B. LANDASAN FILOSOFIS KURIKULUM
Landasan
Filosofis, yaitu asumsi asumsi tentang hakikat realitas, hakikat
manusia, hakikat pengetahuan, dan hakikat nilai yang menjadi titik tolak dalam
mengembangkan kurikulum. Asumsi-asumsi filosofis tersebut berimplikasi pada
rumusan tujuan pendidikan, pengembangan isi atau materi pendidikan, penentuan
strategi, serta pada peranan peserta didik dan peranan pendidikan
Landasan filosofis dalam pengembangan
kurikulum ialah pentingnya rumusan yang didapatkan dari hasil berpikir secara
mendalam, analisis, logis, sistematis dalam merencanakan, melaksanakan, membina
dan mengembangkan kurikulum baik dalam bentuk kurikulum sebagai rencana
(tertulis), terlebih kurikulum dalam bentuk pelaksanaan di sekolah.
Filsafat
memegang peranan penting dalam pengembangan kuikulum. Sama halnya seperti dalam
Filsafat Pendidikan, kita dikenalkan pada berbagai aliran filsafat, seperti:
perenialisme, essensialisme, eksistesialisme, progresivisme, dan
rekonstruktivisme. Dalam pengembangan kurikulum pun senantiasa berpijak pada
aliran–aliran filsafat tertentu, sehingga akan mewarnai terhadap konsep dan
implementasi kurikulum yang dikembangkan. Dengan merujuk kepada pemikiran Ella
Yulaelawati, di bawah ini diuraikan tentang isi dari-dari masing-masing aliran
filsafat, kaitannya dengan pengembangan kurikulum.
1. Perenialisme lebih menekankan pada keabadian,
keidealan, kebenaran dan keindahan dari pada warisan budaya dan dampak sosial
tertentu. Pengetahuan dianggap lebih penting dan kurang memperhatikan kegiatan
sehari-hari. Pendidikan yang menganut faham ini menekankan pada kebenaran
absolut , kebenaran universal yang tidak terikat pada tempat dan waktu. Aliran
ini lebih berorientasi ke masa lalu.
2. Essensialisme menekankan pentingnya pewarisan
budaya dan pemberian pengetahuan dan keterampilan pada peserta didik agar dapat
menjadi anggota masyarakat yang berguna. Matematika, sains dan mata pelajaran
lainnya dianggap sebagai dasar-dasar substansi kurikulum yang berharga untuk
hidup di masyarakat. Sama halnya dengan perenialisme, essesialisme juga lebih
berorientasi pada masa lalu.
3. Eksistensialisme menekankan
pada individu sebagai sumber pengetahuan tentang hidup dan makna. Untuk
memahami kehidupan seseorang mesti memahami dirinya sendiri. Aliran ini
mempertanyakan : bagaimana saya hidup di dunia ? Apa pengalaman itu ?
4. Progresivisme menekankan pada pentingnya
melayani perbedaan individual, berpusat pada peserta didik, variasi pengalaman
belajar dan proses. Progresivisme merupakan landasan bagi pengembangan belajar
peserta didik aktif.
5. Rekonstruktivisme merupakan
elaborasi lanjut dari aliran progresivisme. Pada rekonstruktivisme, peradaban
manusia masa depan sangat ditekankan. Di samping menekankan tentang perbedaan
individual seperti pada progresivisme, rekonstruktivisme lebih jauh menekankan
tentang pemecahan masalah, berfikir kritis dan sejenisnya. Aliran ini akan
mempertanyakan untuk apa berfikir kritis, memecahkan masalah, dan melakukan
sesuatu ? Penganut aliran ini menekankan pada hasil belajar dari pada proses.
Aliran Filsafat
Perenialisme, Essensialisme, Eksistensialisme merupakan aliran filsafat yang
mendasari terhadap pengembangan Model Kurikulum Subjek-Akademis.
Sedangkan, filsafat progresivisme memberikan dasar bagi pengembangan Model
Kurikulum Pendidikan Pribadi. Sementara, filsafat rekonstruktivisme banyak
diterapkan dalam pengembangan Model Kurikulum Interaksional.
Ada tiga cabang
besar filsafat, yaitu metafisika yang
membahas segala dalam alam ini, epistemologi
yang membahas kebenaran, akseologi yang
membahas nilai. Aliran-aliran filsafat yang kita kenal bertolak belakang dari
pandangan yang berbeda kedalam tiga hal ini.
Filsafat
membahas segala permasalahan yang dihadapi oleh manusia termasuk
masalah-masalah pendidikan yang disebut filsafat pendidikan. Walaupun dilihat
sepintas, filsafat pendidikan hanya merupakan aplikasi dari pemikiran-pemikiran
filosofis untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan, tetapi antara keduanya
yaitu antara filsafat dan filsafat pendidikan terdapat hubungan yang sangat erat.
Masing-masing
aliran filsafat pasti memiliki kelemahan dan keunggulan tersendiri. Oleh karena
itu, dalam praktek pengembangan kurikulum, penerapan aliran filsafat cenderung
dilakukan secara eklektif untuk lebih mengkompromikan dan mengakomodasikan
berbagai kepentingan yang terkait dengan pendidikan. Meskipun demikian saat
ini, pada beberapa negara dan khususnya di Indonesia, tampaknya mulai terjadi
pergeseran landasan dalam pengembangan kurikulum, yaitu dengan lebih
menitikberatkan pada filsafat rekonstruktivisme.
Pengertian Kurikulum Dan Fisafat
Pendidikan
Kurikulum pada hakikatnya adalah alat
untuk mencapai tujuan pendidikan, karena tujuan pendidikan sangat dipengaruhi
oleh filsafat atau pandangan hidup suatu bangsa, maka tentu saja kurikulum yang
dikembangkan juga untuk mencerminkan falsafah/pandangan hidup yang dianut oleh
bangsa tersebut oleh karena itu terdapat hubungan yang sangat erat antara
kurikulum pendidikan di suatu negara dengan filsafat negara yang dianutnya.
Sebagai contoh, Indonesia pada masa penjajahan Belanda, kurikulum yang dianut
pada masa itu sangat berorientasi pada kepentingan politik Belanda. Demikian
pula pada saat negara kita dijajah Jepang, maka orientasi kurikulum berpindah
yaitu disesuaikan dengan kepentingan dan sistem nilai yang dianut oleh negara
Matahari Terbit itu. Setelah Indonesia mencapai kemerdekaannya, dan secara
bulat dan utuh menggunakan pancasila sebagai dasar dan falsafah dalam berbangsa
dan bernegara, maka kurikulum pendidikan pun disesuaikan dengan nilai-nilai pancasila
itu sendiri.
Kurikulum merupakan inti dari bidang
pendidikan dan memiliki pengaruh terhadap seluruh kegiatan pendidikan.
Mengingat pentingnya kurikulum dalam pendidikan dan kehidupan manusia, maka
penyusunan kurikulum tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Penyusunan
kurikulum membutuhkan landasan-landasan yang kuat, yang didasarkan pada
hasil-hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam. Penyusunan kurikulum yang
tidak didasarkan pada landasan yang kuat dapat berakibat fatal terhadap kegagalan
pendidikan itu sendiri. Dengan sendirinya, akan berkibat pula terhadap
kegagalan proses pengembangan manusia
Pengembangan kurikulum walaupun pada
tahap awal sangat dipengaruhi oleh filsafat dan ideologi negara, namun tidak
berarti bahwa kurikulum bersifat statis, melainkan senantiasa memerluka
pengembangan, pembaharuan dan penyempurnaan disesuaikan dengan kebutuhan dan
tuntutan dan perkembangan zaman yang senantiasa cepat berubah.
Filsafat pendidikan berupaya mengkaji
berbagai permasalahan yang dihadapai manusia, termasuk masalah
pendidikan. Pendidikan sebagai ilmu terapan, tentu saja memerlukan ilmu-ilmu
lain sebagai penunjang, di antaranya filsafat. Filsafat pendidikan pada
dasarnya adalah penerapan dan pemikiran-pemikiran filosofis untuk memecahkan
masalah-masalah pendidikan.
Sedangkan secara harfiah filosofi (filsafat) berarti
“cinta akan kebijan”. Orang yang belajar berfilsafat agar ia menjadi orang yang
mengerti akan kebijakan dan berbuat secara bijak, ia haruus tahu atau
perpengetahuan. Pengetahuan diperoleh melalui proses berfikir, yaitu berfikir
secara sistematis, ‘logis dan mendalam. Pemekiran demikian dalam filsafat
sering disebut sebagai pemikiran radikal, atau berfikir sampai keakar-akarnya.
Berfilsafat diaritikan pula berpikir secara radikal, berfikir sampai keakar.
Secara akademik, filsaf berarti upaya untuk menggambarkan dan menyatakan suatu
pandangan yang sistematis dan komprehensif tentang alam semesta dan kedudukan
manusia didalamnya. Filsafat mencakup keselurhan pengetahuan manusia, berusaha
melihat segala yang ada ini sebagai satu kesatuan yang menyuluruh dan mencobah
mengetahui kedudukan manusia di dalamnya. Sering dikatakan bahwa filsafat
merupakan ibu segala ilmu.
Filsafat pendidikan pada dasarnya
adalah penerapan dari pemikiran-pemikiran filsafat untuk memecahkan permasalahn
pendidikan. Dengan demikian tentu saja bahwa filsafat memiliki manfaat dan
memberikan kontribusi yang besar terutama dalam memberikan kajian sistematis
berkenaan dengan kepentingan pendidikan. Menurut Nasution (1982)
mengidentifikasi beberapa manfaat filsafat pendidikan, yaitu:
1. Filsafat
pendidikan dapat menentukan arah akan dibawa ke mana anak-anak melalui
pendidikan di sekolah? Sekolah adalah suatu lembaga yang didirikan untuk
mendidik anak-anak ke arah yang dicita-citakan oleh masyarakat, bangsa dan
negara.
2. Dengan adanya
tujuan pendidikan yang diwarnai oleh filsafat yang dianut, kita mendapat
hambaran yang jelas tentang hasil yang harus dicapai.
3. Filsafat dan tujuan pendidikan memberi kesatuan yang
bulat kepada segala usaha pendidikan.
4. Tujuan pendidikan memungkinkan si penduduk menilai
usahanya, hingga manakah tujuan itu tercapai.
5.Tujuan
pendidikan memberikan motivasi atau dorongan bagi kegiatan-lkegiatan
pendidikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar