A.
LANDASAN
TEOLOGIS
Hadis
Nabi SAW merupakan sumber kedua ajaran Islam sesudah kitab suci al-Qur’an.
Semua ayat al-Qur’an diterima oleh para sahabat dari Rasulullah SAW secara
mutawatir, ditulis dan dikumpulkan sejak zaman Nabi SAW masih hidup baik fi
as-suthur (dalam tulisan) maupun fi ash-shudur (melalui hafalan), serta
dibukukan secara resmi sejak zaman Abu Bakar Ash-Shiddiq RA (W. 13 H), karena
itu al-Qur’an bersifat Qath’i al-subut.
Sedangkan Hadis Nabi SAW sebagian besarnya tidak diriwayatkan secara mutawatir. Pembukuannya secara resmi baru dilakukan pada zaman Khalifah ‘Umar bin ‘Abdul Aziz al-Umawiy (99/717-101/720), oleh karena itu Hadis bersifat dhann al-wurud. Tentunya untuk mengetahui orisinalitas dan kualitas sebuah Hadis, membutuhkan ilmu Hadis, baik ilmu Hadis Riwayah maupun Ilmu Hadis Dirayah.
Sedangkan Hadis Nabi SAW sebagian besarnya tidak diriwayatkan secara mutawatir. Pembukuannya secara resmi baru dilakukan pada zaman Khalifah ‘Umar bin ‘Abdul Aziz al-Umawiy (99/717-101/720), oleh karena itu Hadis bersifat dhann al-wurud. Tentunya untuk mengetahui orisinalitas dan kualitas sebuah Hadis, membutuhkan ilmu Hadis, baik ilmu Hadis Riwayah maupun Ilmu Hadis Dirayah.
Hadis
sebagai sumber ajaran Islam yang kedua setelah al-Qur’an, merupakan sarana
fungsionalis untuk menggali konsep kurikulum pendidikan Islam. Kurikulum
merupakan salah satu komponen yang sangat menentukan dalam sistem pendidikan,
karena kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan sekaligus sebagai pedoman
dalam pelaksanaan pendidikan pada semua jenjang tingkat pendidikan. Kurikulum
yang baik dan relevan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan Islam adalah yang
bersifat integral dan komprehensif serta menjadikan al-Qur’an dan Hadis sebagai
sumber utama dalam penyusunannya.
Untuk mencoba memahami konsep kurikulum pendidikan Islam dalam Hadis, pembahasan makalah ini dipusatkan pada makna-makna Hadis yang mengandung konsep kurikulum pendidikan baik secara mantuq maupun mafhum. Hal ini dilakukan, sehubungan tidak adanya kata kunci yang bermakna kurikulum (manhaj al-dirasah) atau sejenisnya yang ditemukan di dalam Hadis.
Untuk mencoba memahami konsep kurikulum pendidikan Islam dalam Hadis, pembahasan makalah ini dipusatkan pada makna-makna Hadis yang mengandung konsep kurikulum pendidikan baik secara mantuq maupun mafhum. Hal ini dilakukan, sehubungan tidak adanya kata kunci yang bermakna kurikulum (manhaj al-dirasah) atau sejenisnya yang ditemukan di dalam Hadis.
- Pengertian Kurikulum
Secara
etimologis, kurikulum berasal dari bahasa Yunani, yaitu curir yang artinya
pelari dan curere yang berarti tempat berpacu. Jadi istilah kurikulum berasal
dari dunia olah raga pada zaman Romawi Kuno di Yunani, yang mengandung
pengertian suatu jarak yang harus ditempuh oleh pelari dari garis start sampai
garis finish.(Hasan Langgulung, 1986:176).
Dalam bahasa Arab, kata kurikulum biasa diungkapkan dengan manhaj al-dirasah, yang berarti jalan yang terang yang dilalui manusia pada berbagai bidang kehidupan. Sedangkan kurikulum pendidikan (manhaj al-dirasah) dalam kamus tarbiyah adalah seperangkat perencanaan dan media yang dijadikan oleh lembaga pendidikan dalam mewujudkan tujuan-tujuan pendidikan Secara terminologis, para ahli telah banyak mendefenisikan kurikulum di antaranya.
Dalam bahasa Arab, kata kurikulum biasa diungkapkan dengan manhaj al-dirasah, yang berarti jalan yang terang yang dilalui manusia pada berbagai bidang kehidupan. Sedangkan kurikulum pendidikan (manhaj al-dirasah) dalam kamus tarbiyah adalah seperangkat perencanaan dan media yang dijadikan oleh lembaga pendidikan dalam mewujudkan tujuan-tujuan pendidikan Secara terminologis, para ahli telah banyak mendefenisikan kurikulum di antaranya.
- Zakiah Daradjat berpendapat bahwa kurikulum sebagai suatu program yang direncanakan dalam bidang pendidikan dan dilaksanakan untuk mencapai sejumlah tujuan pendidikan tertentu. (Zakiah Daradjat, 1992:121)
- Addamardasyi Sarhan dan Munir Kamil, sebagaimana dikutip al-Syaibani mengatakan bahwa kurikulum adalah sejumlah pengalaman pendidikan, kebudayaan, sosial, olah raga dan kesenian yang disediakan oleh sekolah bagi murid-muridnya di dalam dan di luar sekolah dengan maksud menolong untuk berkembang menyeluruh dalam segala segi dan merubah tingkah laku mereka sesuai dengan tujuan pendidikan. (Omar Muhammad al-Toumy al-Syaibani, 1979: 485)
- S. Nasution menyatakan ada beberapa penafsiran lain tentang kurikulum. Diantaranya; pertama, kurikulum sebagai produk (sebagai hasil pengembangan kurikulum), kedua, kurikulum sebagai program (alat yang dilakukan sekolah untuk mencapai tujuan), ketiga,kurikulum sebagai hal-hal yang diharapkan akan dipelajari oleh siswa (sikap, keterampilan tertentu), dan keempat, kurikulum dipandang sebagai pengalaman siswa. (S. Nasution, 1994: 5-9)
Dari
beberapa definisi di atas dapat kita pahami, ada pandangan yang menyatakan
bahwa kurikulum hanya berisi rencana pelajaran di sekolah, ini karena mereka
membedakan antara kegiatan kurikuler, kokurikuler dan ekstrakurikuler. Ada juga
yang berpandangan bahwa kurikulum lebih dari sekedar rencana pelajaran tapi
semua yang secara nyata terjadi dalam proses pendidikan di sekolah atau semua
pengalaman belajar itulah kurikulum.
Menurut Mahmud Junus, berdasarkan Qur’an dan Hadis dapat diambil pengertian bahwa ada 3 (tiga) aspek kepribadian manusia yang harus dididik, yaitu: 1. Aspek jasmani, 2. Aspek akal, 3. Aspek rohani. )Ahmad Tafsir, 2007: 56 (Al-Syaibani dalam bukunya Filsafat Pendidikan Islam menetapkan bahwasanya ada 4 (empat) dasar pokok dalam kurikulum pendidikan Islam, yaitu dasar religi, dasar falsafah, dasar psikologis, dan dasar sosiologis, serta Abdul Mujib dalam bukunya Ilmu Pendidikan Islam menambahkan dengan dasar organisatoris. (Abdul Mujib, 2006:124)
Menurut Mahmud Junus, berdasarkan Qur’an dan Hadis dapat diambil pengertian bahwa ada 3 (tiga) aspek kepribadian manusia yang harus dididik, yaitu: 1. Aspek jasmani, 2. Aspek akal, 3. Aspek rohani. )Ahmad Tafsir, 2007: 56 (Al-Syaibani dalam bukunya Filsafat Pendidikan Islam menetapkan bahwasanya ada 4 (empat) dasar pokok dalam kurikulum pendidikan Islam, yaitu dasar religi, dasar falsafah, dasar psikologis, dan dasar sosiologis, serta Abdul Mujib dalam bukunya Ilmu Pendidikan Islam menambahkan dengan dasar organisatoris. (Abdul Mujib, 2006:124)
- Hadis- Hadis Tentang Kurikulum Pendidikan
Hasil
penelusuran penulis dalam kitab hadis, tidak ada ditemukan kata khusus seperti
manhaj al-dirasah sebagai kata yang menunjukkan kurikulum, karenanya penulis
mencoba memahami kurikulum berdasarkan matan Hadis yang bermuatan konsep
kurikulum baik secara mantuq maupun mafhum.
1. Ilmu agama dan Al-Qur’an
حَدَّثَنَا
حَسَنُ بْنُ مُوسَى حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ أَبُو خَيْثَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ
بْنِ عُثْمَانَ بْنِ خُثَيْمٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَضَعَ يَدَهُ عَلَى
كَتِفِي أَوْ عَلَى مَنْكِبِي شَكَّ سَعِيدٌ ثُمَّ قَالَ اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي
الدِّينِ وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيلَ
تعليق شعيب الأرنؤوط : إسناده قوي على شرط مسلم
تعليق شعيب الأرنؤوط : إسناده قوي على شرط مسلم
Artinya:Dari
Ibnu ‘Abbas bahwasanya Rasulullah SAW meletakkan tanggannya pada punggung Ibnu
‘Abbas atau pundaknya, – perawi Hadis ini, Said ragu- kemudian Rasulullah SAW
berdo’a: Ya Allah berikanlah kepadanya pemahaman yang mendalam tentang agama
dan ajarilah dia takwil (al-Qur’an). (Ahmad ibn Hanbal Abu Abdullah
al-Syiyabaani, tt: 266).
Ibnu
‘Abbas mengatakan bahwa Rasulullah SAW wafat, sedang usia Ibnu ‘Abbas memasuki
10 (sepuluh) tahun dan dia telah mempelajari ayat-ayat muhkam. Ibnu ‘Abbas
telah mengatakan pula kepada Sa’id bin Jubair (muridnya): “aku telah menghimpun
semua ayat-ayat muhkam pada masa Rasulullah SAW. Said bertanya kepadanya:
“Apakah ayat-ayat muhkam itu? Ibnu ‘Abbas menjawab: “Surat-surat yang mufashal
(yang pendek-pendek).
Ibnu Katsir ra telah mengatakan bahwa dengan interpretasi apapun makna hadis ini menunjukkan kebolehan mengajari anak-anak untuk membaca al-Qur’an meskipun dalam usia dini, bahkan adakalanya disunnahkan atau diwajibkan. (Jamaal ‘Abdur Rahman, 2005:392)
Ibnu Katsir ra telah mengatakan bahwa dengan interpretasi apapun makna hadis ini menunjukkan kebolehan mengajari anak-anak untuk membaca al-Qur’an meskipun dalam usia dini, bahkan adakalanya disunnahkan atau diwajibkan. (Jamaal ‘Abdur Rahman, 2005:392)
Selain
itu al-Qur’an sendiri merupakan materi pertama yang harus diajarkan kepada
siswa. Rasulullah SAW telah bersabda:
حَدَّثَنَا
حَجَّاجُ بْنُ مِنْهَالٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ أَخْبَرَنِي عَلْقَمَةُ بْنُ
مَرْثَدٍ سَمِعْتُ سَعْدَ بْنَ عُبَيْدَةَ عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ
السُّلَمِيِّ عَنْ عُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ
وَعَلَّمَهُ قَالَ وَأَقْرَأَ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ فِي إِمْرَةِ عُثْمَانَ
حَتَّى كَانَ الْحَجَّاجُ قَالَ وَذَاكَ الَّذِي أَقْعَدَنِي مَقْعَدِي هَذَا
Artinya:Telah
menceritakan kepada kami hujjaj ibn Minhaal telah menceritakan syu’bah ia
berkata ‘Alqamah ibn mursyid telah mengkhabarkan kepadaku saya mendengar Said
ibn ‘Ubaidah dari ayah Abdurrahman al-silmy dari ‘Usman ra Nabi SAW telah
bersabda: “Yang paling baik di antara kamu adalah orang yang mempelajari
Al-Quran dan mengajarkannya. (Muhammad bin Ismail Abu Abdillah
al-Bukhari,1987:1919)
Asas-asas pendidikan
Islam
1. asas agama
seluruh
sistem yanga da di dalam masyarakat Islam, termasuk sistem pendidikannya harus
meletakkan dasar filsafah, tujuan, dan kurikulumnya pada ajaran islam yang
meliputi aqidah, ibadah, muamalat, dan hubungan-hubungan yang berlaku didalam
masyarakat.
2. Asas Falsafah
Dasar
ini memeberikan arah dan kompas tujuan pendidikan Islam, dengan dasar filosofis.
3. Asas Psikologis
Asas
ini membei arti bahwa kurikulum pendidikan Islam hendaknya disusun dengan
mempertimbangkan tahapan-tahapan pertumbuhan dan perkembangan yang dilalui anak
didik.
4. Asas Sosial
Pembentukkan kurikulum pendidikan
Islam harus mengacu kearah realisasi individu dalam masyarakat.
karakteristik Kurikulum Pendidikan Islam
Secara
umum karakteristik kurikulum pendidikan Islam adalah pencerminan Islami yang
dihasilkan dari pemikiran kefilsafatan dalam seluruh aktivitas dan kegiatan kependidikan
dalam prakteknya. Konsep inilah yang membedakan kurikulum pendidikan Islam
dengan kurikulum pendidikan pada umumnya.
1. Mementingkan tujuan agama
dan akhlak dalam berbagai hal seperti tujuan dan kandungan,kaedah,alat dan
tekniknya.
2. Memperluas perhatian dan
kandungan hingga mencakup perhatian, pengembangan serta bimbingan terhadap
segala aspek pribadi pelajar dan segi intelektual, psikologi, sosial, dan
spiritual.
3. Adanya keseimbangan antara
kandungan kurikulum dan pengalaman serta kegiatan pengajaran.
4. menekankan konsep menyeluruh dan
keseimbangan pada kandungan yang tidak hanya terbatas pada ilmu teorotis.
5. Ketertarikan anatara kurikulum
pendidikan Islam dengan minat , kemampuan , keperluan, dan perbedaan individual
antar siswa.
وَلَقَدْ ءَاتَيْنَا لُقْمَانَ
الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ
وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ (12) وَإِذْ قَالَ
لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَابُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ
الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ (13) وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ
حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ
لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ (14) وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلى أَنْ
تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي
الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ
مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (15) يَابُنَيَّ
إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ
فِي السَّمَوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ
(16) يَابُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ
الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
(17) وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ
اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ (18) وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ
وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِير (19)
Artinya :
12. Dan sesungguhnya telah Kami
berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. Dan
barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk
dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah
Maha Kaya lagi Maha Terpuji".
13. Dan (ingatlah) ketika Luqman
berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai
anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan
(Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".
14. Dan Kami perintahkan kepada
manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah
mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam
dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya
kepada-Kulah kembalimu.
15. Dan jika keduanya memaksamu
untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang
itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia
dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya
kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
16. (Luqman berkata): "Hai
anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada
dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan
mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.
17. Hai anakku, dirikanlah shalat
dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari
perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu.
Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).
18. Dan janganlah kamu memalingkan
mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi
dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi
membanggakan diri.
19. Dan sederhanalah kamu dalam
berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara
keledai.
Tafsir :
12. ayat ini menguraikan tentang
salah seorang bernama Luqman yang dianugerahi oleh Allah swt hikmah. Hikmah
menurut ulama "Mengetahui yang paling utama dari segala sesuatu, baik
pengetahuan, maupun perbuatan. Ia adalah ilmu amaliah dan amal ilmiah. Ia
adalah ilmu yang disukung oleh amal, dan amal yang tepat dan didukung
ilmu".
13. Dilukiskan pengalaman hikmah itu
oleh Luqman, serta pelestariannya kepada anaknya. Ini pun mencerminkan
kesyukuran beliau atas anugerah itu. Luqman memulai nasihatnya dengan
menekankan perlunya menghindari syirik/mempersekutukan Allah. Larangan ini
sekaligus mengandung pengajaran tentang wujud keesaan Tuhaan. Bahwa redaksi
pesannya berbentuk larangan, jangan mempersekutukan Allah untuk menekankan
perlunya meninggalkan sesuatu yang buruk sebelum melaksanakan yang baik
14 Menurut Al-Biqa'I, ayat 14
bagaikan menyatakan: Luqman menyatakan hal itu kepada anaknya sebagai nasihat
kepadanya, padahal kami telah mewasiatkan anaknya dengan wasiat itu seperti apa
yang dinasihatkannya menyangkut kami. Di ayat 14 tidak menyebutkan jasa bapak,
tetapi lebih menekankan jasa ibu karena ibu berpotensi tidak dihiraukan oleh
anak karena kelemahannya.
15. ayat ini menjelaskan tentang
pengecualian menaati perintah kedua orang tua, kewajiban menghormati dan
menjalin hubungan baik dengan ibu bapak. ayat ini mengandung pesan yang
pertama, bahwa mempergauli dengan baik itu hanya dalam urusan keduniaan, bukan
keagamaan. Yang kedua, bertujuan meringankan beban tugas itu, karena ia hanya
untuk sementara yakni selama hidup di dunia yyang hari-harinya terbatas,
sehingga tidak mengapalah memikul beban kebaktian kepada-Nya. dan yang ketiga,
bertujuan menghadapkan kata dunia dengan hari kembali kepada Allah yang
dinyatakan diatas dengan kalimat hanya kepadaku kembali kamu.
16. Ayat ini menguraikan tentang
kedalaman ilmu Allah, yang diisyaratkan pula oleh penutup ayat lalu dengan
pernyatan-Nya. dalam konteks ayat ini, agaknya perintah perbuatan baik, apalagi
kepada kedua orang tua yang berbeda agama, merupakan salah satu bentuk dari
luthf(lembut,kecil,halus) Allah. Karena betapapun perbedaan atau perselisihan
anatara anak dan ibu bapak, pasti hubungan darah yang terjalin antara mereka
tetap berbekas dihati masing-masing.
17. berkaitan dengan amal-amal
shaleh yang puncaknya adalah sholat, serta amal-amal kebajikannya yang
tercermin dalam amr ma'ruf dan nahi munkar, juga nasihat berupa perisai yang
membentengi seseorang dari kegagalan yaitu sabar dan tabah Kata 'azm dari segi
bahasa berarti keteguhan hati dan tekad untuk melakukan sesuatu.
18 dan 19 nasihat luqman kali ini
berkaitan dengan akhlak dan sopan satun berinteraksi dengan sesama manusia.
Materi pelajaran aqidah, beliau selingi dengan materi pelajaran akhlak , bukan
saja agar peserta didik tidak jenuh dengan satu materi, tetapi juga
mengisyaratkan bahwa ajaran akidah dan akhlaq merupakan satu kesatuan yang
tidak dapat dipisahkan.
Demikian Luqman al-hakim mengakhiri
nasihat yang mencukup pokok-pokok tuntutan agama. Disana ada akidah,syariat,dan
akhlak tiga unsur ajaran al-qur'an.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar