Filosofi Satu Islam
Agama adalah hukum-hukum yang
diturunkan dari prinsip ketuhanan. Karena manusia adalah makhluk yang terlibat
sejarah dan konteks, maka agama dari sisi fenomenalnya terlibat dalam
reduksi-reduksi konteks dan tradisi.
Agama tidak menjelaskan tentang apa
yang baik dan apa yang benar karena konsep-konsep ini telah lebih dahulu
diketahui berdasarkan kaidah-kaidah rasional. Agama dalam hal ini sebenarnya
adalah fungsi penegas dari dari nilai-nilai kebenaran.
Ada dua cara memahami agama, yakni
dengan memhaminya secara fenomenal dan memahaminya dari sisi idealitas. Agama
fenomenal adalah agama berdasarkan apa yang terjadi pada agama. Agama fenomenal
ini memiliki kelemahan karena sifat-sifatnya yang fluktuatif dan berubah
berdasarkan anasir-anasir lain diluar nilai ideal dari agama. Asumsi ini muncul
karena kenyataan yang ditemukan bahwa tidak sedikit orang yang menggunakan
agama sebagai alat memenuhi keinginan-keinginan yang bersifat material. Agama
yang hanya dipahami secara fenomenal ini memunculkan dua sikap yang berbeda.
Yang pertama adalah penolakan mutlak terhadap agama. Yang kedua adalah sikap
selektif terhadap bagian-bagian tertentu yang ada dalam agama. Hal ini muncul
karena melihat agama berdasarkan das sein (apa yang terjadi).
Dalam sejarah, kecenderungan pertama
ditandai dengan terjadinya revolusi-revolusi di Eropa seperti gerakan
Bolsevyik, revolusi industri di Inggris, dan perlawanan kaum proletar terhadap
dominasi gereja. Dari penolakan agama ini munculah pandangan bahwa peradaban
manusia hanya akan berkembang jika manusia mulai meninggalkan agama. Agama
mulai dianggap sebagai kegilaan massal seperti pernah diungkapkan oleh Michel
Foucault. Pandangan ini terjadi karena melihat agama secara fenomenal.
Setelah itu, muncullah deism. Dari
sini, muncul hukum-hukum positif dan kontrak sosial yang bertujuan membangun
nilai-nilai moral yang berada di luar jangkauan dominasi agama.
Setidaknya ada dua jenis model
penolakan terhadap agama. Yang pertama bersifat eksplisit. Contohnya adalah
masyarakat-masyarakat yang sudah tidak memiliki keterikatan historis dengan
agama. Inilah yang kita sebut dengan atheisme dan spiritualisme. Yang kedua
bersifat implisit, contohnya dalam masyarakat-masyarakat yang masih memiliki
keterikatan historis dengan agama. Inilah yang kita sebut dengan liberalisme.
Ada juga sebagian yang memandang
bahwa nilai-nilai agama ada yang masih relevan dan sebagian sudah tidak relevan
sehingga memandang bahwa agama adalah anasir privat dalam diri manusia. Konsep
ini kita sebut dengan sekulerisme. Semua pandangan ini berasas pada analisis
terhadap agama yang bersifat fenomenal dan tentu saja seluruh pandangan ini
sangat problematik jika dihadapkan pada agama yang berisafat ideal.
Agama ideal adalah agama yang
hukum-hukum yang di turunkan darinya dapat dianalisis dalam sebuah sistem
berfikir yang rasional. Kebanyakan para penolak agama atau bahkan para penganut
agama malah melupakan agama ideal ini dan terjebak dalam penggambaran yang
salah terhadap esensi agama.
Secara epistemologi pengertian agama
adalah aturan yang diperuntutkan oleh manusia dan tentulah harus ada sebuah
mekanisme yang menjamin keterjagaan aturan-aturan atau hukum-hukum ini dari
reduksi dan distorsi.
Dalam Islam, mekanisme pembentukan
hukum-hukum agama ini direalisasikan misi profetik (kenabian). Inilah batasan
yang membedakan antara keberimanan dan keberagamaan. Siapa saja yang meyakini
ketuhanan pastilah memiliki iman yang sama. Siapa saja yang memiliki keyakinan
terhadap sebuah misi profetik yang sama dapat dipastikan berada dalam satu
agama. Oleh karena itu, siapa saja yang meyakini kenabian Muhammad saw, berarti
berada dalam naungan wilayah islam.
Pemaknaan misi profetik Rasulullah
SAW ini menimbulkan perbedaan dalam menafsirkan mekanisme keberislaman. Inilah
yang kita sebut dengan mazhab. Itulah kenapa, sekalipun islam dalam hal ini
memiliki banyak varian mazhab, namun hakikat, asal dan jiwanya adalah satu.
Banyak itu relatif, satu itu mutlak.
Banyak itu menyusul, satu itu memulai. Banyak itu akibat. Satu itu sebab.
Banyak itu kompleks, satu itu simpleks. Banyak itu predikatif, satu itu
subtansif. Banyak itu bermula, satu itu tak bermula. Banyak itu terpecah, satu
itu solid. Banyak itu berakhir, Satu itu abadi. Banyak itu profane, Satu itu
sakral, Banyak itu immanen, Satu itu transenden. Banyak itu kita, Satu itu Dia.
Banyak itu dependen, Satu itu independen. Banyak itu saintifik, Satu itu
teosofik. Banyak itu kompetisi, Satu itu Supremasi. Banyak itu mazhab, satu itu
Islam.
Hanya Satu Islam!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar