatu hasil dapat dinilai.
Evaluasi bukan merupakan suatu
proses tunggal, minimal me;iputa dua kegiatan, yaitu pertama mengumpulkan
informasi dan kedua menentukan suatu keputusan.
Dalam evaluasi kurikulum salah satu
hal yang sering menjadi inti perdebatan antara para ahli adalah pemisah antara
pengumpulan dan penyusunan informasi dengan penentu keputusan. Daniel
Stufflebeam (1971) merumuskan evaluation is the process of delineating,
obtaining and providing useful information for delineating, obttaining and
providing useful information for judging decision alternatif. Stake (1976)
dari Universitas Illions merumuskan evaluation is an observed value compared
to some standard. Michael Scriven (1961) dari Universitas Indiana,
memeberikan perumusan tentang tugas evaluator, it’s (the evaluator’s) task
is to try very hard to condense all the mass of data into one word: good or
bad.
Kutipan-kutipan diatas bukan saja
melukiskan perbedaan tekanan pada pengumpulan informasi atau pada
penentuan keputusan, tetapi juga memperlihatkan adanya perbeedaan karakterisik,
mereka yang lebih menekankan pengumpulan informasi memandang terlepas atau
tidak melibatkan nilai-nilai.
Pemisahan antara pengumpulan
informasi dengan penentuan keputusan merupakan salah satu karakteristik
instruksional, hal ini dipengaruhi oleh kebiasaan pemisahan pekerjaan
administrator dan peneliti.Dalam pendidikan perbedaan formal tersebut tidak ada,
pengumpul data adalah pengambil keputusan juga.
2.Evaluasi dan penentu keputusan.
Pengambil keputusan dalam pelaksanaan pendidikan atau kurikulum itu banyak,
yaitu: guru, murid, orang tua, kepala sekolah, para inspektur, pengembang
kurikulum, dan sebagainya. Pada prinsipnya tiap individu diatas memegang
memebuat keputusan sesuai dengan posisinya.Murid mengambil keputusan sesuai
dengan posisinya sebagai murid. Guru mengambil keputusan sesuai dengan
posisinya sebagai guru. Besar atau kecilnya peranan keputusan yang diambil oleh
seseorang sesuai dengan lingkup tanggung jawabnyaserta lingkup masalah yang
dihadapainya pada suatu saat.Contohnya. Bebrpa evaluasi menjadi bahan
pertimbangan bagi murid untuk mengambil keputusan apakh ia harus lebih rajin
belajar atau tidak, apakah ia harus memilih jurusan IPA atau IPS, dan
sebagainy. Dengan kata lain penentu keputusan yang diambil oleh murid, sebagian
besar adalah berkenaan dengan kepentingan dirinya.
Lain
halnya dengan keputusan yang diambil oleh seorang guru, ia mengambil keputusan
bagi kepentingan seorang atau beberapa murid, atau dapat pula mengambil
keputusan bagi seluruh murid. Demikian juga lingkup keputusan yang diambil oleh
kepala sekolah, inspektur, pengembang kurikulum dan sebagainya berbeda-beda.
Jadi, tiap pengambil keputusan dalam dalam proses evaluasi memegang posisi
nilai yang berbeda, sesuai dengan posisinya. Salah satu kesulitan yang dihadapi
dalam penggunaan hasil evaluasi bagi pengambilan keputusan adalah hasil
evaluasi yang diterima oleh berbagai pihak pengambil keputusan adalah sama.
Lalu masalah yang timbul aalah “apakah hasil evaluasi itu dapat bemanfaat bagi
semua pihak”??sudah tentu jawabannya belum tentu. Suatu informasi mungkin
lebih bermanfaat bagi pighak tertentu, tetapi kurang bermanfaat bagi pihak yang
lain dan seterusnya.
3. Evaluasi dan Konsensus
nilai. Dalam berbagai situasi pendidikan serta kegiatan pelaksanaan
evaluasi kurikulum srjumlah nilai-nilai dibawakan oleh orang-orang yang turut
terlibat (berpatisipasi) dalam kegiatan penilaian atau evaluasi. Para
paritisipan dalam evaluasi pendidikan adalah: orang tua, murid, guru,
pengembang kurikulumadministrator, dan sebagainya. Bagaimana caranya agar
diantara mereka tersebut ada kesatuan penilaian.Kesatuan penilaian hanya dpat
dicapai melalui suatu konsensus.
Secara
historis konsensus nilai dalam evaluasi kurikulum berasal dari tradisi tes
mental serta eksperimen. Konsensus tersebut berupa kerangka penilaian kerja
penilaian, yang dipusatkan pada tujuan-tujuan khusus, pengukuran prestasi belajar
yang bersifat behavioral, penggunaan analisis statistik dari pre test (input)
dan post test (output) dan lain-lain. Model penelitian diatas merupaka suatu social
engeneering atau system approach dalam pendidikan. Dalam model
penelitian tersebut keseluruhan kegiatan dapat digambarakan dalam suatu flow
chart yang merumuskan secara operasional input (pre test) dengan
cara-cara kegiatan (treatment) serta output (post test).
Model diatas mendapatkan beberapa
kritik, tetapi kritik atau kesulitan tersebut yang paling utama adalah dalam
merumuskan tujuan-tujuan khusus yang dapat diterima oleh seluruh pasrtisipan
evaluasi kurikulum serta perencanaan kurikulum.Dan juga diantara partisipan
harus ada persetujuan tentang tujuan-tujuan mana yang paling penting dan siapa
diantara partisipasan tersenut yang turut terlibat secara langsung dalam
penggunaan model tersebut.
Tanpa adanya persetujuan tentang
hal-hal tersebut maka sukar untuk dapat menyusun flow chart yang
definitif. Model system approach atau model social engineering bersifat
goal based evaluation, karena bertitik tolak pada dari tujuan-tujuan
khusus. Karena model ini memepunyai banyak keberatan, maka berkembang model
evaluasi yang lain yang bersifat goal free evaluation.
Pendekatan evaluasi yang bersifat goal
free ini bertolak dari sikap budaya yang majemuk (cultural pluralism).
Sikap kebudayaan yang majemuk mempunyai dasar relativ, memandang bahwa tiap
pandangan sama baiknya. Dalam evaluasi kurikulum sudah tentu pandangan ini
mempunyai kesulitan yang cukup besar, sebab alat-alat evaluasi yang digunakan
bertolak dari dari posisi nilai yang berbeda.Dengan demikian evaluasi bersifat
relatif.
Ujian sebagai Evaluasi
Menguji adalah mengevaluasi
kemampuan individu. Dengan adanya ujian-ujian tersebut, maka jenis-jenis
kemampuan tertentu dipandang menunjukkan status lebih tinggi dibandingkan
dengan kemampuan lainnya.
Ujian bukan saja menunjukkan nilai
pengetahuan atau kemampuan secara sosial.Tetapi juga telah merupakan peraturan
dari sekolah.Sistem ujian yang mempunyai nilai historis ini juga digunakan
untuk mengontrol efiensi dan efektivitas pelaksanaan sekolah.Apakah sistem ini
dipandang baik atau jelek bergantung pada pandangan yang menggunakannya.
Sistem
ujian sperti diatas, lebih banyak digunakan untuk mengukur atau menguji
kemampuan individu-individu (siswa). Untuk menilai gambaran sekolah secara
keseluruhan, yaitu menilai tentang keadaan murid, guru, kurikulum,
pembiayaan sekolah, fasilitas sekolah, keseragaman sekolah,
penyusanan rancangan dan pemeliharaan sekolah diperlukan sistem
pengumpulan data serta penilaian yang lain. Kalau untuk mengukur kemampuan
siswa digunakan istilah examination atau assessment maka untuk
penilaian keseluruhan situasi sekolah atau kurikulum lebih tepat digunakan
istilah evaluation.
Barry
Mc Donald (1975), mendasarkan argumentasinya pada anggapan dasar bahwa evaluasi
merupakan kegiatan politik. Ia membedakan adanya tiga tipe evaluasi dalam
pendidikan dan kurikulum, yaitu evaluasi birokraktik, evaluasi otokratik,
evaluasi demokratik.
Evaluasi
birokratik,
merupakan suatu layanan yang bersifat unconditional terhadap
lembaga-lembaga pemerintah yang memiliki kontrolt terbesar dalam alokasi
sumber-sumber pendidikan.Prinsip utama evaluasi birokratik adalah pelayan (service),
penggunaan (utility), dan efesiensi (efficiency).
Evaluasi
otokratik, merupakan
layanan evaluasi terhadap lembaga-lembaga pemerintah yang mempunyai wewenang
kontrol cukup besar dalam mengalokasikan sumber-sumber pendidikan. Konsep
utama evaluator otokratik adalah yang bersifat prinsipil dan objektif (principles
and objectivity).
Evaluasi
demokratik, merupakan
layanan pemberian informasi terhadap masyarakat, tentang program-program pendidikan.Konsep
utama evaluator demokratis adalah kerahasiaan, musyawarah, dan ketercapaian
sasaran (confidentiality, negosiasi, and accessibility).
N.Model-model Evaluasi Kurikulum
1.Evaluasi Model Penelitian
Model
evaluasi kurikulum yang menggunakan model penelitian adalah didasarkan atas
teori dan metode tes psikologis serta eksperimen lapangan.
Tes
psikologis atau tes psikomotorik pada umumnya mempunyai dua bentuk, yaitu tes
intelegensi yang ditujukan untuk mengukur kemampuan bawaan, serta tes hasil
belajar yang mengukur prilaku skolastik.
Eksperimen
lapangan digunakan dalam pendidikan sejak tahun 1930 dengan menggunakan metode
yang biasa digunakan dlam penelitian botani pertanian.Para ahli botani
pertanian mengadakan percobaan untuk mengetahui produktivitas bermacam-macam
benih.
Model
eksperimen dalam botani pertanian dapat digunakan dalam pendidikan, anak dapat
disamakan dengan benih, sedang kurikulum serta berbagai fasilitas serta sistem
sekolah disamakan dengan tanah dan pemeliharaannya.Untuk mengetahui tingkat
kesuburan benih (anak) serta hasil yang dicapai pada akhir program percobaan
dapat digunakan tes (pre test dan post test). Ada beberpa kesulitan yang
dihadapi dalam eksperimen tersebut, yaitu :
Kesulitan administratif,
sedikit sekali sekolah yang bersedia dijadikan sekolah eksperimen .
Masalah teknik dan logis,
yaitu kesulitan menciptakan kondisi kelas yang sama untuk kelompok-kelompok
yang diuji.
Sulit mencampurkan guru-guru
untuk mengajar pada kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol, pengaruh
guru-guru tesebut sulit dikontrol.
Adanya keterbatasan mengenai
manipulasi eksperimen yang dapat dilakukan.
2. Evaluasi Model Objektif
Evaluasi
model objektif (model tujuan) berasal dari Amerika Serikat. Ada beberapa
persyaratan yang harus dipenuhi oleh tim pengembang model objektif:
a. Ada kesepakatan tentang
tujuan-tujuan kurikulum.
b.Merumuskan tujuan-tujuan tersebut
dalam perbuatan siswa.
c.Menyusun materi kurikulum
yang sesuai dengan tujuan tersebut.
d.MEngukur kesesuaian antara prilaku
siswa dengan hasil yang diinginkan.
Pada
tahun 1950-an Benyamin S. Bloom dengan kawan-kawannya menyususn klasifikasi
sistem tujuan yang meliputi daerah-daerah belajar (cognitif domain).
Mereka membagi proses mental yang berhubungan dengan belajar tersebut
dalam 6 kategori, yaitu knowladge, comprehension, application, analysis,
synthesis dan evaluation. Mereka membagi-bagi lagi tujuan-tujuan tersebut
pada sub-tujuan yang lebih khusus.
Sistem
pengajaran yang terkenal adalah IPI (individually Prescribed Instruction), suatu
program yang dikembangkan oleh Learning Research and Development Centre
Universitas Pittsburg. Dalam IPI anak mengikuti kurikulum yang memiliki tujuh
unsur:
a.Tujuan-tujuan pengajaran yang disusun
dalam daerah-daerah, tingkat-tingkat dan unit-unit.
b.Suatu prosedur program testing.
c.Pedoman prosedur penulisan.
d.Materi dan alat-alat pengajaran.
e.Kegiatan guru dalam kelas.
f.Kegiatan murid dalam kelas, dan
g.Prosedur pengelolaan kelas.
Tes
untuk mengukur prestaasi belajar anak merupakan bagian integral dari
kurikulum.Untuk mengikuti program pendidikan, siswa harus mengambil dulu tes
penempatan, untuk menentukan dimana mereka harus mulai belajar. Kemajuan siswa
dimonitor oleh guru dengan memberikan tes yang mengukur tingkat penguasaan
tujuan-tujuan khusus melalui pre test dan post test. Siswa dianggap menguasai
suatu unit bila memperoleh skor minimal 80.Bila ini sudah dikuasai berarti
penguasaan siswa sudah sesuai kriteria.
3. Model Campuran Multivariasi
Evaluasi
model perbandingan (comparative approach) dan model Tylor dan Bloom
melahirkan evaluasi model campuran multivariasi, yaitu strategi evaluasi yang
menyatukan unsur-unsur dari kedua pendekatan tersebut.
O.
Bahan Ajar
1.
Pengertian Bahan Ajar
Bahan Ajar
atau learning material, merupakan materi ajar yang dikemas sebagai bahan untuk
disajikan dalam proses pembelajaran. Bahan pembelajaran dalam penyajiannya
berupa deskripsi yakni berisi tentang fakta-fakta dan prinsip-prinsip, norma
yakni berkaitan dengan aturan, nilai dan sikap, serta seperangkat
tindakan/keterampilan motorik. Dengan demikian, bahan pembelajaran pada
dasarnya berisi tentang pengetahuan, nilai, sikap, tindakan dan keterampilan
yang berisi pesan, informasi, dan ilustrasi berupa fakta, konsep, prinsip, dan
proses yang terkait dengan pokok bahasan tertentu yang diarahkan untuk mencapai
tujuan pembelajaran.
Dilihat dari aspek fungsi, bahan pembelajaran dapat
dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu sebagai sumber belajar yang dimanfaatkan
secara langsung dan sebagai sumber belajar yang dimanfaatkan secara tidak
langsung. Sebagai sumber belajar yang dimanfaatkan langsung, bahan pembelajaran
merupakan bahan ajar utama yang menjadi rujukan wajib dalam pembelajaran.
Contohnya adalah buku teks, modul, handout, dan bahan-bahan panduan utama
lainnya. Bahan pembelajaran dikembangkan mengacu pada kurikulum yang berlaku,
khususnya yang terkait dengan tujuan dan materi kurikulum seperti kompetensi,
standar materi dan indikator pencapaian.
Sebagai sumber belajar yang dimanfaatkan secara tidak
langsung, bahan pembelajaran merupakan bahan penunjang yang berfungsi sebagai
pelengkap. Contohnya adalah buku bacaan, majalah, program video, leaflet,
poster, dan komik pengajaran. Bahan pembelajaran ini pada umumnya disusun di
luar lingkup materi kurikulum, tetapi memiliki keterkaitan yang erat dengan
tujuan utamanya yaitu memberikan pendalaman dan pengayaan bagi siswa.
2. Peran
Bahan Pembelajaran dalam Proses Pembelajaran
Proses pembelajaran merupakan suatu rangkaian kegiatan
aktifitas dalam upaya pewujudan kompetensi siswa, dibangun oleh berbagai unsur,
yaitu unsur raw input (siswa) yang akan diproses/dibentuk kompetensinya,
instrumental input (terdiri dari tujuan, materi berupa bahan ajar, media
dan perangkat evaluasi) yang berfungsi sebagai perangkat yang akan memproses
pembentukan kompetensi, serta perangkat lingkungan (environmental input),
seperti lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat, yang turut mempengaruhi
keberhasilan pencapaian kompetensi.
Bahan pembelajaran dalam proses pembelajaran dengan
demikian menempati posisi penting dalam proses pembelajaran, hal tersebut
karena bahan ajar merupakan materi yang akan disampaikan/disajikan. Tanpa bahan
ajar mustahil pembelajaran akan terwujud. Tepat tidaknya, sesuai tidaknya bahan
ajar dengan tujuan dan kompetensi yang diharapkan akan menentukan tercapai
tidaknya tidaknya tujuan kompetensi pembelajaran yang diharapkan.
Berdasarkan uraian tersebut, bahan ajar merupakan inti
dari kurikulum yang berfungsi sebagai alat pencapaian tujuan dalam proses
pembelajaran. Secara lebih rinci, peran bahan ajar bagi guru, siswa dan pihak
terkait:
a.
Peran bahan pembelajaran bagi guru
1)
Wawasan bagi guru untuk pemahaman substansi secara
komprehensi.
2)
Sebagai bahan yang akan digunakan dalam proses
pembelajaran.
3)
Mempermudah guru dalam mengorganisasikan pembelajaran
di kelas.
4)
Mempermudah guru dalam penentuan metoda pembelajaran
yang tepat serta sesuai kebutuhan siswa.
5)
Merupakan media pembelajaran.
6)
Mempermudah guru dalam merencanakan penilaian
pembelajaran.
b.
Peran bahan pembelajaran bagi siswa
1)
Sebagai pegangan siswa dalam penguasaan materi
pelajaran untuk mencapai kompetensi yang dicanangkan.
2)
Sebagai informasi atau pemberi wawasan secara mandiri
di luar yang disampaikan oleh guru di kelas.
3)
Sebagai media yang dapat memberikan kesan nyata
berkaitan dengan materi yang harus dikuasai.
4)
Sebagai motivator untuk mempelajari lebih lanjut
tentang materi tertentu.
5)
Mengukur keberhasilan penguasaan materi pembelajaran
secara mandiri.
c.
Peran pembelajaran bagi pihak terkait
1)
Dapat mendorong pihak terkait untuk memfasilitasi
pengadaan bahan pembelajaran yang dibutuhkan guru dan murid di sekolah.
2)
Dapat meberi masukan kepada guru atau penyusun bahan
pembelajaran agar bahan pembelajaran tersebut sesuai dengan kebutuhan siswa
dengan segenap lingkungannya.
3)
Dapat membantu dalam pemilihan dan penetapan media
serta alat pembelajaran lainnya yang mendukung keberhasilan penguasaan bahan
pembelajaran oleh siswa.
4)
Sebagai alat pemberian reward (penghargaan) terhadap
guru yang secara kreatif menyusun serta mengembangkan bahan pembelajaran.
3.
Karakteristik Bahan Ajar
Suatu bahan pembelajaran yang baik memiliki ciri-ciri
tertentu. Ciri yang melekat pada bahan ajar yang disajikan (disusun) merupakan
ciri khas yang membedakan antara bahan pembelajaran yang baik dengan bahan
pembelajaran yang tidak baik.
Bahan pembelajaran yang baik memenuhi syarat
substansial dan penyajian sebagai berikut:
a. Secara substansial
bahan pembelajaran harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
1. Sesuai dengan visi dan
misi sekolah
Visi
merupakan wawasan jauh ke depan yang menunjukkan arah bagi pencapaian tujuan.
Sedangkan misi merupakan gambaran tentang apa yang seharusnya dilakukan oleh
lembaga, dalam hal ini sekolah/madrasah. Visi dan misi sekolah dalam
pencapaiannya diwujudkan melalui proses pembelajaran, sedangkan proses
pembelajaran dibangun diantaranya karena adanya bahan pembelajaran. Oleh karena
itu bahan pembelajaran yang disusun harus sesuai dengan visi, misi, karena
bahan pembelajaran itu sendiri merupakan sarana materi yang akan disampaikan
pada siswa dalam upaya mencapai visi dan misi sekolah.
2. Sesuai dengan kurikulum
Kurikulum
yang dimaksud adalah seperangkat program yang harus ditempuh siswa dalam
penyelesaian pendidikannya. Paling tidak, secara sempit kurikulum meliputi
aspek tujuan/kompetensi, indikator hasil materi, metoda dan penilaian yang
digunakan dalam proses pembelajaran. Bahan ajar, dalam hal ini merupakan
pengembangan materi pembelajaran hendaknya senantiasa sesuai dengan
tujuan/kompetensi, materi dan indikator keberhasilan.
3. Menganut azas ilmiah
Ilmiah
yang dimaksud adalah bahan ajar tersebut disusun dan disajikan secara
sistematis (terurai dengan baik) metodologis (sesuai dengan kaidah-kaidah
penulisan).
4. Sesuai dengan kebutuhan
siswa
Bahan
ajar merupakan hal yang harus dicerna dan dikuasai siswa. Dengan demikian bahan
ajar disusun semata-mata untuk kepentingan siswa. Oleh karena itu, maka bahan
ajar yang disusun hendaknya sesuai dengan kebutuhan siswa, yaitu sesuai dengan
tingkat berpikir, minat, latar sosial budaya dimana siswa itu berada.
b. Memenuhi kriteria
penyajian, yang meliputi:
1)
Memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi
Bahan
pembelajaran yang disusun hendaknya memiliki derajat keterbacaan yang tinggi,
dalam arti bahasa yang disajikan menggunakan struktur kalimat dan kosa kata
yang baik, bentuk kalimat sesuai tata bahasa, dan isi pesan yang disampaikan
melalui huruf, gambar, photo dan ilustrasi lainnya memiliki kebermaknaan yang
tinggi.
2)
Penyajian format dan fisik bahan pembelajaran yang
menarik
Format dan fisik bahan pembelajaran juga harus diperhatikan. Format dan fisik buku ini berkaitan dengan tata letak (layout), penggunaan model dan ukuran huruf, warna, gambar komposisi, kualitas dan ukuran kertas, penjilidan, dan sebagainya. Format dan fisik bahan ajar sebenarnya merupakan tanggung jawab penerbit (bila bahan ajar tersebut diterbitkan), tetapi sebaiknya penulis memiliki gagasan bagaimana format dan fisik bahan ajar yang diinginkan.
Format dan fisik bahan pembelajaran juga harus diperhatikan. Format dan fisik buku ini berkaitan dengan tata letak (layout), penggunaan model dan ukuran huruf, warna, gambar komposisi, kualitas dan ukuran kertas, penjilidan, dan sebagainya. Format dan fisik bahan ajar sebenarnya merupakan tanggung jawab penerbit (bila bahan ajar tersebut diterbitkan), tetapi sebaiknya penulis memiliki gagasan bagaimana format dan fisik bahan ajar yang diinginkan.
BAB III
METODE PENELITIAN
A.
PENDEKATAN PENELITIAN
Metode
Penelitian Kualitatif
Dalam penelitian sosial, masalah penelitian, tema, topik,
dan judul penelitian berbeda secara kualitatif maupun kuantitatif. Baik
substansial maupun materil kedua penelitian itu berbeda berdasarkan filosofis
dan metodologis. Masalah kuantitatif lebih umum memiliki wilayah yang luas,
tingkat variasi yang kompleks namun berlokasi dipermukaan. Akan tetapi
masalah-masalah kualitatif berwilayah pada ruang yang sempit dengan tingkat
variasi yang rendah namun memiliki kedalaman bahasan yang tak terbatas.
Pendekatan kualitatif adalah suatu proses penelitian dan pemahaman yang berdasarkan pada metodologi yang menyelidiki suatu fenomena sosial dan masalah manusia. Pada pendekatan ini, peneliti membuat suatu gambaran kompleks, meneliti kata-kata, laporan terinci dari pandangan responden, dan melakukan studi pada situasi yang alami (Creswell, 1998:15). Bogdan dan Taylor (Moleong, 2007:3) mengemukakan bahwa metodologi kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis maupun lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati.
Penelitian kualitatif dilakukan pada kondisi alamiah dan bersifat penemuan. Dalam penelitian kualitatif, peneliti adalah instrumen kunci. Oleh karena itu, peneliti harus memiliki bekal teori dan wawasan yang luas jadi bisa bertanya, menganalisis, dan mengkonstruksi obyek yang diteliti menjadi lebih jelas. Penelitian ini lebih menekankan pada makna dan terikat nilai. Penelitian kualitatif digunakan jika masalah belum jelas, untuk mengetahui makna yang tersembunyi, untuk memahami interaksi sosial, untuk mengembangkan teori, untuk memastikan kebenaran data, dan meneliti sejarah perkembangan.
B. Sistematika Penelitian Kualitatif
Judul
Abstrak
Kata Pengantar
Daftar Isi
Daftar Gambar
Bab I Pendahuluan
Konteks Penelitian
Fokus Kajian Penelitian
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Bab II Perspektif Teoritis dan Kajian Pustaka
Bab III Metode Penelitian
Pendekatan
Batasan Istilah
Unit Analisis
Deskripsi Setting Penelitian
Pengumpulan Data
Analisis Data
Keabsahan data
Bab IV Hasil dan pembahasan
Bab VI Kesimpulan dan saran
Daftar pustaka
Lampiran
Penjelasan secara ringkas keseluruhan unsur yang ada dalam penelitian kualitatif, yaitu:
Pendekatan kualitatif adalah suatu proses penelitian dan pemahaman yang berdasarkan pada metodologi yang menyelidiki suatu fenomena sosial dan masalah manusia. Pada pendekatan ini, peneliti membuat suatu gambaran kompleks, meneliti kata-kata, laporan terinci dari pandangan responden, dan melakukan studi pada situasi yang alami (Creswell, 1998:15). Bogdan dan Taylor (Moleong, 2007:3) mengemukakan bahwa metodologi kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis maupun lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati.
Penelitian kualitatif dilakukan pada kondisi alamiah dan bersifat penemuan. Dalam penelitian kualitatif, peneliti adalah instrumen kunci. Oleh karena itu, peneliti harus memiliki bekal teori dan wawasan yang luas jadi bisa bertanya, menganalisis, dan mengkonstruksi obyek yang diteliti menjadi lebih jelas. Penelitian ini lebih menekankan pada makna dan terikat nilai. Penelitian kualitatif digunakan jika masalah belum jelas, untuk mengetahui makna yang tersembunyi, untuk memahami interaksi sosial, untuk mengembangkan teori, untuk memastikan kebenaran data, dan meneliti sejarah perkembangan.
B. Sistematika Penelitian Kualitatif
Judul
Abstrak
Kata Pengantar
Daftar Isi
Daftar Gambar
Bab I Pendahuluan
Konteks Penelitian
Fokus Kajian Penelitian
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Bab II Perspektif Teoritis dan Kajian Pustaka
Bab III Metode Penelitian
Pendekatan
Batasan Istilah
Unit Analisis
Deskripsi Setting Penelitian
Pengumpulan Data
Analisis Data
Keabsahan data
Bab IV Hasil dan pembahasan
Bab VI Kesimpulan dan saran
Daftar pustaka
Lampiran
Penjelasan secara ringkas keseluruhan unsur yang ada dalam penelitian kualitatif, yaitu:
- Judul, singkat dan jelas serta mengisyaratkan fenomena dan fokus kajian penelitian. Penulisan judul sedapat mungkin menghindari berbagai tafsiran yang bermacam-macam dan tidak bias makna.
- Abstrak, ditulis sesingkat mungkin tetapi mencakup keseluruhan apa yang tertulis di dalam laporan penelitian. Abstrak penelitian selain sangat berguna untuk membantu pembaca memahami dengancepat hasil penelitian, juga dapat merangsang minat dan selera orang lain untuk membacanya.
- Perspektif teoritis dan kajian pustaka, perspektif teori menyajikan tentang teori yang digunakan sebagai perpektif baik dalam membantumerumuskan fokus kajian penelitian maupun dalam melakukan analisis data atau membahas temuan-temuan penelitian. Sementara kajian pustaka menyajikan tentang studi-studi terdahulu dalam konteks fenomena dan masalah yang sama atau serupa.
- Metode yang digunakan, menyajikan secara rinci metode yang digunakan dalam proses penelitian.
- Temuan–temauan penelitian, menyajikan seluruh temuan penelitian yang diorganisasikan secara rinci dan sistematis sesuai urutan pokok masalah atau fokus kajian penelitian. Temuan-temuan penelitian yang disajikan dalam laporan penelitian merupakan serangkaian fakta yang sudah direduksi secara cermat dan sistematis, dan bukan kesan selintas peneliti apalagi hasil karangan atau manipulasi peneliti itu sendiri.
- Analisis temuan– temuan penelitian. Hasil temuanmemrlukan pembahasan lebih lanjut dan penafsiran lebih dalam untuk menemukan makna di balik fakta. Dalam melakukan pembahasan terhadap temuan-temuan penelitian, peneliti harus kembali mencermati secara kritis dan hati-hati terhadap perspektif teoritis yang digunakan.
C. Jenis-jenis Penelitian Kualitatif
Penelitian kualitatif memiliki 5 jenis penelitian, yaitu:
1. Biografi
Penelitian biografi adalah studi tentang individu dan pengalamannya yang dituliskan kembali dengan mengumpulkan dokumen dan arsip-arsip. Tujuan penelitian ini adalah mengungkap turning point moment atau epipani yaitu pengalaman menarik yang sangat mempengaruhi atau mengubah hidup seseorang. Peneliti menginterpretasi subjek seperti subjek tersebut memposisikan dirinya sendiri.
2. Fenomenologi
Penelitian fenomenologi mencoba menjelaskan atau mengungkap makna konsep atau fenomena pengalaman yang didasari oleh kesadaran yang terjadi pada beberapa individu. Penelitian ini dilakukan dalam situasi yang alami, sehingga tidak ada batasan dalam memaknai atau memahami fenomena yang dikaji. Menurut Creswell (1998:54), Pendekatan fenomenologi menunda semua penilaian tentang sikap yang alami sampai ditemukan dasar tertentu. Penundaan ini biasa disebut epoche (jangka waktu). Konsep epoche adalah membedakan wilayah data (subjek) dengan interpretasi peneliti. Konsep epoche menjadi pusat dimana peneliti menyusun dan mengelompokkan dugaan awal tentang fenomena untuk mengerti tentang apa yang dikatakan oleh responden.
3. Grounded theory
Walaupun suatu studi pendekatan menekankan arti dari suatu pengalaman untuk sejumlah individu, tujuan pendekatan grounded theory adalah untuk menghasilkan atau menemukan suatu teori yang berhubungan dengan situasi tertentu . Situasi di mana individu saling berhubungan, bertindak, atau terlibat dalam suatu proses sebagai respon terhadap suatu peristiwa. Inti dari pendekatan grounded theory adalah pengembangan suatu teori yang berhubungan erat kepada konteks peristiwa dipelajari.
4. Etnografi
Etnografi adalah uraian dan penafsiran suatu budaya atau sistem kelompok sosial. peneliti menguji kelompok tersebut dan mempelajari pola perilaku, kebiasaan, dan cara hidup. Etnografi adalah sebuah proses dan hasil dari sebuah penelitian. Sebagai proses, etnografi melibatkan pengamatan yang cukup panjang terhadap suatu kelompok, dimana dalam pengamatan tersebut peneliti terlibat dalam keseharian hidup responden atau melalui wawancara satu per satu dengan anggota kelompok tersebut. Peneliti mempelajari arti atau makna dari setiap perilaku, bahasa, dan interaksi dalam kelompok.
5. Studi kasus
Penelitian studi kasus adalah studi yang mengeksplorasi suatu masalah dengan batasan terperinci, memiliki pengambilan data yang mendalam, dan menyertakan berbagai sumber informasi. Penelitian ini dibatasi oleh waktu dan tempat, dan kasus yang dipelajari berupa program, peristiwa, aktivitas, atau individu.
D. Metode Pengumpulan Data
Beberapa metode pengumpulan data dalam penelitian kualitatif, yaitu:
1. Wawancara
Wawancara merupakan alat re-cheking atau pembuktian terhadap informasi atau keterangan yang diperoleh sebelumnya. Tehnik wawancara yang digunakan dalam penelitian kualitatif adalah wawancara mendalam. Wawancara mendalam (in–depth interview) adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan informan atau orang yang diwawancarai, dengan atau tanpa menggunakan pedoman (guide) wawancara, di mana pewawancara dan informan terlibat dalam kehidupan sosial yang relatif lama.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan seorang peneliti saat mewawancarai responden adalah intonasi suara, kecepatan berbicara, sensitifitas pertanyaan, kontak mata, dan kepekaan nonverbal. Dalam mencari informasi, peneliti melakukan dua jenis wawancara, yaitu autoanamnesa (wawancara yang dilakukan dengan subjek atau responden) dan aloanamnesa (wawancara dengan keluarga responden). Beberapa tips saat melakukan wawancara adalah mulai dengan pertanyaan yang mudah, mulai dengan informasi fakta, hindari pertanyaan multiple, jangan menanyakan pertanyaan pribadi sebelum building raport, ulang kembali jawaban untuk klarifikasi, berikan kesan positif, dan kontrol emosi negatif.
2. Observasi
Beberapa informasi yang diperoleh dari hasil observasi adalah ruang (tempat), pelaku, kegiatan, objek, perbuatan, kejadian atau peristiwa, waktu, dan perasaan. Alasan peneliti melakukan observasi adalah untuk menyajikan gambaran realistik perilaku atau kejadian, untuk menjawab pertanyaan, untuk membantu mengerti perilaku manusia, dan untuk evaluasi yaitu melakukan pengukuran terhadap aspek tertentu melakukan umpan balik terhadap pengukuran tersebut.
Bungin (2007: 115) mengemukakan beberapa bentuk observasi yang dapat digunakan dalam penelitian kualitatif, yaitu observasi partisipasi, observasi tidak terstruktur, dan observasi kelompok tidak terstruktur.
Penelitian kualitatif memiliki 5 jenis penelitian, yaitu:
1. Biografi
Penelitian biografi adalah studi tentang individu dan pengalamannya yang dituliskan kembali dengan mengumpulkan dokumen dan arsip-arsip. Tujuan penelitian ini adalah mengungkap turning point moment atau epipani yaitu pengalaman menarik yang sangat mempengaruhi atau mengubah hidup seseorang. Peneliti menginterpretasi subjek seperti subjek tersebut memposisikan dirinya sendiri.
2. Fenomenologi
Penelitian fenomenologi mencoba menjelaskan atau mengungkap makna konsep atau fenomena pengalaman yang didasari oleh kesadaran yang terjadi pada beberapa individu. Penelitian ini dilakukan dalam situasi yang alami, sehingga tidak ada batasan dalam memaknai atau memahami fenomena yang dikaji. Menurut Creswell (1998:54), Pendekatan fenomenologi menunda semua penilaian tentang sikap yang alami sampai ditemukan dasar tertentu. Penundaan ini biasa disebut epoche (jangka waktu). Konsep epoche adalah membedakan wilayah data (subjek) dengan interpretasi peneliti. Konsep epoche menjadi pusat dimana peneliti menyusun dan mengelompokkan dugaan awal tentang fenomena untuk mengerti tentang apa yang dikatakan oleh responden.
3. Grounded theory
Walaupun suatu studi pendekatan menekankan arti dari suatu pengalaman untuk sejumlah individu, tujuan pendekatan grounded theory adalah untuk menghasilkan atau menemukan suatu teori yang berhubungan dengan situasi tertentu . Situasi di mana individu saling berhubungan, bertindak, atau terlibat dalam suatu proses sebagai respon terhadap suatu peristiwa. Inti dari pendekatan grounded theory adalah pengembangan suatu teori yang berhubungan erat kepada konteks peristiwa dipelajari.
4. Etnografi
Etnografi adalah uraian dan penafsiran suatu budaya atau sistem kelompok sosial. peneliti menguji kelompok tersebut dan mempelajari pola perilaku, kebiasaan, dan cara hidup. Etnografi adalah sebuah proses dan hasil dari sebuah penelitian. Sebagai proses, etnografi melibatkan pengamatan yang cukup panjang terhadap suatu kelompok, dimana dalam pengamatan tersebut peneliti terlibat dalam keseharian hidup responden atau melalui wawancara satu per satu dengan anggota kelompok tersebut. Peneliti mempelajari arti atau makna dari setiap perilaku, bahasa, dan interaksi dalam kelompok.
5. Studi kasus
Penelitian studi kasus adalah studi yang mengeksplorasi suatu masalah dengan batasan terperinci, memiliki pengambilan data yang mendalam, dan menyertakan berbagai sumber informasi. Penelitian ini dibatasi oleh waktu dan tempat, dan kasus yang dipelajari berupa program, peristiwa, aktivitas, atau individu.
D. Metode Pengumpulan Data
Beberapa metode pengumpulan data dalam penelitian kualitatif, yaitu:
1. Wawancara
Wawancara merupakan alat re-cheking atau pembuktian terhadap informasi atau keterangan yang diperoleh sebelumnya. Tehnik wawancara yang digunakan dalam penelitian kualitatif adalah wawancara mendalam. Wawancara mendalam (in–depth interview) adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan informan atau orang yang diwawancarai, dengan atau tanpa menggunakan pedoman (guide) wawancara, di mana pewawancara dan informan terlibat dalam kehidupan sosial yang relatif lama.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan seorang peneliti saat mewawancarai responden adalah intonasi suara, kecepatan berbicara, sensitifitas pertanyaan, kontak mata, dan kepekaan nonverbal. Dalam mencari informasi, peneliti melakukan dua jenis wawancara, yaitu autoanamnesa (wawancara yang dilakukan dengan subjek atau responden) dan aloanamnesa (wawancara dengan keluarga responden). Beberapa tips saat melakukan wawancara adalah mulai dengan pertanyaan yang mudah, mulai dengan informasi fakta, hindari pertanyaan multiple, jangan menanyakan pertanyaan pribadi sebelum building raport, ulang kembali jawaban untuk klarifikasi, berikan kesan positif, dan kontrol emosi negatif.
2. Observasi
Beberapa informasi yang diperoleh dari hasil observasi adalah ruang (tempat), pelaku, kegiatan, objek, perbuatan, kejadian atau peristiwa, waktu, dan perasaan. Alasan peneliti melakukan observasi adalah untuk menyajikan gambaran realistik perilaku atau kejadian, untuk menjawab pertanyaan, untuk membantu mengerti perilaku manusia, dan untuk evaluasi yaitu melakukan pengukuran terhadap aspek tertentu melakukan umpan balik terhadap pengukuran tersebut.
Bungin (2007: 115) mengemukakan beberapa bentuk observasi yang dapat digunakan dalam penelitian kualitatif, yaitu observasi partisipasi, observasi tidak terstruktur, dan observasi kelompok tidak terstruktur.
- Observasi partisipasi (participant observation) adalah metode pengumpulan data yang digunakan untuk menghimpun data penelitian melalui pengamatan dan pengindraan dimana observer atau peneliti benar-benar terlibat dalam keseharian responden.
- Observasi tidak berstruktur adalah observasi yang dilakukan tanpa menggunakan guide observasi. Pada observasi ini peneliti atau pengamat harus mampu mengembangkan daya pengamatannya dalam mengamati suatu objek.
- Observasi kelompok adalah observasi yang dilakukan secara berkelompok terhadap suatu atau beberapa objek sekaligus.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam observasi adalah topografi, jumlah dan durasi, intensitas atau kekuatan respon, stimulus kontrol (kondisi dimana perilaku muncul), dan kualitas perilaku.
3. Dokumen
Sejumlah besar fakta dan data tersimpan dalam bahan yang berbentuk dokumentasi. Sebagian besar data yang tersedia adalah berbentuk surat-surat, catatan harian, cenderamata, laporan, artefak, foto, dan sebagainya. Sifat utama data ini tak terbatas pada ruang dan waktu sehingga memberi peluang kepada peneliti untuk mengetahui hal-hal yang pernah terjadi di waktu silam. Secara detail bahan dokumenter terbagi beberapa macam, yaitu otobiografi, surat-surat pribadi, buku atau catatan harian, memorial, klipping, dokumen pemerintah atau swasta, data di server dan flashdisk, data tersimpan di website, dan lain-lain.
E. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data dalam penelitian kualitatif di dasarkan pada pendekatan yang digunakan. Beberapa bentuk analisis data dalam penelitian kualitatif, yaitu:
1. Biografi
Langkah-langkah analisis data pada studi biografi, yaitu:
a.
Mengorganisir file pengalaman
objektif tentang hidup responden seperti tahap
perjalanan hidup dan pengalaman. Tahap tersebut berupa tahap
kanak-kanak, remaja, dewasa dan lansia yang ditulis secara kronologis atau
seperti pengalaman pendidikan, pernikahan, dan pekerjaan.
b. Membaca keseluruhan kisah kemudian direduksi dan diberi kode.
c. Kisah yang didapatkan kemudian diatur secara kronologis.
d. Selanjutnya peneliti mengidentifikasi dan mengkaji makna kisah yang dipaparkan, serta mencari epipani dari kisah tersebut.
e. Peneliti juga melihat struktur untuk menjelaskan makna, seperti interaksi sosial didalam sebuah kelompok, budaya, ideologi, dan konteks sejarah, kemudian memberi interpretasi pada pengalaman hidup individu.
f. Kemudian, riwayat hidup responden di tulis dengan berbentuk narasi yang berfokus pada proses dalam hidup individu, teori yang berhubungan dengan pengalaman hidupnya dan keunikan hidup individu tersebut.
2. Fenomenologi
Langkah-langkah analisis data pada studi fenomenologi, yaitu:
a. Peneliti memulai mengorganisasikan semua data atau gambaran menyeluruh tentang fenomena pengalaman yang telah dikumpulkan.
b. Membaca data secara keseluruhan dan membuat catatan pinggir mengenai data yang dianggap penting kemudian melakukan pengkodean data.
c. Menemukan dan mengelompokkan makna pernyataan yang dirasakan oleh responden dengan melakukan horizonaliting yaitu setiap pernyataan pada awalnya diperlakukan memiliki nilai yang sama. Selanjutnya, pernyataan yang tidak relevan dengan topik dan pertanyaan maupun pernyataan yang bersifat repetitif atau tumpang tindih dihilangkan, sehingga yang tersisa hanya horizons (arti tekstural dan unsur pembentuk atau penyusun dari phenomenon yang tidak mengalami penyimpangan).
d. Pernyataan tersebut kemudian di kumpulkan ke dalam unit makna lalu ditulis gambaran tentang bagaimana pengalaman tersebut terjadi.
e. Selanjutnya peneliti mengembangkan uraian secara keseluruhan dari fenomena tersebut sehingga menemukan esensi dari fenomena tersebut. Kemudian mengembangkan textural description (mengenai fenomena yang terjadi pada responden) dan structural description (yang menjelaskan bagaimana fenomena itu terjadi).
f. Peneliti kemudian memberikan penjelasan secara naratif mengenai esensi dari fenomena yang diteliti dan mendapatkan makna pengalaman responden mengenai fenomena tersebut.
g. Membuat laporan pengalaman setiap partisipan. Setelah itu, gabungan dari gambaran tersebut ditulis.
b. Membaca keseluruhan kisah kemudian direduksi dan diberi kode.
c. Kisah yang didapatkan kemudian diatur secara kronologis.
d. Selanjutnya peneliti mengidentifikasi dan mengkaji makna kisah yang dipaparkan, serta mencari epipani dari kisah tersebut.
e. Peneliti juga melihat struktur untuk menjelaskan makna, seperti interaksi sosial didalam sebuah kelompok, budaya, ideologi, dan konteks sejarah, kemudian memberi interpretasi pada pengalaman hidup individu.
f. Kemudian, riwayat hidup responden di tulis dengan berbentuk narasi yang berfokus pada proses dalam hidup individu, teori yang berhubungan dengan pengalaman hidupnya dan keunikan hidup individu tersebut.
2. Fenomenologi
Langkah-langkah analisis data pada studi fenomenologi, yaitu:
a. Peneliti memulai mengorganisasikan semua data atau gambaran menyeluruh tentang fenomena pengalaman yang telah dikumpulkan.
b. Membaca data secara keseluruhan dan membuat catatan pinggir mengenai data yang dianggap penting kemudian melakukan pengkodean data.
c. Menemukan dan mengelompokkan makna pernyataan yang dirasakan oleh responden dengan melakukan horizonaliting yaitu setiap pernyataan pada awalnya diperlakukan memiliki nilai yang sama. Selanjutnya, pernyataan yang tidak relevan dengan topik dan pertanyaan maupun pernyataan yang bersifat repetitif atau tumpang tindih dihilangkan, sehingga yang tersisa hanya horizons (arti tekstural dan unsur pembentuk atau penyusun dari phenomenon yang tidak mengalami penyimpangan).
d. Pernyataan tersebut kemudian di kumpulkan ke dalam unit makna lalu ditulis gambaran tentang bagaimana pengalaman tersebut terjadi.
e. Selanjutnya peneliti mengembangkan uraian secara keseluruhan dari fenomena tersebut sehingga menemukan esensi dari fenomena tersebut. Kemudian mengembangkan textural description (mengenai fenomena yang terjadi pada responden) dan structural description (yang menjelaskan bagaimana fenomena itu terjadi).
f. Peneliti kemudian memberikan penjelasan secara naratif mengenai esensi dari fenomena yang diteliti dan mendapatkan makna pengalaman responden mengenai fenomena tersebut.
g. Membuat laporan pengalaman setiap partisipan. Setelah itu, gabungan dari gambaran tersebut ditulis.
3. Grounded theory
Langkah-langkah analisis data pada studi grounded theory, yaitu:
a. Mengorganisir data
b. Membaca keseluruhan informasi dan memberi kode.
c. Open coding, peneliti membentuk kategori informasi tentang peristiwa dipelajari.
d. Axial coding, peneliti mengidentifikasi suatu peristiwa, menyelidiki kondisi-kondisi yang menyebabkannya, mengidentifikasi setiap kondisi-kondisi, dan menggambarkan peristiwa tersebut.
e. Selective coding, peneliti mengidentifikasi suatu jalan cerita dan mengintegrasikan kategori di dalam model axial coding.
Selanjutnya peneliti boleh mengembangkan dan menggambarkan suatu acuan yang menerangkan keadaan sosial, sejarah, dan kondisi ekonomi yang mempengaruhi peristiwa.
4. Etnografi
Langkah-langkah analisis data pada studi etnografi, yaitu:
a. Mengorganisir file.
b. Membaca keseluruhan informasi dan memberi kode.
c. Menguraikan setting sosial dan peristiwa yang diteliti.
d. Menginterpretasi penemuan.
e. Menyajikan presentasi baratif berupa tabel, gambar, atau uraian.
5. Studi kasus
Langkah-langkah analisis data pada studi kasus, yaitu:
a. Mengorganisir informasi.
b. Membaca keseluruhan informasi dan memberi kode.
c. Membuat suatu uraian terperinci mengenai kasus dan konteksnya.
d. Peneliti menetapkan pola dan mencari hubungan antara beberapa kategori.
e. Selanjutnya peneliti melakukan interpretasi dan mengembangkan generalisasi natural dari kasus baik untuk peneliti maupun untuk penerapannya pada kasus yang lain.
f. Menyajikan secara naratif.
F. Keabsahan Data
Banyak hasil penelitian kualitatif diragukan kebenarannya karena beberapa hal, yaitu subjektivitas peneliti merupakan hal yang dominan dalam penelitian kualitatif, alat penelitian yang diandalkan adalah wawancara dan observasi mengandung banyak kelemahan ketika dilakukan secara terbuka dan apalagi tanpa kontrol, dan sumber data kualitatif yang kurang credible akan mempengaruhi hasil akurasi penelitian. Oleh karena itu, dibutuhkan beberapa cara menentukan keabsahan data, yaitu:
1. Kredibilitas
Apakah proses dan hasil penelitian dapat diterima atau dipercaya. Beberapa kriteria dalam menilai adalah lama penelitian, observasi yang detail, triangulasi, per debriefing, analisis kasus negatif, membandingkan dengan hasil penelitian lain, dan member check.
Cara memperoleh tingkat kepercayaan hasil penelitian, yaitu:
a. Memperpanjang masa pengamatan memungkinkan peningkatan derajat kepercayaan data yang dikumpulkan, bisa mempelajari kebudayaan dan dapat menguji informasi dari responden, dan untuk membangun kepercayaan para responden terhadap peneliti dan juga kepercayaan diri peneliti sendiri.
b. Pengamatan yang terus menerus, untuk menemukan ciri-ciri dan unsur-unsur dalam situasi yang sangat relevan dengan persoalan atau isu yang sedang diteliti, serta memusatkan diri pada hal-hal tersebut secara rinci.
c. Triangulasi, pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data tersebut.
d. Peer debriefing (membicarakannya dengan orang lain) yaitu mengekspos hasil sementara atau hasil akhir yang diperoleh dalam bentuk diskusi analitik dengan rekan-rekan sejawat.
e. Mengadakan member check yaitu dengan menguji kemungkinan dugaan-dugaan yang berbeda dan mengembangkan pengujian-pengujian untuk mengecek analisis, dengan mengaplikasikannya pada data, serta denganmengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang data.
2. Transferabilitas yaitu apakah hasil penelitian ini dapat diterapkan pada situasi yang lain.
3. Dependability yaitu apakah hasil penelitian mengacu pada kekonsistenan peneliti dalam mengumpulkan data, membentuk, dan menggunakan konsep-konsep ketika membuat interpretasi untuk menarik kesimpulan.
4. Konfirmabilitas yaitu apakah hasil penelitian dapat dibuktikan kebenarannya dimana hasil penelitian sesuai dengan data yang dikumpulkan dan dicantumkan dalam laporan lapangan. Hal ini dilakukan dengan membicarakan hasil penelitian dengan orang yang tidak ikut dan tidak berkepentingan dalam penelitian dengan tujuan agar hasil dapat lebih objektif.
G. Reliabilitas
Reliabilitas penelitian kualitatif dipengaruhi oleh definisi konsep yaitu suatu konsep dan definisi yang dirumuskan berbeda-beda menurut pengetahuan peneliti, metode pengumpulan dan analisis data, situasi dan kondisi sosial, status dan kedudukan peneliti dihadapan responden, serta hubungan peneliti dengan responden.(IAHS)
B.LOKASI
DAN SUBJEK PENELITIAN
1.LOKASI
PENELITIAN
Lokasi penelitian ini bertempat di SD
Negeri 8 pandegelang Provinsi banten, Otonomi daerah Pandegelang, Kecamatan
Pandegelang, Desa/kelurahan Pandegelang, Jalan dan nomer : Kandupandak rt.09
rw.11
Dengan
visi sekolah “ mendidik membimbing murid untuk mendapatkan
pendidikan dasar yang berprestasi yang dapat melanjutkan ke SLTP sesuai dengan
keinginan orangtua dan masyarakat. Dan salah satu misi sekolah “Menghayati dan mengamalkan
tujuan pendidikan nasional”.
2.subjek
penelitian
Penelitian ini
dilakukan di SDN 8 Pandegelang kabupaten pandegelang, dengan sebaran subjek
penelitian sebagai berikut : (1) wawancara di ruang guru untuk mengetahui
tentang kurikulum yang di gunakan di sekolah tersebut (2) mengunjungi beberapa
ruang kelas yang bermurid kurang lebih 20 orang.
C.JENIS
PENGUMPULAN DATA
A. Sumber Data
Sumber data terbagi menjadi dua yaitu data primer
dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh peneliti secara
langsung (dari tangan pertama), sementara data sekunder adalah data yang
diperoleh peneliti dari sumber yang sudah ada. Contoh data primer adalah data
yang diperoleh dari responden melalui kuesioner, kelompok fokus, dan panel,
atau juga data hasil wawancara peneliti dengan nara sumber. Contoh data
sekunder misalnya catatan atau dokumentasi perusahaan berupa absensi, gaji,
laporan keuangan publikasi perusahaan, laporan pemerintah, data yang diperoleh
dari majalah, dan lain sebagainya.
B. Metode Pengumpulan Data
Dalam penelitian, teknik pengumpulan data merupakan
faktor penting demi keberhasilan penelitian. Hal ini berkaitan dengan bagaimana
cara mengumpulkan data, siapa sumbernya, dan apa alat yang digunakan. Jenis
sumber data adalah mengenai dari mana data diperoleh. Apakah data diperoleh
dari sumber langsung (data primer) atau data diperoleh dari sumber tidak
langsung (data sekunder). Metode Pengumpulan Data merupakan teknik atau cara
yang dilakukan untuk mengumpulkan data. Metode menunjuk suatu cara sehingga
dapat diperlihatkan penggunaannya melalui angket, wawancara, pengamatan, tes,
dkoumentasi dan sebagainya. Sedangkan Instrumen Pengumpul Data merupakan alat
yang digunakan untuk mengumpulkan data. Karena berupa alat, maka
instrumen dapat berupa lembar cek list, kuesioner (angket terbuka / tertutup),
pedoman wawancara, camera photo dan lainnya. Adapun tiga teknik pengumpulan
data yang biasa digunakan adalah angket, observasi dan wawancara.
1. Observasi
Obrservasi
merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang tidak hanya mengukur sikap
dari responden (wawancara dan angket) namun juga dapat digunakan untuk merekam
berbagai fenomena yang terjadi (situasi, kondisi). Teknik ini digunakan bila
penelitian ditujukan untuk mempelajari perilaku manusia, proses kerja,
gejala-gejala alam dan dilakukan pada responden yang tidak terlalu besar.
Participant Observation
Dalam
observasi ini, peneliti secara langsung terlibat dalam kegiatam sehari-hari
orang atau situasi yang diamati sebagai sumber data. Misalnya seorang guru
dapat melakukan observasi mengenai bagaimana perilaku siswa, semangat siswa,
kemampuan manajerial kepala sekolah, hubungan antar guru, dsb.
Non participant Observation
Berlawanan
dengan participant Observation, Non Participant merupakan observasi yang
penelitinya tidak ikut secara langsung dalam kegiatan atau proses yang sedang
diamati. Misalnya penelitian tentang pola pembinaan olahraga, seorang peneliti
yang menempatkan dirinya sebagai pengamat dan mencatat berbagai peristiwa yang
dianggap perlu sebagai data penelitian. Kelemahan dari metode ini adalah
peneliti tidak akan memperoleh data yang mendalam karena hanya bertindak
sebagai pengamat dari luar tanpa mengetahui makna yang terkandung di dalam peristiwa.
Alat yang digunakan dalam teknik observasi ini antara lain : lembar cek list,
buku catatan, kamera photo, dll.
2. Wawancara
Wawancara
merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui tatap muka dan tanya
jawab langsung antara pengumpul data maupun peneliti terhadap nara sumber atau
sumber data. Wawancara pada penelitian sampel besar biasanya hanya dilakukan
sebagai studi pendahuluan karena tidak mungkin menggunakan wawancara pada 1000
responden, sedangkan pada sampel kecil teknik wawancara dapat diterapkan
sebagai teknik pengumpul data (umumnya penelitian kualitatif)
Wawancara
terbagi atas wawancara terstruktur dan tidak terstruktur.
1.
Wawancara terstruktur artinya
peneliti telah mengetahui dengan pasti apa informasi yang ingin digali dari responden
sehingga daftar pertanyaannya sudah dibuat secara sistematis. Peneliti juga
dapat menggunakan alat bantu tape recorder, kamera photo, dan material lain
yang dapat membantu kelancaran wawancara.
2.
Wawancara tidak terstruktur adalah
wawancara bebas, yaitu peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang berisi
pertanyaan yang akan diajukan secara spesifik, dan hanya memuat poin-poin
penting masalah yang ingin digali dari responden.
Kelebihan dan Kekurangan dalam
Teknik Pengumpulan Data
1. Metode Observasi
Pengumpulan
data dengan observasi langsung atau dengan pengamatan langsung adalah cara
pengambilan data dengan menggunakan mata tanpa ada pertolongan alat standar
lain untuk keperluan tersebut. Pengamatan baru tergolong sebagai teknik
mengumpulkan data, jika pengamatan tersebut mempunyai kriteria berikut:
- Pengamatan digunakan untuk penelitian dan telah direncanakan secara sistematik.
- Pengamatan harus berkaitan dengan tujuan penelitian yang telah direncanakan.
- Pengamatan tersebut dicatat secara sistematis dan dihubungkan dengan proposisi umum dan bukan dipaparkan sebagai suatu set yang menarik perhatian saja.
Pengamatan
dapat dicek dan dikontrol atas validitas dan reliabilitasnya. Penggunaan
pengamatan langsung sebagai cara mengumpulkan data mempunyai beberapa
keuntungan antara lain :
Pertama.
Dengan cara pengamatan langsung, terdapat kemungkinan untuk mencatat hal-hal,
perilaku, pertumbuhan, dan sebagainya, sewaktu kejadian tersebut berlaku, atau
sewaktu perilaku tersebut terjadi. Dengan cara pengamatan, data yang langsung
mengenai perilaku yang tipikal dari objek dapat dicatat segera, dantidak
menggantungkan data dari ingatan seseorang;
Kedua.
Pengamatan langsung dapat memperoleh data dari subjek baik tidak dapat
berkomunikasi secara verbal atau yang tak mau berkomunikasi secara verbal.
Adakalanya subjek tidak mau berkomunikasi, secara verbal dengan enumerator atau
peneliti, baik karena takut, karena tidak ada waktu atau karena enggan. Dengan
pengamatan langsung, hal di atas dapat ditanggulangi. Selain dari keuntungan
yang telah diberikan di atas, pengamatan secara langsung sebagai salah satu
metode dalam mengumpulkan data, mempunyai kelemahan-kelemahan.
2. Metode Wawancara
Yang
dimaksud dengan wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan
penelitian dengan cara tanya jawab, sambil bertatap muka antara si penanya atau
pewawancara dengan si penjawab atau responden dengan menggunakan alat yang
dinamakan interview guide (panduan wawancara). Wawancara dapat dilakukan dengan
tatap muka maupun melalui telpon.
Wawancara Tatap Muka
Beberapa kelebihan wawancara tatap
muka antara lain :
- Bisa membangun hubungan dan memotivasi responden
- Bisa mengklarifikasi pertanyaan, menjernihkan keraguan, menambah pertanyaan baru
- Bisa membaca isyarat non verbal
- Bisa memperoleh data yang banyak
Sementara kekurangannya adalah :
- Membutuhkan waktu yang lama
- Biaya besar jika responden yang akan diwawancara berada di beberapa daerah terpisah
- Responden mungkin meragukan kerahasiaan informasi yang diberikan
- Pewawancara perlu dilatih
- Bisa menimbulkan bias pewawancara
- Responden bias menghentikan wawancara kapanpun
Wawancara via phone
Kelebihan
- Biaya lebih sedikit dan lebih cepat dari warancara tatap muka
- Bisa menjangkau daerah geografis yang luas
- Anomalitas lebih besar dibanding wawancara pribadi (tatap muka)
Kelemahan
- Isyarat non verbal tidak bisa dibaca
- Wawancara harus diusahakan singkat
- Nomor telpon yang tidak terpakai bisa dihubungi, dan nomor yang tidak terdaftar pun dihilangkan dari sampel
D.TEKNIK ANALISIS DATA
Proses analisis data
dimulai dengan menelah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber, yaitu
wawancara, pengamatan, yang sudah ditulis dalam catatan lapangan, dokumen
pribadi, dokumen resmi, gambar foto, dan sebagainya. Data tersebut banyak
sekali, setelah dibaca, dipelajari, dan ditelah maka langkah berikutnya adalah
mengadakan reduksi data yang dilakukan dengan jalan membuat abstraksi.
Abstraksi merupakan usaha membuat rangkuman yang inti, proses dan
pernyataan-pernyataan yang perlu dijaga sehingga tetap berada di dalamnya.
Langkah selanjutnya adalah menyusunya dalam satuan-satuan. Satuan-satuan
itu kemudian dikategorisasikan pada langkah berikutnya.
Kategori-kategori itu dilakukan sambil membuat koding. Tahap akhir dari
analisis data ialah mengadakan pemeriksaan keabsahan data.. setelah selesai
tahap ini, mulailah kini tahap penafsiran data dalam mengolah hasil
sementaramenjadi teori substantif dengan menggunakan beberapa metode tertentu.
Sehubungan dengan uraian
tentang proses analisia dan penafsiran data di atas, maka dapat dijelaskan
pokok-pokok persoalan sebagai berikut: Konsep dasar analisis data, Pemerosotan
satuan, kategorisasi termasuk pemeriksahan keabsahan data, kemudian diakhiri
dengan penafsiran data.
B. Konsep Dasar Analisi Data.
Menurut Patton, 1980 (dalam
Lexy J. Moleong 2002: 103) menjelaskan bahwa analisis data adalah proses
mengatur urutan data, mengorganisasikanya ke dalam suatu pola, kategori, dan
satuan uraian dasar. Sedangkan menurut Taylor, (1975: 79) mendefinisikan
analisis data sebagai proses yang merinci usaha secara formal untuk menemukan
tema dan merumuskan hipotesis (ide) seperti yang disarankan dan sebagai usaha
untuk memberikan bantuan dan tema pada hipotesis. Jika dikaji, pada dasarnya
definisi pertama lebih menitikberatkan pengorganisasian data sedangkan yang ke
dua lebih menekankan maksud dan tujuan analisis data. Dengan demikian definisi
tersebut dapat disintesiskan menjadi: Analisis data proses mengorganisasikan
dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori dan satuan uraian dasar sehingga
dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang
didasarkan oleh data.
Dari uraian tersebut di atas
dapatlah kita menarik garis bawah analisis data bermaksud pertama- tama
mengorganisasikanm data. Data yang terkumpul banyak sekali dan terdiri dari
catatan lapangan dan komentar peneliti, gambar, foto, dokumen, berupa laporan,
biografi, artikel, dan sebagainya. Pekerjaan analisis data dalam hal ini ialah
mengatur, mengurutkan, mengelompokkan, memberikan kode, dan mengategorikannya.
Pengorganisasian dan pengelolaan data tersebut bertujuan menemukan tema dan
hipotesis kerja yang akhirnya diangkat menjadi teori substantif.
Akirnya perlu dikemukakan
bahwa analisis data itu dilakukan dalam suatu proses. Proses berarti
pelaksanaannya sudah mulai dilakukan sejak pengumpulan data dilakukan dan
dikerjakjan secara intensif, yaitu sudah meninggalkan lapangan. Pekerjaan
menganalisis data memerlukan usaha pemusatan perhatian dan pengerahan tenaga,
pikiran peneliti. Selain menganalisis data. Peneliti juga perlu dan masih perlu
mendalami kepustakaan guna mengkonfirmasikan teori atau untuk menjastifikasikan
adanya teori baru yang barangkali ditemukan.
C. Pemrosesan Satuan
Uraian tentang pemerosotan satuan ini terdiri dari tipelogi
satuan dan penyususnan satuan.
1. Tipelogi satuan.
Satuan atau unit adalah satuan
suatu latar sosial. Pada dasarnya satuan ini merupakan alat untuk menghaluskan
pencatatan data. Menurut Lofland dan Lofland, (!984) (dalam lexy 2002: 190),
satuan kehidupan sosial merupakan kebulatan di mana seseorang mengajukan
pertanyaan. Linciln dan Guba (1985: 344) menamakan satuan itu sebagai satuan
informasi yang berfungsi untuk menentukan atau mendefinisikan kategori.
Sehubungan dengan itu, Patton,
(1987: 306-310) membedakan dua jenis tipe satuan yaitu (1) tipe asli dan (2)
tipe hasil konstruk analisis. Patton menyatakan bahwa tipe asli inilah yang
menggunakan prespektif emik dan antropologi. Hal ini didasarkan atas asumsi
bahwa prilaku sosial dan kebudayaan hendaknya dipelajari dari segi pandangan
dari dalam dan definisi prilaku manusia. Jadi, konseptualisasi satuan hendaknya
ditemukan dengan menganalisis proses kognitif orang-orang yang diteliti, bukan
dari segi entnosentrisme peneliti. Pendekatan ini menuntut adanya analisis
kategori verbal yang digunakan oleh subjek untuk merinci kompleksitas kenyataan
ke dalam bagian-bagian. Patton, menyatakn bahwa secara fundamental maksud
penggunaan bahasa itu penting untuk memberikan ”nama” sehingga membedakan
dengan yang lain dengan ”nama” yang lain pula. Setelah ”label” tersebut
ditemukan dari apa yang dikatakan oleh subjek, tahap berikutnya ialah berusaha
menemukan ciri atau karakteristik yang membedakan sesuatu dengan sesuatu yang lain.Untuk itu, tipelogi asli ini merupakan
kunci bagi peneliti untuk memberikan nama sesuai dengan apa yang sedang
dipikirkan, dirasakan, dan dihayati oleh para subjek dan dihendaki oleh latar
peneliti.
1.
Penyusunan satuan
Lincoln dan Guba (1985: 345)
mengatakan bahwa langka pertama dalam pemerosotan satuan ialah analisis
hendaknya membaca dan mempelajari secara teliti seluruh jenis data yang sudah
terkumpul. Setelah itu, usahakan agar satuan-satuan itu diidentifikasi.
Peneliti memasukan ke dalam kartu indeks. Penyusunan satuan dan pemasukan ke
dalam kartu indeks hendaknya dapat dipahami oleh orang lain. Pada tahap ini
analisis hendaknya jangan dulu membuang satuan yang ada walaupun mungkin
dianggap tidak relevan.
2.
Kategorisasi
Kategorisasi
dalam uraian ini terdiri atas (1) funsi dan prinsip kategorisasi dan (2)
langka-langkah kategorisasi yang diuraikan sebagai berikut.
1. Funsi dan prinsip kategorisasi
Kategorisasi
berarti penyusunan kategori. Kategori tidak lain adalah salah satu tumpukan
dari seperangkat tumpukan yang disusun atas dasar pikiran,intuisi, pendapat,
atau kriteria tertentu.Selanjutnya Linclon dan Guba menguraikan kategorisasi
adalah (1) mengelompokkan kartu-kartu yang telah dibuat kedalam bagian-bagian
isi yang secara jelas berkaitan, (2) merumuskan aturan yang menguraikan kawasan
kategori dan yang akhirnya dapat digunakan untuk menetapkan inklusi setiap
kartu pada kategori dan juga sebagai dasar untuk pemeriksaan keabsahan data,
dan (3) menjaga agar setiap kategori yang telah disusun satu dengan yang lain
megikuti prinsip taat asas.
2. Langkah-langkah kategorisasi
Metode
yang digunakan dalam kategorisasi didasarkan atas metode analisis komparatif
yang langkah-langkahnya dijabarkan atas sepuluh langka, yang mana langkah yang
terakhir adalah analisis harus menelah sekali lagi seluruh kategori agar jangan
sampai ada yang terlupakan. Setelah selesai di analisis, sebelum menafsirkan
penulis wajib mengadakan pemeriksaan terhadap keapsahan datanya, pemeriksaan
itu dapat dilakukan dengan menggunakan teknik pemeriksaan keabsahan data.
E. Keabsahan data
Untuk menghindari kesalahan atau kekeliruan data yang telah
terkumpul,perlu dilakukan pengecekan keabsahan data. Pengecekan keabsahan data
didasarkan pada kriteria deraja kepercayaan (crebility) dengan teknik
trianggulasi,ketekunan pengamatan, pengecekan teman sejawat (Moleong, 2004).
Triangulasi merupakan teknik pengecekan keabsahan data yang
didasarkan pada sesuatu di luar data untuk keperluan mengecek atau sebagai
pembanding terhadap data yang telah ada (Moleong,200). Trigulasi yang digunakan
adalah trigulasi dengan sumber, yaitu membandingkan data hasil obserfasi, hasil
pekerjaan siswa dan hasil wawancara terhadap subjek yang ditekankan pada
penerapan metode bantuan alat pada efektif membaca .
Ketekunan pengamatan dilakukan dengan teknik melakukan
pengamatan yang diteliti, rinci dan terus menerus selama proses pembelajaran
berlangsung yang diikuti dengan kegiatan wawancara secara intensif terhadap
subjek agar data yang dihasilkan terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.
Pengecekan teman sejawat/kolega dilakukan dalam bentuk diskusi mengenai proses
dan hasil penelitian dengan harapan untuk memperoleh masukan baik dari segi
metodelogi maupun pelaksanaan tindakan.
E.WAKTU DAN TAHAPAN PENELITIAN
1. WAKTU PENELITIAN
Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Waktu : Rabu, 06 Mei 2015
Tempat : SD N 8 Pandegelang
Alamat : Kandupandak rt.09 rw.11. kecamatan pandegelang kabupaten
pandegelang.
Kelas yang diobservasi : kelas 5
2.TAHAPAN PENELITIAN
Pada bulan april tanggal 28 tahun
2015 mengunjungi sd 8 pandegelang untuk
meminta izin melakukan observasi, selanjutnya setelah di beri izin oleh kepala
sekolah tersebut, membuat surat keterangan observasi ke fakultas. Setelah surat
selesai membuat instrument wawancara dan
mengumpulkan materi kurikulum. Pada hari rabu, 06 mei 2015 saya melakukan
observasi ke sd negeri 8 pandegelang dan wawancara dengan salah satu guru kelas
5. Setelah wawancara selesai lalu saya meminta bukti berupa foto narasumber,
hasil wawancara, RPP, LKS, dan silabus. Setelah itu saya menuliskan profil
sekolah dan melihat suasana kelas 5 tersebut. Lalu saya memasuki kelas dan
member sebuah game atau permainan yang sederhana yaitu permainan
“kucing-kucingan” lalu saya melihat siswa-siswi yang sedang belajar di kelas
hingga jam istirahat. Setelah melihat kelas saya pun bertemu kepala sekolah dan
sharing tentang perkuliahan, pengalaman beliau mengajar, dan riwayat hidupnya.
Setelah observasi selesai saya kembali ke kampus dan membuat surat keterangan
sudah melakukan observasi. Minggu selanjutnya saya mengunjungi sekolah tersebut
untuk meminta tanda tangan surat telah melakukan observasi.setelah itu saya
membuat sistematika laporan penelitian.
DAFTAR PUSTAKA
Roni, Ahmad. Masalah Kurikulum
dalam Pembelajaran.http://kurtek.epi.edu/kurpen/6-pembelajaran.html.diakses,10:11 WIB. /30/03/2012
Adiwikarta,S,
1994. Kurikulum yang Berorientasi
pada Kekinian, Kurikulum untuk Abad 21, akarta : Grasindo.
http://akhmadsudrajat.wordpress.compengertian-kurikulum.09:13.WIB/30/03/2012
Dimyati dan Mudjiono. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta
http://akhmadsudrajat.wordpress.compengertian-kurikulum.09:13.WIB/30/03/2012
Dimyati dan Mudjiono. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta
Syaodih
Sukmadinata, Nana. 2004. Pengembangan
Kurikulum: Teori dan Praktek. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
DAFTAR LAMPIRAN
1.PROFIL SEKOLAH
Ø Profil
sekolah
Nama sekolah : SD Negeri 8 pandegelang
Provinsi : Banten
Otonomi daerah : Pandegelang
Kecamatan : Pandegelang
Desa/kelurahan : Pandegelang
Jalan dan nomer : Kandupandak rt.09
rw.11
Ø Visi
:
“ mendidik membimbing murid untuk
mendapatkan pendidikan dasar yang berprestasi yang dapat melanjutkan ke SLTP
sesuai dengan keinginan orangtua dan masyarakat.
Ø Misi
:
1. Menghayati
dan mengamalkan tujuan pendidikan nasional
2. Memahami
dan melaksanakan kurikulum
3. Membuat
program sekolah dan program pembelajaran
4. Meningkatkan
disiplin guru dan murid
5. Meningkatkan
mutu pendidikan
6. Meningkatkan
keimanan dan ketakwaan
7. Kerjasama
dengan orangtua murid dan masyarakat
Ø Tujuan
sekolah :
1. Menciptakan
siswa yang beriman dan bertakwa
2. Membina
manusia yang berakhlak mulia
3. Menciptakan
manusia yang jasmani dan rohani
4. Memberikan
bekal kemampuan pengetahuan dan keterampilan dasar untuk melanjutkan pendidikan
kejenjang yang lebih tinggi
5. Menciptakan
manusia dengan kreatif, inovatif, dan kerja keras dalam mengembangkan diri
secara terus menerus
Ø Sarana
dan prasarana :
1. Ruang
kelas
2. Ruang
guru
3. Ruang
kepala sekolah
2.Identitas
narasumber
Nama : Wartana , S.pd 

NIP : 195805161978041001
Tempat tanggal lahir
: Bantul, 16-05-1958
Jabatan : Guru kelas 5
Pangkat dan golongan :Pembina 4B
Alamat : kp. Kadukanda rt.02 rw.11
kelurahan pandegelang
Pendidikan : S1 STIE Banten raya
3.INSTRUMEN WAWANCARA
Instrument wawancara
1. Metode
apa yang sering digunakan dalam pembelajaran di kelas selama ini ?
2. Bagaimana
sikap siswa terhadap metode pembelajaran yang digunakan ?
3. Media
pembelajaran apa yang digunakan dalam proses pembelajaran ?
4. Karakter
apa yang ingin dimunculkan dalam pembelajaran ?
5. Kurikulum
apa yang digunakan di sekolah ini ?
6. Mengapa
menggunakan kurikulum tersebut ?
7. Apa
kelebihan dan kelemahan dari kurikulum tersebut ?
8. Bagaimana
cara untuk menilai skill pada siswa dengan latar belakang yang beragam ?
9. Jika
ada siswa yang belum bias mencapai KD yang telah dirumuskan, bagaimana tindak
lanjutnya ?
10.
Bagaimana mengaitkan antara SKKD dengan
materi pembelajaran ?
11.
SKKD apa yang sulit dicapai ?
12.
Apa upaya yang dilakukan oleh guru
apabila SKKD tidak dicapai siswa ?
13.
Bagaimana merumuskan indicator yang
sesuai dengan karakter yang berkaitkan dengan SKKD ?
14.
Pembelajaran apa yang biasanya dapat
menarik siswa dalam mengikuti KBM ?
15.
Apa tindakan yang akan diambil, jika
model/metode yang digunakan tidak menciptakan KBM yang kondusif ?
16.
Bagaimana cara menyikapi siswa yang
berbeda karakter dalam menilainya ?
17.
Menurut bapak/ibu bagaimana karakter
siswa di SD 8 pandeglang ini ?
18.
Bagaimana dengan materi pembelajarannya,
apakah bahan ajar yang diajarkan sesuai dengan kurikulum yang ditetapkan ?
19.
Seperti apa bahan ajar yang bias
digunakannya ?
20.
Apakah dengan menggunakan bahan ajar
yang telah dibuat/ dipilih dapat meningkatkan hasil belajar siswa ?
21.
Sebelum mengajar disekolah apakah
ibu/bapak membuat RPP ?
22.
Menurut bapak/ibu apa manfaat RPP ?
23.
Menurut bapak/ibu apa perbedaan silabus
dan RPP ?
24.
Apa yang ibu/bapak ketahui tentang
kurikulum ?
25.
Apakah setiap guru diwajibkan untuk
membuat RPP ?
26.
Apakah setiap guru memiliki silabus ?
27.
Kesulitan apa saja yang sering dihadapi
oleh setiap guru pada saat pelaksanaan pembelajaran di kelas ?
28.
Bagaimana criteria siswa yang masuk ke
sekolah ini ?
29.
Apakah ada proses bimbingan di sekolah
ini ?
30.
Jenis bimbingan apa yang diberikan ?
4.HASIL WAWANCARA
Hasil
wawancara
1. Metode
apa yang sering digunakan dalam pembelajaran dikelas selama ini ?
Ø Menggunakan
metode diskusi, Tanya jawab, eksperimen, ceramah.
2. Bagaimana
sikap siswa terhadap metode pembelajaran yang digunakan ?
Ø Sikap
siswa sesuai dengan metode tersebut.
3. Media
pembelajaran apa yang digunakan dalam proses pembelajaran ?
Ø Dengan
menggunakan media buku pelajaran, gambar, alat tulis.
4. Karakter
apa yang ingin dimunculkan dalam pembelajaran ?
Ø Karakter
kerja keras, tanggung jawab, disiplin.
5. Kurikulum
apa yang digunakan disekolah ini ?
Ø Menggunakan
kurikulum KTSP, pada semester sebelumnya sempat menggunakan kurikulum 2013
tetapi kurikulum itu sulit dicapai oleh guru maupun siswa.
6. Mengapa
menggunakan kurikulum tersebut ?
Ø Karena
sesuai dengan peraturan yang ada dan kurikulum KTSP tidak sesulit kurikulum
2013
7. Apa
kelebihan dan kekurangan kurikulum tersebut ?
Ø Kelebihannya
yaitu mudah dicapai oleh siswa maupun guru dan mudah digunakan sedangkan
kekurangannya tidak sesuai dengan aturan pemerintah yang menganjurkam
menggunakan K13.
8. Bagaimana
cara untuk menilai skill siswa dengan latar belakang yang berbeda ?
Ø Pertama
dengan memahami karakter siswa tersebut lalu pendekatan terhadap siswa.
9. Jika
ada siswa yang belum bisa mencapai KD yang telah dirumuskan, bagaimana tindak
lanjutnya ?
Ø Memberi
pelajaran tambahan atau dengan LES tambahan.
10. Bagaimana
mengaitkan antara SKKD dengan materi pelajaran ?
Ø Pastinya
SKKD harus berkaitan dengan materi pelajaran, dengan cara menyamakan buku
materi pelajaran dengan silabus yang ada.
11. SKKD
apa yang sulit dicapai oleh siswa ?
Ø Kalau
mata pelajaran yan g sulit dicapai oleh siswa biasanya matapelajaran
matematika, sedangkan SKKD yang sulit digunakan atau dicapai seprti
mengidentifikasi suatu masalah.
12. Apa upaya yang dilakukan oleh guru apabila
SKKD tidak dapat dicapai siswa ?
Ø Dengan
menerangkan kembali materi pelajarannya dan memberitahu caranya seperti apa .
13. Bagaimana
merumuskan indicator yang sesuai dengan karakter siswa yang berkaitan dengan
SKKD ?
Ø Dengan
melihat taksonomi bloom dan melihat evalusai siswa.
14. Strategi
pembelajaran apa yang biasanya dapat menarik siswa dalam mengikuti KBM ?
Ø Sebenarnya
strategi dan metode hamper sama, biasanya strategi yang menarik dengan strategi
diskusi kelompok.
15. Apa
tindakan yang akan diambil, jika model/metode yang digunakan tidak menciptakan
KBM yang kondusif ?
Ø Mengganti
metode/ model pembelajarn yang digunakan, misalnya dari metode ceramah diganti
dengan metode diskusi kelompok.
16. Bagaimana
cara menyikapi siswa yang berbeda karakter dalam menilainya ?
Ø Dengan
cara menasihatinya dan memberi penanganan khusus jika ada karakter siswa yang
nakal.
17. Menurut
bapak/ibu bagaimana karakter siswa di SDN 8 pandegelang ini ?
Ø Berbagai
macam karakter siswa yang ada, dengan salah satu contoh karakter siswa yang
menonjol di sekolah ini yaitu disiplin, tanggung jawab.
18. Bagaimana
dengan materi pembelajarannya, apakah bahan ajar yang diajarkan sesuai dengan
kurikulum yang telah diterapkan ?
Ø Ya
pastinya sesuai dengan kurikulum materi pembelajarannya.
19. Seperti
apa bahan ajar yang biasa digunakan ?
Ø Bahan
ajar yang digunakan seperti buku pelajaran dan lain-lain.
20. Apakah
dengan menggunakan bahan ajar yang telah dibuat/dipilih dapat meningkatkan
hasil belajar siswa ?
Ø Ada
juga siswa yang meningkat dan ada juga siswa yang butuh tambahan bahan ajarnya
karena bahan ajar yang digunakan sangat terbatas.
21. Sebelum
mengajar disekolah apakah bapak/ibu membuat RPP ?
Ø Iya
membut, karena semua guru wajib membuat RPP sebelum mengajar.
22. Menurut
bapak/ibu apa manfaat RPP ?
Ø Yang
pasti lebih matang dan jelas dan lebih terinci langkah-langkah pembelajarannya.
23. Menurut
bapak/ibu apa perbedaan RPP dan silabus ?
Ø Kalau
silabus berupa garis besarnya sedangkan RPP sudah terperinci semuanya sampai
langkah dan evaluasinya.
24. Apa
yang ibu/bapak ketahui tentang kurikulum ?
Ø Kurikuluym
itu suatu terbesar yang kita ajarkan sesuai dengan peraturan pemerintahan yang
berlaku.
25. Apakah
setiap guru diwajibkan untuk membuat RPP ?
Ø Iya
sangat diwajibkan untuk membuat RPP
26. Apakah
setiap guru memiliki silabus ?
Ø Tentu
saja iya, setiap guru memiliki silabus.
27. Kesulitan
apa saja yang sering dihadapi oleh setiap guru pada saat pelaksanaan
pembelajaran dikelas ?
Ø Ada
siswa yang nakal dan hiper aktif sehingga mengganggu teman yang lain yang
sedang belajar.
28. Bagaimana
criteria siswa yang masuk kesekolah ini ?
Ø Kriterianya
yaitu usia 7 tahun, mempunyai akta kelahiran, kartu keluarga, KTP orangtua.
29. Apakah
ada proses bimbingan disekolah dasar ?
Ø Ada
bimbingan disekolah ini.
30. Jenis
bimbingan apa yang diberikan ?
Ø Yaitu
bimb ingan membentuk moral dan karakter yang baik.
5.LAMPIRAN
FOTO
Foto bersama narasumber

Profil sekolah





Penutup
A.
Kesimpulan
Secara umum kegiatan observasi di
kelas merupakan suatu kegiatan yang sangat bermanfaat, karena kita bisa
mempeoleh data informasi yang akurat secara langsung dalam mengamati mengenai
perbedaan kurikulum yang digunakan. Di SD N 8 pandegelang menggunakan metode
pembelajaran ceramah, Tanya jawab, diskusi, demostrasi, dan lain-lain. Karakter
yang diinginkan oleh guru yaitu tanggung jawab, disipli, sopan dan santun.
B.
Saran
Kegiatan observasi di kelas
merupakan suatu kegiatan yang sangat bermanfaat, terutama bagi calon guru
seperti kita agar dapat mengetahui bagaimana seorang guru mengajar suatu
pembelajaran. Kemudian kkita sebagai seorang calon guru tentunya dapat memilih
mana yang baik dan mana yang tidak baik untuk diajarkan kepada murid kita
ketika sudah mengajar kelak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar