Rabu, 17 Juni 2015

filosofi musik



Filosofi Musik
·          
·         6

music
Jika selama ini kita hanya tertarik untuk menikmati musik, mungkin ada baiknya untuk mengenali lebih filosofi terkait musik. Coba pikirkan jawaban untuk pertanyaan berikut:
  • Apa itu musik?
  • Apa hubungan musik dengan pikiran?
  • Apa yang musik berikan terhadap dunia kita?
  • Apa hubungan antara musik dengan emosi?
  • Apa makna yang terkait dengan musik?
Melalui pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti itu, beberapa pemikir di kehidupan kita mencoba merumuskan musik agar dapat dipelajari dan diresapi makna yang terkandung di dalamnya. Berikut beberapa pemikiran yang telah dihasilkan mengenai musik hingga saat ini.
Definisi Musik
Salah satu definisi paling umum dari musik adalah “suara yang teratur”. Namun, definisi ini sepertinya tidak memuaskan, terdapat banyak tipe dari suara yang teratur yang tidak anggap sebagai musik sebagaimana suara manusia atau dering alarm.
Kemudian, muncul lagi definisi berikutnya dari musik yaitu “musik adalah nada yang teratur”, sebagaimana yang diajukan oleh filsuf era-era awal. Tetapi, definisi tersebut terlalu sempit, dikarenakan ada banyak bentuk musik yang tidak menggunakan skala nada. Musik perkusif dan atonal musik misalnya, mereka hanya menggunakan tempo dan ketukan, tidak memiliki nada.
Kemudian, pemikir merumuskan aspek-aspek populer yang terdapat di musik yaitu: melodi, harmoni, ritme, dan timbre. Kemudian, berbagai bantahan muncul terhadap pemahaman aspek-aspek dari musik. Musique concrete misalnya, hanya berisi oleh contoh-contoh suara dari alam yang terkadang memiliki komposisi yang acak. Ambient music juga hanya terdiri dari rekaman kehidupan liar atau alam.
Kemudian pendefinisian musik kembali dipelopori oleh John Cage. Karyanya, 4’33” merupakan kasus pengujian terhadap berbagai definisi dari musik. Ia menampilkan pertunjukan selama 4 menit 33 detik tanpa menimbulkan suara sama sekali. Cage bermaksud untuk menampilkan permainan musik, tetapi menampilkan lingkungan selama bermain musik. Menurutnya, selalu ada suara kemanapun kita pergi, dan tidak ada ruang pertunjukan yang benar-benar sunyi. John Cage percaya bahwa setiap suara seharusnya dianggap sebagai musik, dan ide ini terlihat dari berbagai karya yang ia ciptakan.
Absolute music vs Program Music
“Absolute music” mengacu pada musik yang tidak bermakna apapun dan non-representational. “Program music”, merupakan lawannya, yaitu dimaksudkan untuk membangkitkan ide di luar musik di luar musik ke dalam pikiran pendengar yang merepresentasikan adegan, gambar, atau perasaan. Karena absolute music tidak memiliki makna apapun, makna tersebut jadi diturunkan dari esensi musik itu sendiri. Perdebatan selama ini muncul apakah absolute music dapat benar-benar ada dan apakah setiap musik diciptakan oleh alam untuk memiliki maksud atau tidak.
Terdapat debat yang intens tentang masalah ini selama era romantic akhir, dimana mayoritas menolak musik berbasis instrumental yang absolute. Penentang tersebut berasal dari Richard Wagner, Friedrich Nietzche dan Georg Wilhelm Friedrich Hegel. Karya Wagner mengatur programmatic dan sering menggunakan vokalisasi, dan ia menambahkan bahwa “dimana musik tidak mampu melaju lebih jauh, mereka menjadi kata. Kata berposisi lebih tinggi daripada nada.” Nietzche menulis banyak komentar pujian terhadap musik Wagner dan faktanya ia sendiri adalah komposer amatir.
Filsuf romantic yang mendukung absolute music muncul dari Johann von Goethe yang melihat musik bukanlah sebagai subjek bahasa manusia melainkan sebagai keabsolutan sejati yang berarti terlihat lebih tinggi daripada urutan kenyataan dan keindahan. Beberapa filsuf lainnya juga menghubungkan musik dengan unsur spiritualisme. Pada bagian IV dari karya The World as Will and Representation (1819), Arthur Schopenhauer menulis bahwa “musik adalah jawaban dari misteri kehidupan. Kebanyakan tersusun dari segala seni, musik mengekspresikan pemikiran terdalam dari hidup.” Pada The Immediate Stages of Erotic, or Musical Eroticm bagian dari Either/Or (1843), Soren Kierkegaard memeriksa kedalaman dari musik Wolfgang Amadeus Mozart Mozart dan unsur sensual dari Don Geovanni.
Makna dan Tujuan
Saat ini masih terdapat banyak debat mengenai bagaimana memaknai suatu musik. Tentu saja, musik dapat diinterpretasikan dengan berbagai cara oleh berbagai pendengar, tetapi terdapat banyak karakter emosional yang muncul secara universal pada musik. Orang-orang mungkin menghubungkan suara tertentu dengan emosi tertentu berdasarkan kondisi alamiah, tetapi beberapa tipe suara yang fundamental mungkin memiliki kenyamanan dan ketidaknyamanan yang alami juga.
Sebagai contoh, kajian yang menunjukkan bahwa suara rendah berlatarbelakang noise cenderung untuk menenangkan dan melemaskan (kemungkinan karena suara tersebut serupa dengan suara di dalam kandungan) dimana suara tinggi dan tempo tinggi digunakan untuk menunjukkan kegembiraan. Pertanyaan utama disini seberapa besar anggapan tersebut yang datang secara langsung dari musik dan seberapa besar juga yang datang dari pengaruh budaya? Ilmu neurobiology, evolutionary psychology, dan bidang ethnomusicology perlahan menemukan kemajuan untuk menjawab hal ini dan pertanyaan terkait.
Upaya pertama untuk menempatkan musik pada framework evolusi dibuat oleh Charles Darwin yang berkata pada 1871 di bukunya berjudul The Descent of Man, “nada musik dan ritme pertama kali digunakan oleh laki-laki dan perempuan untuk tujuan memesona lawan jenisnya.” Saat ini terdapat penelitian aktif mengenai evolusi dari musik, dan beberapa bukti ditemukan untuk mendukung hipotesis Darwin, dan buktinya lainnya menyarankan bahwa musik bermakna sebagai organisasi sosial dan komunikasi untuk budaya masyarakat jaman purba. Pada tahun 1997 di buku How the Mind Works, Pinker meragukan musik sebagai “auditory cheesecake“, sebuah frase yang bertahun-tahun digunakan untuk menantang musikologi dan psikologi yang mempercayai bahwa musik merupakan keindahan bagi unsur auditori.
Keindahan Musik
Studi estetika musik melibatkan pertanyaan “apa yang membuat musik enak didengar?” Pandangan mengenai apa yang disebut “musik yang bagus” telah berubah secara dramatis sejak bentuk musik yang baru muncul dan bentuknya musik yang lama tenggelam. Fakta ini menunjukkan bahwa kebudayaan musik bergantung kepada kemampuan seseorang untuk menginterpretasi dan menikmati musik.
Untuk memahami hal ini lebih baik, mari kita kenali perbedaan antara art music dan popular music. Popular music adalah musik dengan pendengar yang banyak dan bergantung pada periode budaya dan waktu. Art music adalah musik yang dikembangkan oleh kelompok yang relatif kecil dan harus berlatih serta belajar agar dapat menciptakan musik yang diapresiasi. Batasan yang jelas antara art music dan popular music secara konstan berubah-ubah dan bergantung pada subjek perdebatan.
Begitulah beberapa pemikiran mengenai musik yang ada hingga sekarang. Bagaimana dengan pemikiran anda sendiri mengenai musik? Apakah menurut anda musik hanyalah karya seni penyegar jiwa? Atau mungkin sesuatu yang berkembang berdasarkan kebudayaan manusia? Atau memiliki makna yang berada pada tataran spiritualisme sehingga tidak bisa sembarangan dinikmati karena akan mempengaruhi persepsi spiritualisme anda? Mari menikmati musik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar